NovelToon NovelToon
Balerina 2025

Balerina 2025

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:811
Nilai: 5
Nama Author: Banggultom Gultom

Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Wilayah yang Salah

Bella Shofie terlalu kaget melihat sunyinya kota di Gunung Salak. Sunyi itu bukan sunyi yang damai, melainkan sunyi yang terasa seperti menahan napas. Bangunan-bangunan berdiri kaku, jalanan bersih namun kosong, dan beberapa orang yang berlalu-lalang menatapnya dengan sorot mata asing, tajam dan dingin, seolah Bella adalah kesalahan yang baru saja berjalan masuk ke jurang terdalam.

Udara di sana lebih dingin dari yang ia bayangkan. Bukan hanya karena ketinggian gunung, melainkan karena atmosfernya. Tidak ada tawa, tidak ada obrolan. Bahkan langkah kaki terdengar terlalu keras, menggema di antara dinding-dinding bangunan yang hampa. Bella menarik jaketnya lebih rapat, menutupi lengannya yang masih menyimpan bekas luka lama. Ia berjalan tanpa menoleh, nalurinya berbisik bahwa tempat ini tidak menyukai kehadiran orang luar.

Ia berhenti di sebuah coffee tea kecil di sudut jalan. Lampunya temaram, aroma pahit kopi bercampur teh hangat menyambutnya. Tempat itu tampak biasa, terlalu biasa untuk kota sesunyi ini. Bella duduk, memesan minuman, dan mengamati sekitar. Setiap gerakan, setiap tatapan, ia catat dalam ingatan. Sunyi itu menipu. Di balik ketenangannya, ada sesuatu yang menunggu untuk menyerang.

Beberapa detik berlalu. Lalu—BRAKK! Kaca depan coffee tea itu pecah oleh tembakan dari luar. Bella menjatuhkan cangkirnya dan langsung berguling ke lantai. Naluri bertarungnya mengambil alih. Tembakan kedua menghantam dinding tempat ia duduk beberapa detik lalu. Suara dentuman berderet memenuhi ruangan.

“Jadi benar,” gumamnya dalam hati. Dia sudah ditemukan.

Barista di balik meja bergerak cepat, terlalu cepat untuk seorang penjaga kedai biasa. Pria itu meraih botol kaca dan melemparkannya ke arah Bella dengan niat membunuh. Bella menangkis, berputar, dan menendang meja hingga membalik. Peluru lain menghantam rak minuman. Asap dan serpihan kaca memenuhi ruangan, mengaburkan pandangan. Bella bergerak menari di antara kekacauan, langkahnya ringan, putaran pendek, tubuhnya menghindar seperti koreografi yang telah dihafalnya bertahun-tahun.

Namun satu gerakan membuat bajunya tersingkap. Punggungnya terlihat jelas. Tulisan hitam pekat itu terukir di kulitnya. BALLERINA MURDERER. Di bawahnya, gambar pisau tipis—simbol yang hanya dikenal oleh sedikit orang, dan ditakuti oleh lebih sedikit lagi. Salah satu pria di luar coffee tea itu membeku. Bukan karena gaya bertarung Bella, bukan karena tembakannya. Tato itu.

“Itu…,” suaranya turun hampir menjadi bisikan. “Itu milik aliansi lama.”

Matanya melebar. “Dia milik Madam Doss.”

Di saat yang sama, Bella merasakan perubahan. Serangan yang tadi membabi buta kini berubah ragu. Ada jarak, ada ketakutan yang tidak ia mengerti. Bella tidak berhenti bergerak, tetapi pikirannya bekerja cepat. Jadi ini artinya tatoku. Bukan sekadar tanda. Bukan sekadar janji kesetiaan. Ini ancaman.

Salah satu dari mereka mundur dan meraih ponsel, jarinya gemetar. Nomor yang ditekan bukan nomor biasa, melainkan jalur langsung ke pemilik wilayah ini. Panggilan itu diteruskan. Ke satu nama: Michel Sopin.

Di tempat lain, Michel mendengarkan laporan itu tanpa mengubah ekspresi. Wajahnya yang berumur enam puluh lima tahun tetap tenang, tetapi matanya mengeras saat mendengar satu kalimat. “Ballerina Murderer.” Nama itu tidak asing baginya, nama yang seharusnya tidak pernah muncul di Gunung Salak. Michel mengangkat telepon lain. Nada sambung terdengar singkat.

“Sudah lama,” suara Madam Doss terdengar di seberang. Tenang, dingin.

“Apakah kamu tidak merasa,” kata Michel perlahan, setiap katanya tajam seperti bilah pisau, “bahwa peliharaanmu masuk ke wilayah yang salah?”

Hening sejenak. Bella, di sisi lain kota, tidak tahu bahwa dua tokoh besar sedang membicarakannya seperti bidak catur. “Iya,” jawab Madam Doss akhirnya. “Dia sedang bermain.”

Michel menyipitkan mata. “Bermain?” ulangnya.

“Dan,” lanjut Madam Doss tanpa perubahan nada, “pergi mencari sesuatu yang seharusnya tidak disembunyikan.” Klik. Telepon terputus. Michel menurunkan ponselnya perlahan.

“Kalau begitu,” gumamnya pada ruangan kosong, “Gunung Salak akan menjadi papan permainannya.”

Di coffee tea yang hampir runtuh, Bella berdiri di antara pecahan kaca dan tubuh-tubuh yang tergeletak. Napasnya stabil. Matanya dingin. Ia tidak tahu siapa Michel Sopin. Ia tidak tahu siapa yang sedang mengawasinya. Namun satu hal ia rasakan dengan jelas. Sejak tato itu terbaca, ia tidak lagi dianggap manusia, melainkan deklarasi perang.

Bella merasakan atmosfer yang berbeda. Kota yang sunyi ini menekan setiap langkahnya, seolah jalanan dan bangunan sendiri menolak kehadirannya. Setiap orang yang lewat, meskipun terlihat biasa, memiliki sorot mata yang tajam, seolah membaca niatnya. Ia sadar, wilayah ini bukanlah tempat bagi seorang pemburu bayaran biasa. Ia berada di pusat permainan yang lebih besar, permainan yang bahkan Madam Doss pun tidak bisa kendalikan sepenuhnya.

Ia mengatur napas, memeriksa senjatanya, dan merasakan dingin yang menembus jaket. Ini bukan tentang kecepatan atau kekuatan. Ini tentang pengamatan, ketenangan, dan refleks instingtif yang telah diasah sejak awal pelatihannya. Setiap gerakan di coffee tea tadi, setiap detik bertahan hidup, membuktikan satu hal: ini baru permulaan. Gunung Salak tidak memberi ampun.

Bella melangkah keluar, tubuhnya tetap siap, mata memindai setiap bayangan. Ia tahu musuhnya bukan hanya yang terlihat. Mereka mengawasinya, menilai, menunggu satu kesalahan. Dan tato di punggungnya adalah pengumuman: siapa pun yang melihatnya tahu, wanita ini bukan sembarangan. Ia adalah pembawa kekacauan, simbol dari aliansi lama, warisan Madam Doss, dan ancaman yang jelas bagi Gunung Salak.

Langkahnya mantap meski hati-hatinya penuh kewaspadaan. Di dalam kota yang tampak mati ini, setiap sudut bisa menjadi jebakan. Setiap bangunan, setiap gang sempit, setiap orang yang menatapnya bisa menjadi bagian dari jaringan Michel Sopin. Ia tidak bisa mengandalkan bantuan. Tidak ada teman. Hanya dirinya, senjatanya, dan strategi yang telah terlatih.

Bella sadar bahwa apa yang dimulai hari ini akan membawa konsekuensi. Setiap langkahnya akan diperhatikan, setiap gerakan dianalisis, dan setiap kesalahan bisa berakibat fatal. Namun ia tidak mundur. Ia telah berjalan terlalu jauh untuk kembali, dan instingnya sebagai pemburu menuntun langkahnya lebih dalam ke wilayah yang salah, wilayah yang menunggu untuk menguji siapa dia sebenarnya.

Hening malam Gunung Salak menyelimuti kota, namun bagi Bella, sunyi itu bukanlah keamanan. Sunyi itu adalah tantangan, dan setiap hembusan napas, setiap detak jantung, adalah persiapan untuk apa yang akan datang. Ia melangkah ke tengah jalanan yang kosong, menyadari bahwa sejak tato itu terlihat, tidak ada jalan untuk menjadi biasa lagi. Ia telah memasuki permainan yang lebih besar daripada dirinya sendiri, dan hanya satu hal yang pasti: ia harus bertahan, atau ia akan hilang selamanya.

...Bersambung ~...

1
Panda%Sya(🐼)
Semangat terus author🐼💪
☠' Kana Aulia '⃝🌸
mampir kak
beforeme.G: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!