NovelToon NovelToon
Beyond The Sidelines

Beyond The Sidelines

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:723
Nilai: 5
Nama Author: Mega L

Vilov tidak pernah berniat jatuh cinta dua kali.
Awalnya, ia yakin Putra adalah sosok yang tepat—hadir, hangat, dan selalu ada di sisinya.
Namun satu tatapan pada Tora mengubah segalanya.
Tora bukan siapa-siapa bagi Vilov. Ia dingin, pendiam, dan bahkan tak pernah menyadari keberadaannya.
Tapi sejak saat itu, hati Vilov berhenti mendengarkan logika.
Banyak yang mendekat. Banyak yang ingin memiliki Vilov.
Namun di antara tawa palsu dan hubungan yang tak pernah benar-benar ia rasakan, satu nama selalu tinggal di hatinya.
Tora.
Di usia remaja, Vilov belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki.
Akankah ia bertahan pada perasaan sepihak yang perlahan melukainya?
Ataukah ia akan memilih cinta baru—yang hadir, nyata, dan benar-benar menginginkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Modus di Balik Gawang

Saat jam istirahat, Tije mengumpulkan teman-temannya—Vilov, Tika, dan Ayu—untuk mengumumkan jadwal latihan rutin setiap hari Selasa dan Kamis. Tije juga menginfokan bahwa jika ada yang ingin ikut latihan tambahan di sekolah lain, mereka sangat dipersilakan.

​Tanpa basa-basi, Vilov yang sedang bersemangat (tentu saja bukan karena olahraganya, tapi karena ingin melihat Putra) langsung menyambar ucapan Tije. Ia meminta agar Tije selalu mengajaknya jika ingin latihan di sekolah lain.

​Tije dan Tika yang sudah hafal "modus" sahabatnya itu langsung saling melirik. "Bisa aja modusnya!" ucap mereka serempak sambil tertawa. Ayu yang belum paham sepenuhnya hanya ikut tertawa melihat tingkah mereka.

​Hari Selasa yang dinanti pun tiba. Vilov bahkan sudah menyiapkan baju ganti sejak semalam karena tidak sabar untuk latihan. Begitu bel pulang sekolah berbunyi, Vilov langsung berdiri dan menggebrak meja.

​BRAKKK!

​Suara itu sukses membuat seisi kelas terlonjak kaget. Tanpa rasa malu sedikit pun, Vilov berteriak lantang, "Selamat datang, Putraaaaa!"

​"Kaget woy! Sumpah, udah stres ini anak," sahut Tika sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan ajaib Vilov.

​Vilov tidak peduli. Ia bergegas menuju ruang ganti, bahkan sampai berkali-kali mengubah ikatan rambutnya agar terlihat sempurna. Tije dan Ayu yang baru menyusul ke ruang ganti hanya bisa tertawa geli.

​"Tadi pas awal gue ajak, kayaknya ada yang nggak mau tuh, Yu," sindir Tije pada Ayu sambil melirik Vilov.

​"Iya, ya? Huuu... Coba sih, gue mau lihat Putra itu yang mana, seganteng apa sampai temen kita jadi begini," sahut Ayu ikut menggoda.

​Vilov berhenti mengikat rambut dan berbalik menghadap mereka. "Gila ya, baru kali ini gue diomongin tepat di depan muka gue sendiri! Hahaha!" serunya sambil menunjuk wajahnya sendiri. Ruang ganti pun riuh dengan tawa dan candaan mereka.

​Setelah berganti pakaian, mereka menuju lapangan. Beberapa menit berlalu, pelatih dan pemain dari sekolah lain mulai berdatangan. Lapangan hari itu jauh lebih ramai dari hari pertama, terutama oleh kaum laki-laki. Vilov hanya bisa geleng-geleng kepala melihat pemandangan di depannya.

​"Tije, pantesan lu setia banget sama Hockey dari SMP. Pemainnya rata-rata keren begini!" bisik Vilov sambil menyenggol lengan Tije.

​"Hahaha, iya dong! Nggak nyesel kan ikut ajakan gue?" balas Tije bangga.

​Tiba-tiba, sosok yang ditunggu muncul. "Ya Allah... lucu banget!" teriak kecil Vilov saat melihat Putra baru saja sampai.

​Ayu yang ikut melirik pun berkomentar, "Alah, Vil, gue pikir kayak gimana. Masih gantengan juga pacar gue ini mah."

​"Itu menurut lu aja si, Yu!" sahut Tije dan Tika kompak yang disambut tawa pecah mereka berempat.

​Latihan pun dimulai. Strategi cari perhatian Vilov mulai dilancarkan secara terang-terangan di depan teman-temannya. Ia berusaha selalu berada di samping Putra, bahkan berkali-kali meminta Putra mengajarinya ini-itu.

​Tanpa mereka sadari, Pelatih mengamati dari pinggir lapangan untuk menentukan posisi yang tepat bagi para pemain baru. Tiba-tiba permainan dihentikan sementara. Pelatih memanggil Vilov dan memintanya mencoba posisi Kiper.

​Vilov langsung ciut melihat perlengkapan kiper yang tebal dan besar. "Nggak mau ah, kak! Badan saya bisa kelelep itu!" tolak Vilov sambil menunjuk perlengkapan kiper di dekatnya. Ia merasa badannya yang mungil akan tenggelam di balik pelindung itu.

​Tije berusaha menahan tawa membayangkan sahabatnya memakai kostum "raksasa" itu. Namun, ia mencoba membujuk Vilov. "Udah, terima aja, Vil! Kiper itu keren loh."

​"Ih, lu lihat deh, Ti, bisa-bisa badan gue nggak kelihatan!"

​Semua orang yang mendengar alasan Vilov pun tertawa. Tije kemudian mendekat dan berbisik tepat di telinga Vilov, "Udah, nggak apa-apa. Lu bayangin aja, gawang aja lu jaga mati-matian, gimana perasaan Putra nanti? Pasti Putra bakal mikir, 'Hebat banget ya dia jaga gawang'. Nah, lu mau kan dipuji gitu?"

​Mendengar rayuan maut Tije, pertahanan Vilov runtuh. Ia akhirnya mengiyakan dengan harapan tinggi bahwa Putra akan terkesan. Vilov pun mulai memakai alat pelindung kiper yang berat itu dan permainan dilanjutkan.

​Setelah latihan selesai, Pelatih menutup sesi hari itu dengan mengumumkan bahwa tim sekolah mereka memiliki kiper baru. "Selamat untuk Vilov, kiper baru kita!" ujar Pelatih sambil menyuruh Vilov maju ke depan.

​Vilov melangkah maju dengan rasa bangga yang membuncah saat semua pemain bertepuk tangan untuknya.

Gila, keren juga gue di tepukin banyak orang begini, batinnya percaya diri.

​Namun, momen keren itu mendadak buyar saat Tika berteriak dari barisan, "Kak! Katanya Vilov mau dikasih selamat tuh sama Putra!"

​Vilov terpaku, wajahnya memanas karena malu yang luar biasa. Pelatih pun ikut menggoda, "Vilov mau? Saya suruh Putra ke depan juga nih?"

​Sontak Vilov menggelengkan kepala secepat kilat dan langsung pamit kembali ke posisinya semula. Ia melotot tajam ke arah Tika. "Parah lu, Tik! Bikin malu gue aja!"

​Tika, Tije, dan Ayu hanya tertawa puas melihat wajah Vilov yang merah padam. Meski di dalam hatinya yang paling dalam, Vilov sebenarnya sangat menginginkan itu terjadi. Tapi apa daya, gengsinya masih terlalu tinggi untuk terlihat terlalu "ngarep" di depan Putra.

Saat waktu pulang tiba, Vilov berjalan menuju parkiran motor yang letaknya tak jauh dari lapangan. Ia menyisir barisan kendaraan, mencoba menemukan motornya. Namun, langkahnya terhenti. Ia terpaku menatap aspal yang kosong. Motornya tidak ada!

​Vilov mulai panik. Ia berputar-putar, mencari ke setiap sudut parkiran, namun hasilnya nihil. Tingkahnya yang kebingungan itu memancing rasa penasaran teman-temannya.

​"Lu kenapa, Vil?" tanya Ayu heran.

​"Motor gue ditaruh di mana ya, Yu? Kok nggak ada?" balas Vilov dengan suara yang mulai gemetar.

​Sontak, Ayu langsung memberitahu yang lain. Suasana yang tadinya santai berubah heboh. Semua orang, termasuk pelatih dan para pemain sekolah lain, ikut sibuk mencari keberadaan motor Vilov. Vilov mencoba mengingat-ingat kembali di mana ia memarkirkan kendaraannya, namun kepalanya mendadak buntu. Ia mulai menahan tangis karena takut jika motor itu benar-benar hilang, ia akan habis dimarahi kakaknya.

​Di tengah kepanikan itu, Vilov merasa ada sesuatu yang aneh. Ia memutuskan untuk menelepon kakaknya dengan tangan gemetar.

​"Kak, lu kerja sama siapa hari ini?" tanya Vilov hati-hati, berusaha agar suaranya tidak terdengar mencurigakan.

​"Sendirilah. Gue bawa motor. Kenapa emangnya?" sahut kakaknya di seberang telepon.

​Mata Vilov langsung melotot. Ia mematikan telepon itu seketika. Rasanya seperti disambar petir di siang bolong—ia baru sadar kalau hari ini ia memang tidak membawa motor ke sekolah!

​Di satu sisi, ia merasa sangat lega karena motornya tidak hilang. Tapi di sisi lain, jantungnya berdegup kencang karena bingung bagaimana cara memberitahu semua orang yang sudah lelah ikut mencari.

​Dengan langkah ragu dan wajah yang memerah karena gugup, Vilov menghampiri pelatihnya. Ia berjinjit dan berbisik tepat di telinga sang pelatih. "Kak... Kakak jangan marah ya? Bilang ke yang lain juga jangan marah..." pinta Vilov memelas.

​Pelatih menaikkan sebelah alisnya. "Iya, kenapa emangnya, Vil?"

​Vilov berbisik lagi, lebih lirih dari sebelumnya. "Kak... ternyata hari ini Vilov nggak bawa motor. Vilov lupa..." Ia langsung memasang wajah penuh rasa bersalah yang amat dalam.

​"HAHAHAHAHA!"

​Tawa pelatih pecah begitu keras, membuat semua orang di lapangan menoleh ke arah mereka. Pelatih segera memberi instruksi untuk berhenti mencari. "Guys, guys! Berhenti nyarinya! Mohon maaf ada kesalahan teknis. Ternyata Vilov baru ingat kalau hari ini dia nggak bawa motor!"

​Suasana mendadak hening. Semua pemain yang sudah berkeringat mencari motor itu terdiam.

​"Sumpah, nih cewek ada-ada aja. Kok bisa lupa kalau nggak bawa motor?" celetuk salah satu pemain dari sekolah lain.

​Tije ikut menyahut sambil menepuk jidat, "Buset dah, Vil! Nggak ngerti lagi gue punya temen kayak lu!"

​Anehnya, tidak ada yang terlihat marah. Mereka justru tertawa terpingkal-pingkal. Bagi mereka, ini adalah kejadian paling unik dan lucu yang pernah terjadi di lapangan. Vilov hanya bisa mematung, rasanya ingin menghilang saat itu juga.

​Dan di antara kerumunan itu, ada Putra. Vilov melihat Putra sedang tersenyum aneh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Vilov tidak merasa senang melihat senyuman itu. Ia justru ketakutan.

​Kok bodoh banget sih, Vil? Bisa-bisanya melakukan hal sekonyol ini di depan gebetan! celetuk Vilov dalam hati. Ia yakin Putra pasti akan menganggapnya aneh atau bahkan ilfeel.

​Tika menghampiri Vilov yang masih tampak syok dengan kecerobohannya sendiri. "Vilov... Vilov... Gue pikir konyolnya lu cuma di kelas doang, ternyata kebawa sampai sini," ucap Tika sambil menghela napas panjang, meski ujung-ujungnya ia tetap tertawa lepas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!