Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.
Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.
Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.
Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasi sudah jadi arang
Rasa malu itu seketika berubah menjadi amarah yang meledak-ledak.
Matanya liar mencari pelampiasan, dan berhenti tepat pada sosok istrinya.
Rini masih berdiri mematung di teras.
Katanya sakit keras mau mati? Kok sekarang berdiri tegak sehat walafiat?
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat telak di pipi Rini.
Wanita itu terhuyung, jatuh terduduk di tanah.
Warga tersentak kaget.
"Perempuan gendheng! Iblis!" hardik Paklik Darmo, suaranya menggelegar memecah malam.
"Sudah berapa kali kubilang, Mas-ku dan Mbakyu-ku sudah meninggal! Mira itu sudah seperti anakku sendiri! Kenapa kamu jahat sekali sama dia, hah?!"
Paklik Darmo berakting.
Dia harus terlihat tidak tahu apa-apa.
Dia harus mencuci tangannya yang kotor di depan warga, seolah-olah dia juga korban dari kelakuan istrinya yang berhati ular.
Rini memegangi pipinya yang panas.
Rasa sakitnya tak seberapa dibanding rasa malunya.
Dia ingin melawan, tapi melihat mata suaminya yang melotot nyaris keluar, nyalinya ciut. Dia tahu, malam ini dia harus jadi tumbal agar nama baik keluarganya tidak hancur total.
Dengan otak liciknya yang berputar cepat, Rini merangkak ke arah Mira.
Air mata buayanya tumpah seketika.
Drama babak baru dimulai.
"Nduk, Mira... Maafkan Bulik, Nduk," ratap Rini sambil mencoba meraih kaki Mira.
"Bulik khilaf. Namanya keluarga ndak ada istilah dendam, to? Apa pun uneg-unegmu, bilang saja. Jangan diambil hati, Nduk. Bulik itu cuma kangen berat sama kamu..."
Mira mundur selangkah, menepis tangan Buliknya dengan tatapan dingin.
"Bulik kangen sama saya, atau kangen tenaga saya buat jadi babu gratisan?" potong Mira tajam.
"Bulik kangen saya, apa karena ndak tega melihat Siska kerja keras? Jadi Bulik mau bikin saya dicerai suami biar bisa balik ke sini jadi sapi perah lagi?"
Kalimat Mira menohok ulu hati.
Tanpa ragu, Mira menyambar pergelangan tangan Siska yang berdiri gemetar di dekat tiang teras.
Dia mengangkat tangannya sendiri yang penuh kapalan dan luka gores, lalu menjajarkannya dengan tangan Siska yang mulus, putih, dan lentik.
"Lihat, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu! Lihat bedanya!" seru Mira lantang, memamerkan kedua tangan itu di bawah cahaya petromak.
"Tangan siapa yang kasar seperti tangan kuli? Dan tangan siapa yang halus seperti tangan putri raja? Ini bukti siapa yang selama ini diperbudak di rumah ini!"
Siska meronta, menarik tangannya dengan wajah pucat pasi.
Mira menarik napas panjang, mengumpulkan sisa tenaganya untuk kalimat terakhir.
"Para sesepuh, Pak RT, Ibu-ibu semua... Saya, Mira Utami, minta saksinya njenengan semua," ucap Mira.
"Mulai detik ini, saya putus hubungan dengan keluarga Paklik Darmo.
Saya haramkan kaki saya menginjak halaman rumah ini lagi!"
Suara Mira pecah di akhir kalimat.
Hatinya hancur lebur.
Sejak orang tuanya meninggal, rumah ini bukan lagi "tempat pulang". Harapan untuk memiliki keluarga dari pihak ayah sudah mati malam ini.
Paklik Darmo pucat.
"Mira! Jangan ngomong sembarangan! Pamali! Kita ini balung sumsum, daging dan darah..."
"Paklik," potong Mira dengan tatapan nanar.
"Kalau Paklik memang menganggap saya keponakan, saya cuma minta satu. Keluar dari rumah peninggalan Bapak saya. Sawah dan kebun ambil saja buat Paklik. Saya cuma minta rumah itu. Biar kalau lebaran saya pulang nyekar ke makam Bapak, saya punya tempat berteduh. Kalau Paklik bisa kasih itu, saya akui Paklik sebagai paman saya lagi!"
Hening.
Hanya suara angin malam yang menyapu dedaunan.
Paklik Darmo memalingkan wajah.
Dia tidak sanggup menatap mata Mira, tapi lebih tidak sanggup lagi melepaskan rumah peninggalan kakaknya itu.
Keserakahan masih memenangkan hatinya.
"Kok sampeyan tega bicara begitu... Rumah itu kan Paklik jagain biar ndak rusak..." Paklik Darmo beralasan dengan suara sumbang.
Mira tersenyum sinis, lalu meludah kecil ke tanah.
"Cuih."
Melihat situasi sudah tidak kondusif, Kang Jaka akhirnya maju.
Dia merangkul bahu istrinya dengan mantap, memberikan sandaran yang selama ini Mira butuhkan.
"Sudah, Dik. Orang-orang seperti ini ndak pantas kamu tangisi," ujar Jaka.
"Ayo, kita pulang.
Rumah Abah selalu terbuka buat kamu."
Mira mengangguk, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Jaka menangkupkan tangan ke arah warga dengan sopan.
"Bapak, Ibu, ngapunten nggih sudah bikin gaduh malam-malam. Ternyata sakitnya cuma akal-akalan. Njenengan semua punya hati nurani, pasti paham mana yang benar mana yang salah. Kami pamit."
Tanpa menoleh lagi, Jaka menuntun Mira menembus kegelapan malam desa, meninggalkan drama keluarga yang memalukan itu di belakang punggung mereka.
Sepeninggal warga yang bubar sambil menggerutu, halaman rumah itu menyisakan keluarga Paklik Darmo yang hancur lebur.
"Dasar perempuan sialan! Bikin ulah apa lagi kamu?!" Paklik Darmo meledak lagi.
Dia baru saja pulang dari proyek bangunan di kota, capek, keluar uang banyak buat beli kain kafan dan perlengkapan kematian, karena dikabari istrinya sekarat, yang ternyata cuma sandiwara!
"Duitku melayang, mukaku coreng-moreng! Besok aku taruh di mana muka ini kalau ketemu orang?!"
Paklik Darmo menyambar sapu lidi yang tergeletak dan memukuli Rini yang masih terduduk lemas.
Siska mau menjerit menolong, tapi Rini memberi kode mata tajam.
Masuk kamar!
Anaknya sedang hamil muda, tidak boleh kena pukul sedikit pun.
Tiba-tiba, Bayu, berteriak dari arah belakang.
"Pak! Jangan ribut terus! Bau angus nih! Dapur kebakaran!"
Paklik Darmo melempar sapu lidi dan lari terbirit-birit ke belakang.
Asap hitam pekat mengepul dari pintu dapur.
Tiga panci besar di atas tungku semuanya gosong total.
Nasi yang dimasak Mira tadi dibiarkan kering sampai kerak-keraknya hangus menghitam.
Bau beras gosong—sangit—memenuhi ruangan, menusuk hidung.
Rini tertatih-tatih menyusul.
Matanya terbelalak horor melihat pemandangan itu.
Beras simpanan berkarung-karung yang dimasak Mira semuanya hangus. Persediaan makan sebulan ludes jadi arang dalam semalam.
Di desa, beras adalah harta.
Melihat gunungan nasi gosong itu rasanya seperti melihat tumpukan uang dibakar.
Dada Rini sesak. Pandangannya gelap, dan kali ini, dia benar-benar pingsan memeluk tiang dapur.
"Bangsat! Jancuk! Setan alas!"
Paklik Darmo memaki-maki sambil menendang pintu dapur sampai engselnya bunyi.
Dia tidak peduli istrinya pingsan.
Pikirannya cuma satu: rugi bandar!
Bukan cuma nasi yang jadi arang.
Adonan apem satu baskom besar juga dibiarkan mengembang sampai tumpah-tumpah dan basi karena ditaruh di dekat tungku panas.
Bau masam bercampur bau gosong membuat perut mual.
"Lho! Gentong airnya pecah!" Bayu berteriak lagi.
"Walah! Kapak buat belah kayu juga gagangnya patah!"
Ternyata "kerja bakti" yang dilakukan Kang Jaka tadi siang adalah sabotase terselubung yang rapi.
Wajah Paklik Darmo sudah sehitam pantat wajan.
"Bayu! Bereskan bajumu. Kita balik ke proyek malam ini juga. Muak aku lihat ibumu!"
"Tapi Pak..."
"Diam! Kamu yang bikin ulah, kamu yang bereskan sendiri!" tunjuk Darmo pada Rini yang baru siuman.
"Dua bulan ke depan, jangan harap aku kirim wesel satu perak pun!"
Paklik Darmo menyeret Bayu pergi, meninggalkan dua wanita itu dalam kegelapan rumah yang bau gosong dan amis kegagalan.
Siska keluar dari kamar dengan mata bengkak, memeluk ibunya.
"Bu... maafin Siska... gara-gara Siska hamil, Ibu jadi begini..."
Rini menghela napas panjang, mengelus rambut anaknya.
Rasa sakit di pipinya sudah mati rasa, berganti dengan dendam membara.
"Sudah, Nduk. Nasi sudah jadi arang. Yang penting sekarang pikirkan perutmu," ujar Rini.
"Rencana kita manfaatkan Mira gagal total.
Sekarang kita harus cari mangsa yang lebih besar."
Mata Rini menyipit licik di kegelapan.
"Keluarga Wibowo," desisnya.
"Keluarga Pak Suryo Wibowo, pejabat kaya di Jakarta itu. Kita akan manfaatkan dendam lama mereka sama keluarga Hidayat."
"Maksud Ibu?"
"Dua bulan lagi, pas perutmu mulai kelihatan, kita ke Jakarta," ujar Rini.
"Kita ngadu ke Pak Suryo. Kita bilang kalau kamu hamil karena 'kecelakaan' yang disebabkan orang suruhan keluarga Hidayat. Pak Suryo pasti senang dapat senjata buat ngehancurin nama baik Abah Kosasih. Kita bisa dapat 'uang kerohiman' yang besar, Nduk."
Siska mengangguk patuh.
Rencana jahat baru telah lahir dari rahim keputusasaan.
Sementara itu, suasana di jalan setapak pematang sawah terasa begitu kontras.
Damai dan syahdu.
Kang Jaka berjalan pelan sambil menggendong Mira di punggungnya.
Langit malam desa sangat bersih, bertabur ribuan bintang.
Cahaya bulan purnama menerangi jalan mereka, membuat bayangan mereka menyatu di tanah.
"Kang... turunin aja, aku berat lho," bisik Mira di telinga suaminya, merasa tidak enak hati.
"Halah, enteng gini kok. Kamu itu kurus, Dik. Besok harus makan yang banyak," jawab Jaka kekeh.
Dia sengaja melangkah pelan agar istrinya tidak terguncang-guncang.
Mira menyandarkan pipinya di punggung tegap suaminya.
Bau keringat Jaka terasa begitu menenangkan.
Jauh lebih menenangkan daripada wangi parfum mahal mana pun.
"Kang... matur nuwun, ya," ucap Mira lirih saat mereka melewati jembatan bambu.
"Sstt, sama suami sendiri kok terima kasih," jawab Jaka bijak.
"Kata Abah, suami istri itu ibarat pakaian, Dik. Saling menutupi, saling menghangatkan. Kalau kamu kedinginan aku jadi selimut, kalau kamu kepanasan aku jadi peneduh."
Dia menirukan petuah ayahnya dengan nada sok serius yang jenaka.
Mira tertawa kecil, lalu mengecup pipi Jaka dari belakang.
"Aku beruntung jadi istrimu, Kang."
Langkah Jaka terhenti sejenak.
Wajahnya langsung merah padam sampai ke telinga.
Untung gelap, jadi tidak kelihatan. Jantungnya berdegup kencang seperti bedug lebaran.
"Ehem... i-iya. Aku juga beruntung," jawabnya salah tingkah.
Romantis sedikit, langsung grogi.
Sesampainya di rumah Abah Kosasih, suasana sepi.
Lampu petromak di teras sudah dikecilkan.
Mereka masuk lewat pintu samping dapur agar tidak membangunkan orang tua.
Ajaibnya, di atas meja makan kayu yang sederhana, tudung saji sudah tertata rapi.
Ketika dibuka, nasi di bakul masih hangat mengepul, sayur lodeh dan ikan asin goreng juga masih panas.
Padahal kompor minyak tanah sudah dingin sejak sore.
"Lho? Kok Abah sama Emak tahu kita bakal pulang malam ini? Makanannya kok masih hangat begini?" Jaka garuk-garuk kepala heran.
Mira tersenyum tipis, hatinya menghangat.
"Pasti gara-gara Lastri."
Jaka menepuk jidat.
"Oh iya! Si Nduk Lastri! Bocah itu kan kadang omongannya ajaib.
Pasti dia yang bilang ke Emak kalau kita mau pulang."
Lastri, keponakan kecil mereka, memang istimewa.
Energinya yang murni seolah selalu menjaga rumah ini tetap hangat dan penuh berkah, meski kadang tak ada yang menyadarinya secara langsung.
Mereka makan dengan lahap berdua, menikmati nikmatnya kedamaian setelah badai.
Setelah kenyang, Mira mengambil baskom seng dan menuangkan air hangat dari ceret untuk suaminya.
"Kang, sini kakinya direndam dulu biar enak tidurnya."
"Ah, ndak usah, Dik. Langsung tidur aja," tolak Jaka, mencoba menarik kakinya.
Tapi Mira memaksa.
Saat Jaka melepas sepatu bot karetnya, Mira terpekik pelan.
Jempol kaki kanan suaminya berdarah, kukunya memar membiru.
"Astaga! Kang! Ini kenapa? Kok sampai begini?" Mira panik, segera mengambil kain lap bersih.
Jaka malah cengengesan sambil mencelupkan kakinya ke air hangat.
"Aduh, perih-perih sedap! Hahaha."
"Jangan ketawa! Ini kenapa bisa begini? Kesandung?"
"Bukan kesandung," aku Jaka sambil nyengir lebar, matanya berbinar jahil.
"Tadi... pas nendang gentong air di dapurnya Bulikmu. Saking gemes-nya aku sama mereka, sebelum nendang, aku selipin batu kali di dalam sepatu. Ku tendang itu gentong sekuat tenaga biar pecah berantakan. Eh, malah jempolku yang kena batu."
Mira tertegun sejenak, menatap wajah suaminya yang polos tapi penuh kasih sayang itu.
Lalu tawa kecilnya pecah, bercampur dengan air mata haru.
"Kang Jaka... Kang Jaka... ada-ada saja."
"Biarin, Dik. Puas rasanya!"