NovelToon NovelToon
Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Reinkarnasi
Popularitas:42.6k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘

Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.

​Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.

kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Udara musim gugur yang tajam menyambut kedatangan Safira saat ia melangkah keluar dari Bandara Internasional Logan, Boston. Angin dingin bertiup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut hitamnya yang dibiarkan tergerai bebas. Safira menarik napas dalam-dalam, merasakan oksigen yang berbeda—oksigen yang tidak lagi berbau intrik keluarga Maheswara.

Penampilannya hari ini benar-benar jauh dari kesan putri konglomerat. Tidak ada lagi tas Hermès atau mantel kasmir berlogo desainer ternama. Safira hanya mengenakan turtleneck hitam polos yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan trench coat berwarna krem tanpa merek yang mencolok, serta celana jins gelap dan sepatu bot kulit hitam yang fungsional.

Namun, kesederhanaan itu tidak mampu menyembunyikan auranya. Wajahnya yang kecil dengan kulit seputih porselen, mata tajam yang jernih namun sedingin es, serta bibir tipis yang jarang tersenyum menciptakan perpaduan visual yang unik: cantik, imut secara alami, namun sangat sulit didekati. Ia tampak seperti sebuah teka-teki berjalan yang penuh rahasia.

Ia menyesuaikan letak kacamata berbingkai tipisnya, lalu menarik koper peraknya menuju pangkalan taksi. Di tangannya, ia memegang paspor dan kartu identitas baru. Safira K.M. Sebuah nama singkat yang ia pilih untuk mengaburkan jejak.

Alih-alih memilih asrama kampus yang ramai, Safira memilih tinggal di sebuah apartemen studio di kawasan Cambridge, tak jauh dari lingkungan Harvard. Apartemen itu tidak luas, namun memiliki jendela besar yang menghadap ke arah Sungai Charles. Desainnya minimalis dengan dominasi warna putih dan kayu, sangat sesuai dengan kepribadiannya yang tidak suka keributan.

Begitu sampai di apartemen, hal pertama yang ia lakukan bukanlah beristirahat, melainkan membuka laptopnya. Ia memeriksa sistem keamanan yang sudah ia pasang secara mandiri di unit tersebut. Setelah memastikan semuanya aman, ia merebahkan diri sejenak di tempat tidur.

Ponselnya bergetar. Sebuah panggilan video dari Jakarta. Safira tersenyum kecil—satu-satunya momen di mana es di wajahnya mencair.

"Kak Fira! Sudah sampai?" Suara melengking Vian memenuhi ruangan.

Wajah adik bungsunya muncul di layar. Vian kini sudah tumbuh lebih tinggi. Mengenakan seragam putih-biru, ia tampak gagah sebagai siswa kelas 3 SMP. Tekanan yang dulu sering ia terima dari Ratih dan Maya kini menghilang, digantikan dengan binar percaya diri di matanya.

"Sudah, Vian. Baru saja sampai di apartemen," jawab Safira lembut.

"Kakak jangan lupa makan ya! Di sana katanya makanannya cuma roti dan daging," cerocos Vian. "Oh iya, Kak, Vian kemarin ikut lomba olimpiade matematika tingkat provinsi. Vian masuk babak final! Kak Raka bilang kalau Vian menang, Vian boleh nyusul Kakak ke Amerika pas liburan kenaikan kelas nanti."

"Belajar yang rajin, ya. Kakak tunggu di sini," Safira mengusap layar ponselnya seolah sedang mengelus pipi adiknya. "Gimana di sekolah? Masih ada yang berani ganggu kamu?"

Vian menggeleng kuat. "Enggak ada, Kak. Sejak Kak Bima sering jemput pakai motor besarnya, semua orang di sekolah tahu kalau Vian punya kakak yang galak. Tapi Vian tetap rendah hati kok, kayak pesan Kakak."

Safira terkekeh pelan. "Bagus. Jaga diri baik-baik, jangan bikin Papa pusing. Papa sudah tua."

"Papa lagi di kantor, Kak. Tadi dia titip salam, katanya dia sudah transfer uang saku, tapi dia sedih karena Kakak cuma mau dikirimin uang sedikit."

"Bilang ke Papa, uang kakak masih banyak,gak dikirim papa gak masalah ," ucap Safira dengan nada bercanda yang datar.

Keesokan harinya adalah hari pendaftaran ulang dan orientasi bagi mahasiswa baru di Harvard Business School. Safira berjalan menyusuri trotoar bata merah yang ikonik. Di antara kerumunan mahasiswa yang memakai jaket almamater atau pakaian formal yang kaku, kehadiran Safira mencuri perhatian.

Banyak mahasiswa pria—dan bahkan beberapa wanita—menoleh saat ia lewat. Ia tampak seperti karakter dari film misteri; cantik namun seolah membawa jarak seribu mil di sekelilingnya.

"Hei! Kamu mahasiswa baru juga?" sebuah suara ramah menyapa dari belakang.

Safira berhenti dan menoleh. Seorang pemuda berwajah oriental dengan gaya bicara yang santai berdiri di sana. "Aku Kenji, dari Tokyo. Jurusan Manajemen Keuangan."

Safira menatap pria itu selama tiga detik dengan tatapan menyelidik sebelum menjawab singkat, "Safira. Manajemen Bisnis."

"Safira? Nama yang bagus. Dari Indonesia?" Kenji mencoba mengakrabkan diri. "Kamu kelihatannya sangat tenang. Kebanyakan orang di sini terlihat gugup atau sibuk memamerkan koneksi keluarga mereka. Kamu tahu kan, kabarnya ada anak konglomerat tekstil dari India dan pewaris perbankan dari Jerman di angkatan kita?"

Safira hanya mengangkat bahu sekilas. "Tidak tertarik."

"Hahaha, aku suka gayamu! Sangat dingin," Kenji tertawa. "Mau bareng ke gedung administrasi? Aku dengar antreannya cukup panjang."

"Aku lebih suka jalan sendiri. Terima kasih," jawab Safira telak, lalu berbalik dan meninggalkan Kenji yang hanya bisa menggaruk kepala sambil tersenyum kecut.

Di dalam aula besar, Safira duduk di barisan tengah, mendengarkan pidato sambutan dari dekan fakultas. Ia tidak mencatat di buku besar seperti mahasiswa lain; ia hanya mendengarkan sambil sesekali mengetik sesuatu di ponselnya—yang sebenarnya adalah instruksi untuk tim teknis startup-nya di Indonesia.

Identitasnya sebagai Safira K.M. bekerja dengan sempurna. Di mata staf kampus, ia hanyalah seorang mahasiswi internasional yang pendiam dengan latar belakang pendidikan homeschooling yang luar biasa. Tidak ada catatan mengenai aset triliunan atau kepemilikan saham di Maheswara Group.

Namun, kecerdasannya tidak bisa disembunyikan. Saat sesi tanya jawab mengenai etika bisnis dan akuisisi korporat, Safira mengangkat tangan.

"Jika sebuah perusahaan melakukan ekspansi melalui utang yang tidak sehat hanya demi menjaga citra di mata pemegang saham, apakah itu bisa disebut pertumbuhan atau sekadar menunda kebangkrutan yang lebih besar?" tanyanya dengan suara tenang namun tegas.

Seluruh ruangan mendadak hening. Sang profesor menatap Safira dengan minat besar. Pertanyaan itu terlalu spesifik dan berbobot untuk seorang mahasiswa baru yang baru saja menginjakkan kaki di semester pertama.

"Pertanyaan yang sangat tajam, Miss...?"

"Safira K.M.," jawabnya singkat.

"Well, Miss Safira, Anda sepertinya sudah memahami realita pahit di dunia korporasi lebih dari yang saya duga," puji sang profesor.

Safira kembali duduk dengan tenang, tidak merasa bangga sedikit pun. Baginya, itu adalah pelajaran yang ia dapatkan dari darah dan air mata selama menghadapi Ratih dan ayahnya sendiri.

Malam harinya, Safira kembali ke apartemennya. Ia mengganti pakaiannya dengan baju tidur tipis, lalu duduk di balkon sambil menatap lampu-lampu Boston. Di sini, ia bukan lagi perisai bagi keluarganya, dan bukan lagi sutradara kejatuhan musuhnya. Ia hanyalah Safira, seorang gadis yang sedang mencari jati diri di tengah dinginnya dunia.

Ia membuka sebuah kotak kecil di atas meja kerjanya. Di dalamnya ada foto lama mendiang mamanya.

"Ma, Fira sudah sampai di sini. Fira akan mengikuti semua keinginan Fira di kehidupan lalu,mama tenang aja disana Fira bisa bela diri kok jadi Fira aman di sini," bisiknya pada keheningan malam.

...****************...

Maaf ya guys tiga hari ini gak up , hari Senin sama Selasa author ada ujian osce jadi gak sempat bikin cerita, maaf ya🙏🏻🙏🏻.

Jangan lupa like dan komen nya ya🥰🥰😘

1
nara
kalau safira bersama alex terus bagaimana dengan abyan
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Sribundanya Gifran
lanjut up yg bnyak thor💪💪💪💪
eza
pelaminan? kayak nikahan
itu di depan kan?
"mimbar" kayak acara resmi,
kenapa gak diganti aja "panggung drama" gitu
Sribundanya Gifran
lanjur
laaa~
bagaimana nasib abian?
ay
sumpah ini karya novel yang paling menarik
ceritanya bagus jalan alurnya juga menarik bukan seperti kebanyakan novel yang lain terlalu lambat alurnya atau pun novel kecepatan
LING
menarik
LING
ini masih update kaga?
月亮星星 ( yueliang xingxing )🌟🌙
nama yg sbnernya siapa sih Thor. Arkan apa Abian.. klo nmnya kyk gini jd nnti d sangka plagiat Thor .. maaf
RAYAS: makasih kak udah ingatin🙏,,
total 1 replies
Cty Badria
lanjut 💪💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
Wahyuningsih
lanjut thor jgn lma upnya thor gk enak menunggu dikau up sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪💪 dlm upnya n makacih tuk upnya
Sribundanya Gifran
lanjut
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Sribundanya Gifran
lanjut
Lala Kusumah
kereeeeeennn Fira 👍😍💪
CaH KangKung,
🥀
CaH KangKung,
👣👣
Sribundanya Gifran
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!