NovelToon NovelToon
Sentuhan Panas Sang Dokter

Sentuhan Panas Sang Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Dokter / Dark Romance
Popularitas:28.9k
Nilai: 5
Nama Author: dhya_cha7

"Jangan menghindar, Alana..."

dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.

Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.

"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Pembuktian Sang Calon Menantu

Suasana di lobi Mansion Adicandra mendadak hening.

Kata-kata pedas Alana baru saja membungkam Sindi dengan telak.

Nyonya Sindi masih terdiam mematung dengan wajah merah padam menahan amarah.

Sementara itu, Beno yang berada di samping istrinya mulai terlihat gelisah.

Sindi merasa harga dirinya diinjak-injak seperti kotoran sapi.

Ia langsung menyenggol lengan suaminya dengan sangat kasar.

"Beno! Kamu dengar sendiri, kan? Dia bilang kita tidak punya etika!" teriak Sindi memprovokasi.

"Kamu itu bagaimana sih jadi suami? Masa diam saja melihat istrimu dihina oleh perawat miskin ini? Ayo ngomong!"

Beno, yang aslinya orang baik namun lemah di bawah tekanan istrinya, akhirnya terpancing juga.

Ia merasa harus membela harga diri istrinya sebagai seorang suami di depan keluarga besar.

Beno maju satu langkah. Ia menunjuk tepat di muka Alana dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Cukup! Aku bilang cukup! Raden, Arsenio, kalian keterlaluan membela gadis ini!"

"Belum menjadi keluarga saja dia sudah berani menghina istriku, bagaimana nanti?" lanjut Beno emosi.

"Dia itu hanya orang asing yang mau menguasai harta Adicandra dengan cara murahan, yaitu merayu kalian!"

Mendengar hinaan itu, Raden baru saja akan melangkah maju untuk memberi pelajaran pada pamannya.

Namun, tepat saat itu juga, wajah Beno mendadak berubah pucat pasi.

Beno tiba-tiba memegangi dadanya dengan kuat.

Napasnya terdengar terengah-engah seperti ditikam ribuan pisau di tengah keheningan lobi.

"Ben-Beno? Kamu kenapa?" tanya Sindi mulai panik.

Tubuh Beno langsung limbung.

Ia ambruk di sofa lobi sebelum sempat menyelesaikan kalimat makiannya.

"Beno! Ayo bangun! Ja-jangan menakutiku!" teriak Sindi histeris.

Bukannya menolong, ia justru mengguncang-guncangkan tubuh suaminya.

Tindakan itu justru membuat napas Beno semakin sesak.

"Sialan! Ini pasti gara-gara kalian!"

"Lihat sekarang suamiku jadi jantungan begini!" ucap Sindi menyalahkan semua orang.

Melihat keadaan paman Raden, Alana tidak tinggal diam.

Sisi profesionalnya sebagai perawat langsung mengambil alih egonya.

Ia berlari mendekat ke arah Beno tanpa memedulikan rasa sakit hati akibat makian pria itu tadi.

Aku harus menyelamatkannya, ini darurat. Ayo Alana, kamu pasti bisa! batin Alana menyemangati diri.

"Nyonya, tolong minggir sebentar! Anda malah membuatnya semakin sesak napas!" ucap Alana tegas.

Sindi sempat mengangkat tangan, ingin menampar Alana karena merasa diperintah oleh "gadis rendahan".

Namun, sebelum ia bisa melakukannya, pergelangan tangannya langsung ditahan oleh Raden.

Cengkeraman Raden sangat kuat hingga Sindi meringis.

"Diam! Jangan sentuh dia. Biarkan Alana bekerja," desis Raden dengan tatapan mata yang menyeramkan.

Raden menarik Sindi menjauh untuk memberikan ruang bagi Alana untuk bertindak.

Tanpa gangguan dari tantenya yang merepotkan itu, Alana mulai beraksi.

Di tengah lobi yang mencekam seperti medan perang, semua mata tertuju padanya.

Arsenio, Aristi, kedua orang tua Alana, serta Raden menyaksikan dengan tegang.

Alana melonggarkan dasi dan kancing kemeja atas Beno untuk melancarkan aliran udara.

"Pelayan! Cepat ambilkan air hangat dan handuk kecil!" perintah Alana tanpa menoleh.

Ia kemudian memposisikan kepala Beno dengan benar dan nyaman.

Jari-jarinya mulai menekan titik akupresur di tangan dan leher untuk menurunkan tekanan darah.

"Paman, tolong dengarkan suara saya. Tarik napas pelan-pelan saja... lalu buang... ikuti aba-aba saya," ucap Alana tenang.

Keteguhan dan ketenangan Alana membuat Arsenio terpana di tempatnya berdiri.

Sekarang ia melihat calon menantunya bukan lagi sekadar gadis yang berani berdebat.

Tapi seorang yang sangat profesional, kompeten, dan memiliki hati yang luas.

Bahkan kepada orang yang baru saja menghinanya, Alana tetap memberikan pertolongan terbaik.

Raden sudah berdiri di samping Alana, siap siaga membantu jika tunangannya itu butuh bantuan medis tambahan.

Setelah beberapa menit yang sangat menegangkan, napas Beno mulai terlihat teratur kembali.

Wajahnya yang tadi pucat mulai terlihat berwarna dan segar.

Saat Beno perlahan membuka matanya, orang pertama yang ia lihat adalah Alana.

Gadis itu sedang menyeka keringat dingin di dahi Beno dengan sangat lembut dan perhatian.

Alana menggunakan handuk hangat dengan gerakan yang sangat telaten.

Beno menatap Alana dengan pandangan kosong, lalu beralih menatap istrinya yang masih cemberut di belakang.

Rasa malu yang luar biasa mendadak menyerang hati Beno.

"Nak Alana... maafkan Paman," ucap Beno dengan suara serak dan lemah.

"Paman sudah dibutakan oleh amarah dan hasutan tantemu."

"Kamu... kamu justru menolong orang yang dengan kejam menghinamu."

Beno memejamkan matanya sejenak, merasa sangat berdosa pada gadis yang ia anggap rendah selama ini.

Melihat itu, bukannya sadar, Sindi malah melongo tidak percaya.

Ia tidak menyangka suaminya justru meminta maaf pada Alana.

Arsenio kemudian melangkah maju dan memberikan isyarat kepada pelayan.

Mereka membantu Beno untuk berdiri kembali.

"Beno, aku sangat senang melihatmu kembali pulih karena penanganan cepat dari calon menantuku," ucap Arsenio dingin.

"Tapi setelah ini, cepat bawa istrimu pergi dari sini. Istirahatlah di rumahmu sendiri."

"Mansion ini tidak membutuhkan drama yang bisa membahayakan nyawa orang lain," tegas Arsenio tidak ingin dibantah.

Sindi yang tidak terima ingin memprotes, namun Beno memberikan tatapan tajam.

Tatapan itu seketika membuat istrinya menciut.

Beno perlahan berdiri dengan sisa tenaganya.

Saat Sindi hendak membantu, ia langsung menolaknya dan memilih berpegangan pada sofa.

Sebelum pergi, Beno menatap Alana dengan sangat tulus.

"Sekali lagi, Paman mengucapkan terima kasih karena kamu telah menyelamatkan nyawa saya, Alana," ucap Beno pelan.

"Paman pamit pulang dulu. Maaf telah mengacaukan harimu dan kalian semua," sambungnya sambil menundukkan kepala.

Ia melakukan itu sebagai tanda hormat yang mendalam.

"Sama-sama, Paman. Bukankah sesama manusia kita harus saling membantu?" jawab Alana sambil tersenyum.

Beno kemudian memberikan isyarat melalui tatapan matanya pada Sindi.

Ia mengajak istrinya segera pergi dari mansion tanpa sepatah kata lagi.

Sindi hanya bisa mengekor di belakang suaminya dengan wajah merah padam.

Rasa malu dan amarah menyatu di dalam hatinya.

Lobi kembali tenang seperti sebelumnya.

Ayah dan Ibu Alana kemudian mendekat ke arah putri mereka dengan mata berkaca-kaca.

Ada rasa bangga yang luar biasa terpancar dari wajah mereka.

Arsenio menepuk bahu Ayah Alana dengan rasa hormat yang tulus.

"Pak, Anda telah membesarkan seorang putri yang luar biasa hebat."

"Alana bukan hanya cantik, baik, dan berhati besar, tapi dia juga permata yang sebenarnya di rumah ini."

Setelah ketegangan mereda, Raden membawa Alana ke taman belakang yang luas.

Ia menyadari kalau tangan Alana sedikit gemetar karena sisa adrenalin.

Raden menarik sebuah kursi dan meminta Alana duduk dengan tenang.

Pria itu kemudian berlutut di depan Alana.

Sebuah posisi yang sangat merendah untuk seorang pewaris Adicandra yang angkuh.

Raden meraih kedua tangan Alana dan mengecupnya dengan penuh cinta.

"Terima kasih... terima kasih sudah menjadi Alana yang hebat hari ini," bisik Raden emosional.

"Kamu tahu? Saat mereka menghinamu tadi, aku hampir saja kehilangan kendali."

"Rasanya ingin aku hajar Paman hingga babak belur."

"Tapi melihatmu begitu tenang dan tetap menolong Paman Beno, aku sadar satu hal..."

Raden lalu mendongak, menatap mata cantik Alana.

"Aku tidak salah memilih wanita sebagai pendamping hidupku selamanya."

Raden menyandarkan kepalanya di pangkuan Alana dan memeluk pinggangnya dengan sangat erat.

Alana mengelus rambut hitam Raden dengan lembut.

Ia merasakan beban di pundaknya perlahan-terangkat.

"Raden, tugas perawat itu menyembuhkan, bukan untuk menyimpan dendam," jawab Alana pelan.

Raden memejamkan matanya sejenak.

Ia merasa sangat beruntung memiliki calon istri seperti Alana.

******

Catatan Penulis:

Puas banget ya lihat Alana kasih pelajaran ke Nyonya Sindi yang sombong itu! Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentar kalian di bab ini kalau kalian setuju mulut Sindi emang perlu disekolahin!

Btw, gue juga punya karya lain yang nggak kalah seru...

Buat kalian yang suka karakter wanita yang lebih savage dan barbar lagi, yuk mampir ke novel kedua gue yang judulnya: "My Savage Wife: Mafia Juga Takut Istri".

Kalian bakal ketemu sama Zia, si dokter sekaligus pengacara yang hobi bikin suaminya si bos mafia kena mental karena tingkahnya yang kocak dan latahnya yang unik!

Yuk, langsung aja mampir ke profil gue dan 'Favoritkan' novelnya sekarang juga! Sampai ketemu di petualangan Zia dan sang mafia! 🔥✨

1
panjul man09
semakin kesini semakin tidak masuk akal , padahal dalam lingkup rumah sakit , thor , direktur yg tidak pernah kenal dekat alana main serobot aja, kejauhan ,direktur ke suster , kalo dokter ke suster itu biasa ada hubungan /Grimace/
panjul man09
kenapa pesannya tidak lewat w.a saja , aneh
panjul man09
yg mana lebih tinggi jabatannya dr Raden atau direktur rumah sakit ?
panjul man09
ternyata alana menyukai perlakuan Raden terhadapnya /Proud/
panjul man09
disini , alana terlihat oon dan tidak bisa berpikir , banyak yg terlihat tidak masuk akal , bikin sedikit jengkel bacanya
panjul man09
nikahi saja alana biar raden bisa memiliki alana seutuhnya , daripada nanti alana kabur !
Elifia Latupeirissa
seru... lanjutkan
Elifia Latupeirissa
👍👍👍
Saya Bapak
bagus banget ceritanya
Rikawaii San
ceritanya bagusss
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
lawan mereka Alana jangan takit💪🤗
julid banget jadi perawat
bagus Alana 😍lawan suster julid itu
mangkanya jangan mabuk alana😍🤣
😄🤭
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya yaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya nyaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat plot twist ygu
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
plisss uppp lagiii
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat sangat plot twist sekali yaa😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!