"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Siapa istrimu? dia atau aku?
Dinginnya udara malam yang menyelimuti kota di bawah guyuran hujan berbanding terbalik dengan suasana panas yang menyelimuti di sebuah kamar di mana aktivitas dua insan yang kini sedang melakukan penyatuan diiringi suara lenguhan yang saling bersahutan. Sudah berulang kali Evan datang ke apartemen itu sekedar untuk melepaskan hasratnya pada wanita yang menjadi kekasihnya.
Hubungannya dengan sang kekasih yang masih terjalin sampai saat ini pun terpaksa ia sembunyikan dari ayahnya karena sang ayah tidak menyukai Rihana. Dan alasan sederhana itulah mengapa ia memilih berpura-pura koma agar ia bisa menikmati waktu bersama Rihana. Ia memang mengalami kecelakaan dan sempat koma, tapi koma yang ia alami tidaklah lama.
Namun, sejak ia mengetahui Rieta telah lulus, ia berhenti berpura-pura koma, karena itulah yang ayahnya janjikan jika sang ayah akan menyerahkan perusahaan setelah Rieta lulus. Dan hal itu berimbas pada waktu bersama sang kekasih menjadi sangat terbatas. Mau tak mau ia harus kembali bekerja di perusahaaan ayahnya demi mendapatkan pengakuan dari sang ayah ia layak menjadi seorang pemimpin. Tapi tetap saja, ayahnya masih menunda entah apa alasannya. Ayahnya justru menempatkan Rieta bekerja di perusahaan pamannya sendiri.
"Tidak bisakah kamu menginap di sini saja, Evan?" pinta Rihana saat melihat Evan sudah memakai kemejanya kembali.
"Tidak bisa," jawab Evan. "Papa akan curiga jika tidak melihatku besok pagi."
"Kenapa kamu tidak bercerai saja darinya?" sungut Rihana seraya duduk bersandar dengan tangan mempertahankan selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Katakan pada ayahmu jika kamu tidak mencintai Rieta."
"Ayahku hanya akan memberikan sangggahan jika aku berbicara begitu. Cinta akan datang seiring waktu dan sebagainya." Evan mendesah panjang, meraih jasnya yang tergeletak di lantai tanpa memakainya.
"Sebelum ini, Rieta menghabiskan waktunya di luar negri untuk belajar, dan setelah dia kembali, Papa ingin kami menjalani kehidupan rumah tangga yang sebenarnya."
"Tidakkah menurutmu ayahmu terlalu egois?" Rihana mendengus, beranjak dari tempat tidur, lalu memeluk Evan dari belakang tanpa peduli tubuhnya dalam keadaan polos.
"Aku mulai bosan dengan hubungan seperti ini. Selalu bersembunyi, dan berpura-pura manis saat bersama istrimu. Aku juga lelah bekerja di AVA Corp, meski pamanmu bersikap adil di perusahaan, tapi tetap saja."
Evan melepaskan tangan Rihana dari pinggangnya, berbalik hingga mereka saling berhadapan, lalu merangkum wajah sang kekasih diakhiri memberikan kecupan singkat di bibir Rihana.
"Aku harus pulang sekarang, ini sudah dini hari," ucap Evan tidak memberikan tanggapan atas keluhan Rihana.
Tanpa menunggu jawaban, Evan berbalik pergi meninggalkan Rihana begitu saja. Entah mengapa bayangan wajah Rieta tiba-tiba melintas, suara saat Rieta meminta dirinya menjemput kembali menggema di telinga, membuat ia memacu mobilnya agar segera tiba di rumah. Ia sampai lupa dengan penampilannya saat ini yang tampak berantakan dengan begitu banyak tanda percintaan yang baru saja ia lakukan bersama Rihana.
.
.
.
Rieta masih duduk di sofa kamar menunggu suaminya pulang, mengabaikan rasa lelah usai bekerja dan kantuk yang ia rasakan. Harapan Rieta untuk bisa berbicara baik-baik dengan suaminya pupus saat Rieta melihat bagaimana keadan suaminya ketika pria itu masuk ke dalam kamar.
"Kamu belum tidur?" tanya Evan menutupi keterkejutannya lantaran melihat Rieta masih terjaga dan tengah duduk di sofa.
"Aku menunggumu," jawab Rieta seraya berdiri, meminta ijin untuk mengmbil alih tas kerja sekaligus jas suaminya.
Evan masuk ke dalam kamar saat jam menunjukan pukul satu dini hari, pakaian Evan berantakan, aroma parfum wanita menguar dari tubuh pria itu, dan satu hal lagi yang membuat amarah Rieta terpatik adalah noda lipstik di kerah pakaian Evan.
"Kamu pergi kemana?" tanya Rieta tenang dalam usahanya meredam emosi di hatinya.
"Bukankah aku sudah katakan pekerjaanku banyak?" Evan balas bertanya. "Aku lembur di kantor. Kami pikir demi siapa aku melakukan ini? Jangan terlalu dramatis, aku sudah terlalu lama tidak bekerja karena koma, jadi pekerjaanku menjadi lambat."
Rieta tersenyum, memberikan ekspresi setengah mengejak yang begitu kentara. Ia menyampirkan jas Evan di satu tangannya, melangkah maju, lalu menarik kerah pakaian suaminya hingga ia bisa melihat lebih jelas noda lipstik pada kerah pakaian suaminya. Ia bahkan melihat begitu banyak tanda kemerahan di leher suaminya.
"Kamu kerja lembur atau melakukan hal lain, hanya kamu yang tahu. Lain kali jika ingin berbohong, perhatikan baik-baik hal sederhana ini." tandas Rieta seraya menurunkan tangannya, lalu berbalik.
Lagi. Untuk kedua kalinya, Evan membeku usai mendengar apa yang istrinya ucapkan. Nada bicara nyaris tanpa emosi dari Rieta justru terasa begitu menusuk hatinya.
"Rie." Evan menarik lengan istrinya, membalikan tubuh Rieta hingga keduanya kembali berhadapan.
"Apa?" Rieta bertanya datar.
"Aku hanya-..."
"Hanya menjemput dia di kantor tempat aku bekerja dan mengabaikanku meski aku meminta bantuanmu?" potong Rieta cepat.
Nada suara Rieta tetap datar, satu alisnya terangkat. "Siapa sebenarnya yang menjadi istrimu? Dia atau aku?"
"Kamu tidak berhak mencampuri urusanku!" kalimat yang sayangnya hanya bisa Evan ucapkan di dalam hati.
Lidah Evan terasa kelu, tatapan Rieta yang begitu datar membuat ia tidak bisa menebak apa yang Rieta pikirkan.
"Jangan khawatir," Rieta berkata lagi, menepis pelan tangan Evan dari lengannya.
"Aku sadar akan posisiku. Aku hanya seorang pengemis di sini, jadi aku tidak akan mengatakan apapun pada Papa. Bahkan, aku juga tidak keberatan untuk mengembalikan kartu yang kamu berikan padaku jika itu akan membuatmu merasa lebih baik. Setidaknya, dengan diamnya kamu, aku bisa menyimpulkan bahwa yang aku lihat malam itu memang kamu."
"Tapi kuharap, kamu segera mengakhiri hubunganmu dengan wanita itu sebelum Papa mengetahuinya dari orang lain."
Sekali lagi. Rieta memilih melunak, ia ingin memberi suaminya kesempatan untuk berubah. Demi ayah mertuanya, ia rela
Evan terpaku di tempatnya berdiri, menatap punggung Rieta yang menyimpan tas kerjanya di rak penyimpanan dan memasukkan jas kerjanya di keranjang khusus. Langkahnya berlanjut ke walk in closet, mengambil piyama untuk Evan, lalu kembali ke sofa, dan berbaring tanpa mengatakan apapun lagi. Meninggalkan Evan dalam keheningan malam.
Namun, sebaris kalimat yang Rieta ucapkan sesaat lalu membuat dahi Evan berkerut tipis.
"Sejak kapan aku memberi dia kartu?"
. . . .
. . . .
To be continued...