NovelToon NovelToon
Naura, Seharusnya Kamu

Naura, Seharusnya Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Menikah Karena Anak
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Aku ingin menikah denganmu, Naura."
"Gus bercanda?"

***

"Maafin kakak, Naura. Aku mencintai Mas Atheef. Aku sayang sama kamu meskipun kamu adik tiriku. Tapi aku gak bisa kalau aku harus melihat kalian menikah."

***

Ameera menjebak, Naura agar ia tampak buruk di mata Atheef. Rencananya berhasil, dan Atheef menikahi Ameera meskipun Ameera tau bahwa Atheef tidak bisa melupakan Naura.
Ameera terus dilanda perasaan bersalah hingga akhirnya ia kecelakaan dan meminta Atheef untuk menikahi Naura.
Naura terpaksa menerima karna bayi yang baru saja dilahirkan Ameera tidak ingin lepas dari Naura. Bagaimana jadinya kisah mereka? Naura terpaksa menerima karena begitu banyak tekanan dan juga ia menyayangi keponakannya meskipun itu dari kakak tirinya yang pernah menjebaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Laras Melahirkan

Bani pergi ke toilet sebentar. Tinggallah Laras bersama Ameera dan Naura. Kedua anak itu duduk berdampingan, menikmati makanan yang sejak tadi mereka ambil dari meja hidangan. Tawa kecil Ameera sesekali terdengar, sementara Naura sibuk memilih kue favoritnya.

Berbeda dengan mereka, Laras justru diliputi kegelisahan. Dadanya terasa sempit. Ia sama sekali tidak ingin Bani mengetahui bahwa rekan bisnis yang baru dikenalnya itu adalah bagian paling kelam dari masa lalunya. Ia tak ingin membuka luka yang sudah lama ia kubur. Hidupnya kini telah tenang—bahagia bersama Bani, Naura, dan Ameera.

“Bunda, kok gak makan?” tanya Ameera sambil menatap Laras polos.

Laras tersenyum tipis. “Iya, ini bunda mau makan,” jawabnya, meski sendok di tangannya tak kunjung terangkat.

Tiba-tiba seorang perempuan datang mendekat. Wajahnya anggun, senyumnya terlatih.

“Hai semuanya.”

“Hai, Tante,” sapa Naura ramah.

“Boleh Tante duduk di sini?”

“Boleh, Tante. Kan Tante yang punya acaranya,” jawab Naura polos.

Perempuan itu menoleh pada Laras. “Boleh aku duduk di sini, Ras?”

Laras mengangguk pelan. “Silakan.”

Aurel pun duduk di sebelahnya. Ada jeda sunyi yang canggung sebelum akhirnya Aurel membuka suara. “Aku boleh ngobrol sebentar sama kamu?”

“Ya.”

Laras menoleh ke arah Naura dan Ameera, “Naura, Ameera, boleh kalian main dulu, ya? Bunda mau bicara sebentar sama mamanya Rafael.”

“Baik, Bunda,” jawab Naura ceria. “Aku sama Kak Ameera main di playground ya.”

Aurel dan Rendra memang menyiapkan area bermain agar anak-anak tidak bosan. Kedua bocah itu pun berlari kecil meninggalkan mereka.

Begitu tinggal berdua, Laras langsung berkata dingin, “Cepat. Ada apa?”

Aurel menarik napas panjang. “Aku mau minta maaf.”

“Maaf untuk apa?”

“Untuk masa lalu. Aku sudah mengambil Mas Rendra dari kamu. Aku sudah menyakiti kamu. Percayalah, aku nggak berniat—”

“Aku sudah nggak peduli, Aurel,” potong Laras tegas. “Itu masa lalu. Dan aku nggak mau membuka luka lama lagi.”

“Aku terpaksa melakukan itu, Laras. Kamu harus dengar penjelasan aku—”

“Maaf,” Laras berdiri. “Pembicaraan kita cukup sampai di sini. Aku sudah bahagia dengan hidupku sekarang.”

“Laras, tunggu—”

Namun Laras tak menghiraukannya. Ia melangkah pergi menyusul Ameera dan Naura.

Dari kejauhan, Rendra yang sedang berbincang dengan rekan bisnisnya tanpa sengaja melihat Laras berjalan cepat, air mata jatuh tanpa bisa ia cegah. Dadanya mengencang. Ia segera menyusul. “Laras, tunggu!”

Rendra menangkap pergelangan tangan Laras untuk menghentikannya. “Lepas!” Laras menarik tangannya kasar. “Kita bukan mahram lagi!”

“Aku minta maaf, aku gak bermaksud—”

“Mau apa lagi!”

“Aku cuma mau jelasin satu hal. Semua itu bukan salah aku. Aku dijebak waktu itu—oleh ayahnya Aurel.”

Laras tertawa sinis. “Dijebak? Untuk apa? Aku lihat sendiri bagaimana kamu menyentuh Aurel. Aku lihat sendiri kalian berhubungan. Aku gak buta, Rendra!”

Rendra terdiam. Panggilan itu—tanpa embel-embel Mas—menusuknya dalam-dalam. Ia tahu Laras kini milik orang lain, tapi perasaannya tak pernah benar-benar padam. Meski, ia hidup dengan Aurel dan telah memiliki anak darinya tapi perasaan cinta itu sepenuhnya masih untuk Laras-masa lalunya yang belum selesai.

“Itu kenyataannya, Laras,” katanya lirih. “Aurel sudah hamil duluan dengan pacarnya. Tapi pria itu gak mau bertanggung jawab. Ayahnya yang merencanakan semuanya demi menutup malu keluarga. Tiga tahun aku mengira anak itu anak kandungku… sampai semuanya terbongkar.”

Laras menggeleng. “Sama saja. Kalian tetap berhubungan. Dan itu tidak bisa aku toleransi.”

“Aku tau aku menyakiti kamu. Aku minta maaf.”

“Aku sudah memaafkan,” ucap Laras tegas. “Dan jangan pernah bahas ini lagi. Aku tidak ingin mengingatnya. Satu hal lagi—aku sudah hidup bahagia bersama Mas Bani.”

Ia kembali melangkah, namun Rendra belum menyerah.

“Laras, tunggu!”

“Apa lagi?!”

“Ameera… dia anak siapa?”

Deg!

“Ameera anak aku dan Mas Bani.”

“Kamu bohong!”

“Aku tidak bohong!”

“Umur Ameera pas dengan waktu kamu pergi. Tari bilang kamu hamil saat itu!”

Deg!

“Kalau pun Ameera anak kamu,” suara Laras bergetar, “kamu mau apa?!”

“Aku ingin Ameera tahu kalau aku ayah kandungnya.”

“Itu tidak akan pernah terjadi!”

“Aku mohon, Laras—”

“T–ti… ahhh…” Laras mendadak memegangi perutnya. Wajahnya memucat.

“Laras!” Rendra reflek menangkap tubuh Laras yang hampir jatuh. “Kamu kenapa? Sakit di mana? Apa kamu mau melahirkan?”

Di kejauhan, Bani melihat istrinya berada dalam dekapan Rendra. Dadanya bergetar hebat.

“LEPASKAN ISTRI SAYA!”

Rendra terkejut. “Maaf, saya hanya membantu. Perutnya sakit, sepertinya kontraksi.”

Bani mendekat, wajahnya tegang. Dalam hatinya bergolak pertanyaan—mengapa pria itu begitu tahu, begitu panik… seolah pernah mencintai Laras.

“Sayang, kamu kenapa?” Bani meraih Laras.

“Perut aku sakit, Mas…” rintih Laras.

“Kita ke rumah sakit sekarang.”

“Naura… Ameera…”

“Saya yang antar mereka menyusul,” kata Rendra cepat.

Bani ragu sejenak, namun waktu tidak berpihak. Ia mengangguk singkat.

Bani menggendong Laras dengan langkah tergesa. Ia tak ingin kehilangan Laras… tidak setelah ia kehilangan Rania. Sekali saja dunia Bani runtuh sudah cukup. Kali ini, ia akan menjaga keluarganya—dengan nyawanya sekalipun.

***

Mobil melaju kencang menembus malam yang mulai ramai. Sirene ambulans memecah jalan, sementara Bani duduk di samping Laras yang terbaring lemah, wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya.

“Mas… sakit…” lirih Laras, tangannya menggenggam erat lengan Bani.

Bani menelan ludah. Dadanya terasa sesak. Tangannya gemetar namun ia paksa tetap kuat, menggenggam tangan Laras lebih erat. “Sabar ya, sayang. Kita sebentar lagi sampai. Tarik napas pelan… lihat Mas, Laras. Lihat Mas.”

Laras mengangguk lemah. Setiap tarikan napas terasa seperti mengoyak tubuhnya. Usianya baru 35 minggu. Terlalu cepat. Terlalu berbahaya.

Dalam hati Bani, doa bertubi-tubi meluncur.

"Ya Allah… jangan ambil dia dariku. Jangan ulangi lagi. Aku tidak siap kehilangan untuk kedua kalinya."

Pintu IGD terbuka lebar. Perawat dan dokter sigap menghampiri. “Pasien hamil, nyeri hebat, usia kandungan 35 minggu!” teriak petugas ambulans.

“Bawa ke ruang bersalin darurat!”

Laras segera dipindahkan ke brankar. Tangannya reflek mencari Bani. “Mas… jangan tinggalin aku…”

Bani mengejar brankar itu, menahan air mata yang nyaris jatuh.

“Aku di sini. Aku gak ke mana-mana.”

Di depan pintu ruang bersalin, seorang dokter menghentikannya.

“Maaf Pak, hanya tenaga medis yang boleh masuk. Mohon tunggu di luar.”

“Dok… istri saya—”

“Kami akan lakukan yang terbaik.”

Pintu tertutup.

Sunyi.

Bani terduduk lemas di bangku lorong rumah sakit. Tangannya mencengkeram rambut, napasnya memburu. Bayangan Rania kembali menyeruak—ruang operasi, lampu terang, suara monitor yang memanjang.

“Tidak… tidak lagi…” gumamnya gemetar.

Di dalam ruang bersalin, Laras menjerit tertahan. Rasa sakit datang bergulung, lebih dahsyat dari yang pernah ia bayangkan.

“Bu Laras, dengarkan saya. Tarik napas… hembuskan… bagus… bertahan ya Bu.”

Air mata Laras mengalir.

"Ya Allah… lindungi anakku. Jangan jadikan aku sebab ia terluka."

Di luar, Bani bangkit, mondar-mandir tak tentu arah. Sesekali ia menempelkan dahi ke dinding dingin rumah sakit.

“Ya Allah… aku mohon. Ambil apa saja dariku, tapi jangan Laras… jangan anak kami…”

Bani mondar-mandir di depan ruang bersalin. Wajahnya tegang, doa tak henti meluncur dari bibirnya. Saat pintu lift terbuka dan Rendra muncul bersama Ameera dan Naura, langkah Bani terhenti.

Tatapan mereka bertemu.

Bani menangkap sesuatu di mata Rendra—kekhawatiran yang terlalu dalam. Bukan sekadar rekan bisnis. Bukan sekadar orang yang membantu.

Itu tatapan seseorang yang pernah mencintai.

Ameera langsung berlari ke Bani. “Papa!”

Bani berjongkok dan memeluk putrinya erat. “Gapapa, Sayang. Papa di sini.”

Rendra memperhatikan tanpa berkedip. Saat Ameera menangis, Rendra refleks melangkah satu langkah… lalu berhenti. Ia sadar posisinya. Ia tak berhak.

Naura mendekat ke sisi Bani. “Papa, Bunda Laras kenapa?”

Bani mengelus kepala Naura. “Bunda lagi berjuang, Nak. Kita doakan ya.”

Rendra berdiri sedikit menjauh. Namun matanya terus mengikuti Ameera. Saat Ameera terisak lagi, Rendra tanpa sadar merogoh saku dan menyerahkan tisu—langsung ke Ameera, bukan ke Naura.

“Ini… lap air mata kamu,” katanya lirih.

Bani menangkap itu.

Cara Rendra menatap Ameera. Cara suaranya melembut. Cara tubuhnya condong, seolah ingin melindungi.

Berbeda. Sangat berbeda.

Naura menatap Rendra sekilas, lalu kembali ke Bani. Ia tidak merasa diabaikan tapi Bani merasakannya. Sebagai ayah, nalurinya menajam.

“Ameera,” ujar Bani akhirnya, menegakkan tubuh. “Kamu duduk sama Papa dan Naura ya.”

Rendra mengangguk kecil. “Saya… saya tunggu di luar saja.”

“Tidak perlu,” jawab Bani datar tapi sopan. “Terima kasih sudah mengantar anak-anak saya.”

Anak-anak saya.

Kalimat itu seperti pagar yang ditegakkan Bani dengan sengaja.

Rendra menelan ludah. “Sama-sama.”

Ia melangkah mundur, tapi matanya masih mencari Ameera—sekilas saja—sebelum akhirnya membalikkan badan.

Di dalam dadanya, badai berkecamuk.

Sedangkan Bani, berdiri di sana dengan hati yang mulai curiga, bukan pada kesetiaan Laras, tapi pada masa lalu yang ternyata belum sepenuhnya mati.

Dan di balik pintu ruang bersalin, Laras sedang berjuang—tanpa tau bahwa dua masa lalunya sedang berhadap-hadapan, menunggu takdir yang sama-sama mereka takutkan.

Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.

Naura dan Ameera sudah tertidur di ruang tunggu. Tak lama, akhirnya—Tangisan bayi kecil terdengar dari balik pintu.

Tidak keras. Tidak kuat. Tapi nyata.

Deg.

Pintu terbuka. Seorang perawat keluar dengan wajah serius namun lega.

“Pak Bani?”

“Iya! Iya, saya!” Bani berdiri tergesa.

“Selamat… bayinya lahir. Prematur, tapi hidup. Kami langsung bawa ke NICU untuk perawatan intensif.”

Napas Bani terlepas panjang. Lututnya hampir menyerah.

“Istri saya?” suaranya serak.

“Bu Laras kelelahan dan kehilangan cukup banyak tenaga, tapi kondisinya stabil. Masih harus observasi ketat.”

Air mata Bani jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Alhamdulillah… Alhamdulillah…”

Beberapa jam kemudian, Bani diizinkan melihat Laras. Wajah istrinya pucat, namun matanya terbuka perlahan saat merasakan sentuhan Bani. “Mas…” suaranya hampir tak terdengar.

Bani meraih tangan Laras, menciumnya penuh rasa syukur dan takut yang masih tersisa. “Aku di sini. Kamu hebat… Laras.”

Air mata Laras mengalir pelan. “Anaknya… gimana Mas?”

“Masih di NICU. Kecil… tapi kuat. Sama kayak bundanya.”

Laras tersenyum lemah.

"Naura dan Ameera?"

"Mereka ada. Mungkin kelelahan dan mereka tertidur."

Di balik kaca NICU, Bani menatap bayi kecil yang terbaring dengan selang dan alat bantu. Dadanya penuh perasaan campur aduk—syukur, takut, cinta, dan bayangan masa lalu yang kembali menagih jawaban.

Dan di saat yang sama, di kejauhan rumah sakit itu... takdir mulai menenun benang konflik yang jauh lebih besar dari sekadar persalinan.

1
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ya allah naura beban kamu berat banget.
Fegajon: akan ada pelangi setelah badai🥺
total 1 replies
Yuni Songolass
ameera ini tdk tau diri banget
Anak manis
sedih bgt jadi Naura😭
cutegirl
Naura terlalu banyak. berkorban
Arga Putri Kediri
kpn amera dpt balasNy... papanya Naura jg terlalu jahatttt....
just a grandma
kasian naura😥
anakkeren
makin seru
just a grandma
plis amira kmu jgn jahat
anakkeren
naura msh kecil gus🤭
cutegirl
happy birthday naura😍
anakkeren
makin seru
just a grandma
lanjut
just a grandma
❤️
Anak manis
lanjut
just a grandma
ceritany bikin sedih. aku srlalu menunggu up terbsru dari cerita kamu thor
cutegirl
aku yakin pasti gus atheef berjodoh dgn naura
Anak manis
seruuu tapi sedih
anakkeren
aku suka sm cerits author ini. sejauh ini ceritsnya nasih sedih dan aku merasakan sedih saat membacanya.
anakkeren
makin seru
Anak manis
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!