NovelToon NovelToon
Nightshade

Nightshade

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Komedi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bisquit D Kairifz

Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.

Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”

Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.


PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ikatan

CHAPTER 32

Keesokan harinya....

Di depan pintu kamar Yuzuriha tampak sosok Shun, yang sedang menyiapkan diri sebelum mengetuk. Setelah merasa siap, ia perlahan mengetuk pintu tersebut.

Setelah beberapa saat, tidak terdengar tanggapan dari dalam. Tanpa basa-basi, Shun langsung membuka pintunya dan memasuki kamar dengan langkah hati-hati. Di situ, ia melihat Yuzuriha yang sedang duduk sambil menatap jauh ke arah jendela.

Shun menyapa Yuzuriha, lalu duduk bersila di lantai – rasa malu membuatnya enggan mendekat terlalu jauh. Ia mencoba membicarakan berbagai hal yang bisa ia pikirkan, mulai dari latihan bersama Rior hingga misinya yang baru saja selesai bersama Niel.

Namun, Yuzuriha hanya menjawab dengan nada pelan sambil tetap tidak mengalihkan pandangannya dari jendela: "Shuchan itu.... Hebat ya."

Rasa frustasi mulai menyelimuti Shun; rasanya tidak ada lagi yang bisa ia ceritakan untuk menarik perhatian Yuzuriha. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk mengajukan pertanyaan yang selama ini selalu ia hindari.

Shun menundukkan kepalanya.

"Yuzu..... Apakah kau kesal karena tidak bisa membunuh Three saat itu?" katanya dengan suara ragu.

Mendengarnya, tangan Yuzuriha terlihat menggenggam erat selimut yang ada di dekatnya.

"Dengarkan baik-baik.... Ya, aku sangat kesal! Mau kau mengejekku sekarang juga?" ucapnya sambil menggertakkan gigi.

Jawaban itu membuat Shun merasa tidak berani berbicara lagi, khawatir Yuzuriha benar-benar marah padanya.

Ia tetap menunduk, sambil memainkan jari-jarinya di atas lantai.

"K-kenapa kau begitu ingin membunuh dia?"

Shun bertanya karena merasakan bahwa alasan Yuzuriha tidak hanya karena Three adalah musuh – ada sesuatu yang lebih dalam dari itu semua.

"Balas dendam...." jawab Yuzuriha, suaranya terdengar gemetar. "Singkatnya saja, dia telah merenggut surgaku dari ku!" lanjutnya dengan nada yang masih bergoyang.

Mendengar itu, Shun langsung mengerti. Ia sendiri juga pernah merasakan kehilangan yang sama, hanya saja belum tahu siapa yang harus disalahkan. Ia baru mengingat bahwa Yuzuriha pernah mengatakan padanya bahwa alasan dia bergabung dengan Nightshade sebenarnya sama dengan dirinya. Tak lama kemudian, Shun berdiri, mendekat, dan akhirnya duduk di sebelah Yuzuriha – meskipun masih tetap menunduk.

Ia melihat ke arah bawah, hingga akhirnya melihat tangan Yuzuriha yang masih gemetar. Dengan keberanian yang muncul tiba-tiba, Shun perlahan menjabat tangan itu.

Ia mencoba kembali berbicara, ingin menenangkan Yuzuriha dengan mengatakan bahwa merasa kesal adalah hal yang wajar. Ia sendiri pernah merasa begitu saat tidak menemukan sedikit pun petunjuk tentang pembunuh orang tuanya.

Namun, Shun tidak pernah menyerah – ia terus berlatih dan menjalankan setiap misi dengan harapan bisa menemukan petunjuk atau bahkan bertemu dengan pembunuh itu, meskipun tidak ada jaminan pasti akan berhasil.

Bahkan jika suatu hari bertemu, Shun juga tidak tahu apakah dirinya cukup kuat untuk mengalahkannya.

Ia mengeluarkan senyuman tipis.

"Aneh ya, tiba-tiba aku mengeluarkan omongan yang tidak jelas seperti ini," ucapnya sambil tertawa kecil. "Tapi.... Yuzu, kita bisa saling membantu saja. Aku akan membantumu mengalahkan Three, dan kau juga bisa membantuku mencari pembunuh orang tuaku." Shun tersenyum dan perlahan menoleh ke arah Yuzuriha.

Namun, wajahnya langsung menunjukkan ekspresi terkejut saat melihat Yuzuriha yang tengah tertawa kecil sambil menangis. Akhirnya, gadis itu menoleh dan melihat langsung ke wajah Shun.

"Benar juga, kita bisa bersama saja, Shuchan!" ucapnya dengan senyuman lebar.

Shun masih terkejut dan berkata dalam hati, "Betul juga ya, Yuzu itu seorang wanita. Dia juga bisa menangis kan."

Bahkan seseorang yang selalu tampak ceria seolah tidak punya beban hidup pun, ternyata juga memiliki saat-saat di mana ia perlu melepaskan emosinya.

Setelah itu.... Shun keluar dari kamar Yuzuriha dan menghela napas lega. Namun, saat ia melihat ke depan, ada Riot, Retsu, dan Kai yang sudah ada di situ.

Mereka tampaknya sudah menguping percakapan dari tadi.

"Oi, kalian para sialan.... dari kapan kalian ada di sana menguping?" ucap Shun dengan mata melotot.

"Dari bagian.... 'Kita bisa bersama' lah kira-kira," jawab Riot dengan gaya santai.

Shun hampir ingin mengomel, namun akhirnya memilih untuk tidak melakukannya – khawatir nanti latihan yang diberikan Riot akan menjadi lebih berat dari biasanya. Bertiga mereka kemudian berjalan bersama menuju ruang pelatihan.

Bukan untuk melakukan latihan, hanya sekadar untuk berbincang-bincang saja. Tak lama kemudian mereka tiba dan duduk seperti biasa.

Ada juga yang datang setelah baru menyelesaikan misi – yaitu Niel dan Juichi. Niel langsung mendekat dan duduk bersama mereka, sementara Juichi segera pergi karena mengingat ada urusan yang belum selesai.

Mereka berbincang seperti biasa. Kai memuji Shun karena telah berhasil menghibur Yuzuriha dengan baik. Shun juga kemudian bertanya kepada Kai tentang imbalan yang akan diberikan oleh Yoshida setelah misi mereka yang lalu.

Dengan senang hati, Kai memberitahu Shun bahwa imbalan yang akan diberikan bukanlah sebuah barang fisik. Sebaliknya, Yoshida akan secara bertahap membersihkan nama baik Nightshade dari berbagai rumor yang tidak benar yang beredar di masyarakat.

Meski pada umumnya organisasi Nightshade terkesan tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain, Yoshida tetap ingin hal itu dilakukan – meskipun prosesnya tidak akan instan.

Karena, seperti yang dikatakan Kai, Yoshida sangat berharap agar tindakan sebenarnya dari Nightshade bisa diketahui oleh masyarakat Jepang secara benar.

Setelah menyampaikan itu, tiba-tiba Kai menyebutkan bahwa ada suara yang tidak biasa terdengar dari arah hutan di depan kediaman Nightshade.

"E-eh.... sudah dicek belum apa itu?" tanya Shun dengan sedikit khawatir.

"Perlu apa cek, pasti cuma binatang liar aja," jawab Kai dengan keyakinan penuh.

Retsu menghela napas pelan.

"Di hutan depan kediaman ini..... Tidak ada binatang liar sama sekali."

Kai langsung memandangnya dengan mata melotot, baru kemudian mengingat apa yang dikatakan Retsu. Sebenarnya semua binatang liar di sekitar sana sudah dipindahkan ke ruang bawah tanah khusus yang disediakan oleh kediaman Nightshade.

"Ha! Ha! Ha! Bosmu tuh pelupa banget ya!" teriak Niel sambil tertawa.

Karena itu, Kai langsung bergegas menuju arah hutan, sekaligus mengajak Shun dan yang lainnya untuk ikut menyertainya. Mereka berlari cepat melewati berbagai rintangan – mulai dari kursi yang berserakan, anggota organisasi yang sedang lewat, hingga hal-hal lain yang menghalangi jalan.

Akhirnya mereka tiba di depan hutan tersebut. Kai langsung memasuki area hutan karena khawatir ada musuh yang telah menemukan lokasi kediaman Nightshade.

Mereka masuk lebih dalam, dengan menggunakan senter sebagai sumber cahaya karena langit sudah mulai gelap. Semakin dalam mereka menjelajah, namun tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan sedikit pun.

Tak lama kemudian, mereka menyimpulkan bahwa tidak ada apa-apa di dalam hutan dan memutuskan untuk kembali. Namun, saat mereka hendak berbelok, terdengar suara kaki yang menginjak dedaunan kering dari arah tertentu.

Semua orang langsung menoleh ke arah suara itu. Wajah Shun dan Niel langsung menunjukkan ekspresi terkejut saat melihat sosok yang datang – bukan orang lain, itu adalah Akari.

Akari mengangkat tangan sebagai tanda tidak bermaksud jahat, wajahnya tampak lega dan mulai melangkah perlahan ke arah mereka. Namun, tiba-tiba saja ujung katana yang berkaratan namun tetap tajam muncul tepat di depan lehernya.

Katana itu ternyata milik Kai. Di sisi kiri Akari, Retsu juga dengan cepat melempar rantainya sehingga mengikat tubuhnya dengan erat.

Sementara di sisi kanannya, Riot sudah siap dengan sabit sawahnya, seolah siap untuk menyerang kapan saja.

Akari terkejut dan gemetar ketakutan – tatapan dari Kai sungguh mengancam, begitu juga dengan tatapan dari kedua orang di sisinya.

Sangking takutnya, ia tidak bisa bergerak sama sekali dan sulit untuk berbicara karena rantai yang mengikat tubuhnya. Sampai akhirnya Shun dan Niel maju ke depan.

"Mereka tidak bisa melakukan itu! Dia bukan musuh!" seru mereka berdua bersamaan.

Namun, Kai, Riot, dan Retsu tetap tidak mau mempercayainya. Bagaimana mungkin ada orang yang mengetahui lokasi kediaman Nightshade selain anggota organisasi sendiri?

"Aku akan memotong lenganku sendiri jika ternyata dia adalah musuh!" ucap Shun dengan penuh keberanian.

Mendengarnya, Kai langsung menurunkan katana dan memasukkannya kembali ke dalam sarungnya.

"Kau benar-benar yakin, Shun?" tanyanya sambil menoleh ke arah Shun.

Ya, Shun sangat yakin bahwa Akari datang bukan dengan maksud jahat. Karena seharusnya Akari juga tahu bahwa mendekati kediaman Nightshade dengan sembarangan sama saja seperti mempertaruhkan nyawanya.

Tak lama kemudian, Retsu melepaskan rantainya dari tubuh Akari. Begitu juga dengan Riot yang kemudian mendekat ke arah Shun. Namun, untuk berjaga-jaga, Retsu tetap mengikat tangan Akari menggunakan rantai yang sama.

Kai kemudian mulai mengajukan berbagai pertanyaan kepada Akari, salah satunya adalah: "Bagaimana mungkin kau bisa menemukan lokasi kediaman ini?"

Akari dengan cepat menjawab bahwa dia tidak sengaja mengikuti sebuah mobil yang ternyata adalah mobil yang digunakan Juichi dan Niel saat sedang pulang ke kediaman.

Ia mengikuti mobil tersebut karena secara tidak sengaja melihat mobil Juichi yang menggunakan warna kamuflase yang cukup mencolok.

Kemudian Kai mengajukan pertanyaan lain: "Untuk apa kau datang kesini?"

Baru saat itu Shun menyadari bahwa ia belum tahu alasan sebenarnya mengapa Akari datang ke kediaman Nightshade. Meskipun ia yakin gadis itu tidak bermaksud jahat, tidak ada yang bisa menjamin bahwa Akari bukanlah mata-mata dari organisasi lain.

1
Pencinta Novel
Alurnya bagus, karakter bagus, gada karakter yang kayak robot semuanya ada kepribadian masing-masing, world building lumayan. Novel ini bisa populer menurut ku ya, semangat thorrr😁✌
Bisquit Kairifz: Mantap ni yee😄👍
total 1 replies
Pencinta Novel
kece bet Kai🤣
Feni sang penulis novel
hello kak izin komen ya aku sudah ngebaca Noval kakak yang aku suka semuanya dengan alur cerita kakak yang bagus dan juga alurnya berjalan dengan mulus izin ya kak aku ingin memberikan 5 bintang oh ya sebelum aku ngasih bintang 5 sama kakak aku pun sudah mempunyai novel yang baru saja 21 yang berjudul sang mafia wanita cantik tolong like ya semuanya kak ke-21 babnya semoga kakak suka kalau tidak suka gak apa-apa yang penting tetap semangat untuk kakaknya😍💪
Bisquit Kairifz: terimakasih udah baca👍
total 1 replies
Panda
kak itu ngasih tag komedi bikin sendiri?
Panda: oh oke makasih infonya kak
total 2 replies
boyy
semngatt thorr,gw lagi nabung crta lu,poko ny ku lnjutt truss smpe nanti crta lu rmee,jngn ptah smngattt torr
Bisquit Kairifz: mantap bro👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!