Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE DUA PULUH TUJUH
Udara malam terasa dingin saat ia melangkah keluar dari bangunan tua itu. Beberapa langkah pertama masih terlihat stabil, namun begitu mencapai mobil hitamnya, langkahnya melambat. Tangannya bertumpu pada atap mobil, napasnya tertahan.
"Sial…" desisnya lirih.
Rasa nyeri di lengannya menjalar tajam. Luka yang sejak tadi ia abaikan kini mulai menuntut perhatian. Rahangnya mengeras, berusaha tetap tegak meski pandangannya sempat berkunang sesaat.
Darian segera menghampiri.
"Tuan, anda harus segera kembali ke mansion. Dokter Carlos sudah menunggu dan luka anda juga harus segera diobati". Ujarnya
Bastian hanya mengangguk singkat sebelum masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan tuannya itu duduk dengan nyaman barulah Darian menutup pintunya lalu berlari kecil mengitari setengah badan mobil dan duduk dikursi kemudi.
Darian perlahan melajukan mobilnya meninggalkan gedung bangunan tua itu.
Lampu jalan bergantian melewati kaca jendela mobil. Bastian bersandar di kursinya, mata terpejam namun tidak benar-benar beristirahat. Napasnya terdengar lebih berat dari biasanya.
Tangannya menekan pelan bagian lengannya yang terluka. Rasa nyeri mulai terasa jelas setelah adrenalin perlahan menghilang.
"Tuan, apakah saya perlu mempercepat laju mobilnya?" tanya Darian sambil melirik melalui kaca spion.
"Tidak. Kendarai saja seperti biasanya". Sahut Bastian
Darian mengangguk,"Baik tuan".
Mobil melaju stabil di jalanan malam yang sepi.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Bastian membuka matanya sebentar, menatap keluar jendela, lalu kembali memejamkannya. Ingatannya sempat kembali pada kejadian di rumah Hartmann, lebih tepatnya ingatan wajah Siena yang terus mencoba menahannya agar tidak pergi.
Rahang Bastian mengeras tipis.
"Gadis keras kepala," gumamnya pelan.
Darian mendengar, tetapi ia memilih tidak menanggapi.
Rasa nyeri di lengannya kembali menusuk. Bastian menarik napas dalam, menahannya beberapa detik sebelum menghembuskannya perlahan. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya.
"Tuan?" panggil Darian waspada saat melihat tuannya seperti menahan kesakitan.
"Aku tidak apa-apa," jawab Bastian cepat. "Fokus menyetir."
"baik tuan."
Mobil terus melaju menuju mansion. Kali ini Bastian benar-benar memejamkan mata, membiarkan tubuhnya beristirahat sebentar.
.
.
Kediaman keluarga Hartmann...
Di lantai atas, lampu kamar Siena masih menyala.
Gadis itu berdiri dibalkon, menatap kosong kearah halaman rumahnya. Sesekali ia juga menunduk menatap ponsel yang sedari tadi digenggamnya.
"Apa dia lupa ?". Gumam nya lirih
Layarnya tetap gelap. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada panggilan.
Siena mengembuskan napas pelan, lalu menyandarkan sikunya pada pagar balkon. Angin malam meniup lembut rambutnya, namun pikirannya justru semakin tidak tenang.
"Padahal tadi terlihat hampir tidak sanggup berdiri. Harusnya setidaknya dia memberi kabar". Gumam nya dalam hati
"Cuma bilang sudah sampai juga bisa, kan…" keluh Siena pelan, nyaris seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Ia membuka layar ponselnya lagi, menatap nama nomor telepon Bastian.
Ibu jarinya sempat menggantung di atas layar, ragu. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menghela napas panjang dan mematikan kembali layarnya.
"Tidak. Biar saja," gumamnya, mencoba terdengar yakin meski jelas tidak berhasil.
Namun baru saja Siena berbalik hendak masuk ke dalam kamar, layar ponselnya tiba-tiba menyala.
Sebuah panggilan masuk.
Siena langsung berhenti melangkah.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat ia menunduk menatap layar.
Nama Evan terpampang jelas dilayar benda pipih itu. Siena mendesah pelan, ekspresi nya langsung berubah. Tidak kecewa, tidak pula senang.
Ia menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya menggeser tombol jawab.
"Halo?" suaranya terdengar datar.
"Astaga sayang, akhirnya kamu angkat telepon ku juga..." Suara Evan terdengar dari seberang telepon.
"Ku dengar sayang kecelakaan ya? Kenapa tidak memberitahuku? Bagaimana keadaan sayang sekarang? Baik-baik saja kan ? Apa ada yang terluka parah?". Cecar Evan
Siena terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Aku sudah lebih baik. Tidak separah yang kamu bayangkan, Van". Jawab Siena pelan
"Bagaimana bisa tidak parah? Kamu menghilang dua hari, Sayang. Aku benar-benar panik," sahut Evan cepat. Nada suaranya terdengar penuh kekhawatiran.
Siena bersandar pada pintu balkon.
"Aku cuma butuh istirahat. Ponselku mati waktu itu."
"Oh… ya sudah yang penting kamu aman." Evan menghela napas panjang, seolah baru lega. "Aku bahkan sampai tanya Rani berkali-kali. Mereka juga tidak jelas jawabnya."
Siena hanya mengangguk kecil meski Evan tidak bisa melihatnya.
"Ada yang luka serius?" tanya Evan lagi.
"Luka ringan saja," jawab Siena singkat.
Di seberang sana terdengar jeda sebentar. Terlalu singkat untuk disadari, namun cukup lama untuk terasa aneh.
"Kamu di rumah sekarang, kan?" tanya Evan lagi.
"Iya."
"Bagus." Nada suara Evan berubah lebih santai. "Besok aku ke sana sayang. Aku harus lihat sendiri kondisi kamu."
Dahi Siena sedikit mengernyit.
"Besok aku mungkin istirahat saja, Van—"
"Aku hanya sebentar," potong Evan cepat. "Kekasihku kecelakaan masa aku tidak datang menjenguk?"
Kalimat itu terdengar manis, seperti tidak ada yang salah.
Namun di saat bersamaan, Evan menurunkan ponselnya sebentar dari telinga. Suara lain terdengar samar di sisinya, seperti suara perempuan.
"Sebentar," gumam Evan pelan tapi bukan pada Siena.
Lalu ia kembali mengangkat ponselnya. Nada suaranya kembali hangat, nyaris sempurna.
"Kamu jangan mikir macam-macam ya. Fokus istirahat saja. Aku khawatir sekali pada mu Siena sayang." Ujar Evan lembut
Siena tak langsung menjawab, pandangan matanya menatap kearah halaman rumahnya lagi.
"Iya," jawab Siena pelan.
Percakapan itu tidak berlangsung lama. Setelah beberapa kalimat penutup, panggilan akhirnya terputus.
Layar ponsel kembali gelap.
Siena berdiri diam beberapa saat, menatap layar benda pipih itu lalu menghela nafas pelan.
Tanpa Siena sadari jika sedari tadi ibu Margaret berdiri diambang pintu kamar dan memperhatikan nya.
"Siena..." panggil ibu Margaret seraya mendorong pelan pintu kamar putrinya lalu melangkah masuk.
Siena mendongak menatap kearah sang ibu.
"Ibu? Ibu sudah dari tadi disitu?" ujarnya bertanya kemudian berjalan mendekati ibunya yang sudah lebih dulu duduk ditepian ranjang tempat tidurnya.
"Hmm". Ibu Margaret mengangguk seraya berdehem. Ia menarik lembut tangan Siena agar perempuan itu duduk disebelahnya.
"Ada apa hm?" tanya Ibu Margaret lembut
Siena menggeleng. "Tidak ada apa-apa, Bu".
"Kenapa belum tidur? Kamu masih harus istirahat sayang. Apa kamu kepikiran dengan Bastian?". .
"Tidak!" Jawab Siena cepat.
"Untuk apa memikirkan dia. Pria tua keras kepala". gumamnya lirih
Ibu Margaret yang mendengar itu mengulas senyum tipis. Diraih nya kedua tangan putrinya itu lalu digenggamnya dengan lembut.
"Jangan membohongi dirimu sendiri sayang. Ibu tau kamu pasti sedang memikirkan Bastian. Pria itu sudah tiba dirumah atau belum? Bagaimana luka nya, iya kan ?"
"Tidak ibu, Siena tidak memikirkan Bastian". Kilah Siena berbohong padahal sangat jelas sekali dari raut wajahnya yang gelisah itu.
"Ya sudah kalau memang kamu tidak memikirkan Bastian. Tapi, kalau kamu benar-benar khawatir dengan nya, alangkah baiknya hubungi dia saja sayang. Tanyakan kondisinya, atau besok pagi jenguklah dia kerumahnya. Hm?"
Siena terdiam.
Tatapannya jatuh pada ponsel yang masih ia genggam sejak tadi. Jemarinya bergerak gelisah di atas layar gelap itu.
"Aku tidak punya alasan untuk menghubunginya, Bu," gumam Siena lirih, lebih seperti meyakinkan diri sendiri.
Ibu Margaret tersenyum tipis. Ia mengusap punggung tangan putrinya perlahan.
"Terkadang, tidak semua perhatian butuh alasan," ucapnya lembut. "Kalau kamu khawatir, ya hubungi saja. Tidak perlu menunggu hubungan tertentu untuk peduli pada seseorang."
.
.
.
Bersambung...
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut