Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Semua orang berkumpul di kamar Aurora, dimana kamar itu sebelumnya adalah milik Anjani yang Aurora minta sebagai putri kandung dari Harvey.
"Geledah! Jangan sampai terlewat!" suara Kaynen memecah ketegangan di kamar mewah berdesain aesthetic itu.
Para pelayan bekerja sesuai perintah, mereka menggeledah kamar Aurora yang memang belum memiliki banyak barang sejak kedatangannya semalam.
Mereka semua bekerja keras, menggeledah kamar, dari dalam lemari, bawah ranjang hingga laci-laci meja yang di buka paksa.
Hingga suara teriakan itu menggema menambah ketegangan yang tak bisa di bantah siapapun.
"Tuan, saya temukan kalungnya!" salah seorang pelayan beteriak nyaring hingga membuat para pelayan lain berhenti bekerja.
Mereka semua berderap, untuk mendekat pada pelayan yang berteriak tadi, sedangkan orang yang mungkin menjadi tersangka hanya diam, tenang dan seolah itu bukan masalah besar.
"Ma, itu kalungnya!" tunjuk Anjani.
"Iya, bawa kemari!" minta Adeline, matanya memancarkan ketegasan sebagai nyonya besar di rumah itu.
Adeline menerima kalung itu, dia menatap dan mengamati juga menyimpulkan kalau ini adalah kalung yang hilang milik Anjani.
Mata mereka semua tertuju pada Aurora yang tampak tenang di sudut ruangan kamar, tak ada pergerakan berarti. Seolah semua keributan ini hanya lelucon.
"Sudah aku duga, dia memang suka mencuri, Ma!" hina Aruna, dia menatap kesal dan benci pada Aurora.
"Kalian menuduhku?" tanya Aurora, dia menatap polos keluarga aslinya.
"Menuduh? Itu jelas-jelas ada di dalam kamar ini Aurora, dan kau seorang pencuri!" tuduh Aruna lagi, dia menunjuk Aurora dengan wajah meradang kesal.
Aurora tak menjawab, dia hanya diam menelan semua tuduhan sebelum nanti mereka melihat sendiri semuanya.
"Rora," panggil Adeline, dia marah dan kecewa jelas Aurora melihat itu dari sorot mata wanita paruh baya yang dimana ia adalah sosok ibunya.
"Anda juga meragukan?" tanya Aurora sebelum Adeline melontarkan pertanyaan.
"Mama hanya ingin bertanya apa kamu yang mengambil kalung ini, Nak?" walaupun marah dan menuntut jawaban jujur. Adeline tetap harus menjaga perasaan Aurora.
"Ma, kenapa harus berbaik hati? Dia itu pencuri Ma," hardik Aruna, dia yang paling kesal pada Aurora.
"Kak, jangan begitu! Dia mungkin menyukai kalung ini karena desainnya yang indah," kata Anjani, wajah polosnya memancarkan sesuatu yang tampak baik di mata semua orang.
"Kamu terlalu baik, Jani! Dia jelas-jelas seorang pencuri," sinis Aruna, dia memeluk pundak Anjani dengan sayang.
"Kak," panggilnya lagi dengan suara lirih.
"Sudah kamu diam saja!" perintah Aruna.
Dan akhirnya Anjani diam. Namun, tak ada yang sadar senyum kemenangan terbentuk dari bibir Anjani, dia bersorak karena sebentar lagi dia, Aurora akan di tendang dari rumah ini.
"Kamu hanya perlu menjawab setiap pertanyaan Aurora dan tak perlu terus berkilah!" tegas Kaynen. Sorot matanya menunjukkan sesuatu yang tak bisa di bantah.
Aurora tak bereaksi, dia tetap tenang walaupun sebenarnya ia ingin sekali memaki Kaynen dan Aruna itu karena keduanya benar-benar bodoh.
Sedangkan untuk kedua orang tua kandungnya. Jelas Aurora tahu mereka juga tak percaya pada putri kandung yang sudah lama menderita di luar sana ini.
'Pencuri? Inikah janji untuk menyayangi dan percaya itu, Harvey?' batin Aurora sinis.
"Aurora jelaskan! Kenapa diam?" kali ini, Baskara yang berujar tegas.
Tatapan semua orang seolah menguliti Aurora, setiap pandangan mata semua orang seperti cemoohan yang mengoyak harga dirinya tanpa ampun.
Sedangkan dalang penyebab masalah ini, justru diam dalam pelukan Aruna, wajah palsunya yang polos itu rasanya menyebalkan bagi Aurora.
"AURORA BELLAZENA!" bentakan dari Kaynen mengejutkan mereka semua.
"Apa yang harus di jelaskan? Toh aku bicara jujur pun kalian tak akan percaya!" jawab Aurora, dia bersikap acuh dan itu membuat Baskara juga Kaynen meradang.
"Jika kau tidak mau mengaku dan menjelaskan, maka hukuman di ruang pelatihan cocok untuk mu!" kata Kaynen dengan wajah serius.
"Kay, ini terlalu keras!" tegur Baskara, ia tak setuju dengan Kaynen.
"Pa, ini agar tangan Aurora tak lagi di gunakan mencuri," jawabnya tegas.
Aurora menatap Anjani, dia melihat ejekkan itu terpancar dari mata kecoklatan milik Anjani dan Aurora jelas tahu kebahagiaan atas kemenangan semu sedang Anjani rayakan dalam hati.
Tangan Aurora akan di tarik. Namun, cekalan tangannya pada pergelangan tangan Kaynen membuat pria itu berhenti melangkah.
"Apa? Kau mau mengelak setelah sejak tadi diam?" ejek Kaynen.
"Aku tidak akan mengelak ataupun membela diri, hanya saja kalian memiliki CCTV kenapa tidak periksa saja kebenaran itu?"
Tubuh Anjani menegang, dia menelan ludah kasar dan tubuhnya agak gemetar di pelukan Aruna.
"Dek, kenapa?" tanya Aruna khawatir.
"Tidak apa, Kak, aku hanya merasa cemas dengan keadaan Aurora jika di beri pelajaran dalam ruangan pelatihan.
" Jangan cemaskan pencuri, Jani! Karena dia tak pantas," ujar Aruna menenangkan sang adik.
Kaynen menatap Aurora ketenangan yang gadis itu miliki cukup membuat ia kagum. Ketenangan itu persis seperti mendiang sang Kakek dari pihak ibu yang bekerja sebagai jendral di kepolisian.
...****************...
Dan sekarang di sinilah mereka, ruangan CCTV yang akan membuktikan semuanya.
"Jika sampai kau terbukti mencuri kalung ini, maka bersiaplah untuk menerima hukuman!" ancam Kaynen tepat di sebelah Aurora.
"Lihat saja dulu, Tuan Muda Kaynen! Dan jangan memberikan ancaman apapun, karena saya takut anda akan menyesal nanti," ucap Aurora acuh.
Adeline dan Baskara hanya melihat konflik antara putri dan putranya, mereka tak tahu siapa yang benar dan salah.
Namun, ucapan Aurora benar jika menuduh tanpa bukti itu sama saja membidik sasaran ke tempat yang salah.
"Jangan diam saja Nyonya dan Tuan Harvey, saya tahu kalian pun meragukan karena aku tak di didik dalam kehidupan mewah Harvey, benarkan?" sindiran itu memang halus. Namun, itu menancap langsung pada ulu hati Baskara dan Adeline.
Sedangkan Anjani hanya diam, dia gelisah karena CCTV. Namun, notifikasi berbeda sebuah pesan masuk langsung merekahkan senyum Anjani.
'Mereka memang dapat di andalkan!' batin Anjani puas.
Sedangkan Aurora, dia tetap tenang. Walaupun bahaya mengintai dia dari berbagai arah mata angin. Sekali ia salah langkah maka apa yang ia rencanakan bisa hancur dalam sekejap.
“Oke, kita ke ruang CCTV!” Baskara menggumam seraya melangkah meninggalkan kamar itu, tanpa menoleh sedikit pun.
Adeline dan Kaynen langsung mengikutinya, meninggalkan tiga sosok yang tertinggal Aurora, Aruna, dan Anjani dengan suasana yang tiba-tiba membeku.
Aruna melangkah maju, tatapannya menusuk seperti belati yang siap melukai. “Kalau sampai kamu terbukti pelakunya, aku nggak akan ragu minta Papa dan Mama usir kamu dari rumah ini,” suaranya bergetar, penuh ancaman tersembunyi.
selalu d berikan kesehatan😄