NovelToon NovelToon
DI SUDUT HATI AMARA

DI SUDUT HATI AMARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:192
Nilai: 5
Nama Author: Pena Arafa

Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ternyata...

     Sepanjang perjalanan pulang aku terus kepikiran Adit. Mungkinkah aku telah di tipu untuk ke dua kali?. Sejak awal aku mencoba menjalani hubungan dengan Adit berjalan apa adanya. Biar mengalir tanpa ada ikatan pasti, tapi melihat dia menggandeng perempuan lain rasanya tetap saja sakit. Mungkin karena sebenarnya hatiku telah menaruh harapan besar padanya. Akan aku tanyakan pada Adit tentang semua ini, tapi mungkin tidak sekarang. Aku ingin berbicara langsung padanya besok.

  Aku melihat ponselku, ada beberapa pesan Adit yang belum ku baca.

  ( Ra... apa kamu marah?)

  ( Ini tidak seperti yang kamu kira. Ak u tidak ada hubungan apapun dengan dia)

   ( Aku mohon Ra... Katakan lah sesuatu)

   ( Aku bingung kalau kamu diam aja)

   ( Aku akan datang ke rumahmu setelah mengantar mereka pulang. Kita harus bicara)

   ( Aku tidak marah. Aku tak punya hak untuk itu karena aku pun bukan siapa siapanya kamu)

Akhirnya aku membalas.

   ( Tak perlu datang, sudah malam. Kita bisa bicara esok jika kau ingin)

   Aku mematikan ponsel san fokus pada jalan pulang.

    " Kamu baik baik saja Ra? ".Mbak Nayla menggenggam tanganku.

    " Aku nggak papa. Memangnya kenapa? ". Kami mengobrol di jok penumpang sentara bu Zahira di jok depan bersama anaknya yang tadi datang menjemput.

    " Tadi kan ketemu cowok itu... Siapa namanya yang sering jemput kamu di butik? sama cewek lagi". Dia seperti ragu mengatakan nya, mungkin takut aku sedih.

   " Dia Adit.. sama entah siapa".

   " Kamu sama dia? ".

   " Hanya teman tak ada hubungan khusus". Aku meralat cepat.

  " Teman dekat pasti. Kamu kelihatan agak canggung tadi".

   " Sayangnya iya mbak, walaupun aku ingin menolaknya".

  "Aku pikir kalian selama ini pacaran". Bu Zahira ikut menimpali. Jadi malu rasanya. Apa lagi ada orang lain di dalam mobil ini. " Soalnya dia sering jemput kamu. Pernah juga saya lihat kalian jalan bareng di mall".

     " Kami memang deket dan sering jalan, tapi kami tidak ada hubungan yang lebih. Aku nggak mau pacaran"

    " Tapi kamu kaya sedih lihatin mereka tadi"

   " Aku agak kaget soalnya minggu lalu dia udah ngelamar tapi aku belum bisa nerima dia. Mungkin jadinya dia nyari cewek lain. Tapi aku nggak papa kok. Aku baik baik aja". Aku tersenyum semanis mungkin agar mereka percaya.

   Tiba tiba ada mobil ngebut yang hampir menabrak kami hingga mobil kami oleng.

   " Kenapa ini nak? ". bu Zahira panik.

   " Hampir terserempet tadi ma... Kalian nggak papa kan? ".

    " Nggak papa, cuma kaget aja"

             ####

    Sementara di lain tempat, Adit terlihat panik. Dia yang sedang mengantar wanita bernama Maria itu untuk pulang tiidak fokus menyetir hingga hampir saja menabrak pengendara lain. Pikirannya tersita pada Amara yang terlihat tenang saat mereka bertemu tadi. Padahal dia sedang menggandeng cewek lain. Dia teringat ada luka yang tersirat di mata Amara saat mereka bertemu pandang tadi. Walaupun hanya beberapa detik tapi Adit bisa melihat itu dengan jelas.

    " Kamu kenapa si Dit?" Tanya sang ibu dari jok belakang.

   " Nggak papa ma.. " jawab Adit singkat.

   " Fokus nyetir dong jangan ngelamun. Kan bahaya. ".

   " Iya maaf.. ".

  " Kamu mikirin sesuatu ya? sampai nggak fokus? ". Tanya Maria yang sedari tadi selalu memperhatikan Adit yang terlihat gelisah.

   " Nggak ". Adit menjawab dengan singkat.

  Maria cemberut, pasalnya akhir akhir ini Adit sudah mulai mau mengenalnya. Sudah lebih lembut. Tapi sejak pulang dari pesta tadi dia kembali lagi ke setelah awalnya. Dingin. sedingin es.

      " Kamu kenapa sih? jutek amat? " sang mama mulai ikut penasaran.

    " Nggak papa".

 Dan Adit kembali diam. sampai tiba di rumahnya setelah mengantar Maria pulang lebih dulu.Dia langsung pergi ke kamarnya tanpa menghiraukan panggilan dari sang mama.

" Dit tunggu... mau mama bicara... "

Adit pun menghilang d balik pintu kamar. Disana pikiran nya kacau mengingat Amara. Dia benar benar ingin menemui pujaan hatinya itu detik ini juga. Tapi itu tK mungkin. Dia akan menunggu sampai esok pagi.

\#\#\#\#\#\#

Pagi hari tiba, Amara bersiap berangkat kerja seperti biasanya, tapi wajahnya terlihat begitu lelah karena semalam dia hanya tidur sangat sebentar. Dia tak bisa istirahat dengan nyenyak karena Adit.

Saat masih bersiap di kamar, tiba tiba ada yang mengetik pintu kamarnya.

Tok... tok tok

" Nak.. keluarlah sebentar ayah ingin bicara".

Suara sang ayah terdengar darii balik pintu kamar.

" Iya yah.... bentar lagi Amara selesai".

" Ayah tunggu di sini".

" Iya yah.. "

Beberapa menit kemudian Amara keluar dari kamar, dan benar saja sang ayah masih menunggu di sana.

" Lho ayah masih di sini? "

" Kan ayah udah bilang mau nunggu di sini". Dia menarik tangan Amara ke luar rumah" Ayo ikut ayah sekarang".

" Mau kemana yah? "

" Lihat lah sini". Pak Rusdi menunjukan jarinya pada sesuatu yang ada di halaman rumah. " Tuh yang kamu mau udah datang".

Amara mengikuti arah pandang ayahnya. Dan betapa terkejutnya Amara karena di sana telah terparkir sebuah motor baru yang di inginkannya.

" Wah... ayah.. ini motornya udah ada aja. Kapan datang?". Amara berjalan menuju motor barunya dengan gembira.

" Semalam tiba".

" Kok aku nggak tahu. Nggak ada yang bilang apa apa juga semalam? ".

" Ayah lihat semalam wajah kamu kusut banget waktu pulang.Mungkin kamu capek banget,Jadi ayah pikir buat tunjukin ke kamu pagi ini aja".

" Iya yah.,. nggak papa. Terima kasih banyak buat motornya. Aku jadi mudah kalau mau kerja. Nggak harus nunggu jemputan lagi. ". Aku tersenyum lembut.

" Amara... ".

" Iya yah.... ". Amara menoleh.

" Duduk sini".... Ayah menepuk meluk kursi di sampingnya.

Amara pun menuruti sang ayah. Dia duduk di samping lelaki yang paling di sayangi nya.

" Ada apa yah? ".

" Kamu kenapa? Apa ada masalah? ".

" Nggak ada masalah apa apa kok yah. Amara baik baik aja. "

" Mata kamu itu... kaya mata panda. Semalam tidurnya pasti tak nyenyak. Kamu kepikiran sesuatu pasti. Kamu kan selalai begitu".

Ayahnya memang orang pertama yang paling tahu apapun yang dirasakan Amara. Padanya lah Amara tak bisa berbohong sedikitpun. Amara ingin menceritakan semuanya, tapi dia masih ragu sebelum mengetahui kebenarannya.

Amara masih diam, sibuk dengan perdebatan di kepalanya.

Saat itu pula, datang sebuah mobil hitam yang mereka kenali. Pagi sekali dia sudah datang, tidak seperti biasanya.

Dialah Adit. Dia turun dari mobil nya dan bergegas berjalan menuju arah Amara dan ayahnya berada. Ayah melihat sekilas wajah sang anak yang tidak seperti biasanya saat Aditya datang.

"Assalamu'alaikum... "

"Wa'alaikumsalam... "

"Pagi om.... Amara... ". Adit menyapa ramah seperti biasanya walaupun sebenarnya hatinya gelisah.

" Kamu datang pagi sekali Dit. Ada apa? " tanya Pak Rusdi.

" Pengen ngobrol dulu sama Amara bentar. Boleh om...? ".

Pak Rusdi mengamati Adit tajam. Seolah mencari sesuatu disana. Sesuatu yang tak biasa.

" Ya sudah kalinya ngobrol dulu sana. Tapi jangan kelamaan, Amara belum sarapan dan harus pergi kerja."

" Iya om... "

" Saya masuk dulu kalau begitu ". Pak Rusdi menepuk pundak Amara lembut sebelum memasuki rumah. Seolah sia mberikan kekuatan kepada sang anak.

" Ra... tentang semalam..... ".Adit mulai berbicara setelah mereka duduk di kursi yang ada di teras.

" Jelaskan.... Sejujurnya..!. Jangan tutupi apapun".

Adit menelan salivanya susah payah. Dia seperti tawanan yang harus mengakui kesalahannya. Tapi dia sadar memang semua harus segera di jelaskan.

"Yang semalam itu namanya Maria". Adit menjeda ucapannya dan menarik nafas dalam. "Dia anak dari teman mama. Semalam mama menyuruhku menemani datang ke acara pertunangan dari salah satu anaknya teman mama. Ki kira kira hanya berdua, tapi ternyata mama juga mengajak Maria".

" Lalu kalian ada sesuatu kah? ".

" Tidak ada... ".

" Jangan bohong. Aku sudah melhiat kalian sejak acara di mulai. Kalian terlihat akrab."

Adit terlihat kaget, tapi berusaha menyembunyikan nya. Dia menarik nafas lebih dalam lagi sebelum melanjutkan penjelasannya.

" Sebenarnya... mama sedang mencoba menjodohkan kami sejak tiga bulan lalu, tapi aku tidak mau. Mama selalu berusaha mendekatkan kami. Aku tak pernah mau menanggapi, tapi mama selalu punya cara agar kami semakin dekat. Makanya aku ngajak kamu segera nikah. Biar punya alasan untuk menolak karena sudah punya pilihan sendiri. Tapi kamunya belum mau terima aku".

" Jadi itu alasan kamu, makanya kamu jadi mau menerima perjodohan itu? ".

" Bukan begitu. Selama ini aku selalu dingin sama dia. Mama sering marah karena itu. Jadi aku mencoba lebih hangat dari sebelumnya".

" Kenapa kamu nggak sama dia aja? mamamu aja sudah menginginkan nya".

" Nggak bisa begitu. ".

" Kenapa? ".

" Aku maunya kamu yang jadi istriku. Aku sayangnya sama kamu. Makanya, menikahlah dengan ku. Tolong terima aku kali ini".

" Mamamu maunya wanita itu. Dia tidak akan menerima ku".

" Mama belum kenal kamu. Setelah kenal pasti dia juga suka sama kamu. Dia akan setuju ".

" Aku tidak yakin".

" Makanya kamu mau ya aku ajak kenalan sama mama. Kita bisa ambil hati mama agar dia merestui kita".

" Entahlah ... aku masih ragu".

" Seperti yang kamu katakan. Kita jalani aja dulu. Kita lakukan yang terbaik agar kita mendapatkan hasil yang terbaik juga. Please...mau ya...? ".

" hmmm Aku.... "

Tiba tiba ayah keluar rumah. Beliau akan berangkat kerja.

" Ngobrol nya udah dulu, udah siang. Amara makanlah dulu sebelum berangkat. Ayah akan berangkat sekarang".

" Baik yah".

" Dan kamu Adit... kamu juga harus kerja kan? jadi berangkatlah. ".

" Saya akan anterin Amara dulu om".

" Sudah ada motor ini. Dia bisa menaikinya".

Adit menoleh kepada Amara, seolah menanyakan keinginan Amara.

" Kamu duluan aja Dit... Aku mau pake motor aja".

" Yaudah aku duluan. Ku harap nanti kita bisa lanjut ngobrol lagi".Adit pun memilih untuk mengalah. Tidak ingin memaksa.

Amara hanya mengangguk kecil tanpa menjawab. Sampai akhirnya Adit pergi dengan kecewa karena sebenarnya obrolan mereka belum selesai. Bersamaan dengan ayah yang juga sudah pergi. Tersisa lah Amara yang masih dilema.

Amara pun segera pergi kerja setelah sarapan bersama adiknya...

1
Jun
ceritanya bagus, tapi tanda bacanya di revisi lagi kak masih berantakan. semangat ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!