Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Suamiku
Daripada melamun, Jenara memilih mencuci gelas dan mangkuk kotor di belakang rumah. Senja mulai turun, membuat halaman tampak lebih lengang dan sejuk. Ia membilas peralatan satu per satu di bawah pancuran bambu. Namun, di sela gerak tangannya, pandangan Jenara tanpa sengaja tertuju pada Seran.
Pria itu sedang mengangkut air dari sumur, dua ember kayu tergantung di kedua sisinya. Langkahnya mantap, punggungnya tegap.
Tidak ada tanda-tanda kelelahan di wajahnya, bahkan napasnya tetap teratur. Padahal Jenara tahu, bahu pria itu masih menyimpan luka goresan yang belum sepenuhnya sembuh. Seran seolah dibuat dari baja—diam, kuat, dan tidak pernah mengeluh.
“Nanti akan kuberikan obat itu,” gumam Jenara nyaris tanpa suara. Obat dari Ruang Wiji kembali terlintas di benaknya. Setidaknya, itu hal kecil yang bisa ia lakukan sebelum benar-benar pergi.
Setelah menyiapkan air, Jenara melihat Seran berdiri di depan bilik mandi. Ia berjaga dengan punggung menghadap ke pintu. Satu per satu, 3G bergantian masuk.
Seran tidak berbicara banyak. Ia hanya memberi aba-aba singkat dan memastikan pintu tertutup rapat, lalu menunggu dengan sabar.
Pemandangan itu membuat Jenara berpikir. Siapa sebenarnya ibu kandung mereka?
Di dalam novel, tidak ada satu baris pun yang menjelaskan tentang istri pertama Seran. Tidak ada nama, tidak ada latar, seolah perempuan itu sengaja dihapus dari cerita.
Dan entah mengapa, bila diamati sosok Gita, Gatra, dan Giri tidak mirip dengan Seran. Kemungkinan besar, mereka mewarisi fitur wajah sang ibu, yang bahkan tidak diberi tempat di dalam kisah.
Selesai mencuci dan menata peralatan makan di dapur, Jenara kembali ke kamar untuk mengambil baju ganti. Tubuhnya terasa lengket oleh sisa keringat dan udara lembap. Ia pun memutuskan menyusul ke bilik mandi.
Ia berpapasan dengan Seran dan Si Kembar Tiga di tengah jalan.
“Mau ke mana?" tanya Seran.
Jenara mengangkat bahu ringan. “Aku juga ingin mandi. Tubuhku lengket.”
Seran mengangguk singkat. "Masih ada sisa air di dalam. Kalau kurang, berteriak saja dari balik pintu. Akan kuambilkan.”
Jenara terbelalak. “Kau akan… menunggui aku juga?”
“Iya,” jawab Seran datar. “Hari mulai gelap. Kau tidak aman jika sendirian di luar.”
Jawaban itu membuat Jenara kehabisan kata. Tanpa menunggu lagi, ia buru-buru masuk ke bilik mandi.
Begitu air dingin menyentuh kulitnya, tubuh Jenara langsung menggigil. Air petang terasa menusuk, membuat otot-ototnya yang sudah lelah semakin tegang.
Jenara menuangkan air rendaman lerak ke telapak tangannya. Busanya tidak banyak, tetapi cukup membersihkan kulit yang lengket oleh keringat. Kemudian, ia menyiram tubuhnya dengan cepat sekadar untuk membersihkan diri.
“Dingin sekali,” gumamnya sambil mengusap lengan.
Begitu selesai, Jenara mengenakan baju ganti dengan tergesa-gesa. Jemarinya sedikit kaku, napasnya masih tertahan oleh dingin yang merayap.
Ia berjalan keluar dan hampir menabrak Seran. Pria itu sudah berdiri di depan pintu, terlalu dekat. Jenara refleks mundur setengah langkah.
“Kau kenapa?” tanya Seran.
“Aku kedinginan. Aku masuk rumah dulu," sahut Jenara.
Tanpa menunggu respons, Jenara berlari kecil menuju rumah. Ia masuk ke kamar dengan langkah pelan, lalu segera mencari selimut tipis yang terlipat di dalam lemari kayu.
Jenara menarik keluar selimut dari kain katun halus, lantas membungkuskan ke tubuhnya yang masih menggigil.
Begitu berbaring, Jenara menyadari sesuatu. Tidak ada rasa nyeri yang biasanya menyambut setiap gerakan. Tidak ada sensasi perih di punggung yang menahan napasnya.
“Obat Ruang Wiji sangat manjur," bisiknya, hampir tak percaya.
Sambil tersenyum lega, Jenara membaringkan tubuhnya menyamping, bergelung di bawah selimut tipis. Untuk pertama kalinya, ia merasa nyaman beristirahat.
Namun ketenangan itu hanya bertahan sesaat, karena Jenara teringat pesan Seran untuk menunggu di kamar. Jantung Jenara mendadak berdegup lebih kencang.
Dalam hati, ia berharap Seran akan berubah pikiran. Bahwa pria itu memilih diam, atau tidur di luar kamar, atau apa pun selain masuk ke ruangan ini. Walau ia tahu harapan tersebut nyaris mustahil.
Benar saja. Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar di luar. Pelan, mantap, mendekat. Daun pintu berderit lirih saat dibuka.
“Jenara, apa kau masih kedinginan?” Suara bariton Seran memecah kesunyian.
Jenara refleks menyibakkan selimut dan mengeluarkan kepalanya. Rambutnya masih sedikit basah, menempel di pelipis.
“Sedikit,” jawabnya jujur.
Seran mendekat. “Bagaimana punggungmu?"
"Sudah sembuh. Aku punya obat yang mujarab.”
Seran berhenti tepat di sisi tempat tidur, lalu duduk. Gerakan itu membuat kasur sedikit berderit dan Jenara tersentak tanpa sadar.
“Kau mau mencobanya?” lanjut Jenara, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. “Untuk luka di bahumu.”
“Dari mana kau tahu aku terluka?” tanya Seran dengan tatapan tajam.
Jenara menelan ludah. “Tadi pagi… aku tidak sengaja melihatnya. Saat kau mencangkul di kebun.”
Hening sejenak. Jenara meremas ujung selimut, lalu memberanikan diri bertanya.
"Dari mana kau mendapat luka itu? Apa saat di perjalanan pulang?”
Seran tidak langsung menjawab. Tangannya justru bergerak membuka baju atasannya.
Punggung tegap lelaki itu kini terbuka. Memperlihatkan otot yang terbentuk tegas, juga luka goresan di bahu kiri yang tampak sudah mengering.
“Oleskan saja obatmu. Nanti akan kuceritakan… tentang perjalananku. Dan tentang Madri.”
Pipi Jenara memanas, jantungnya berdentum terlalu keras. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke guci kecil di tangannya, berpura-pura fokus membuka tutupnya.
Jenara mengingatkan diri sendiri. Ini hanya mengobati luka, tidak lebih.
Tatkala Jenara mendekat dan mengoleskan krim putih itu ke luka Seran, jemarinya sedikit gemetar. Kulit Seran terasa hangat di bawah sentuhannya, membuatnya sadar betapa dekat jarak mereka sekarang.
"Aku menunda pulang bukan karena sengaja, tapi aku tidak ingin keselamatan kalian terancam," ujar Seran memecah keheningan.
"Luka ini kudapatkan setelah bertarung dengan sejumlah orang. Dan Madri adalah teman yang membantuku."
Mata Jenara langsung membulat. Ia teringat kenangan pertemuan pertamanya dengan Seran, di mana pria itu juga sedang terluka parah.
Berbagai pertanyaan timbul silih berganti di benak Jenara. Siapa sebenarnya Seran? Mengapa ia sering terluka dan harus bertarung, layaknya orang yang dikejar-kejar musuh?