Dafsa Ramadan (30 tahun), ASN biasa aja yang siangnya sibuk urusan negara dan sorenya membuka lapak biro jodoh di Blok M. Tangannya “dingin” soal jodoh. Banyak testimoni pasangan yang ia jodohkan nyaris selalu berhasil.
Sampai satu anomali bernama Arcila Astoria (31 tahun) datang.
Seorang CEO perempuan yang cerdas, tajam, cepat bosan, dan mengalami emosi malfungsi minta dicarikan jodoh. Arcila terpaksa kesana karena Ayahnya mengancam akan menjodohkannya sama duda anak lima kalau sampai tahun ini belum menikah.
Dafsa mulai bekerja. Memasangkan dengan banyak kandidat unggulan, tapi semua pria yang ditawarkan ke Arcila gagal total. Bukan karena mereka nggak layak, tapi karena Arcila emang dari awal nggak pernah benar-benar niat cari jodoh.
Untuk pertama kalinya Dafsa merasa ini mustahil. Dan tanpa disadari malah dia sendiri yang mulai terjebak perasaan absurd itu.
Cover Ilustrasi by ig pixysoul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Dafsa tau, dia nggak akan pernah bisa kabur dari Arcila si cegil. Sekali lagi, semua jalan buatnya udah buntu. Di rumah, Sri selalu mewanti-wanti Dafsa buat minta maaf sama Arcila. Padahal kalau dipikir-pikir, siapa yang sebenernya harus dapet permintaan maaf itu? Dafsa, kan? Tapi dalam kasus ini, posisi Dafsa jadi serba salah. Mau atau nggak, dia harus dateng ke rumah Arcila pake motor kesayangannya.
Waktu motornya masuk ke halaman rumah Arcila yang luas, Dafsa langsung ngerasa kecil, ngerasa nggak berharga, dan lain-lain. Dari segi harta Dafsa kalah, tapi nggak kalau diukurnya pake segi kemanusiaan. Iya, bener, Dafsa udah paten pengen bilang Arcila perempuan jahat. Gara-gara dia hidupnya jadi susah begini.
"Eh, ada Den Dafsa. Mari masuk, Den, Non Arcila sudah menunggu di dalam."
Sambutan formal dari asisten rumah tangga itu bikin Dafsa narik senyum. Di sini, dia dipanggil Den, sebuah panggilan kehormatan yang biasanya didapetin sama orang-orang kaya. Dafsa nggak bangga, karena dia ngerasa semua ini palsu.
"Mas!"
Baru aja masuk ke rumah yang beneran luas banget, Dafsa disambut lagi sama Arcila. Perempuan itu turun dari lantai dua, lari-lari kecil macam Putri Raja yang dulu serialnya sering ditonton Diva di stasiun TV ikan terbang. Dafsa cuma bisa senyum tipis.
"Hai," sapanya pelan dengan sebelah tangan terangkat.
"Aku pikir kamu nggak jadi datang, Mas," kata Arcila menarik tangan Dafsa ke ruang makan. Di sana ada Rama dan Hani, tampak terkejut melihat kedatangan Dafsa di rumah mereka.
"Lho, ada Dafsa." Rama langsung berdiri, ninggalin piring yang masih terisi menu sarapan. Senyumnya lebar banget, lebih lebar dari yang sering dia tunjukkin di depan rekan bisnis.
"Pagi, Om." Dafsa salaman sama Rama, terus sama Hani.
Orang tua Arcila beneran seneng ngeliat Dafsa ada di depan mata. Mereka nganggap hubungan Arcila sama Dafsa beneran serius.
"Aduh, kalau tau kamu bakalan datang, Tante pasti masak lebih banyak." Hani tampaknya kurang puas sama menu yang menurut Dafsa udah paket komplit alias empat sehat lima sempurna. "Kenapa kamu nggak bilang dulu sih, Cil?" tanyanya pada Arcila.
"Eh, soalnya ini dadakan, Ma. Mas Dafsa mau nganterin aku ke hotel sekalian pergi kerja."
"Wah, kalian udah mau go public?" Rama bertanya usai mempersilakan Dafsa duduk.
Dafsa jadi kikuk. Sebutan go publik itu bikin perasaannya makin nggak tenang. Orang-orang pasti bakalan nganggap Dafsa cowok matre. Dafsa makin pusing. Tapi sayangnya dia nggak bisa ngelak, soalnya Arcila udah ngangguk duluan.
"Udah waktunya semua orang tau aku punya pacar." Arcila punya rencana di balik kalimatnya itu. Dia sempet ngelirik Dafsa, terus pegang tangannya. Dafsa kelihatan kaget, nggak siap dipegang-pegang begini.
"Iya 'kan, Mas?" Arcila minta suara Dafsa.
Hidup di bawah tekanan Arcila bikin Dafsa nggak bisa ngapa-ngapain. Dia ngangguk pelan, terus ngasih senyum sopan.
"Itu keputusan bagus, Papa mendukung kalian berdua." Rama makin senang. Dia masih nggak nyangka kalau pada akhirnya, Arcila bisa jatuh cinta. Putri semata wayangnya itu normal, makanya Arcila punya hubungan serius sama Dafsa.
Soal kerjaan sama keluarga Dafsa, Rama nggak masalah sama sekali. Baginya Dafsa udah sempurna. Public speaking-nya bagus, bahkan bisa dibilang di atas rata-rata. Terus Dafsa punya kerjaan sampingan yang bikin semua orang suka sama dia. Itu jadi nilai plus buat Rama.
Di jaman sekarang, siapa coba, yang punya kemampuan nemuin jodoh buat orang lain? Cuma Dafsa yang bisa.
Masalah harta? Aduh, nggak usah ngomongin itu sama Rama. Sekarang pun kalau Dafsa mau, Rama bisa bikin usaha sampingannya ada di mana-mana. Jangankan itu, dia juga bakal dukung Dafsa kalau calon mantunya itu pengen naik jadi Lurah, atau Walikota, atau Gubernur sekalian. Semuanya bakal dijabanin sama Rama, asal Dafsa setia.
"Arcila sudah ngasih tau kamu, Daf, kalau Om sama Kakek mau ketemu lagi?"
"Sudah, Om. Insya Allah saya datang ke rumahnya Kakek Suseno," jawab Dafsa makin sungkan. Rasanya lebih baik ketemu langsung sama keluarga besar Arcila, daripada cuma sarapan berempat di meja makan. Dafsa jadi nggak tau harus ngapain. Dia banyak bengongnya kayak orang bingung.
Untunglah ada Arcila yang udah prepare. Kalau ada kesempatan, Arcila bakal pegang tangan Dafsa, terus ngisi piring cowok itu pake lauk tambahan. Arcila juga ngambilin minum buat Dafsa. Pokoknya ya, Arcila beneran kelihatan manis banget, sampai nggak segan muji Dafsa yang katanya wangi dan selalu kelihatan seger.
‘Kena kamu, Mas Dafsa,’ gumam Arcila dalam hati, terbahak puas karena Dafsa nggak lagi ngoceh kayak kemarin.
Selesai sarapan, Dafsa dan Arcila pamitan. Mereka pergi dulu ke garasi buat milih mobil. Sebenernya cuma Arcila sih yang milih-milih mobil, soalnya Dafsa tetep kekeuh mau berangkat pake motor.
"Dalam sandiwara ini, kita berdua harus totalitas." Arcila kembali pada sikap aslinya, yang datar dan teratur.
Dafsa udah paham banget gimana alurnya. Kalau ada orang lain, sikap manis Arcila bakalan muncul. Tapi kalau cuma berdua kayak ini, ya jangan ditanya.
"Bu—"
"Panggil Arcila," ralat Arcila tegas, menatap Dafsa tanpa ekspresi.
Aduh, Dafsa merinding. Boleh nggak ya, dia bilang kalau dia mulai takut ngeliat tingkah Arcila yang kayaknya punya banyak kepribadian?
Kadang ceria, mesra, manis kayak gula merah, terus tiba-tiba aja jadi serius dan sok misterius. Sumpah deh, Dafsa baru nemu perempuan kayak Arcila, yang sifatnya nggak bisa ditebak.
"Jadi kamu mau apalagi dari saya?" tanya Dafsa di ujung kesabarannya.
"Kita ke hotel. Antar saya pake mobil." Arcila ngasih kunci mobilnya. Kali ini bukan Lamborghini atau Porche, tapi SUV hitam yang bisa bikin Dafsa tambah gagah. "Bisa bawanya, kan?"
"Bisa, Bu." Dafsa udah males debat. Dia ambil kunci mobil itu, terus siap-siap masuk. Tapi tiba-tiba Arcila nahan tangannya. Dafsa juga ditarik pelan.
"Bukan begitu caranya memperlakukan pacar, Mas Dafsa," ucapnya memberikan tutorial. Arcila membukakan pintu penumpang, yang mana bakalan jadi kewajiban buat Dafsa kalau mereka pergi berduaan.
"Nanti saya kelihatan kayak supir," celetuk Dafsa yang sukses bikin Arcila kesel.
"Ya jangan terlalu formal, natural aja. Gitu doang nggak bisa?" tantang Arcila.
"Bisa!" timpal Dafsa nggak terima diremehin.
Dafsa buka pintu penumpang bagian kiri, mempersilakan Arcila masuk. Nggak cukup sampai sana, dia juga jaga-jaga supaya kepala Arcila nggak terbentur waktu naik. Arcila langsung senyum lebar, puas sama pelayanan Dafsa sebagai pacar pura-pura.
Mobil dinyalakan. Mereka pergi ke hotel. Sepanjang perjalanan, nggak ada percakapan apa-apa, seolah Dafsa emang diminta datang buat dijadiin sopir. Entahlah, dari tadi Dafsa nggak bisa mikir positif kalau udah berkaitan sama Arcila. Dia trauma perempuan gila di sebelahnya ini bakalan macam-macam lagi kayak kemarin. Jadi buat nyari aman, Dafsa mutusin bakal ngikutin alur yang dipimpin Arcila.
"Mas Dafsa harus keluar," ucap Arcila saat tiba tepat di depan lobby.
"Oke," sahut Dafsa singkat.
Arcila tiba-tiba sebel sama Dafsa yang banyak diemnya. Iya sih, pagi ini Dafsa nurut banget, tapi 'kan nggak usah diem terus kayak gini. Arcila ngerasa dikacangin.
Pintu mobil mereka dibuka bersamaan oleh satpam yang berjaga di lobby. Beberapa staf yang kebetulan baru ada dateng dan kenal sama Dafsa, langsung bisik-bisik heboh.
"Lho, itu 'kan Mas Biro. Kenapa dia dateng ke sini? Mana sama Bu Arcila pula!"
"Lho, kamu nggak tau, kalau beberapa hari lalu Mas Dafsa juga sempet dateng ke sini, katanya mau ketemu Bu Arcila."
"Ada apa, ya? Apa jangan-jangan Bu Arcila juga mau dicariin jodoh sama Mas Biro?"
"Eh?!" Salah seorang dari kerumunan itu langsung kaget waktu Arcila gandeng tangan Dafsa. Mesra banget, mana nempel kayak pengantin baru.
Pemandangan ini baru banget mereka lihat selama kerja di Hotel Astoria.
"Pagi, Bu Arcila," sapa mereka kompak dan berusaha nggak kelihatan kaget waktu Arcila sama Dafsa jalan di depan mereka.
"Pagi." Arcila sengaja berhenti di tengah lobby yang megah. Dia punya misi. "Kalian kenal sama Mas Dafsa?" tanyanya ramah, tidak seperti biasanya yang suka nyelonong nggak pake ngeliat kanan dan kiri.
"Eh, oh ... anu ... kenal, Bu. Mas Dafsa yang punya Kios Makcomblang Dafsa di Blok M."
"Kamu juga terkenal di sini, Mas." Arcila mengusap lengan Dafsa, bikin cowok itu makin merinding. Sekarang bukan merinding karena takut, tapi karena ... paham 'kan maksudnya?
"Kalian pernah datang ke Kios Makcomblang Dafsa?" Dafsa jadi sedikit cair. Dia selalu seneng ketemu sama mantan kliennya.
"Pernah, Mas. Hampir semua staf lajang di sini pernah mampir ke Kios Makcomblang Dafsa."
Dafsa makin seneng denger itu. Sekarang ekspresi di mukanya kelihatan natural waktu senyum, bikin rasa kesel di hati Arcila langsung lenyap.
"Datang lagi kalau kalian perlu jodoh, ya, jangan ragukan kemampuan calon suami saya. Dia hebat sekali soal urusan jodoh menjodohkan orang."
Kerumunan staf itu kompak ternganga. Mereka nggak cuma kaget sama keramahan Arcila, tapi juga sama omongannya barusan. Katanya ... Dafsa calon suaminya?
Hah? Kok bisa?!