Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.
"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"
Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Setelah kenyang menyantap sate, mereka sempat mampir ke sebuah pusat perbelanjaan yang masih buka untuk membeli beberapa kaos dan keperluan Rangga. Sekitar jam sepuluh malam, mereka kembali ke hotel.
Suasana lobi sudah sangat sepi saat mereka berjalan menuju lift. Di dalam lift yang berdinding cermin itu, Rangga tampak memperhatikan Ayu yang terlihat lelah namun tenang.
"Capek ya, Yu? Maaf ya, malam ini malah saya ajak mutar-mutar dulu," ucap Rangga sambil menenteng kantong belanjaan bajunya.
Ayu tersenyum tipis di balik hijabnya. "Enggak kok, Mas. Justru aku senang, jadi nggak terlalu tegang mikirin urusan notaris besok. Makasih ya sudah ditemani cari makan."
"Sama-sama. Kan sudah janji, saya jagain kamu selama di sini," balas Rangga lembut.
Saat pintu lift berdenting di lantai empat, mereka berjalan bersisian menyusuri lorong yang sunyi menuju kamar mereka yang berdekatan. Sesampainya di depan pintu kamar 405, Ayu berhenti dan berbalik untuk berpamitan.
"Sudah sampai. Mas juga langsung istirahat ya, jangan begadang," kata Ayu sambil meraba kunci kartunya.
Rangga tidak langsung menjawab. Ia menatap lekat wajah Ayu di bawah temaram lampu lorong hotel. Suasana yang sunyi dan perasaan emosional sejak di tukang sate tadi membuat jantungnya berdegup lebih kencang.
"Yu..." panggil Rangga rendah.
"Kenapa, Ma...."
Belum sempat Ayu menyelesaikan kalimatnya, Rangga tiba-tiba maju selangkah, menipiskan jarak di antara mereka. Dengan gerakan yang sangat cepat dan impulsif, Rangga mendaratkan sebuah ciuman singkat di bibir Ayu.
Ayu terbelalak. Dunianya seolah berhenti berputar selama beberapa detik. Ia benar-benar terkejut, tidak menyangka Rangga akan melangkah sejauh itu, apalagi saat ia sedang mengenakan hijabnya.
Begitu Rangga melepaskan ciumannya, Ayu langsung menarik diri dengan napas memburu. Matanya berkaca-kaca karena rasa kaget yang bercampur aduk. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ayu segera menempelkan kartu aksesnya ke pintu, membukanya, dan langsung masuk ke dalam kamar.
Brak!
Pintu tertutup rapat. Di dalam kamar, Ayu bersandar pada pintu yang tertutup dengan jantung yang berdegup kencang. Ia merasa sangat terkejut sekaligus kecewa. Ada rasa perih di hatinya karena merasa Rangga telah melewati batas kesopanan, terutama di saat ia merasa hubungan mereka baru saja mulai membaik dengan cara yang lebih terhormat.
Sementara itu di luar, Rangga terpaku menatap pintu kayu yang tertutup di depannya. Ia baru sadar akan kekeliruannya. Ia merutuki kebodohan dan impulsivitasnya yang mungkin saja baru saja merusak kepercayaan yang susah payah Ayu bangun kembali untuknya.
Pagi harinya, Rangga sudah berdiri di depan pintu kamar Ayu. Wajahnya tampak sangat kuyu, matanya merah karena semalam ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata, terus-menerus merutuki kebodohannya sendiri.
Saat pintu kamar akhirnya terbuka, Ayu muncul dengan setelan yang rapi dan hijab yang terpasang sempurna. Namun, wajahnya sedingin es. Ia bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah Rangga.
"Yu, saya minta maaf soal semalam," ucap Rangga cepat, mencoba menghadang langkah Ayu. "Saya benar-benar khilaf, saya nggak berpikir jernih. Tolong, dengarkan penjelasan saya dulu..."
Ayu tetap bungkam. Ia terus berjalan menuju lift dengan langkah tegas, membuat Rangga terpaksa mengekor di belakang dengan perasaan was-was. Begitu mereka masuk ke dalam lift yang kosong dan tertutup rapat, suasana menjadi sangat sunyi, hanya ada suara dengung mesin yang mengisi keheningan.
Ayu menekan tombol lobi, lalu menarik napas panjang. Matanya menatap lurus ke arah pintu lift yang mengilap, tanpa mau menoleh sedikit pun pada Rangga yang berdiri gelisah di sampingnya.
"Nggak apa-apa kok, Mas. Nggak usah minta maaf," ujar Ayu dengan nada datar.
"Lagipula, aku memang murahan kan? Makanya Mas berani berbuat begitu sama aku semalam."
Rangga seketika membeku. Kalimat itu terasa seperti pedang yang menghujam jantungnya. Ia langsung berbalik menghadap Ayu dengan raut wajah penuh kesakitan.
"Nggak! Jangan pernah bicara begitu, Yu!" bantah Rangga dengan nada keras yang bergetar.
"Saya bersumpah demi apa pun, saya nggak pernah menganggap kamu begitu. Semalam itu murni kesalahan saya, kebodohan saya. Saya menyesal banget, Yu. Tolong, jangan rendahkan diri kamu sendiri hanya karena kelakuan saya yang biadab."
Rangga melangkah maju, mencoba mencari mata Ayu yang terus menghindari tatapannya.
"Saya mohon, Yu... jangan bilang begitu lagi. Saya sangat menghargai kamu, saya sayang sama kamu. Saya benar-benar menyesal sudah melewati batas. Tolong, hukum saya dengan apa saja, tapi jangan pernah sebut diri kamu murahan," lanjut Rangga dengan suara yang nyaris pecah karena rasa bersalah yang mendalam.
Ayu masih terdiam, namun bahunya sedikit bergetar. Kata-katanya tadi sebenarnya adalah luapan kekecewaan yang paling dalam karena ia merasa kepercayaan yang baru saja ia bangun kembali untuk Rangga telah dikhianati oleh nafsu sesaat.
Mereka melangkah menuju restoran hotel untuk sarapan sebelum berangkat. Ayu mengambil piring dengan gerakan tenang, mengisi piringnya dengan sedikit nasi goreng dan buah, lalu duduk di meja sudut yang sepi.
Rangga mengikuti di belakang dengan wajah pucat. Ia duduk di hadapan Ayu, namun piringnya sendiri masih kosong. Ia sama sekali tidak selera makan. Yang ia lakukan hanyalah menatap Ayu dengan gelisah, sementara Ayu mulai menyuap makanannya dengan sangat perlahan, tanpa suara, dan tanpa sekalipun mengangkat pandangan.
Keheningan Ayu ini justru membuat Rangga kalang kabut. Ia lebih memilih Ayu memaki-makinya atau menyiramnya dengan air daripada didiamkan seperti ini.
"Yu... makanannya enak?" tanya Rangga mencoba memecah kesunyian dengan suara serak.
Ayu hanya mengangguk pelan tanpa menatapnya. Ia terus mengunyah dengan tenang, seolah-olah Rangga tidak ada di depannya.
"Yu, tolong... bicaralah sesuatu. Jangan diam begini," pinta Rangga lagi.
"Saya beneran merasa jadi orang paling jahat di dunia kalau kamu begini terus. Saya nggak tenang, Yu. Jantung saya rasanya mau copot lihat kamu diam begini."
Ayu meletakkan sendoknya dengan pelan, suaranya nyaris tidak terdengar saat ia berkata, "Aku lagi makan, Mas. Nggak sopan bicara sambil makan."
Rangga makin panik. Ia mengacak rambutnya dengan frustrasi. "Oke, oke, saya tunggu sampai kamu selesai. Tapi tolong, setelah ini jangan bilang lagi kalau kamu murahan. Itu benar-benar menyakiti hati saya, Yu. Lebih sakit daripada kalau kamu tampar saya berkali-kali."
Ayu masih tidak bergeming. Ia meminum air putihnya dengan anggun, menyeka bibirnya dengan tisu, lalu akhirnya mengangkat wajah dan menatap lurus ke mata Rangga. Tatapannya kosong, yang justru membuat Rangga semakin merasa bersalah.
"Mas Rangga tahu kenapa aku bilang begitu?" tanya Ayu lirih. "Karena aku kecewa. Di saat aku mulai merasa aman dan percaya lagi sama Mas di kota ini, Mas malah menghancurkannya dalam sedetik."
Rangga langsung menunduk, tidak sanggup membalas tatapan itu. "Saya tahu... saya salah besar. Tolong beri saya cara buat memperbaikinya, Yu. Apa pun."