NovelToon NovelToon
Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Sci-Fi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.

"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"

Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31

Setelah menempuh perjalanan selama hampir tiga jam, kereta akhirnya melambat dan berhenti sempurna di peron stasiun Jakarta. Hawa panas Jakarta langsung menyambut begitu mereka melangkah keluar dari gerbong yang dingin.

Ayu tampak sibuk mengecek ponselnya, mencari alamat hotel yang sudah dia tandai di aplikasi.

 "Mas, urusan notarisnya kan besok pagi. Karena apartemennya sudah kosong dan listriknya dicabut, malam ini aku rencananya mau menginap di hotel yang murah aja di dekat sini. Biar hemat dan dekat kalau mau jalan besok," ujar Ayu sambil mulai berjalan menuju pintu keluar.

Rangga yang sedang menenteng koper Ayu langsung berhenti melangkah. Ia menatap Ayu dengan dahi berkerut, tidak setuju.

"Nggak usah, Yu. Hotel murah di daerah sini rata-rata nggak aman, apalagi buat perempuan sendirian," ucap Rangga.

Ayu menoleh, mencoba membela diri. "Tapi kan cuma semalam, Mas. Lagian aku sudah biasa mandiri kalau di Jakarta."

"Dulu itu dulu. Sekarang ada saya di sini," potong Rangga sambil tetap berjalan mantap mendahului Ayu.

"Nanti sama saya aja yang pesan hotelnya. Kamu ngikut aja, nggak usah mikirin biaya atau tempatnya. Saya cari yang keamanannya terjamin dan ada penjaganya dua puluh empat jam."

"Mas... tapi nanti malah jadi mahal," gumam Ayu lirih, mencoba menyusul langkah Rangga yang lebar.

"Saya nggak mau ambil risiko soal keselamatan kamu, Yu. Uang bisa dicari, tapi ketenangan pikiran saya kalau tahu kamu aman itu jauh lebih mahal harganya," jawab Rangga tanpa menoleh, namun suaranya terdengar sangat tulus.

Sesampainya di lobi hotel yang cukup mewah pilihan Rangga, suasana terasa sejuk dan tenang. Rangga melangkah dengan percaya diri ke meja resepsionis, sementara Ayu berdiri di sampingnya sambil merapikan hijabnya yang sedikit miring akibat terburu-buru.

Seorang staf resepsionis dengan seragam rapi menyambut mereka dengan senyum ramah. "Selamat sore, selamat datang. Ada yang bisa saya bantu untuk reservasi kamarnya, Pak, Bu?"

Rangga melirik Ayu sekilas dengan tatapan jahil yang sangat khas. Ia kemudian menoleh kembali ke arah resepsionis dengan wajah yang dibuat-buat serius.

"Mbak, pesan kamar yang paket honeymoon ya, ada nggak?" ucap Rangga dengan suara yang cukup jelas.

Ayu yang saat itu baru saja hendak menelan air mineralnya seketika tersedak ludah sendiri. Ia terbatuk-batuk kecil di balik tangannya, wajahnya di balik hijab itu mendadak merah padam sampai ke telinga.

"Mas! Apaan sih!" seru Ayu setelah berhasil mengatur napasnya. Ia langsung menoleh cepat ke arah resepsionis yang mulai tampak bingung sekaligus menahan senyum.

"Nggak, Mbak! Jangan didengarkan. Pesan dua kamar ya! Dua kamar, terpisah!"

Rangga tertawa lepas melihat reaksi Ayu yang sangat panik. "Aduh, Yu, bercanda dikit saja kok sampai tersedak gitu. Mbaknya jadi bingung kan."

Rangga kemudian kembali menatap resepsionis itu sambil mengeluarkan kartu identitasnya. "Dua kamar saja, Mbak. Yang satu single bed buat saya, satu lagi buat Ibu ini. Tolong kamarnya yang bersebelahan atau berhadapan ya, Mbak, biar saya gampang jagainnya."

Staf resepsionis itu mengangguk sambil tersenyum maklum. "Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar, saya cek ketersediaan kamarnya."

Ayu mencubit lengan Rangga dengan keras sampai pria itu mengaduh pelan. "Mas Rangga jangan bikin malu ya! Malu sama hijab saya, Mas!"

"Iya, iya, ampun! Habisnya kamu tegang banget dari tadi, kan maksud saya biar rileks dikit," sahut Rangga sambil mengelus lengannya yang perih.

Malam harinya, Rangga keluar dari kamarnya setelah sempat mandi dan menyegarkan diri. Meski hanya mengenakan kaos hitam yang sama karena memang tidak membawa baju ganti ia tampak lebih segar dan rapi.

Rangga berdiri di depan pintu kamar nomor 405, lalu mengetuknya perlahan.

Tok! Tok! Tok!

"Yu? Sudah siap belum? Saya sudah lapar banget nih, cacing di perut sudah demo minta diisi makanan Jakarta," seru Rangga sedikit keras agar terdengar sampai ke dalam.

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Ayu muncul dengan penampilan yang sudah rapi kembali. Ia mengenakan hijab berwarna senada dengan tunik yang ia pakai, memberikan kesan anggun dan bersahaja.

"Sabar, Mas. Tadi aku lagi merapikan berkas-berkas buat notaris besok sebentar," ujar Ayu sambil menutup pintu dan memastikan kuncinya sudah terkunci otomatis.

Rangga sempat tertegun sejenak melihat penampilan Ayu. Meskipun sering bertemu di kedai, entah kenapa dalam pencahayaan lorong hotel yang sedikit remang ini, Ayu terlihat berkali-kali lipat lebih cantik di mata Rangga.

"Kenapa, Mas? Ada yang aneh sama hijab aku?" tanya Ayu sambil meraba bagian depan hijabnya, merasa risi karena dipandangi terus.

Rangga berdeham, mencoba menetralkan kegugupannya. "Enggak, nggak ada yang aneh. Cuma... saya baru sadar kalau kamu cantik begini, jadi makin semangat carinya."

Ayu memutar bola matanya, meski hatinya sedikit berdesir. "Mulai deh gombalnya. Jadi makan nggak nih? Kalau nggak, aku balik ke dalam saja."

"Eh, jangan dong! Ayo, saya sudah tahu tempat makan yang enak di dekat sini. Kita jalan kaki saja ya, udaranya lagi enak," ajak Rangga sambil mulai melangkah menuju lift.

Mereka berjalan menyusuri trotoar Jakarta yang masih sangat ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan dan gemerlap lampu jalan. Jakarta malam itu terasa begitu hidup, jauh berbeda dengan suasana tenang di Bandung.

Saat melewati persimpangan yang cukup padat dengan pejalan kaki, Rangga melirik ke arah Ayu. Ia melihat Ayu sedikit kesulitan berjalan di antara kerumunan orang yang berlalu-lalang dengan cepat. Tanpa banyak bicara, Rangga bergerak mendekat.

Rangga perlahan meraih dan menggandeng ujung lengan baju tunik Ayu, menariknya sedikit agar Ayu tetap berada di dekatnya.

"Pegangan, Yu. Jakarta malam-malam begini ramai banget, nanti kalau kamu kepisah atau hilang di kerumunan, saya lapor ke Nenek Tari bilangnya gimana?" ucap Rangga sambil terus waspada memperhatikan jalan di depan mereka.

Ayu sempat tersentak kecil, matanya melirik ke arah tangan Rangga yang memegang erat ujung lengannya.

"Mas, aku bukan anak kecil lagi yang bakal hilang kalau nggak dipegangin," protes Ayu pelan, meski ia sama sekali tidak melepaskan tangan Rangga.

"Bukan masalah anak kecil atau bukan, Yu. Tapi ini tanggung jawab saya. Kan tadi saya sudah bilang, malam ini saya ajudan pribadi kamu. Kalau ajudannya lalai, bisa kena sanksi dari Nenek," balas Rangga sambil terkekeh pelan.

Akhirnya mereka sampai di sebuah kedai tenda pinggir jalan yang sangat ramai pengunjung, tempat yang dulu sering mereka datangi saat Ayu masih bekerja di Jakarta. Aroma sate yang dibakar menyeruak, membangkitkan kenangan lama yang sempat terkubur.

"Masih ingat tempat ini?" tanya Rangga sambil menarikkan kursi plastik untuk Ayu.

Ayu tersenyum tipis sambil membetulkan posisi hijabnya. "Masih."

Asap dari panggangan sate mengepul di antara mereka, membawa aroma bumbu kacang yang gurih. Rangga sibuk melepaskan tusuk sate satu per satu ke piring Ayu sebelum mulai makan, sebuah kebiasaan lama yang ternyata masih ia ingat.

Sambil mengunyah pelan, Rangga akhirnya melontarkan pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalanya. "Yu, saya sebenarnya masih penasaran. Kenapa tiba-tiba banget keputusannya buat jual apartemen itu? Bukannya itu hasil kerja keras kamu bertahun-tahun di sini?"

Ayu terdiam sejenak, mengaduk teh manis hangatnya sebelum menjawab. "Sayang kalau nggak dipakai, Mas. Mending dijual sekarang selagi harganya lagi bagus," jawab Ayu pelan sambil menatap lalu lalang kendaraan di depan mereka.

Ia menarik napas panjang, lalu menatap Rangga dengan tulus. "Dan uangnya... sebagian mau aku pakai buat bayar hutang ke Mas Rangga. Waktu aku masuk rumah sakit di Bandung kemarin, Mas kan yang bayar semua biayanya sampai lunas."

1
kalea rizuky
gemes deh kalian
kalea rizuky
q uda kirim bunga lanjut banyak ya thor
kalea rizuky
lanjut donkk
Evi Lusiana
waduh rangga puny saingan y thor
Evi Lusiana
klo pura² sakit aj trs biar ayu kwatir dn perhatian sm km rangga🤭
Evi Lusiana
knp d bkin ribet sih yu,hrsny km trimakasih sm rangga
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ayu membatalkan pertunangan dan pergi harusnya Rangga benci ke Ayu dan ngga mau lihat Ayu lagi dong
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Padahal orang yang di suruh mengantar motornya Ayu sudah bilang kalau gratis tapi malah Ayu datang ke bengkel dan memberikan uang ke Rangga sebagai biaya perbaikan sepeda motor dan ganti sparepart
Evi Lusiana
rangga laki² baik bertahun² sjak dia gk lg nersm ayu dia hny fokus kerja tp tdk maen perempuan
Aidil Kenzie Zie
bicara dari hati ke hati
Evi Lusiana
ini yg nmany jodoh gk akn kmn y thor
Aidil Kenzie Zie
move on Rangga kalau nggak kejar lagi cinta itu
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!