Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terapi 2
"Ada satu hal lagi yang ingin saya sarankan," katanya akhirnya.
Aku mengangkat kepala.
"Dalam beberapa minggu ke depan," lanjutnya, "coba jaga rutinitas yang konsisten. Waktu bangun, makan, tidur buat tubuhmu merasa aman dulu. Memori seringkali lebih mudah muncul ketika tubuh tidak berada dalam kondisi stres."
Aku mengangguk pelan.
"Selain itu," katanya lagi, "hindari terlalu banyak rangsangan sekaligus. Informasi yang bertumpuk, emosi yang terlalu intens, atau tekanan dari diri sendiri untuk ‘harus ingat’ bisa membuat prosesnya justru lebih lambat."
Aku menatap jari-jariku sendiri.
"Kalau kamu merasa lelah, berhenti. Itu bukan kemunduran."
Ia menatapku lebih lembut sekarang. "Dan penting juga untuk memberi ruang pada dirimu sendiri. Bukan hanya bergantung pada satu sumber rasa aman."
Kata-kata itu terasa ringan, tapi menempel lama di dadaku. Aku menarik napas, lalu tanpa sadar pertanyaan itu keluar. Pertanyaan yang bahkan baru kupikirkan detik itu juga.
"Dok," suaraku sedikit ragu. "Kalau saya mencari tahu tentang masa lalu saya itu nggak apa-apa, kan?"
Dokter itu tidak langsung menjawab. Ia menungguku melanjutkan.
"Arven sering bilang nanti bikin aku capek," kataku jujur. "Dan sebenarnya aku nggak apa-apa dengan itu. Aku ngerti maksudnya baik."
Aku terdiam sebentar, lalu menelan ludah.
"Tapi saya juga pengen tahu kebenaran tentang masa lalu saya."
Ruangan itu hening beberapa detik.
Dokter itu akhirnya tersenyum kecil bukan senyum yang menenangkan untukku.
"Keinginan untuk tahu itu sangat manusiawi, Seren," katanya. "Dan itu hak kamu."
Dadaku terasa sedikit menghangat.
"Yang perlu diperhatikan bukan boleh atau tidak," lanjutnya, "tapi bagaimana dan kapan."
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
"Kalau kamu merasa kuat, kamu boleh mencari tahu. Tapi lakukan pelan-pelan. Pilih satu hal kecil. Satu pertanyaan. Jangan semuanya sekaligus."
Aku mengangguk, napasku terasa lebih teratur.
"Dan yang paling penting," katanya, "pastikan itu pilihanmu. Bukan karena tekanan, dan bukan karena larangan."
Aku terdiam lama kali ini. Di kepalaku, suara Arven terlintas. Nada suaranya saat berkata aku akan capek. Saat berkata aku belum siap.
"Aku takut," kataku pelan.
"Itu juga wajar," jawab dokter itu lembut. "Keberanian bukan berarti tidak takut. Tapi tetap bertanya meski takut."
Ia menutup catatannya perlahan.
"Kita akan jalan bersama di sini," katanya. "Kamu tidak sendirian. Tapi arah langkahnya tetap milikmu."
Saat aku berdiri dan menuju pintu, perasaan di dadaku campur aduk tenang, ragu, dan untuk pertama kalinya sedikit berani.
Malam itu kamar terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu hanya menyala setengah, cukup untuk membuat bayangan bergerak pelan di dinding. Aku duduk bersandar di kepala ranjang, selimut menutupi kakiku, buku catatan terbuka di pangkuan.
Pulpen menyentuh kertas.
Aku menulis tanpa berhenti, seolah kalau aku berhenti, keberanian itu akan hilang.
Aku menulis tentang hari ini, tentang dokter, tentang rasa takut yang tidak bisa aku jelaskan. Lalu tanpa sadar, tulisanku berbelok ke satu nama yang selalu muncul di kepalaku.
Arven.
Aku menulis bagaimana dia selalu ada di sisiku sejak aku bangun di rumah sakit. Bagaimana dia tahu kapan aku mulai panik bahkan sebelum aku menyadarinya sendiri. Cara suaranya berubah lebih rendah saat menenangkanku, cara tangannya selalu menemukan punggungku, bahuku, atau kepalaku seperti penanda bahwa aku masih ada di dunia nyata.
Aku menulis bahwa di dunia yang terasa asing dan berlubang, Arven adalah satu-satunya hal yang terasa utuh. Bahwa aku sering berpikir, kalau saja aku terbangun tanpa dia di sisiku, mungkin aku akan benar-benar hancur.
Aku jujur pada kertas itu. Tentang rasa aman yang muncul setiap kali dia menyebut namaku. Tentang ketergantungan yang bahkan belum sepenuhnya aku pahami. Tentang rasa bersalah karena merasa terlalu bergantung pada satu orang.
Aku menulis bahwa Arven di mataku bukan hanya seseorang yang menemaniku, dia seperti pegangan. Seperti lantai di bawah kakiku. Dan itu menenangkan, tapi juga menakutkan.
Saat aku mengakhiri kalimat terakhir, dadaku terasa ringan sekaligus kosong.
Aku baru sadar Arven ada di kamar ketika kasur di sampingku sedikit bergerak. Ia duduk, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat kehadirannya bisa aku rasakan.
"Kamu serius nulis banget nulisnya," katanya pelan
Aku terkejut kecil, lalu tertawa tipis. "Dokter nyuruh."
Ia melirik buku itu. Matanya jatuh ke halaman yang terbuka.
"Boleh aku baca?" tanyanya.
Nada suaranya lembut.
Aku ragu sebentar, lalu mengangguk. "Boleh."
Ia mengambil buku itu dengan hati-hati, seperti sedang memegang sesuatu yang rapuh. Matanya bergerak pelan mengikuti baris demi baris. Wajahnya berubah sedikit alisnya mengendur, bibirnya terbuka tipis, napasnya melambat.
Aku bisa melihatnya.
Arven terharu.
Setelah selesai, ia menutup buku itu perlahan dan mengembalikannya ke pangkuanku.
"Kamu gini tuh," katanya sambil menghela napas kecil, "bahaya."
Aku mengerutkan dahi. "Bahaya kenapa?"
Ia tersenyum, kali ini lebih lebar. "Bikin orang kayak aku GR."
Aku mendengus kecil. "Aku serius."
"Aku juga," balasnya ringan. Lalu ia mendekat sedikit, mencubit pipiku gemas. "Tapi masa kamu nulis aku kayak tokoh utama novel."
Aku memalingkan wajah, malu. "Aku cuma jujur."
"Jujurnya kebangetan," katanya sambil tertawa pelan.
Ia lalu menunduk sedikit, mencium dahiku singkat, hanya sentuhan cepat dan hangat.
"Kamu lucu kalau lagi mikir berat," katanya sambil tertawa kecil. "Kayak anak kecil yang berusaha kelihatan dewasa."
Aku memukul lengannya pelan. "Jahat."
"Enggak," katanya, suaranya lembut. "Aku senang."
Ia bersandar di sampingku, lengannya melingkar di pundakku, menarikku lebih dekat.
"Kalau kamu capek mikir, tulis aja," katanya. "Tapi jangan mikir sendirian. Ada aku."
Aku mengangguk kecil, bersandar padanya.
Di kepalaku. Pelukan itu terasa hangat. Dan aku tidak sadar bahwa sejak tadi, Arven tidak pernah benar-benar bertanya tentang bagian yang membuatku takut.
Malam itu tidak langsung berakhir setelah Arven menggoda aku.
Kami tetap rebahan berdampingan. Kepalaku bersandar di lengannya, buku catatan masih terbuka di pangkuanku, pulpen tergeletak begitu saja. Aku tidak menulis lagi, tapi pikiranku masih bergerak.
"Besok," kata Arven tiba-tiba, nadanya santai tapi terlalu cepat untuk sekadar obrolan ringan, "kalau kamu mau nulis lagi, tulis yang bikin kamu tenang aja."
Aku mengangkat kepala sedikit. "Maksudnya?"
"Yang ringan," katanya. "Hal-hal kecil. Yang bikin kamu nyaman. Jangan yang berat-berat dulu."
Aku mengangguk, meski ada rasa aneh yang menyentil di dada. "Tapi dokter bilang aku boleh nyari tahu pelan-pelan."
"Iya," katanya cepat. "Boleh. Tapi bukan sekarang. Kamu baru mulai terapi. Jangan bikin diri kamu capek."
Nada suaranya lembut, masuk akal. Dan seperti biasa, aku memilih percaya. Malam itu aku tertidur dengan pikiranku masih penuh, tapi tubuhku terasa aman di dekatnya.
Pagi datang dengan cahaya tipis menembus celah tirai.
Aku bangun lebih dulu. Arven masih tertidur di sampingku, wajahnya terlihat lebih muda saat tidak waspada. Aku menggeser tubuh perlahan, mengambil buku catatan dari nakas.
Aku ragu.
Tanganku sudah membuka halaman baru, tapi ujung pulpen menggantung di udara. Kata-kata yang ingin kutulis terasa berbeda dari tadi malam.
Ada kalimat-kalimat yang ingin keluar tentang kecelakaan, tentang Maya, tentang rasa tidak yakin yang muncul saat Arven terlalu cepat menjawab untukku, temtang semua yang buat aku penasaran.
Aku menelan ludah, lalu aku teringat ucapannya.
'tulis yang bikin kamu tenang.'
Akhirnya aku menulis hal-hal kecil. Tentang cuaca pagi ini. Tentang teh yang terlalu pahit. Tentang lagu di radio kemarin yang entah kenapa membuatku ingin bernyanyi.
Aku tidak menulis tentang ketakutanku.
Dan itu membuat dadaku terasa aneh seperti menyembunyikan sesuatu dari diriku sendiri.
"Ren."
Aku tersentak kecil. Arven sudah bangun, menatapku dengan mata setengah terpejam.
"Kamu nulis lagi?" tanyanya.
"Iya," jawabku cepat.
Ia mendekat, mengintip sekilas halaman itu. "Bagus," katanya. "Yang gini aja."
Aku tersenyum tipis, tapi perasaan mengganjal itu tidak pergi. Hari-hari setelah itu berjalan dengan ritme baru.
Terapi kedua, Dokter menyuruhku menutup mata, mengingat sensasi-sensasi kecil, bau, suara, tekstur. Bukan ingatan, katanya. Tapi respons tubuh.
"Kalau muncul potongan apa pun," kata dokter, "jangan dipaksa. Catat saja setelahnya."
Aku mengangguk.
Sepanjang sesi, aku merasa Arven terlalu sering menatapku. Duduk di sudut ruangan, tangannya bertaut, posturnya tegang. Setiap kali aku terlihat kesulitan menjawab, ia bergerak sedikit seolah dia siap menyela.
Dokter menyarankan latihan pernapasan tambahan di rumah, rutinitas, jam tidur teratur, dan yang terakhir.
"Lingkungan yang stabil," katanya sambil melirik Arven. "Pendamping yang konsisten itu bagus. Tapi pasien juga perlu ruang untuk memproses sendiri."
Aku melirik Arven.
Ia tersenyum tipis. "Tentu, Dok."
Tapi di mobil, dalam perjalanan pulang, tangannya lebih sering menyentuhku. Di bahuku, dipunggungku. Seperti memastikan aku merasa nyaman.
"Kamu jangan mikir macem-macem ya," katanya. "Ikutin aja saran dokter. Pelan-pelan."
Aku mengangguk.
Malam itu aku duduk di meja kecil dekat jendela, berniat menulis lagi. Arven berdiri di belakangku, membaca dari atas bahuku tanpa aku sadari.
"Kamu nulis apa?" tanyanya.
Aku refleks menutup buku. "Belum nulis apa-apa."
Ia tertawa kecil. "Kok refleks banget."
Aku ikut tertawa, meski jantungku berdetak lebih cepat dari seharusnya.
"Aku cuma mau nulis sedikit," kataku. "Tentang terapi."
"Yang ringan aja," katanya lagi, nadanya masih sama. Lembut. Masuk akal.
Ia membungkuk, dagunya hampir menyentuh kepalaku. "Kamu capek kalau kebanyakan mikir. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa."
Aku menoleh ke arahnya, wajahnya terlalu dekat.
"Aku tahu," kataku pelan.
Ia tersenyum puas, lalu mencubit pipiku pelan. "Pinter."
Aku seharusnya kesal.Tapi yang kurasakan justru hangat dan sedikit takut, tanpa tahu kenapa.