NovelToon NovelToon
Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Romansa / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.

"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"

Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

Setelah kenyang menyantap sate, mereka sempat mampir ke sebuah pusat perbelanjaan yang masih buka untuk membeli beberapa kaos dan keperluan Rangga. Sekitar jam sepuluh malam, mereka kembali ke hotel.

Suasana lobi sudah sangat sepi saat mereka berjalan menuju lift. Di dalam lift yang berdinding cermin itu, Rangga tampak memperhatikan Ayu yang terlihat lelah namun tenang.

"Capek ya, Yu? Maaf ya, malam ini malah saya ajak mutar-mutar dulu," ucap Rangga sambil menenteng kantong belanjaan bajunya.

Ayu tersenyum tipis di balik hijabnya. "Enggak kok, Mas. Justru aku senang, jadi nggak terlalu tegang mikirin urusan notaris besok. Makasih ya sudah ditemani cari makan."

"Sama-sama. Kan sudah janji, saya jagain kamu selama di sini," balas Rangga lembut.

Saat pintu lift berdenting di lantai empat, mereka berjalan bersisian menyusuri lorong yang sunyi menuju kamar mereka yang berdekatan. Sesampainya di depan pintu kamar 405, Ayu berhenti dan berbalik untuk berpamitan.

"Sudah sampai. Mas juga langsung istirahat ya, jangan begadang," kata Ayu sambil meraba kunci kartunya.

Rangga tidak langsung menjawab. Ia menatap lekat wajah Ayu di bawah temaram lampu lorong hotel. Suasana yang sunyi dan perasaan emosional sejak di tukang sate tadi membuat jantungnya berdegup lebih kencang.

"Yu..." panggil Rangga rendah.

"Kenapa, Ma...."

Belum sempat Ayu menyelesaikan kalimatnya, Rangga tiba-tiba maju selangkah, menipiskan jarak di antara mereka. Dengan gerakan yang sangat cepat dan impulsif, Rangga mendaratkan sebuah ciuman singkat di bibir Ayu.

Ayu terbelalak. Dunianya seolah berhenti berputar selama beberapa detik. Ia benar-benar terkejut, tidak menyangka Rangga akan melangkah sejauh itu, apalagi saat ia sedang mengenakan hijabnya.

Begitu Rangga melepaskan ciumannya, Ayu langsung menarik diri dengan napas memburu. Matanya berkaca-kaca karena rasa kaget yang bercampur aduk. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ayu segera menempelkan kartu aksesnya ke pintu, membukanya, dan langsung masuk ke dalam kamar.

Brak!

Pintu tertutup rapat. Di dalam kamar, Ayu bersandar pada pintu yang tertutup dengan jantung yang berdegup kencang. Ia merasa sangat terkejut sekaligus kecewa. Ada rasa perih di hatinya karena merasa Rangga telah melewati batas kesopanan, terutama di saat ia merasa hubungan mereka baru saja mulai membaik dengan cara yang lebih terhormat.

Sementara itu di luar, Rangga terpaku menatap pintu kayu yang tertutup di depannya. Ia baru sadar akan kekeliruannya. Ia merutuki kebodohan dan impulsivitasnya yang mungkin saja baru saja merusak kepercayaan yang susah payah Ayu bangun kembali untuknya.

Pagi harinya, Rangga sudah berdiri di depan pintu kamar Ayu. Wajahnya tampak sangat kuyu, matanya merah karena semalam ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata, terus-menerus merutuki kebodohannya sendiri.

Saat pintu kamar akhirnya terbuka, Ayu muncul dengan setelan yang rapi dan hijab yang terpasang sempurna. Namun, wajahnya sedingin es. Ia bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah Rangga.

"Yu, saya minta maaf soal semalam," ucap Rangga cepat, mencoba menghadang langkah Ayu. "Saya benar-benar khilaf, saya nggak berpikir jernih. Tolong, dengarkan penjelasan saya dulu..."

Ayu tetap bungkam. Ia terus berjalan menuju lift dengan langkah tegas, membuat Rangga terpaksa mengekor di belakang dengan perasaan was-was. Begitu mereka masuk ke dalam lift yang kosong dan tertutup rapat, suasana menjadi sangat sunyi, hanya ada suara dengung mesin yang mengisi keheningan.

Ayu menekan tombol lobi, lalu menarik napas panjang. Matanya menatap lurus ke arah pintu lift yang mengilap, tanpa mau menoleh sedikit pun pada Rangga yang berdiri gelisah di sampingnya.

"Nggak apa-apa kok, Mas. Nggak usah minta maaf," ujar Ayu dengan nada datar.

"Lagipula, aku memang murahan kan? Makanya Mas berani berbuat begitu sama aku semalam."

Rangga seketika membeku. Kalimat itu terasa seperti pedang yang menghujam jantungnya. Ia langsung berbalik menghadap Ayu dengan raut wajah penuh kesakitan.

"Nggak! Jangan pernah bicara begitu, Yu!" bantah Rangga dengan nada keras yang bergetar.

"Saya bersumpah demi apa pun, saya nggak pernah menganggap kamu begitu. Semalam itu murni kesalahan saya, kebodohan saya. Saya menyesal banget, Yu. Tolong, jangan rendahkan diri kamu sendiri hanya karena kelakuan saya yang biadab."

Rangga melangkah maju, mencoba mencari mata Ayu yang terus menghindari tatapannya.

"Saya mohon, Yu... jangan bilang begitu lagi. Saya sangat menghargai kamu, saya sayang sama kamu. Saya benar-benar menyesal sudah melewati batas. Tolong, hukum saya dengan apa saja, tapi jangan pernah sebut diri kamu murahan," lanjut Rangga dengan suara yang nyaris pecah karena rasa bersalah yang mendalam.

Ayu masih terdiam, namun bahunya sedikit bergetar. Kata-katanya tadi sebenarnya adalah luapan kekecewaan yang paling dalam karena ia merasa kepercayaan yang baru saja ia bangun kembali untuk Rangga telah dikhianati oleh nafsu sesaat.

Mereka melangkah menuju restoran hotel untuk sarapan sebelum berangkat. Ayu mengambil piring dengan gerakan tenang, mengisi piringnya dengan sedikit nasi goreng dan buah, lalu duduk di meja sudut yang sepi.

Rangga mengikuti di belakang dengan wajah pucat. Ia duduk di hadapan Ayu, namun piringnya sendiri masih kosong. Ia sama sekali tidak selera makan. Yang ia lakukan hanyalah menatap Ayu dengan gelisah, sementara Ayu mulai menyuap makanannya dengan sangat perlahan, tanpa suara, dan tanpa sekalipun mengangkat pandangan.

Keheningan Ayu ini justru membuat Rangga kalang kabut. Ia lebih memilih Ayu memaki-makinya atau menyiramnya dengan air daripada didiamkan seperti ini.

"Yu... makanannya enak?" tanya Rangga mencoba memecah kesunyian dengan suara serak.

Ayu hanya mengangguk pelan tanpa menatapnya. Ia terus mengunyah dengan tenang, seolah-olah Rangga tidak ada di depannya.

"Yu, tolong... bicaralah sesuatu. Jangan diam begini," pinta Rangga lagi.

"Saya beneran merasa jadi orang paling jahat di dunia kalau kamu begini terus. Saya nggak tenang, Yu. Jantung saya rasanya mau copot lihat kamu diam begini."

Ayu meletakkan sendoknya dengan pelan, suaranya nyaris tidak terdengar saat ia berkata, "Aku lagi makan, Mas. Nggak sopan bicara sambil makan."

Rangga makin panik. Ia mengacak rambutnya dengan frustrasi. "Oke, oke, saya tunggu sampai kamu selesai. Tapi tolong, setelah ini jangan bilang lagi kalau kamu murahan. Itu benar-benar menyakiti hati saya, Yu. Lebih sakit daripada kalau kamu tampar saya berkali-kali."

Ayu masih tidak bergeming. Ia meminum air putihnya dengan anggun, menyeka bibirnya dengan tisu, lalu akhirnya mengangkat wajah dan menatap lurus ke mata Rangga. Tatapannya kosong, yang justru membuat Rangga semakin merasa bersalah.

"Mas Rangga tahu kenapa aku bilang begitu?" tanya Ayu lirih. "Karena aku kecewa. Di saat aku mulai merasa aman dan percaya lagi sama Mas di kota ini, Mas malah menghancurkannya dalam sedetik."

Rangga langsung menunduk, tidak sanggup membalas tatapan itu. "Saya tahu... saya salah besar. Tolong beri saya cara buat memperbaikinya, Yu. Apa pun."

1
Evi Lusiana
mnjaga diri sbg wanita itu wajib,tp hrsny ayu jg jgn egois hrsny dia tahu mksd perhatian rangga slm ini,untung rangga bnr² tulus klo laki² ny model playboy psti d kira ayu sok jual mahal
Aidil Kenzie Zie
yang murahan itu mamanya si Ayu sampai hamil sama selingkuhan nggak ingat umur
Aidil Kenzie Zie
Rangga kalau Ayu nggak mau nggak usah dipaksain mungkin bukan jodoh kamu
Aidil Kenzie Zie
si Ayu dikit dikit hutang diajak nikah nggak mau sok jual mahal apalagi sih yang dicari pria seperti Rangga susah dicari
Evi Lusiana
kok sgtuny ayu sm rangga,pdhl dia udh baik slm ini
kalea rizuky
gemes deh kalian
kalea rizuky
q uda kirim bunga lanjut banyak ya thor
kalea rizuky
lanjut donkk
Evi Lusiana
waduh rangga puny saingan y thor
Evi Lusiana
klo pura² sakit aj trs biar ayu kwatir dn perhatian sm km rangga🤭
Evi Lusiana
knp d bkin ribet sih yu,hrsny km trimakasih sm rangga
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ayu membatalkan pertunangan dan pergi harusnya Rangga benci ke Ayu dan ngga mau lihat Ayu lagi dong
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Padahal orang yang di suruh mengantar motornya Ayu sudah bilang kalau gratis tapi malah Ayu datang ke bengkel dan memberikan uang ke Rangga sebagai biaya perbaikan sepeda motor dan ganti sparepart
Evi Lusiana
rangga laki² baik bertahun² sjak dia gk lg nersm ayu dia hny fokus kerja tp tdk maen perempuan
Aidil Kenzie Zie
bicara dari hati ke hati
Evi Lusiana
ini yg nmany jodoh gk akn kmn y thor
Aidil Kenzie Zie
move on Rangga kalau nggak kejar lagi cinta itu
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!