Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah lagi..
Setelah istirahat siang tadi, kami kembali fokus dengan pekerjaan. Lala yang sudah membalas pesanku dan setuju dengan rekomendasi ku, maka aku akan segera mengerjakan gaun itu. Tapi kali ini masih dengan gaun pesanan orang lain dulu. Aku begitu fokus pada pekerjaan karena tadi sempat nggak bisa mikir, kini bahkan panggilan seseorang pun tak membuatku menoleh.
" Ra.... ".Luna menyenggol tangan ku karena aku tak juga mendengar panggilannya.
" Iya... kenapa Lun? ".
" Di luar kayaknya ada sesuatu terjadi deh. Ada suara gaduh ".
Aku jadi memfokuskan pendengaran ke luar ruangan. Dan benar saja, asa yang bikin ribut.
" iya.. ya... Mungkin ada pelanggan yang protes kali".
" Tapi kok sampe ada teriakan? jadi kepo deh". Dia mencoba mengintip ke luar melalui pintu ruangan. " Keluar yuk Ra... kita lahat ada apa? ".
" Capek aku lihat keributan dari tadi". Aku enggan untuk keluar.
" Ish... ". Akhirnya dia keluar sendiri.
Tapi baru juga beberapa menit dia keluar, tapi dia sudah masuk lagi. Dengan wajah penasaran dia menarik tangan ku keluar.
" Cuma pengen tahu aja Ra.. Nggak lebih. Nggak akan bikin capek juga".
Ketika kami sampai di butik bagian depan, tepat di mana orang orang sedang memilih milih baju, terlihat ada seorang wanita yang sedang marah marah di sana. Ada yang tetap antusias belanja, ada juga yang perharikan seorang yang sedang marah marah. Entah siapa yang membuat onar.
" Ada yang sedang marah marah Ra.... rapi siapa ya? ".
" Sebenarnya kenapa ini? ".
Kami melangkah jauh agar tahu siapa biang kerok nya. Pelan melangkah berharap emosi orang itu bisa sedikit mereda.
Dan setelah lami sampai di tempat peristiwa, aku tetap m perhatikan keributan kecil itu terjadi. Dan Deg... deg...
Dia.... wanita itu...., dia Maria...
Dunia ku seakan runtuh. Main apa dia ke mari? Teriak teriak seperti orang gila.
Dan saat itu juga Maria menoleh pada ku. Mata kami bertemu sepersekian detik. Tatapan nya sinis dan mengejek. Seperti meremehkan ku. Dan tepat saat itu juga bisa Zahira juga muncul. Beliau sudah berdiri di belakangku.
"Maaf... mbak ada apa ini? ada yang bisa kami bantu? ". Bu Zahira bertanya sopan. Dan kami langsung menoleh padanya
" Saya cuma mau lihat lihat aja dulu, tapi dia menjawab pertanyaan ku sinis seolah aku tidak akan membelinya". Jawabnya sambil menunjuk salah seorang karyawan..
Kami pun melihat ke arah yang di tunjuk wanita itu. Dia menggelengkan kepala seakan menolak tuduhan itu. Sementara si wanita ini hanya tersenyum sinis. Sehingga bu Zahira berusaha menengahi.
" Kalau begitu, mari biar saya yang menemani anda untuk mencari apa yang kiranya anda inginkan". Bu Zahira menawarkan bantuannya.
" Sepertinya ide bagus. Mending dia dipecat saja karena tidak becus melayani tamu".
Dia kembali menunjuk pada karyawan yang tadi di bentuknya, namanya Karin. Dia begitu ketakutan. Mungkin dia kira bu bos akan memarahinya.
" Masalah dia, biar jadi urusan saya. Mari mbak... Kita bisa melihat lihat lagi, mencari yang anda inginkan".
" Tapi saya juga ingin dia yang melayani.".
Dia menunjuk je arah ku.
Aku....? Nggak salah..? Kok bisa aku...? Apa dia tahu siapa aku? Tapi nggak mungkin.
" Tapi dia tidak bertugas melayani tamu, dia tugasnya di belakang, merancang design". bu Zahira menjelaskan, tapi dia tampak sudah mulai kesal dengan orang ini.
" Memangnya kenapa? Dia tetap karyawan kan?". Wanita ini tetap ngeyel.
" Baik lah, akan saya temani". Jawabku akhirnya agar dia tidak kembali membuat rusuh. Tapi dalam hati aku sudah menduga kalau dia akan mempersulit pekerjaanku.
" Nah gitu kan bagus. Kalian ikuti saya gih ".
Dia memerintah seenaknya sendiri padaku dan bu bos.
" Baik .. mari biar kamu yang bantu".
Kami pun mengikutinya menyusuri baju demi baju di gantungan yang sudah kami siap kan. Dari gaun penjang pendek sampai atasan dan juga bawahan. Dia hanya berkomentar dan tanpa ada niatan membelinya. Mungkin dengan Karin pun tadi begitu dan Karin menanyakan sesuatu, makanya dia ngamuk. Dasar perempuan sombong.
" Sepertinya bakal lama nih urusan". bu Zahira berbisik kepada ku.
" Benar bu... harus stok sabar yang banyak. Soalnya dia kayak nggak niat beli". Aku pun menjawab juga dengan berbisik.
" Pasti tadi juga gitu sama Karin".
Aku hanya mengangguk.
" Maaf mbak, sebenarnya anda ingin membeli apa? ". Bu Zahira kembali bertanya dengan sopan.
" Entahlah..... Saya juga belum tahu. Soalnya belum ada yang menarik buat saya". Dia menjawab dengan sombongnya.
Waduh.... benar benar nih orang... bikin emosi.
" Kalau begitu, mungkin anda bisa katakan pada kami, apa dan bagaimana yang anda inginkan. Biar kami bisa carikan rekomendasinya. Atau bila perlu bisa kami buatkan khusus untuk anda". Aku mencoba menawarkan solusi.
" Memangnya bisa? jangan jangan nanti jadinya nggak sesuai ekspektasi saya lagi".
Aku dan bu Zahira terkaget. Bagaimana bisa seseorang mengatakan hal seperti itu. Sementara dia tahu sendiri ini butik, disini bisa memesan apa yang kiranya dia inginkan. Akan di buatkan sesuai permintaan.
Wah.. memang benar benar dia.
"Anda bisa mencobanya dulu. Dari pada anda mencari berkeliling butik ini dan tidak menemukan yang anda mau. Biar kami juga tahu bagaimana selera anda".
" Baiklah... Tapi.. apakah dia yang akan melayani saya? Yang akan membuat design nya? *.
Dia melirik ku sinis, seperti mengejek . " Saya tidak yakin dia akan tahu fashion saya. Penampilannya aja seperti ini". Dia memindai penampilanku dari atas ke bawah secara berulang membuatku merasa jijik.
Memang sih penampilannya sungguh berbeda dengan ku. Dia begitu modis dan glamor. Sungguh berbanding terbalik dengan ku.
" Saya akan usahakan melakukan yang terbaik untuk anda. Tapi jika anda keberatan dan kurang yakin, akan ada teman saya yang lain yang mungkin bisa anda percaya untuk menggarap pesanan anda". Jujur aku mulai emosi juga di buatnya. Tapi aku harus tetap tenang dan sopan mengingat dia adalah tamu.
" Betul itu... Anda bisa memilih siapa yang anda percaya. Dan seperti apa keinginan anda".
Bu Zahira membenarkan perkataanku.
" Mari ikut kami ke dalam dan kita bisa diskusi kan lebih lanjut nanti".
" Baiklah.... Biar saya lihat".
Kamipun masuk kedalam menghampiri dua orang teman ku yang sedang sibuk dengan pekerjaan masing masing. Agak lega juga rasanya setelah capek mengikutinya memilih milih baju sampai hampir sejam.
" Nah disini tempat kami merancang design. Jadi silahkan anda pilih siapa yang ingin anda percayai untuk membuat pesanan anda".
Dia memindai Luna juga mbak Nayla seperti yang dia lakukan padaku tadi. Mereka tampak kesal juga sama seperti ku.
" Kami siap membantu anda mbak". Ucap meraka ramah..
" Seperti kurang meyakinkan". Dia masih dengan kesombongannya.
" Anda akan buktikan sendiri nanti. Karena sudah banyak pelanggan kami yang puas dengan hasil dari butik ini. Dan pelanggan kami juga banyak dari kalangan atas".
" Benarkah? Kalau begitu biar ku coba. Biar dia yang membuatnya ". Dia menunjukkan padaku.
Duh... tadi aja merendahkan, sekarang tetap milih aku. Padahal dalam hati aku nggak pengen berhadapan dengan nya. Bisa emosian terus nanti aku jika berhadapan dengan dia. Bagaimana Adit menghadapi orang kaya gini ya?.... Tapi kalau sama Adit pasti tidak akan menyebalkan seperti ini. Ini pasti mau mengerjai ku.
" Bagaimana? " Dia bertanya membuat mau tak. mau menyetujuinya.
" Baik... saya siap membantu". ucapku akhirnya,
" Nah kalu begitu, silahkan anda diskusikan dengan Amara". Bu Zahira memerintahkan.
Aku pun menamainya duduk. Menanyakan selera dia dan keinginan dia. Menanyakan sedetail mungkin agar tak ada yang terlewat. Benar saja, dia membuatku harus berulangkali menggambar ulang design. Karena ada saja yang tidak sesuai, ada saja yang kurang.
Menangani yang ini pasti selain menghabiskan banyak tenaga juga harus pandai menahan emosi. Kemungkinan besar, dia akan mempersulit sampai akhir. Tapi semoga saja semua bisa berjalan lancar tanpa hambatan.
Setelah memakan waktu yang sangat lama, akhirnya selesai juga. Tinggal di kerjakan saja nanti. benar benar membuat ku kewalahan, tidak seperti biasanya.
Setelah dia pergi meninggalkan butik, aku duduk sendiri di meja kerjaku. Sambil menahan sakit kepala yang tiba tiba datang.
" Sabar ya Ra..... ". mbak Nayla menyemangati ku. Pasti dia melihat ku yang begitu lelah.
" Kayaknya ini akan ribet deh mbak... Dia itu ribet banget. Serba salah akunya. Nggak ada yang benar kerjaan ku".
" kayaknya si gitu.... Tapi tetap semangat. Kamu pasti bisa".
" Iya mbak. Semoga saja".
" Eh... tapi Ra kayaknya kita pernah lihat dia ya...? dimana sih? ".
" Dia perempuan yang datang sama Adit di pertunangan nya mbak Sofia".
" Oh iya.. Aku ingat. pantes aja dia milih kamu. Kayaknya dia tahu siapa kamu deh".
" Menurutku juga gitu mbak".
" Ya semoga aja dia tidak mempersulit mu nanti".
" Sepertinya nggak mungkin deh. Nih... tadi aja udah membuatku emosi tingkat tinggi. Kalau saja ini bukan karena butik, nggak mau deh aku menghadapinya ".
" Ya sudah.... sabar aja. Yang penting lakukan yang terbaik".
Aku hanya mengangguk kan kepala karena rasanya sudah sangat lelah menghadapi kejadian luar biasa di hari ini.