"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
"Aku tidak lapar, Ma. Tadi Jimmy sudah membawakan sarapan yang sangat enak ke kamar," ucap Lea sambil meraih sebuah apel merah dari keranjang buah di tengah meja. Ia menggigitnya dengan santai, matanya melirik jenaka ke arah Jimmy yang duduk di sampingnya.
Suasana di meja makan keluarga Frederick pagi itu terasa seperti medan perang yang disamarkan oleh denting sendok perak.
Diego dan Elise menikmati omelet mereka dengan tenang, seolah tidak menyadari ketegangan yang memancar dari ujung meja, tempat di mana William Van der Holt duduk dengan punggung tegak dan wajah masam.
William meletakkan garpunya dengan kasar, yang sengaja dikeraskan. Matanya yang tajam menatap jijik ke arah piring Jimmy.
"Sejak kapan mansion ini berubah menjadi rumah singgah bagi pengawal? Diego, aku tidak ingat kita pernah memiliki tradisi memberi kursi di meja utama untuk seseorang yang digaji hanya untuk berdiri di balik pintu."
Lea hampir tersedak apelnya. Ia hendak membalas ucapan sang kakek, namun Jimmy lebih dulu menahan tangan gadis itu di bawah meja.
Jimmy tetap tenang, ia memotong sepotong kecil daging asapnya dengan gerakan yang jauh lebih anggun daripada pria bangsawan mana pun.
"Duduk di meja ini atau berdiri di balik pintu tidak mengubah fakta bahwa saya memakan makanan yang sama dengan anda, Tuan Besar," jawab Jimmy dengan tenang dan terkontrol.
William mendengus sinis, matanya melirik sosis dan telur di piring Jimmy. "Tentu saja. Tapi ada perbedaan mendasar antara menikmati hidangan sebagai tuan rumah dan memakannya sebagai pemberian. Orang-orang seperti kau biasanya lebih cocok dengan makanan kaleng di barak, bukan truffle dan saus hollandaise yang dibuat dari bahan-bahan yang harganya mungkin setara dengan gaji tahunanmu."
Lea membanting apelnya ke meja. "Kek! Cukup! Jimmy makan di sini karena aku yang memintanya, dan Papa yang mengizinkannya. Jangan bawa-bawa soal harga makanan!"
"Lea, diamlah. Aku sedang mendidik pria ini soal kasta," potong William tanpa menoleh. Ia kembali menatap Jimmy. "Katakan, Jim, apa kau tidak merasa mual memakan makanan mewah yang tidak bisa kau beli dengan keringatmu sendiri? Bukankah rasanya seperti memakan harga diri?"
Jimmy meletakkan pisaunya, lalu mengelap bibirnya dengan serbet kain putih secara perlahan. Ia menatap William tepat di mata, senyum miring tersungging di bibirnya.
"Menarik. Apa anda sedang menyinggung soal membeli dengan keringat sendiri, Tuan Besar?" tanya Jimmy dengan nada santun yang menusuk. "Jika saya tidak salah ingat, sosis wagyu dan keju brie yang sedang anda nikmati ini diimpor langsung dari distrik Tuscany. Dan kebetulan, pelabuhan kargo di sana baru saja mengganti kepemilikan minggu lalu karena skandal utang keluarga kolega anda."
William mengerutkan kening. "Lalu apa hubungannya denganmu?"
"Hubungannya adalah," Jimmy menyesap kopinya sejenak, "Saya yang menandatangani izin pelepasan kargo tersebut dari pelabuhan atas nama perusahaan investasi saya di Italia. Jadi, secara teknis, makanan yang ada di piring anda pagi ini sampai ke meja ini karena izin saya. Saya tidak memakan harga diri, Tuan Besar. Saya hanya sedang menikmati hasil keringat saya yang kebetulan sedang anda cicipi secara cuma-cuma."
Skakmat!
Diego yang sejak tadi diam, hampir menyemburkan kopinya. Ia berdeham keras untuk menutupi tawa, sementara Elise tersenyum simpul di balik cangkir tehnya.
William mematung, wajahnya berubah dari merah padam menjadi pucat pasi. Ia baru teringat gertakan Jimmy di koridor tadi pagi soal warisan keluarga Harley.
"Kau hanya menggertak!" desis William, suaranya bergetar.
"Cek saja mutasi logistik kargo keluarga Van der Holt pagi ini, Tuan. Anda akan menemukan nama perusahaan SH Legacy di sana. SH untuk Sofia Harley. Ibu saya," tambah Jimmy dengan nada dingin yang mematikan.
Lea tertawa riang, ia sengaja mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Jimmy di depan semua orang.
"Dengar itu, Kek? Jadi sebenarnya, siapa yang sedang memakan pemberian siapa di sini? Jangan sombong soal status, karena sekarang Jimmy bisa saja membeli seluruh persediaan keju kesukaan Kakek kalau dia mau."
"Lea, jaga bicaramu," tegur Diego, meski nadanya sama sekali tidak terdengar marah. Ia justru menatap Jimmy dengan binar kagum. "Jim, aku tidak tahu kau sudah bergerak sejauh itu."
"Hanya memastikan masa depan Lea terjamin tanpa perlu bergantung pada perjodohan yang merugikan, Diegi," jawab Jimmy telak.
William tidak mampu berkata-kata lagi. Ia bangkit berdiri dengan kasar, meraih tongkatnya, dan meninggalkan meja makan tanpa menyelesaikan sarapannya. Kekalahan telak ini adalah pukulan terkeras bagi harga dirinya yang setinggi langit.
Setelah William pergi, suasana menjadi lebih santai. Lea mencubit pipi Jimmy dengan gemas.
"Hebat sekali! Kau baru saja membuat Kakek mogok makan!"
Jimmy hanya tersenyum tipis, tangannya meraih tangan Lea di bawah meja dan meremasnya erat. Ia melirik Diego yang sedang memperhatikannya dengan intens.
"Jim,setelah ini, temui aku di ruang kerja. Kita bicara laki-laki ke laki-laki. Tanpa membahas soal pelabuhan, kargo, atau perusahaan investasi," ucap Diego.
Jimmy mengangguk mantap. "Tentu."
Lea menatap Jimmy dengan cemas, namun Jimmy membisikkan sesuatu di telinganya yang membuat wajah gadis itu memerah seketika.
"Jangan khawatir. Aku sudah melewati neraka semalam, bicara dengan ayahmu hanya akan terasa seperti jalan-jalan di taman."
Lea mengangguk manja. Sedangkan Jimmy, astaga, dia ingin sekali mengurung gadis itu dan membawa ke ranjangnya.
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁