NovelToon NovelToon
Istri Cerdik Pak Kades

Istri Cerdik Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.

Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Intrik di Meja Makan

Rumah dinas Kepala Desa Makmur Jaya adalah sebuah bangunan tua bergaya kolonial yang masih kokoh, dengan pilar-pilar putih besar dan halaman luas yang ditumbuhi pohon mangga rimbun. Namun, bagi Arum, rumah itu terasa terlalu sepi dan kaku, persis seperti pemiliknya.

Setelah membersihkan diri dari debu perjalanan, Arum keluar dari kamar mengenakan daster batik modern yang tetap terlihat berkelas. Ia mendapati Baskara sedang duduk di meja makan kayu jati yang panjang. Di depannya hanya ada dua piring nasi goreng yang dibeli Marno dari depan balai desa, serta tumpukan berkas yang seolah tidak pernah habis.

Arum menarik kursi di hadapan Baskara. Ia tidak langsung makan, melainkan memperhatikan suaminya yang terus-menerus memijat pangkal hidung.

"Mas, nasi gorengnya akan dingin kalau hanya dipelototi," tegur Arum lembut.

Baskara mendongak. Tatapannya masih membawa sisa ketegangan dari balai desa. "Aku masih tidak habis pikir, Arum. Pak Sabar itu orang lama. Dia sudah ada di balai desa bahkan sebelum aku mencalonkan diri. Bagaimana bisa dia tega memanipulasi dana untuk warga sendiri?"

Arum menyendok nasi gorengnya dengan tenang. "Di dunia ini, Mas, kesetiaan seringkali punya harga. Dan bagi orang seperti Pak Sabar, harga itu adalah angka-angka di buku tabungan. Dia bukan tega karena benci warga, dia hanya terlalu mencintai dirinya sendiri."

Baskara menghela napas panjang, lalu meletakkan sendoknya sebelum sempat menyuap. "Tadi itu... caramu bicara di depan warga. Kamu tahu tidak kalau Pak Sabar punya banyak pengikut di desa ini? Dia punya jaringan keluarga besar. Dengan membongkar boroknya di depan umum, kamu baru saja menabuh genderang perang."

Arum menghentikan kunyahannya. Ia menatap Baskara dengan mata jernih namun tajam. "Lalu apa maumu, Mas? Aku diam saja melihat suamiku dijadikan tameng hidup oleh bawahannya? Kalau tadi aku tidak bicara, warga mungkin sudah membakar balai desa. Apa itu yang kamu sebut 'aman'?"

Baskara terdiam. Logika Arum tidak terbantahkan, namun egonya sebagai laki-laki dan pemimpin desa sedikit terusik. Ia merasa seolah-olah ia adalah nakhoda yang tidak tahu kapalnya bocor sampai seorang penumpang menunjukkan lubangnya.

"Aku bisa menyelesaikannya dengan caraku sendiri, Arum. Secara kekeluargaan," gumam Baskara.

"Kekeluargaan?" Arum terkekeh kecil, suara tawanya terdengar seperti denting lonceng namun bernada sarkas. "Mas, dalam urusan uang negara, tidak ada kata kekeluargaan. Begitu kamu memberi celah sedikit saja, mereka akan menganggapmu lemah. Dan pemimpin yang dianggap lemah adalah santapan empuk bagi hiu-hiu seperti Pak Sabar dan Pak Broto."

Mendengar nama Pak Broto, alis Baskara bertaut. "Kamu juga tahu soal Pak Broto?"

"Siapa yang tidak tahu tengkulak terbesar di kecamatan ini?" Arum memajukan tubuhnya, menatap Baskara serius. "Aku sudah mempelajari peta ekonomi desa ini selama satu minggu sebelum pindah. Pak Sabar hanyalah pion kecil. Pak Broto adalah rajanya. Dan bibit busuk tadi? Aku berani bertaruh itu adalah cara Pak Broto untuk memastikan panen petani gagal, sehingga mereka terpaksa meminjam uang lagi kepadanya."

Baskara terpaku. Ia tidak pernah berpikir sejauh itu. Selama ini ia hanya fokus pada administrasi dan pembangunan fisik, tanpa menyadari adanya jaring laba-laba ekonomi yang mencekik warganya.

Tiba-tiba, terdengar suara ketukan keras di pintu depan, disusul suara cempreng yang sangat familiar bagi warga desa.

"Permisi! Pak Kades! Ibu Kades baru!"

Baskara menggerutu pelan. "Itu Bu Tejo. Ketua PKK sekaligus pusat intelijen gosip desa. Sebaiknya kamu bersiap, Arum. Dia lebih berbahaya daripada sepuluh Pak Sabar."

Arum justru tersenyum lebar. Ia berdiri dan merapikan rambutnya. "Justru dia yang aku tunggu-tunggu, Mas. Seorang pemimpin butuh humas, dan Bu Tejo adalah media massa paling efektif di Desa Makmur Jaya."

Arum melangkah ke depan dan membuka pintu. Di sana berdiri Bu Tejo dengan daster warna mencolok dan piring berisi pisang goreng yang masih panas. Matanya yang kecil menyapu penampilan Arum dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Eh, Ibu Kades... perkenalkan, saya Bu Tejo. Tadi di balai desa belum sempat salam-salaman karena suasananya lagi... ya begitulah," ujar Bu Tejo dengan gaya yang dibuat-buat manis.

"

Silakan masuk, Bu Tejo. Mari duduk," sambut Arum dengan keramahan yang sempurna. "Pisang gorengnya harum sekali. Kebetulan sekali, saya baru saja ingin bertanya soal resep kue tradisional di desa ini."

Bu Tejo langsung merasa di atas angin. Ia duduk di ruang tamu dan mulai melancarkan misinya: menggali informasi. "Aduh, Ibu Kades ini cerdas sekali ya tadi di balai desa. Sampai Pak Sabar pucat pasi. Tapi apa Ibu tidak takut? Pak Sabar itu kan tangan kanannya Pak Broto. Wah, Pak Broto itu kalau marah bisa seram, lho."

Arum menuangkan teh untuk Bu Tejo dengan gerakan gemulai. "Takut? Kenapa harus takut, Bu? Saya justru kasihan pada Pak Broto. Dia pasti sangat sedih karena nama baiknya tercemar gara-gara ulah Pak Sabar yang menggunakan nama perusahaannya untuk mengirim bibit busuk."

Bu Tejo menghentikan kunyahan pisangnya. Matanya membelalak. "Eh? Maksud Ibu? Jadi itu bukan perintah Pak Broto?"

Arum memasang wajah prihatin yang sangat meyakinkan. "Tentu saja bukan. Pak Broto kan pengusaha terhormat. Mana mungkin beliau merusak mata pencaharian petani sendiri? Saya yakin Pak Sabar hanya mencatut nama beliau untuk keuntungan pribadi. Benar kan, Mas?" Arum melirik Baskara yang baru saja menyusul ke ruang tamu.

Baskara sempat bingung, namun ia melihat kerlingan mata Arum. Ia segera menangkap arah pembicaraan istrinya. "Ah... iya. Kami sedang mendalami hal itu. Kasihan kalau Pak Broto difitnah oleh bawahannya sendiri."

Bu Tejo tampak bersemangat. Ini informasi baru! Bukan Pak Broto yang jahat, tapi Pak Sabar yang mengkhianati Pak Broto. Berita ini akan meledak di grup WhatsApp PKK dalam lima menit.

Setelah hampir satu jam mengobrol dan mendapatkan semua "gosip tandingan" dari Arum, Bu Tejo pamit pulang dengan tergesa-gesa. Ia sudah tidak sabar ingin mengetik di ponselnya.

Begitu pintu tertutup, Baskara menatap Arum dengan dahi berkerut. "Kenapa kamu membela Pak Broto? Padahal kita tahu dia kemungkinan besar terlibat."

Arum mencuci cangkir teh di dapur sambil menjelaskan dengan santai. "Itu namanya strategi divide and conquer, Mas. Pecah belah dan kuasai. Dengan menyebarkan berita bahwa Pak Sabar mengkhianati Pak Broto, hubungan mereka akan retak. Pak Broto akan merasa Pak Sabar adalah 'liabilitas' yang bocor mulut, dan Pak Sabar akan merasa tidak dilindungi oleh bosnya."

Arum berbalik, menyeka tangannya dengan serbet. "Besok pagi, Pak Sabar akan datang ke sini dengan ketakutan. Bukan takut padamu, Mas. Tapi takut pada Pak Broto yang mengira dia sudah membocorkan rahasia mereka. Saat itulah, kita bisa membuatnya bicara apa saja yang kita mau."

Baskara menyandarkan punggungnya di pintu dapur, menatap istrinya yang kini kembali terlihat seperti ibu rumah tangga biasa. Namun ia tahu, di dalam kepala cantik itu, ada mesin strategi yang bekerja dengan kecepatan cahaya.

"Arum," panggil Baskara pelan.

"Ya, Mas?"

"Lain kali... beri tahu aku skenariomu sebelumnya. Aku hampir saja salah bicara tadi."

Arum berjalan mendekati Baskara, berhenti tepat di depannya sehingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Itu gunanya ada aku di sini, Mas. Menjadi skenario yang tidak pernah diduga oleh musuh-musuhmu."

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menjabat sebagai Kades, Baskara tidur dengan perasaan bahwa ia tidak lagi berjuang sendirian. Namun di sisi lain, ia mulai bertanya-tanya: siapa sebenarnya istrinya ini? Dan apa lagi yang disembunyikannya di balik senyum cerdik itu?

Baskara masih berdiri mematung di ambang pintu dapur, memperhatikan Arum yang kini sibuk menata kembali rak piring yang menurutnya berantakan. Keheningan malam di desa itu hanya dipecah oleh suara jangkrik dan detak jam dinding kuno di ruang tengah. Namun, pikiran Baskara jauh lebih bising dari itu.

“Arum,” panggil Baskara lagi, kali ini suaranya lebih berat.

Arum menoleh, tangannya masih memegang lap kain. “Ya, Mas? Ada lagi yang mengganjal?”

“Caramu tadi... soal Bu Tejo. Kamu sengaja mengadu domba mereka?” Baskara melangkah mendekat, masuk ke area dapur yang remang. “Pak Sabar itu sudah sepuluh tahun di balai desa. Dia punya banyak pengikut. Kalau dia terpojok dan merasa dikhianati oleh Pak Broto karena gosip yang kamu buat, dia bisa nekat. Apa kamu tidak memikirkan keselamatanmu sendiri?”

Arum meletakkan lap kainnya. Ia berjalan perlahan ke arah meja makan, lalu duduk kembali, mengisyaratkan Baskara untuk ikut duduk di hadapannya. Ekspresi cerianya saat menghadapi Bu Tejo tadi telah lenyap, digantikan oleh sorot mata dingin seorang analis.

“Mas Baskara,” Arum memulai dengan nada tenang namun tegas. “Keselamatan itu adalah ilusi di tempat seperti ini. Sejak kamu memutuskan untuk jujur dan tidak mau ikut 'bermain' dengan mereka, kamu sudah tidak aman. Hanya saja, mereka belum menyerangmu secara frontal karena mereka pikir kamu bisa dikendalikan lewat asisten-asistenmu.”

Arum mengetukkan jarinya ke meja kayu. “Pak Sabar tidak akan nekat kepada kita. Dia tipe pengecut yang hanya berani kalau ada sandaran. Begitu sandarannya—yaitu Pak Broto meragukannya, Pak Sabar akan mencari perlindungan baru. Dan satu-satunya orang yang bisa memberinya perlindungan hukum adalah kamu, suamiku. Dia akan datang memohon agar kasusnya tidak dilaporkan ke kabupaten.”

Baskara menarik napas panjang. Ia merasa seperti sedang diajari oleh seorang profesor strategi perang, bukan oleh wanita yang baru dinikahinya karena wasiat mendiang ayahnya. “Tapi bagaimana kalau Pak Broto yang bergerak lebih dulu? Dia punya uang, dia punya anak buah yang kasar.”

“Itulah kenapa aku butuh kamu untuk tetap jadi 'Pak Kades yang Baik',” Arum tersenyum tipis, kali ini senyumnya tulus. “Biarkan aku yang jadi sisi gelapnya, Mas. Kamu tetaplah menjadi sosok yang berwibawa, yang taat aturan, dan yang melindungi warga. Biarkan aku yang bermain di lumpur untuk membersihkan jalanmu.”

Baskara tertegun. Kalimat itu menghantam ulu hatinya. Sebagai pria, ia merasa seharusnya dialah yang melindungi Arum. Namun, realitanya justru sebaliknya. Istrinya ini baru saja tiba dengan koper peraknya dan langsung menyingsingkan lengan baju untuk membereskan kekacauan yang bahkan tidak sanggup ia sentuh selama berbulan-bulan.

“Kenapa kamu melakukan ini, Arum? Kita bahkan baru saling mengenal,” tanya Baskara pelan, matanya mencari jawaban di manik mata Arum.

Arum terdiam sejenak. Ia menatap ke arah jendela yang menampilkan kegelapan kebun belakang. “Ayahku selalu bilang, Desa Makmur Jaya ini adalah tanah yang diberkati, tapi dikelola oleh tangan-tangan yang salah. Saat beliau memintaku menikah denganmu, beliau tidak hanya ingin aku punya suami, tapi beliau ingin desanya punya harapan. Aku melakukan ini untuk janji itu. Dan... karena aku tidak suka melihat angka-angka yang salah dalam pembukuan. Itu menyakitkan mataku.”

Jawaban terakhir Arum membuat Baskara sedikit terkekeh. Ketegangan di antara mereka perlahan mencair.

“Jadi, apa langkahmu besok?” tanya Baskara, kali ini ia benar-benar memposisikan diri sebagai rekan tim.

“Besok pagi, aku akan pergi ke pasar desa,” jawab Arum mantap.

“Pasar? Untuk apa? Belanja kebutuhan rumah? Biar Marno saja yang belikan.”

“Tidak, Mas. Aku ingin melihat 'ekosistem' Pak Broto secara langsung. Aku dengar dia menguasai lapak-lapak strategis dan menetapkan pajak ilegal di sana. Aku ingin tahu seberapa besar kebocoran ekonomi di pasar kita. Dan satu lagi...” Arum menggantung kalimatnya sambil berdiri.

“Apa?”

“Aku ingin kamu memanggil Pak Sabar ke kantor besok jam sembilan pagi tepat. Jangan bicara soal bibit dulu. Tanyakan saja soal laporan aset desa lima tahun terakhir. Biarkan dia makin berkeringat karena mengira kita tahu lebih banyak dari yang sebenarnya.”

Baskara mengangguk patuh. Ia merasa ada energi baru yang mengalir dalam dirinya. “Baiklah. Tapi kamu tidak boleh pergi sendiri ke pasar. Desa ini tidak seramah yang terlihat.”

“Jangan khawatir. Aku akan menyamar. Ibu Kades yang sombong dan berkelas ini akan 'menghilang' sejenak, digantikan oleh ibu rumah tangga biasa yang hobi menawar harga,” ujar Arum dengan nada jenaka sambil berjalan menuju kamar.

Sebelum masuk, Arum berbalik sekali lagi. “Oh ya, Mas. Nasi gorengnya tadi enak, meskipun sedikit terlalu asin. Mungkin besok-besok aku saja yang masak.”

Baskara hanya bisa tersenyum simpul menatap pintu kamar yang tertutup. Ia kembali menatap tumpukan berkas di mejanya, namun kali ini ia tidak merasa pusing. Ia mengambil pulpennya dan mulai menandatangkan beberapa dokumen dengan mantap.

Di dalam kamar, Arum tidak langsung tidur. Ia membuka koper peraknya, mengeluarkan sebuah laptop tipis, dan mulai mengetik sesuatu. Di layarnya, terpampang sebuah diagram jaringan yang rumit. Di tengah-tengahnya tertulis satu nama besar: BROTO. Di bawahnya, ada cabang-cabang nama seperti Pak Sabar, CV Tunas Mulia, dan beberapa nama perangkat desa lainnya.

Arum menarik garis baru dari nama Bu Tejo menuju Informan.

“Mari kita lihat seberapa kuat fondasi kerajaanmu, Pak Broto,” bisik Arum pada kegelapan malam. “Karena di tanganku, angka-angka tidak pernah berbohong.”

Sementara itu, di sebuah rumah mewah dengan pilar berlapis marmer di ujung desa, seorang pria bertubuh tambun sedang menghisap cerutunya dengan kasar. Pak Broto melemparkan ponselnya ke atas meja kopi setelah menerima pesan singkat dari seseorang.

“Sabar bodoh!” umpatnya. “Bisa-bisanya dia membiarkan perempuan ingusan itu melihat dokumen pengiriman.”

Di hadapannya, seorang pemuda dengan pakaian necis asisten pribadinya bertanya, “Apa kita perlu memberi 'pelajaran' pada Pak Kades, Bos? Sepertinya istrinya bukan orang sembarangan.”

Pak Broto menyipitkan matanya. “Belum saatnya. Wanita itu baru datang. Mungkin dia cuma ingin pamer kecerdasan di depan suaminya. Tapi kalau dia mulai berani menyentuh urusan pasar... itu baru masalah.”

Pak Broto berdiri, menatap ke arah jendela yang menghadap ke arah balai desa. “Cari tahu siapa Arum itu sebenarnya. Aku tidak percaya dia hanya sarjana ekonomi biasa. Gerakannya terlalu rapi untuk ukuran orang baru.”

Malam itu, di Desa Makmur Jaya, dua kubu telah menetapkan garis batas. Dan tanpa mereka sadari, perang urat syaraf yang sesungguhnya baru saja dimulai dari sebuah meja makan sederhana.

1
Chelviana Poethree
ijin mampir thor
piah
bagus ..
menegangkan ..
Agustina Fauzan
ceritanya seru dan d
Agustina Fauzan
ceritanya seruuu...tegang...

lanjut thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!