NovelToon NovelToon
Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Karya Orisinal.

Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.

Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.

“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”

Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?

Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18 : Cahaya Biru di Ambang Gelap.

[POV Ling Feng]

“XIAO LU!”

Tubuhnya lemas di tanganku. Darah, aku tak pernah melihat darah sebanyak ini. Membasahi bajunya, membasahi tanganku, membasahi tanah.

“Jangan ... jangan mati.” Suaraku tersendat. “Xiao Lu, bangun!”

Ia tidak bergerak.

Abu merangkak mendekat, menjilat wajahnya. Merintih.

Aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Apa yang bisa kulakukan?

Tanganku gemetar. Dadaku sesak. Ada sesuatu di dalam yang mau pecah, takut, marah, putus asa, semuanya bercampur.

“Aku ...” Aku meraih manik batu di leherku. “Aku tidak tahu cara—Tolong ...”

Manik itu hangat. Tiba-tiba. Seperti merespons kepanikanku.

Dari dalam, mengalir sesuatu. Bukan energi seperti saat melawan Xue Gou. Ini berbeda. Lembut. Seperti bisikan.

Sentuh lukanya.

Aku tidak tahu dari mana suara itu berasal.

Tapi napasku yang tersengal tiba-tiba selaras dengan denyut manik di leherku. Hangatnya merambat ke ujung jari.

Tanganku bergerak sebelum pikiranku menyusul.

Telapak tanganku menekan luka terbesar di bahunya. Darah yang lengket dan panas menyusup di sela jariku. Bau besi menusuk hidung. Tubuhnya tidak bereaksi, terlalu lemah bahkan untuk mengerang.

Lalu panas itu turun.

Dari manik. Ke dadaku. Ke bahuku. Ke lenganku.

Ke telapak tanganku.

Hangatnya berbeda dari api. Tidak membakar. Ia seperti cahaya matahari pertama yang menyentuh kulit di pagi musim dingin, pelan, tapi pasti. Kulit di bawah tanganku bergetar samar. Seperti tanah yang menelan hujan.

Cahaya biru pucat merembes keluar dari sela jariku.

Bukan semburan. Bukan ledakan.

Ia muncul seperti embun yang menguap, tipis, berkilau, lalu tenggelam ke dalam luka yang koyak.

Darah yang mengalir deras tadi mulai melambat. Tetesannya tidak lagi jatuh secepat sebelumnya. Tepi luka yang terbuka gemetar, lalu, hampir tak terlihat, menguncup setitik.

Napas Xiao Lu yang semula terputus-putus tersangkut di tenggorokan … turun satu tarikan lebih dalam. Masih lemah. Tapi lebih panjang.

Aku menggertakkan gigi.

Tanganku gemetar hebat, tapi tidak kulepas.

Hangat itu terus mengalir, seperti sesuatu di dalam diriku diperas habis-habisan. Pandanganku berkunang. Telingaku berdengung. Dunia di sekeliling menyempit, hanya ada kulit pucat di bawah tanganku, cahaya biru yang berdenyut pelan, dan napasnya yang naik turun.

Sekali.

Cahaya meredup, lalu menyala lagi.

Dua kali.

Darah yang membasahi tanganku tak lagi segar mengalir. Hanya lembap, menghitam.

Tiga kali.

Tubuhku sendiri terasa kosong. Lututku hampir tak sanggup menahan beban. Tapi di bawah telapak tanganku, denyut yang tadinya seperti benang putus kini terasa, samar, menjawab.

Aku tidak tahu teknik apa yang kugunakan.

Tidak ada mantra. Tidak ada formasi.

Hanya telapak tangan yang menekan luka, cahaya biru yang meresap perlahan, dan satu tarikan napas yang kupaksa tetap stabil.

“Bertahan,” bisikku, nyaris tak bersuara.

Cahaya itu berkedip pelan, lalu menyusup lebih dalam.

"Aku tahu ... kau punya rahasia. Aku tahu ... kau bukan siapa yang kau katakan. Tapi aku ... aku tidak peduli. Asal kau... tetap di sini. Bersamaku."

Dan napasnya tidak lagi terdengar seperti seseorang yang sedang pergi, melainkan seseorang yang masih memilih tinggal.

Ia tidak menjawab. Tapi napasnya yang tadinya hampir tak teraba mulai terasa. Samar. Tapi ada.

Abu menjilat tanganku. Seperti memberi semangat.

Aku terus mengalirkan. Sampai tak ada lagi yang bisa kuberikan.

Sialan.

Aku muak menjadi penonton dalam hidupku sendiri.

Aku ingin menjadi kuat. Bukan kuat yang sekadar mampu menggertakkan gigi dan bertahan satu hari lagi, tapi kuat yang bisa berdiri tegak di tengah badai tanpa kehilangan arah. Kuat yang tak gentar pada pertanyaan-pertanyaan yang menggantung di udara, yang selama ini hanya berani kupandangi dari jauh.

Walau, bukanlah jawab yang kucari. Kini aku pahami maksud darimu, Pak Tua Chen. Jika jawab menyapaku, aku akan berhenti mencari arti tanpa harus merasakan, melihat, ataupun mendengar kehidupan ini.

Aku ingin cukup kuat untuk menyulam setiap tanya yang tercerai-berai, mengikatnya satu per satu dengan benang kesadaran, menenunnya bersama orang-orang di sekitarku. Agar tak ada lagi kebisuan yang menebal di antara kami. Agar tak ada lagi jarak yang lahir dari ketidakberanian.

Karena aku lelah hidup dalam setengah jawaban.

Jika dunia ini memang menuntut kekuatan sebagai bahasa, maka aku akan mempelajarinya. Jika harga dari kejelasan adalah luka, maka biarlah. Luka bisa sembuh. Tapi ketidakberdayaan hanya akan membusuk.

Sialan.

Aku akan menjadi kuat.

Aku merasa dunia seperti ditarik menjauh dariku. Warna-warna pudar, wajah Xiao Lu larut menjadi bayangan. Ada detak di pelipisku, berat, lambat.

Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi lidahku tak lagi patuh.

Xiao Lu, Abu. Walaupun singkat, aku sudah merasa kalian adalah temanku.

Lalu gelap datang, meraihku perlahan.

...°°°°°°...

[POV Abu]

Aku menjaga mereka berdua.

Ling Feng pingsan di samping Xiao Lu. Tangannya masih di lukanya, seperti tak mau lepas. Xiao Lu—perempuan itu—napasnya sangat lemah. Tapi masih hidup. Aku bisa menciumnya. Masih ada.

Aku duduk di antara mereka. Menghadap ke mulut gua. Menjaga.

Dari luar, suara langkah. Banyak. Manusia.

Aku menggeram. Buluku berdiri.

Tapi langkah itu berhenti. Lalu suara Xue Gou—manusia abu-abu itu—terdengar dari kejauhan.

“Bau darah. Tapi juga ... sesuatu yang lain.” Hening. “Mereka sudah pergi. Atau mati. Tidak penting. Kita cari binatang itu.”

Langkah menjauh.

Aku menunggu. Lama. Sampai bau mereka benar-benar hilang.

Lalu aku kembali ke sisi mereka. Menjilat tangan Ling Feng yang dingin. Menjilat wajah Xiao Lu yang pucat.

Bangun. Kalian harus bangun.

1
anggita
like👍, bunga🌹
Life is Just an Illusion
semangat kak jadilah dewa fantim /Curse//Curse/
Gudang Garam Filter: dewa fantim mah Ucok kak /Curse//Curse/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!