Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Pertemuan yang Disengaja
Arkan berdiri di tengah ruangan lounge khusus tamu VIP.
Lampu kristal memantulkan kilau di setelan hitamnya. Ia tidak tergesa, tidak sibuk padahal beberapa orang penting bergantian menghampirinya. Ia menjawab seperlunya, lalu kembali diam, seolah menunggu sesuatu.
Atau… seseorang.
Dari sudut lain ruangan, Yura melihatnya.
Ia mengenali sosok itu dengan mudah. Terlalu mudah.
Pria yang sama. Tatapan yang sama. CEO yang menutup sesi tadi dengan aura dingin yang tidak memberi ruang untuk didekati.
Yura menggenggam map tipis di tangannya.
Ini kesempatan, pikirnya.
Kalau bukan sekarang, aku bisa kehilangan segalanya. Ia menarik napas dalam-dalam.
Arkan sengaja sedikit memiringkan tubuhnya. Posisi yang terbuka. Tidak bersembunyi. Seolah memastikan jika Yura ingin mendekat, ia akan terlihat jelas.
Dan benar saja.
Langkah Yura mendekat, ragu namun mantap.
“Permisi, Pak.”
Suara itu membuat Arkan menoleh.
Mata mereka kembali bertemu kali ini dari jarak yang jauh lebih dekat.
“Ya?” Arkan menatapnya tanpa senyum.
Yura menegakkan bahu. Profesional. Ia tidak boleh gugup.
“Saya Yura,” ucapnya. “Dari perusahaan Company Ritel”
Ia menyebutkan nama perusahaannya dengan jelas.
“Saya ingin bertanya, apakah Bapak memiliki waktu sebentar untuk membahas kemungkinan kerja sama bisnis?”
Beberapa orang di sekitar mereka langsung diam. Seolah menyadari ada sesuatu yang berubah di udara.
Arkan menatap Yura beberapa detik. Bukan menilai proposal. Bukan memeriksa kartu nama.
Ia menatap wajahnya.
“Sekarang?” tanya Arkan datar.
Yura mengangguk. “Jika memungkinkan.”
Arkan melirik jam di pergelangan tangannya, lalu kembali menatap Yura.
“Lima menit,” katanya akhirnya. “Ikuti saya.”
Yura terkejut namun segera mengangguk. “Baik, Pak.”
Saat Arkan berbalik dan melangkah pergi, Yura mengikuti di belakangnya.
Ia tidak tahu…
Bahwa lima menit itu
bukan tentang bisnis.
Dan bahwa pertemuan ini sudah direncanakan oleh seorang pria yang tidak pernah membiarkan apa pun datang tanpa kendali.
Pintu ruangan itu tertutup perlahan.
Bunyi klik terdengar pelan, namun cukup membuat Yura menegakkan punggungnya.
Ruangan khusus milik Arkan luas. Dinding kaca besar menghadap kota yang mulai diselimuti malam. Lampu temaram menyala redup, menciptakan suasana yang terlalu… tenang untuk sebuah pembahasan bisnis.
Dan hanya ada mereka berdua.
Yura berdiri sejenak di dekat pintu, menggenggam map di tangannya lebih erat.
Kenapa cuma kami?
Bukannya biasanya ada tim, atau setidaknya asisten?
Langkah Arkan terdengar tenang saat ia berjalan ke sofa panjang berwarna gelap. Ia duduk santai, satu tangan bertumpu di sandaran, ekspresinya datar seperti biasa.
“Duduk,” katanya singkat.
Yura ragu sesaat.
Lalu ia melangkah mendekat dan duduk di ujung sofa menjaga jarak. Terlalu menjaga.
Arkan meliriknya sekilas.
“Di sini,” ujarnya lagi, menepuk sisi sofa di sebelahnya.
Nada suaranya tidak memerintah keras, tapi justru itu yang membuat jantung Yura berdegup lebih cepat.
Ia menelan ludah.
Dengan hati-hati, Yura bergeser dan duduk di samping Arkan. Jarak mereka kini jauh lebih dekat. Terlalu dekat untuk dua orang asing yang baru bertemu.
Ruangan kembali sunyi.
Tidak ada map yang dibuka.
Tidak ada proposal yang langsung dibahas.
Arkan menatap ke depan, lalu berkata dengan suara rendah,
“Kamu terlihat tidak nyaman.”
Yura tersentak kecil. “Ah tidak, Pak. Hanya… sedikit gugup.”
Arkan akhirnya menoleh ke arahnya.
“Kenapa?”
Yura mengerjap. Ia tidak menyangka pertanyaan itu.
“Karena,” ucapnya jujur, “biasanya pembahasan bisnis tidak dilakukan hanya berdua. Dan… tempat ini terlalu sepi.”
Arkan mengangguk pelan. Bukan tanda setuju lebih seperti mencatat.
“Itu sengaja,” katanya.
Yura menoleh cepat. “Sengaja?”
Arkan menatapnya sekarang. Langsung. Dalam.
“Karena saya tidak ingin membahas perusahaanmu.”
Kalimat itu jatuh seperti beban.
Yura membeku.
“Lalu…?” suaranya nyaris berbisik.
Arkan menyilangkan tangannya di depan dada, sikapnya tetap tenang.
“Saya ingin tahu,” katanya pelan,
“kenapa seorang perempuan yang bisa memilih untuk berpaling… justru selalu berhenti untuk membantu orang lain.”
Yura terdiam.
Detik itu, ia sadar.
Ini bukan pertemuan bisnis.
Ini adalah interogasi yang dibungkus ketertarikan
dan ia sudah terlanjur duduk di dalamnya..
Arkan bersandar lebih dalam ke sofa.
“Di restoran,” katanya tiba-tiba. “Kamu berdiri ketika semua orang memilih diam.”
Yura terdiam.
“Dan di zebra cross,” lanjutnya, “kamu berhenti di tengah jalan hanya untuk membantu orang yang bahkan tidak kamu kenal.”
Yura menoleh perlahan. “Bapak… melihat itu?”
Arkan tidak menjawab langsung.
“Ada banyak orang di dunia ini yang membantu karena ingin dilihat,” katanya. “Kamu tidak.”
Yura menggenggam map di pangkuannya.
“Saya tidak pernah berpikir sejauh itu,” ucapnya pelan. “Saya hanya… tidak tega.”
“Tidak tega?”
Yura mengangguk. “Kalau saya diam saja, saya akan menyesal. Bukan karena orang lain, tapi karena diri saya sendiri.”
Arkan menatapnya lama.
“Kamu tidak takut disalahkan?” tanyanya. “Atau dimanfaatkan?”
Yura tersenyum kecil senyum yang sederhana, tanpa beban.
“Takut,” jawabnya jujur. “Tapi kalau semua orang memilih aman, siapa yang akan menolong?”
Kalimat itu menggantung di udara.
Arkan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Lampu-lampu kota terlihat jauh, dingin, dan tak tersentuh.
Untuk pertama kalinya malam itu, rahangnya mengeras.
“Dunia tidak sebaik yang kamu kira,” katanya lirih.
Yura menatap profil wajahnya. “Saya tahu.”
Arkan menoleh.
“Tapi dunia juga tidak akan berubah,” lanjut Yura pelan, “kalau semua orang berpikir seperti itu.”
Hening.
Arkan terdiam lebih lama dari sebelumnya.
Sesaat…
sangat singkat…
sesuatu di matanya bergeser.
Bukan senyum.
Bukan kelembutan.
Tapi keraguan.
“Orang sepertimu,” ucap Arkan akhirnya, suaranya lebih rendah,
“biasanya tidak bertahan lama.”
Yura mengerjap. “Maksud Bapak?”
“Karena dunia ini kejam,” katanya. “Dan ketulusan selalu jadi sasaran pertama.”
Yura tidak mundur. Tidak membantah keras.
Ia hanya berkata,
“Kalau suatu hari saya lelah… setidaknya saya tahu saya tidak pernah menjadi orang yang pura-pura.”
Arkan menatapnya.
Lama.
Terlalu lama untuk ukuran seorang CEO yang terbiasa mengendalikan segalanya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban cepat.
Dan itu… mengganggunya
Arkan bergerak lebih dekat.
Bukan terburu-buru.
Bukan tanpa alasan.
Ia bergeser sedikit di sofa, lalu berdiri.
Langkahnya pelan saat mendekati Yura, berhenti tepat di depannya. Jarak mereka kini hanya satu tarikan napas.
Yura refleks menegakkan punggung.
Kenapa dia berdiri?
Apa yang akan dia lakukan?
Ruangan terasa semakin sunyi. Terlalu sunyi.
Arkan menunduk sedikit, menatap Yura dari jarak dekat. Tatapannya tajam, seolah ingin memastikan apakah ketulusan itu nyata atau hanya topeng yang belum ia pahami.
“Kamu tidak seperti mereka,” katanya rendah.
Yura menahan napas.
“Wanita-wanita yang saya temui,” lanjut Arkan, “datang dengan ambisi. Dengan perhitungan. Dengan senyum yang sudah dilatih.”
Ia semakin dekat cukup untuk membuat Yura mencium aroma samar parfumnya.
“Kamu datang dengan rasa cemas,” ucapnya. “Dan kejujuran yang merepotkan.”
Jantung Yura berdetak kencang.
Ia merasa terancam.
Bukan secara fisik
melainkan oleh dominasi seseorang yang terbiasa mengendalikan ruang dan orang di dalamnya.
Apa yang dia mau dariku?
Yura menarik napas dalam-dalam.
Lalu ia berdiri.
Gerakannya tenang, meski dadanya bergemuruh.
“Pak Arkan,” ucapnya tegas, memaksa jarak kembali tercipta,
“saya datang ke sini sebagai perwakilan perusahaan. Bukan untuk dibicarakan secara pribadi. ”
Arkan terdiam.
Yura menatapnya kali ini tidak menghindar.
“Jika Bapak bersedia,” lanjutnya, “saya ingin membahas kerja sama yang bisa saling menguntungkan. Itu saja.”
Hening kembali turun.
Beberapa detik berlalu.
Lalu bibir Arkan melengkung sedikit.
Bukan senyum ramah.
Bukan senyum hangat.
Senyum kecil seseorang yang… tertarik.
“Kamu berani,” katanya.
Ia kembali duduk, menyilangkan kaki dengan santai. Tekanan di ruangan itu perlahan mengendur namun tidak hilang sepenuhnya.
“Baik,” ucap Arkan. “Kita bicara bisnis.”
Yura menghela napas pelan lega, tapi tetap waspada.
Namun Arkan tahu.
Di balik keberanian itu, ia menemukan sesuatu yang tidak pernah ia cari dan tidak tahu bagaimana cara mengendalikannya.
Arkan meraih tablet di atas meja kaca dan menyalakannya.
Layar menyala, menampilkan data perusahaan Yura terlalu lengkap untuk sekadar riset cepat.
“Perusahaanmu punya potensi,” ucap Arkan datar. “Struktur rapi, tim solid. Tapi ada celah besar.”
Yura mencondongkan tubuh, fokus. “Celah apa, Pak?”
“Kamu terlalu bergantung pada mitra,” jawab Arkan. “Dan terlalu percaya.”
Yura mengerutkan dahi. Ia tidak menyangkal sepenuhnya.
“Saya bisa menutup celah itu,” lanjut Arkan. “Dengan satu syarat.”
Yura menegakkan bahu. “Syarat seperti apa?”
Arkan menatapnya, tidak ke layar.
“Kamu,” katanya, “yang akan menjadi penghubung langsung antara perusahaanmu dan saya.”
Yura terdiam. “Maksud Bapak… saya?”
“Ya.” Arkan menyandarkan punggung. “Bukan manajer lain. Bukan tim legal. Bukan direktur.”
Yura ragu. “Biasanya kerja sama sebesar ini melibatkan banyak pihak.”
“Biasanya,” Arkan mengangguk. “Tapi saya tidak menyukai ‘biasanya’.”
Yura merasakan sesuatu yang tidak nyaman merayap di dadanya.
“Kenapa harus saya?” tanyanya jujur.
Arkan tidak langsung menjawab.
“Karena saya ingin orang yang jujur,” katanya akhirnya. “Dan karena saya ingin tahu… apakah kamu tetap sama ketika kepentingan mulai bermain.”
Itu bukan jawaban bisnis.
Itu ujian.
Yura menimbang. Tawaran ini bisa menyelamatkan posisinya di kantor. Bisa memberinya cuti. Bisa menyelamatkan segalanya.
“Jika itu keputusan Bapak,” ucap Yura perlahan, “saya akan menyampaikannya ke atasan saya.”
Arkan tersenyum tipis lagi.
“Tidak perlu,” katanya. “Saya yang akan menghubungi mereka.”
Yura tersentak kecil. “Bapak sudah?”
“Saya tidak suka menunggu,” potong Arkan tenang.
Ia berdiri, merapikan manset jasnya.
“Pertemuan berikutnya,” lanjutnya, “besok malam. Jam delapan. Di tempat yang saya tentukan.”
“Besok?” Yura refleks bertanya. “Bukankah terlalu cepat?”
Arkan menatapnya datar.
“Ini bukan permintaan, Yura.”
Hening.
“Ini bagian dari kerja sama.”
Yura menggenggam mapnya lebih erat.
Untuk pertama kalinya, ia sadar
kesepakatan ini bukan hanya tentang bisnis.
Ini tentang kendali. Dan tanpa sadar,
ia baru saja melangkah masuk ke dunia seorang pria yang tidak pernah memberi ruang
untuk mundur.
Ruangan itu kembali sunyi.
Pintu tertutup. Langkah Yura sudah lama menjauh. Yang tersisa hanya Arkan dan pantulan dirinya di dinding kaca. Ia berdiri menghadap jendela, menatap kota dari ketinggian pemandangan yang selama bertahun-tahun selalu memberinya rasa aman. Kendali. Jarak.
Namun malam ini berbeda.
Bayangan Yura belum juga hilang dari kepalanya.
Cara ia berdiri tadi.
Nada suaranya yang tetap tenang meski jelas tertekan. Keberaniannya mengalihkan percakapan, padahal posisinya jauh lebih lemah.
Arkan mengepalkan tangannya pelan.
Wanita itu seharusnya takut.
Biasanya, orang akan gugup. Berusaha menyenangkan. Menawarkan lebih dari yang diminta.
Yura tidak.
Ia menarik kursi, duduk kembali, lalu mengambil ponselnya. Nama Yura Camille Rahadi masih terpampang di layar tablet. Data lengkap. Riwayat kerja. Pendidikan. Bahkan catatan tentang ayahnya chef, sakit, rawat inap.
Arkan menatap nama itu lama.
“Kenapa kamu tidak seperti yang lain?” gumamnya.
Ia tidak menyukai kejutan.
Ia tidak menyukai hal-hal di luar kendali.
Namun justru karena itu… Yura menarik perhatiannya.
Bukan karena cantik.
Bukan karena cerdas.
Karena ia tidak bisa dibaca sepenuhnya.
Arkan menggeser tablet, membuka jadwalnya.
Ia memindahkan satu pertemuan penting.
Membatalkan makan malam dengan investor.
Mengosongkan satu slot besok malam. Untuk Yura.
“Kalau kamu masuk ke duniaku,” katanya pelan, seolah Yura ada di sana,
“kamu tidak akan keluar semudah itu.”
Ia menutup tablet.
Tatapannya kembali ke jendela. Pantulan wajahnya terlihat dingin namun ada sesuatu yang berubah di balik mata itu.
Ketertarikan. Dan di balik ketertarikan itu…
sebuah dorongan lama yang berbahaya.
Keinginan untuk memiliki.
Bukan sekadar kerja sama.
Bukan sekadar bisnis.
Arkan tersenyum tipis senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun yang ia anggap biasa.
“Besok,” ucapnya pelan.
“Kita lihat… sejauh apa kamu bisa bertahan, Yura.”