“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Hans menyerahkan sampel rambut Yura pada dokter keluarga Wijaya secara langsung.
“Dua hari,” kata dokter itu singkat.
“Hasilnya akan keluar dua hari lagi.”
Hans mengangguk. “Saya minta ini dirahasiakan. Tidak satu pun anggota keluarga boleh tahu.”
Dokter itu paham, nama Wijaya bukan nama yang bisa diperlakukan sembarangan. Begitu keluar dari ruang dokter, ponsel Hans berdering.
Hans menghela napas pendek sebelum mengangkatnya.
[Kak Hans,] suara Putri terdengar manja seperti biasa, [jemput aku, dong. Aku di restoran—]
“Tadi kamu berangkat pakai apa?” potong Hans dingin.
Putri terdiam sesaat. [Mobil taksi … kenapa?]
“Kalau begitu pulang sendiri. Pesan taksi, jangan manja.”
Nada Hans datar, tidak ada kelembutan dan tidak ada kesabaran.
[Kakak kenapa sih?] Putri mulai meninggi. [Sejak acara itu kamu berubah! Aku cuma minta dijemput!]
Hans berhenti melangkah.
“Aku tidak punya kewajiban menjemputmu setiap kali kamu mau,” jawabnya dingin, nyaris kejam. “Belajar mandiri.”
Putri tersulut.
[Kakak kejam! Semua ini gara-gara perempuan itu, kan?! Gara-gara Yura!]
Hans menutup matanya sesaat.
“Jaga ucapanmu, Putri.”
[Kalau Kakak tidak mau jemput, aku tidak pulang!] bentak Putri. [Aku akan buat masalah! Aku—]
“Lakukan sesukamu,” potong Hans tanpa emosi. “Tapi jangan seret namaku.”
Telepon diputus sepihak.
Hans menatap layar ponselnya lama. Ada sesuatu yang runtuh perlahan di dadanya, bukan rasa bersalah, melainkan jarak
Di restoran itu, Putri berdiri tiba-tiba hingga kursinya terseret keras ke belakang.
“Brengsek!” teriaknya sambil melempar ponsel ke atas meja.
Beberapa tamu menoleh. Musik lembut yang semula mengalun terasa sumbang di telinga Putri. Dadanya naik turun, napasnya tersengal oleh amarah yang tak lagi bisa ia kendalikan.
“Sejak perempuan itu muncul, semuanya berubah!” geram Putri, matanya memerah.
Salah satu teman wanitanya mencoba menenangkannya. “Put, tenang dong. Semua orang lihat—”
“Diam!” bentak Putri. “Kalian tahu apa? Aku dipermalukan di depan umum, dipaksa berlutut, sekarang kakakku sendiri memperlakukanku seperti orang asing!”
Tangannya mengepal kuat hingga kuku menancap ke telapak. Bayangan malam pesta ulang tahun itu kembali terputar di kepalanya, kamera, tatapan jijik para tamu, suara Arga berteriak, dan tatapan Hans yang dingin. Tidak membela dan tidak melindungi.
Putri tertawa pendek, tapi suaranya bergetar.
“Yura … kamu pikir kamu menang?” gumamnya pelan, penuh kebencian. “Kamu hanya pengganti. Perempuan murahan yang beruntung.”
Ia menyambar tasnya dengan kasar.
“Kalau Kak Hans tidak mau menjemputku,” katanya lirih tapi beracun, “aku akan memastikan dia menyesal telah memilih perempuan itu.”
Putri melangkah keluar dari restoran tanpa peduli tatapan orang-orang di belakangnya. Tumit sepatunya menghantam lantai dengan keras, seolah setiap langkah adalah sumpah.
Malam itu angin berembus pelan di balkon kamar Yura. Lampu taman di halaman rumahnya menyala temaram, dan di sanalah seperti beberapa malam sebelumnya, mobil Sky terparkir dengan tenang, seolah pemiliknya tak pernah lelah menunggu.
Yura menghela napas panjang.
“Lagi-lagi dia,” gumamnya.
Ia turun ke bawah. Di ruang tamu, Mario sudah berdiri dengan ponsel di tangan.
“Dia datang lagi,” lapor Mario singkat.
“Aku yang urus,” jawab Yura tenang, matanya dingin.
Beberapa menit kemudian, Yura berdiri di samping mobil itu dan mengetuk kaca jendela. Ketukan pelan, tapi tegas. Sky menoleh, lalu menurunkan kaca.
“Kamu tidak capek?” tanya Yura datar.
Sky tersenyum kecil. “Kalau demi kamu, tidak.”
Yura mengangkat alis. “Buka pintunya.”
Tanpa banyak bicara, Sky membuka kunci mobil. Yura langsung masuk dan duduk di kursi penumpang. Pintu tertutup, menyisakan keheningan yang tiba-tiba terasa berat.
“Sekarang katakan,” ujar Yura. “Untuk apa kamu datang?”
Sky memutar tubuhnya sedikit, menatap Yura tanpa bercanda seperti biasanya. Tatapannya serius, jujur, dan anehnya ada rasa hangat.
“Aku datang karena aku menyukaimu, Yura.”
Yura terdiam sejenak, lalu tertawa kecil tanpa senyum.
“Menyukai? Kamu bercanda?”
“Aku tidak pernah bercanda soal perasaan,” jawab Sky pelan. “Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu di kediaman Arga. Bukan sebagai pengganti. Bukan sebagai asisten tetapi sebagai Yura.”
Yura menoleh ke arah jendela, menatap lampu-lampu kota di kejauhan.
“Kamu tahu siapa aku sekarang,” katanya dingin. “Aku Lartika. Nama itu membawa masalah, musuh, dan darah.”
“Aku tahu,” Sky mengangguk. “Dan aku tidak peduli.”
Yura menatapnya tajam. “Kamu Kakaknya Nona Shasmita. Tunangan Hans. Terjebak di tengah keluarga Wijaya dan Pradipta. Kamu sadar apa artinya mendekatiku?”
Sky tersenyum tipis. “Artinya aku memilih jalan yang rumit. Tapi aku tidak pernah hidup dengan memilih yang mudah.”
Hening kembali turun. Detik terasa panjang.
“Aku bukan perempuan yang bisa kamu lindungi dengan janji manis,” ucap Yura akhirnya. “Aku tidak butuh penyelamat.”
Sky mengangguk pelan. “Aku juga tidak ingin jadi penyelamatmu. Aku hanya ingin berdiri di sampingmu, kalau kamu mengizinkan.”
Yura menatap Sky lama, terlalu lama. Ada sesuatu di matanya yang bergetar, tapi segera ia sembunyikan.
“Kamu datang terlambat,” katanya lirih. “Hatiku sedang kosong. Dan orang kosong bisa jadi kejam.”
Sky tersenyum lagi, kali ini lebih lembut.
“Kalau begitu, izinkan aku menunggu. Aku tidak minta jawaban sekarang.”
Yura membuka pintu mobil. Sebelum turun, ia berhenti sejenak.
“Sky,” katanya tanpa menoleh, “kalau suatu hari aku menyeretmu ke dalam kekacauan yang tidak bisa kamu kendalikan … jangan salahkan aku.”
Sky menjawab tanpa ragu,
“Kalau hari itu datang, aku tetap di sana.”
Yura turun dan menutup pintu. Ia melangkah masuk ke rumah tanpa menoleh lagi.
Jujur, baru kali ini, saya baca tanpa Skip ❤️😃😘
Jalan ceritanya sederhana tanpa banyak Drama yang bikin nampol😩🤣🤣🤣
Ceritanya bagus, karakter Yura bukan wanita lemah, lebay, plin plan, manja / jadi Goblok karna bucin. 👍👍
😭 kali ini bikin Arga + Putri menyesal sampai berdarah darah 😡
Harusnya kalau memang pemeran wanita nya pintar, uang 100M tidak ada artinya. Tapi ya gitu lah.. Terserah Author aja.. 😃
Palingan saya bacanya banyak di Skip aja.. 🙄🤔
apa yg di cari Yura selain donor untuk ayah nya sedangkan sebagai lartika dia org berpengaruh+ bergelimpangan
Karya Abian yng mana yak ?? 🙏
endingnya hepi semua
terima kasih