Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'
Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Apa yang Terjadi...?!
Pintu gerbang rumah Yumna tertutup rapat. Pak Igam, security di rumahnya, tampak siaga saat mobil yang mengantar Yumna berhenti. Lalu dia berjalan mendekati mobil yang sebelumnya tak pernah terlihat berkunjung.
"Terimakasih pak Bara, pak Niko."
Yumna kemudian keluar, sebelum pak Igam mengetuk jendela mobil.
"Nona Yumna...?!" pak Igam terlihat sedikit terkejut.
Pria itu kemudian juga mencuri pandang ke dalam mobil. Guna mencari tahu siapa yang mengantar Yumna.
"Kenapa?" tanya Yumna dengan nada datar.
Elbara dan Niko merasa aneh, karena intonasi dan cara bicara Yumna dengan pria itu sangat berbeda dengan yang biasa mereka lihat. Yumna yang sekarang lebih dingin dan seolah sangat membenci lawan bicaranya.
"Saya kira tadi bukan nona." jawabnya.
"Siapa yang mengantar nona Yumna? Saya belum pernah melihat mobil seperti ini melintas di kompleks ini sebelumnya. Apalagi bertamu ke rumah ini." batin pak Igam bergumam.
Pak Igam terus memperhatikan mobil yang sudah kembali melaju.
"Nona, tunggu!!" seru pak Igam saat Yumna melewatinya. "Nona belum boleh masuk." ujarnya sambil menghadang Yumna.
Yumna pun terpaksa menghentikan langkahnya. Dia tersenyum getir mendengar penuturan satpam yang sudah lama bekerja di rumahnya itu.
"Oh, jadi mereka melarangku masuk. Bagus sekali..." ujar Yumna.
___
Saat itu, di dalam mobil Elbara...
"Cari tahu tentang keluarga Yumna!" titah Elbara tiba-tiba.
"Baik, tuan." jawab Niko.
"Kemarin katanya tidak perlu mencari tahu urusan pribadinya. Sekarang tiba-tiba berubah pikiran." gerutu Niko dalam hati.
Mobil sudah putar balik, dan beberapa saat kemudian kembali melewati depan rumah Yumna. Elbara terkejut saat matanya menangkap sosok Yumna berjalan di trotoar dengan langkah gontai.
"Kembali ke rumah Yumna!" ujar Elbara memberi instruksi.
"Hah?!" Niko ngeblang sesaat. "Baik, tuan!" katanya kemudian.
Beberapa saat kemudian mobil tiba tepat di hadapan Yumna. Yumna pun terkejut melihat mobil Elbara yang tiba-tiba kembali lagi.
"Kok mereka lagi...?" batin Yumna.
Niko kemudian turun dan menghampiri Yumna.
"Nona, tuan Bara meminta nona masuk." ujar Niko.
Yumna pun menuruti perintah Elbara. Dia juga sudah merasa tak sanggup berjalan lagi. Rasa lelah itu juga dipengaruhi oleh suasana hatinya, yang sudah tak bisa lagi digambarkan dengan kata-kata. Dia butuh sandaran. Sandaran yang benar-benar kokoh, yang tak akan membuatnya terjatuh.
"Mau kemana lagi malam-malam begini?" tanya Elbara yang ada di kursi belakang.
Yumna memejamkan matanya sesaat, dia berusaha mengontrol suasana hatinya.
"Saya mau ke rumah Tante, pak. Nanti saya turun depan saja, saya akan naik taksi." jawab Yumna.
Dia sangat tahu malu. Karena itu dia tidak ingin merepotkan Elbara dan Niko lagi. Apalagi malam semakin larut.
"Tunjukkan saja alamatnya pada Niko." balas Elbara.
Yumna pun menoleh pada Niko. Lalu Niko menganggukkan kepalanya, sebagai isyarat agar Yumna menurut saja pada semua perintah Elbara. Setelah itu Yumna mengirim pesan pada Sasa, tantenya. Sasa adalah satu-satunya tempat dia berpulang saat dirinya merasa tidak baik-baik saja.
Sepanjang perjalanan, Yumna selalu berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Elbara menyadari hal itu. Begitu pula dengan Niko.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Dia benar-benar berbeda sekarang." batin Elbara.
___
Di kediaman Sasa...
"Anak ini kenapa lagi? Sampai malam-malam begini datang kemari. Tidak mau dijemput lagi..."
Sasa benar-benar panik. Dia terus mondar-mandir di teras rumahnya untuk menunggu Yumna. Dia memerintahkan security membuka pagar lebar-lebar agar Yumna tidak perlu repot memencet bel ketika tiba nanti.
"Nona Sasa, kamar non Yumna sudah saya bereskan." bi Sinta melaporkan tugasnya pada Sasa.
"Terimakasih, bi." balas Sasa.
"Nona Yumna pasti baik-baik saja. Nona Sasa jangan terlalu cemas." ujar bi Sinta.
"Iya, bi. Tapi saya benar-benar khawatir. Ini sudah malam banget, lho. Seorang gadis di luar sendirian. Ya ampun...!! Saya tidak tenang, bibi..." balas Sasa.
Suara klakson terdengar. Sasa baru saja tersenyum lega, namun dalam hitungan detik senyuman itu pudar. Wajahnya tampak kembali gelisah. Yang datang bukanlah taksi seperti yang ada dalam pikirannya. Melainkan sebuah mobil mewah.
Mobil berhenti tepat di depan teras rumah Sasa. Niko dan Yumna keluar bersamaan. Kegelisahan Sasa pun berangsur hilang. Berganti rasa penasaran, karena Yumna membantu Niko membuka pintu mobil bagian belakang. Sementara Niko mengeluarkan kursi roda.
"Tante..."
Yumna memang tersenyum, tapi Sasa tahu kalau senyum itu hanyalah sehelai tirai yang dia pasang untuk menyamarkan isi hatinya yang sesungguhnya.
"Masuk dulu, kita ngobrol di dalam." kata Sasa. "Mari...!!"
Sasa juga mempersilahkan dua pria itu masuk. Dia juga meminta bibi menyajikan minuman hangat.
"Tante, aku sangat lelah." ujar Yumna mengadu.
Yumna kemudian menoleh pada Elbara dan Niko. Dia bingung harus ngomong apa. Terkesan sangat tidak sopan, kalau dia meninggalkan dua orang itu begitu saja. Padahal malam ini dua pria itu sudah sangat banyak membantunya.
"Tidak apa. Pergilah." ujar Elbara seolah mengerti isi hati Yuman. "Kamu butuh istirahat. Besok kamu bisa libur." katanya lagi.
"Terimakasih pak Bara." balas Yumna. "Kalau begitu saya permisi." kata Yumna.
Setelah Yumna pergi, Sasa pun duduk di sofa. Dia kini berhadapan dengan dua pria asing yang baru saja dia temui. Malam-malam, datang bersama keponakannya. Benar-benar sesuatu yang perlu dipertanyakan.
"Kalian ini siapa? Dan apa yang terjadi pada Yumna?" tanya Sasa to the point.
Elbara pun menjelaskan semuanya pada Sasa. Tentang siapa dirinya, status Niko, dan apa yang terjadi pada Yumna.
"Untuk lebih jelasnya. Kenapa Yumna sampai tidak jadi masuk ke rumah. Bisa tanyakan langsung pada Yumna." Elbara mengakhirnya.
"Apa lagi yang terjadi padamu, Yumna...?" batin Sasa.
"Saya mengerti. Terimakasih sudah mengantar Yumna kemari. Maaf kalau sebelumnya saya sempat berpikiran buruk tentang kalian berdua." tutur Sasa.
"Kami paham." balas Elbara. "Kalau begitu kami pamit pulang." katanya.
"Tolong sampaikan juga pada Yumna. Dia bisa istirahat sampai kondisinya membaik." begitu pesan Elbara.
"Terimakasih atas pengertiannya." balas Sasa.
Elbara teringat sesuatu, lalu dia menoleh pada Niko.
"Tinggalkan kartu nama kita untuk nona..." Elbara lupa kalau dia belum tahu nama Tante Yumna.
"Panggil saja Tante Sasa." sahut Sasa.
Niko kemudian memberikan dua kartu nama pada Sasa sebelum mereka benar-benar pergi.
___
Sasa mengetuk pintu kamar Yumna. Rupanya Yumna belum tidur. Matanya sembab, sisa air mata masih terlihat jelas di wajah cantiknya.
"Katanya lelah. Kenapa belum tidur? Sini, Tante temani..."
Sasa merangkul Yumna menuju tempat tidur.
"Jadi, boleh Tante tahu kenapa kamu tidak jadi pulang...? Karena mereka tadi bilang, kamu sudah di depan rumah. Tapi tak lama kemudian mereka lihat kamu di jalanan."
"Di sana ada acara. Pertemuan dengan keluarga Damar..." air mata Yumna terjatuh begitu saja saat dia menjawab pertanyaan Sasa.
"Mungkin takut aku merusak acara mereka." katanya lagi.
"Sayang..."
Sasa menarik Yumna dalam pelukannya. Dia bisa merasakan apa yang kini dialami oleh Yumna. Kehilangan cinta pertama. Sasa juga pernah mengalaminya. Bahkan dia kehilangan dua cintanya dalam waktu yang berdekatan. Meskipun cinta Sasa pergi bukan karena pengkhianatan. Tapi rasa yang ditinggalkan tetap sama. Yaitu sakit.
"Kamu anak baik. Suatu saat nanti kamu pasti akan menemukan orang yang lebih baik dari Damar. Tante percaya itu." ujar Sasa.
"Lelaki yang tak punya hati, memang pantas mendapatkan perempuan licik seperti Nasya. Suatu hari nanti, mereka akan menerima karma atas perbuatan mereka." tutur Sasa lagi.
"Terimakasih ya, tan. Maaf, aku selalu ngerepotin Tante Sasa."
"Ngomong apa sih kamu ini. Sekarang waktunya tidur, sudah malam banget." katanya. "Ah iya, ElBara tadi kembali mengingatkan Tante. Besok kamu tidak perlu datang. Kamu dapat izin libur sampai kondisi kamu membaik." Sasa menyampaikan pesan Elbara sebelum dia pulang tadi.
"Em." Yumna mengangguk saja.
Sasa kemudian keluar dari kamar Yumna. Yumna membiarkan pintu kamar tertutup begitu saja, tanpa berniat menguncinya. Dia merasa aman di rumah Sasa. Tidak ada yang mengusiknya. Tidak ada yang diam-diam masuk ke kamarnya, membuat masalah, bahkan mengambil barang-barang miliknya.
Saat menarik selimutnya, dia teringat dengan pesan yang disampaikan tantenya.
"Pak Bara pasti khawatir kondisiku akan mempengaruhi Aluna. Dia memang minta aku istirahat sampai kondisiku membaik...? Atau ini hanya alasan dia memecatku...? Ya ampun..., sepertinya aku harus segera mencari pekerjaan lagi."
......................