NovelToon NovelToon
Izinkan Aku Mencinta

Izinkan Aku Mencinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Romansa / Perjodohan
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Amerta Nayanika

Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.

Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.

Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.

Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manusia Kuat Itu Alana

Setelah hela nafas yang kesekian kalinya, Alana kembali menunduk. Kini tatapannya bukan lagi mengarah pada ujung sepatunya, tapi pada sekantung buah dan payung hitam yang ada di tangannya. Berharap Kinan bisa diajak bicara baik-baik dengan kepala dingin.

Kedatangan Alana malam ini di unit apartemen Kinan bukan untuk meminta pria itu memikirkan kembali permintaannya di bawah hujan tempo hari. Tapi Alana berharap dengan berbicara dengan Kinan, dirinya bisa lebih yakin dengan penolakan ini adalah pilihan yang terbaik.

"Ada perlu dengan saya?" Suara itu terdengar tak jauh dari Alana. Suara yang tak lagi asing menggema di sekitarnya. Kinan.

Pria dengan jas kerja yang masih melekat di tubuhnya itu menghentikan langkahnya begitu sampai di hadapan Alana. Matanya datar dan dingin seperti biasanya. Tak ada sedikit pun senyuman yang terbit di sana untuk menyapa Alana dengan ramah.

Sementara, seorang pria lain yang datang bersamanya kini menoleh ke arah mereka berdua. Jemari yang menekan digit angka untuk membuka pintu unit apartemen miliknya di sebelah Kinan itu tampaknya mengawasi keduanya. Tepatnya, Aldo ingin tahu siapakah perempuan yang kini berbincang dengan sahabatnya itu.

Kinan membalikkan badan. "Lo nggak masuk?" tanyanya pada Aldo.

Mendengar itu, Aldo menaikkan alisnya. Lalu dengan senyuman bodohnya, dia terkekeh canggung. "Ini mau masuk."

Bunyi kunci pintu apartemen yang terbuka terdengar nyaring di sepanjang lorong. Aldo yang berulah pun sampai ikut terkejut dibuatnya. Namun, mata itu masih belum mau lepas dari dua insan yang berdiri tak jauh darinya.

"Mbaknya perawat, ya?" tanya Aldo, mengurungkan langkahnya untuk masuk.

Alana yang mendapat pertanyaan itu lantas tersenyum bingung. Apakah penampilannya menjelaskan itu? Padahal Alana hanya mengunakan baju biasa yang ditutupi jaket kebesaran peninggalan ayahnya. Hanya saja rambutnya tetap dengan cepol rendah sedikit berantakan karena angin.

Aldo tersenyum kecil dengan susunan gigi rapi yang mengintip di baliknya. "Mukanya kayak ada rumah sakitnya gitu soalnya," lanjutnya dengan telunjuk yang mengelilingi wajahnya sendiri.

Kinan yang semula sudah kembali menghadap Alana, mau tak mau harus menoleh ke arah Aldo. Pasalnya, pria itu tak kunjung menghilang dari pandangannya. Dia mengerti kedatangan Alana kali ini pasti hendak membicarakan permintaan Ella yang cukup mengganggu pikiran keduanya.

Mendapat tatapan tajam dari Kinan, Aldo meneguk ludahnya kasar. Lalu, kepalanya mengangguk sekali pada Alana sebaai tanda pamit. Setelahnya, pria itu menghilang di balik pintu apartemen yang kembali terkunci.

"Jadi, ada yang mau diobrolin sama saya?" tanya Kinan setelah kepergian Aldo.

Alana menarik nafasnya dalam-dalam. Sebelum berbicara dengan baik-baik, tentu dia perlu memberikan sesuatu yang setidaknya sedikit menyenangkan hati pria di hadapannya ini. Sekantung buah juga seharusnya menjadi hal yang menyenangkan untuk seseorang yang tinggal sendirian.

Tangannya mengulurkan sekantung buah yang dia bawa. "Ini, saya ada sedikit buah yang saya beli di dekat rumah sakit."

Kinan tak langsung menerimanya. Dia menunduk pada tangan Alana yang terulur padanya. Tak hanya sekantung buah yang ada di sana, payung hitam yang dia berikan beberapa waktu yang lalu juga menggantung di antara jemarinya.

Mendapati itu, Alana mengulas senyum kecil di wajahnya. "Sekalian saya juga mau mengembalikan payung yang kemarin ketinggalan."

Momen ini seolah tak asing di ingatan Kinan. Senyuman canggung yang terulas di wajah dan tangan yang terulur ke arahnya. Hanya saja, kala itu bukan sekantung buah dan payung yang diulurkan, melainkan sebuah buku. Dia juga tak mengenakan baju kerja kala itu, hanya seragam putih abu-abu yang terasa kaku setelah cukup lama mengendap dalam lemari.

Alana yang mulai merasa pegal pada lengannya, lantas memanggil nama sosok yang ada di hadapannya ini. "Pak Kinan?"

"Ya?" Kinan tersadar dari lamunannya.

"Jadi, ini mau diterima apa nggak?" tanya Alana.

Buru-buru Kinan meraih buah dan payung itu, membuat Alana langsung meluruhkan tangannya ke samping tubuhnya. Dengan gerakan kecil perempuan itu berusaha meredakan pegal di lengannya. Satu kilo jeruk ternyata juga mampu melemahkan tubuh letihnya malam ini.

Tanpa berkata apa pun, Kinan melewati tubuh Alana. Dengan santainya dia menekan beberapa digit untuk membuka pintu unit apartemen miliknya. Punggung itu bahkan membentang tak berdosa di depan mata Alana.

Kini hanya satu hal yang bergema dalam kepala Alana. Apa mungkin pria ini memang tak ingin membicarakan apa pun dengannya? Padahal dirinya sudah cukup berusaha untuk meluangkan waktu setelah pekerjaannya yang cukup melelahkan hari ini.

"Silakan masuk, Suster Alana," ucap Kinan tanpa membalikkan badan. Dia bahkan berjalan masuk lebih dulu, membiarkan Alana mengekor dan menutup pintu seorang diri.

Cahaya lampu yang tak terlalu terang menyapa pandangnya. Tak ada aroma apa pun selain wangi sabun yang berjejak samar, sisa Kinan bersiap di pagi hari. Segalanya di dominasi dengan warna putih tulang yang membuat suasana terasa lebih menenangkan.

Sepertinya tempat ini memang diperuntukan sebagai tempat beristirahat saja. Tak ada sedikit pun debu yang menempel di dindingnya. Seolah tempat ini selalu dibersihkan oleh pemiliknya sebelum tidur.

Rak sepatu yang ada di dekat pintu tampak hampa. Hanya ada sepasang sepatu milik Kinan yang baru saja dilepas dan sepasang sandal rumahan berbulu halus berwarna merah muda. Satu-satunya benda yang memiliki warna di tempat ini.

Karena tak dipersilakan, Alana tak berani mengambil sandal itu. Padahal Kinan sudah masuk lebih dulu dengan sandal berbulu hitam miliknya. Kini, Alana dapat merasakan dinginnya lantai di balik kaus kaki tipisnya.

"Silakan duduk di mana saja. Saya buatkan minum dulu," pinta Kinan sembari menata sebagian buah dari Alana di atas piring anyaman dan menyimpan sisanya ke dalam kulkas.

Begitu Alana mendudukkan dirinya pada sofa di depan televisi berjenama yang cukup besar, dia dapat merasakan udara dingin menerpanya lebih pekat dari sebelumnya. Denting kecil sendok yang beradu dengan tepian gelas kaca memecah keheningan di sekitarnya.

"Dari mana Suster dapat alamat saya?" tanya Kinan.

Alana menoleh pada pria yang meletakkan segelas teh hangat dan sepiring buah di atas meja. "Panggil Alana saja. Lagi pula ini bukan di lingkungan rumah sakit," ujarnya.

Kinan diam saja, tak menjawab. Matanya tetap menatap lurus pada Alana yang juga melihat ke arahnya tanpa takut. Padahal, perempuan itu tak mendapat sambutan hangat sedikit pun.

Mendapati itu, Alana memalingkan pandangannya pada pendingin ruangan yang disetel pada angka 20 derajat celcius. "Bu Ella sempat menemui saya beberapa kali. Kemarin beliau datang ke rumah sakit bawa roti dan ngasih alamat Pak Kinan ke saya."

"Mama emang bener-bener," gumam Kinan di sela jemarinya yang mengupas kulit jeruk.

Setelah jeruk di tangannya terkupas bersih, Kinan menyodorkannya pada Alana. "Saya lagi nggak punya apa-apa di sini selain mie instan. Nggak mungkin juga kalau saya menyajikan itu buat nakes."

Alana menerimanya. Dia santap satu per satu jeruk yang dia bawa sendiri sebelumnya. Matanya sesekali melirik pada Kinan yang tampak seolah memikirkan banyak hal. Pria itu bahkan menatap kosong pada balkon di balik tirai transparan.

"Pak Kinan tahu? Ternyata Bu Ella itu teman Ibu saya. Mereka juga sempat cerita kalau Pak Kinan sama Mas Dipo sering main bareng waktu masih kecil," ucap Alana.

Setelah menuturkan hal itu, dalam diam Alana menanti jawaban dari Kinan. Jika Kinan tetap memintanya untuk menola permintaan Ella, maka hal itu juga sudah cukup untuk memantapkan hati Alana atas keputusan yang masih mengambang dalam hatinya.

"Kamu anaknya Tante Laksmi?" tanya Kinan tanpa Alana sangka.

Tanpa jeda, Alana langsung mengangguk begitu mendengar nama ibunya disebut. Kunyahannya pada sepotong jeruk dalam mulutnya kian memelan. Masih menunggu jawaban dari Kinan yang menjadi alasan utamanya datang ke tempat ini.

Kinan kembali menoleh pada Alana. "Kamu tahu alasan Mama saya pilih kamu untuk menikah dengan saya?" tanyanya.

Alana terdiam sejenak. Dia berusaha menggali percakapan di antaranya dengan Ella yang sudah terjadi beberapa kali dengan topik yang sama. "Bu Ella cuma mau anaknya berada di tangan orang yang mengerti kondisinya saat ini."

Setelah jawaban itu, hening kembali menyelimuti keduanya. Terpaan dingin udara semakin pekat terasa. Alana sampai harus meremas ujung lengan jaketnya untuk menghalau dingin, entah dari pendingin udara maupun tatapan Kinan yang tak lepas darinya kali ini.

Sementara, Kinan terdiam karena kembali mendengar alasan yang sama. Itu berarti apa yang dikatakan Ella padanya dan pada Alana adalah hal yang sama. Dia hanya ingin Kinan berada di tangan yang tepat menurut ibunya.

Dan, yang harus Kinan lakukan kali ini adalah... membuktikannya.

"Saya akan menikahi kamu."

Alana yang belum berbaur dengan situasi ini lantas mengangguk. Matanya tak lepas dari Kinan yang beru saja memberikan jawaban yang dia tunggu, namun tak dia harapkan.

Begitu mendengar detik jarum jam yang berputar, Alana mengerjap. Otaknya seolah baru mencerna apa yang baru saja terjadi dan apa yang baru saja Kinan katakan padanya.

"Hah?!" Alana kebingungan.

Kinan lantas mencondongkan tubuhnya pada Alana dengan kedua siku yang bertumpu di atas lututnya. "Saya akan menikahi kamu," ulang Kinan dengan lebih jelas.

"Bukannya Pak Kinan kemarin minta saya buat nolak aja?" tanya Alana.

"Semua jawaban itu terserah kamu. Tapi, kedatangan kamu ke sini berarti juga mau meyakinkan keputusan yang sudah ada di kepala kamu, kan?" tanya Kinan.

Alana terdiam. Bagaimana pria itu bisa tahu?

Selain ragu dengan keputusannya sendiri, perbincangannya dengan sang ibu kemarin juga menjadi bahan pertimbangan bagi Alana. Melihat ibunya kembali sehat hanya karena mendengar Alana hendak dipinang oleh seseorang, tentu Alana ingin mempertahankan kesehatan ibunya yang kian membaik ini.

Melihat Alana yang terdiam, Kinan tersenyum. Dia sudah tahu bahwa jawabannya adalah hal yang paling berpengaruh dalam pikiran Alana saat ini.

Seolah sudah menduga jawaban yang akan Alana katakan pada ibunya, Kinan beranjak. "Semangat buat menghadapi saya ke depannya, Alana."

Nafas Alana tercekat. Kalimat itu terdengar ramah namun juga dingin di waktu yang bersamaan. Seolah ada sesuatu yang hendak membunuhnya secara perlahan di balik itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!