Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.
Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.
Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.
Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.
.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.
[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 034 : INGUS BEKU DAN PELUKAN PERPISAHAN
Langit Bavaria masih tampak seperti kanvas putih yang luas. Salju turun dengan anggun, menutupi atap-atap penginapan kayu dengan lapisan tebal yang empuk.
Udara dinginnya bukan lagi sekadar menusuk, melainkan seolah mampu membekukan aliran darah bagi siapa pun yang nekat berlama-lama di luar.
Namun, di halaman samping penginapan, suasana justru terasa kontras—riuh dan penuh energi.
Marsya duduk meringkuk di sebuah bangku panjang kayu yang permukaannya sudah tertutup es tipis.
Tubuhnya dibalut jaket musim dingin tebal berwarna merah menyala, syal melilit lehernya hingga hampir menutupi dagu, dan sebuah kupluk rajut menutupi telinganya.
Di tangannya, ia menggenggam erat botol minyak telon andalannya, seolah benda itu adalah satu-satunya sumber kehidupan di tengah kutub utara gadungan ini.
"Huffftttt.." Marsya membuang napas kasar. Uap putih pekat keluar dari mulutnya, mengaburkan pandangannya sejenak.
Di belakangnya, Pram dan Teguh berdiri dengan tangan bersedekap. Wajah kedua pria itu tampak jenuh, lelah, dan sedikit menderita.
Bukan karena dinginnya cuaca, melainkan karena pemandangan di depan mereka yang terasa lebih "panas" daripada perapian di dalam kamar.
Beberapa meter dari sana, Bella dan Mas Suhu sedang asyik bermain salju. Mereka tertawa lepas, saling melempar gumpalan es kecil, dan kini sedang sibuk menyusun sebuah boneka salju raksasa.
"Ayo, Mas! Kurang hidungnya! Pakai wortel yang tadi kita bawa!" seru Bella riang.
Wajahnya merona kemerahan karena suhu dingin, namun matanya berbinar bahagia.
Mas Suhu terkekeh, ia mengambil segenggam salju lalu menaburkannya ke kepala Bella.
"Hidungnya nanti saja, sekarang mending kamu jadi boneka saljunya!"
"Ih, Mas Suhu curang!" Bella mencoba lari, namun salju yang tebal membuatnya terhuyung.
Mas Suhu dengan sigap mengejarnya, menangkap pinggang Bella dari belakang, lalu mengangkat tubuh gadis itu dan memutarnya di udara.
Suara tawa mereka pecah, menggema di antara pepohonan pinus yang membeku. Itu adalah adegan romantis yang sempurna, mirip film-film drama di televisi, namun bagi Marsya yang sedang meriang, itu adalah siksaan visual.
"Kamu itu masih sakit ya, keluar itu ngapain? Nyari penyakit tambahan?" tanya Teguh yang akhirnya tidak tahan melihat bibir Marsya yang semakin membiru.
Marsya melirik Teguh dengan tatapan malas.
"Aku sumpek!" jawabnya singkat.
(Aku sesak/bosan di dalam!)
"Sumpek apa iri lihat orang pacaran?" goda Pram sambil merapatkan jaketnya.
"Lambemu, Pram! Aku gak iso turu mergo Anako nangis wae neng kamar. Wes tak kancani, tak jak ngomong, panggah nangis nggugu. Makane aku metu, eh malah ndelok wong edan dolanan es," omel Marsya sambil mengoleskan minyak telon ke hidungnya yang meler.
(Bicara apa kamu, Pram! Aku tidak bisa tidur karena Anako menangis terus di kamar. Sudah kutemani, kuajak bicara, tetap saja menangis sesenggukan. Makanya aku keluar, eh malah melihat orang gila bermain es.)
Marsya menatap botol minyak telon di tangannya dengan sedih. Cairan di dalamnya tampak lebih kental dari biasanya.
"Delok'en ta, minyak telonku wae meh dadi es batu neng kene," keluhnya.
(Lihatlah, minyak telonku saja hampir jadi es batu di sini.)
Sementara itu, keriuhan Bella dan Mas Suhu semakin menjadi-jadi. Bella yang sedang bersemangat melempar bola salju ke arah Mas Suhu justru kehilangan kendali.
Bola salju yang padat itu melesat melampaui Mas Suhu dan—PLUK!—mendarat tepat di wajah Marsya yang sedang melamun.
Hening sejenak.
Bola mata Marsya bergerak lambat. Gumpalan salju itu pecah di dahi dan hidungnya.
Karena suhu tubuhnya yang sedang panas-dingin, salju itu mencair dengan cepat, bercampur dengan ingus yang sejak tadi ia tahan.
Detik itu juga, Marsya "meler" secara dramatis. Cairan bening itu menggantung di hidungnya yang pucat.
Bella mematung. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya, matanya membelalak antara ingin tertawa dan takut mati di tangan adiknya sendiri.
"Sya... Ya Allah, Sya! Udah, kamu masuk aja ke kamar! Isok sampe kayak gitu ingusmu!" tutur Bella dengan suara yang bergetar menahan tawa.
(Bisa sampai seperti itu ingusmu!)
Mas Suhu yang berdiri di samping Bella akhirnya tak kuat lagi. Ia meledakkan tawa, memegangi perutnya sambil menunjuk wajah Marsya yang tampak sangat mengenaskan.
"Itu ingusnya hampir membeku, Sya! Mirip stalaktit di gua!"
Jika Marsya dalam kondisi sehat walafiat, ia pasti sudah melompat dan melakukan tendangan maut.
Namun saat ini, ia hanya bisa menatap malas ke arah Bella dengan sorot mata yang seolah berkata, 'Aku akan menghantuimu di mimpi.'
"Bella dancuk!" umpat Marsya lirih namun penuh penekanan.
(Bella brengsek/sialan!)
"Aku wes meh sekarat ngene, malah mok balang es batu! Tego tenan awakmu karo adikmu dewe!" omelnya sambil mengelap hidung dengan lengan jaketnya.
(Aku sudah hampir sekarat begini, malah kamu lempar es batu! Tega sekali kamu dengan adikmu sendiri!)
Di tengah keributan itu, suara roda kursi roda yang bergesekan dengan papan kayu penginapan terdengar mendekat.
Rachel datang didorong oleh Adio. Mereka baru saja kembali dari arah depan penginapan dan tertarik oleh suara tawa Mas Suhu yang menggelegar.
Di samping Rachel, dua sosok pelindung ghaibnya, Barend dan Albert, muncul dalam wujud samar yang hanya bisa dirasakan auranya oleh mereka yang peka.
"Bella baru saja membuatnya marah! Dia pasti akan dibunuh olehnya jika mereka kembali ke Indonesia nanti!" tutur Barend dengan gaya bicara kaku namun terselip nada geli.
Rachel terkekeh pelan melihat adiknya yang tampak seperti kepiting rebus karena menahan kesal dan sakit.
Sedangkan Adio hanya geleng-geleng kepala. Ia merapatkan syal Rachel agar kekasihnya itu tidak ikut-ikutan meriang seperti Marsya.
"Sya!" panggil Rachel.
Begitu mendengar suara kakaknya yang berwibawa namun lembut, Marsya yang tadinya sudah bersiap mengomeli Bella habis-habisan langsung mengerem mulutnya. Ia menoleh perlahan ke arah Rachel.
"Apa, Mbak?" tanya Marsya dengan suara sengau. Ia bangkit dari bangku dan menghampiri Rachel dengan langkah gontai.
"Hooo... Wayah e diceluk mbak yu e langsung mandek! Nek ogak diceluk paling sek teros dadi macan!" sindir Bella sambil bersembunyi di balik punggung Mas Suhu.
(Hooo... Waktunya dipanggil kakaknya langsung berhenti! Kalau tidak dipanggil paling masih berlanjut jadi macan!)
Marsya memberikan tatapan tajam yang seolah bisa membelah salju pada Bella. Namun, Bella justru tertawa lepas, merasa menang karena ada Rachel yang melindunginya.
"Nyapo mbak?" tanya Marsya lembut saat sudah berada di depan kursi roda Rachel.
(Kenapa, mbak?)
Rachel meraih tangan Marsya. Begitu kulit mereka bersentuhan, Rachel sedikit terperanjat.
"Loh, awakmu isih panas! Turu kunu, Anako wes tak wei coklat. Saiki meneng kok, gak nangis maneh. Dang turu, sesuk ki kene moleh, kudu sehat!" tutur Rachel penuh perhatian.
(Loh, kamu masih panas! Tidur sana, Anako sudah kuberi coklat. Sekarang diam kok, tidak menangis lagi. Segera tidur, besok kan kita pulang, harus sehat!)
Mendengar perhatian Rachel, pertahanan Marsya runtuh. Rasa kesal pada Bella menguap, digantikan perasaan manja yang luar biasa. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar di depan Rachel.
"Sayang sek!" ujarnya manja dengan wajah yang masih pucat.
(Sayang/peluk dulu!)
Rachel hanya menghela napas panjang, menatap Adio seolah meminta pertolongan karena adiknya yang satu ini tidak pernah berubah meski sudah berada di negeri orang.
Rachel akhirnya membiarkan Marsya memeluknya. Ia menepuk-nepuk kepala adiknya dengan sayang, meskipun dalam hati ia juga gemas ingin menyentil hidung Marsya yang masih basah.
"Wes, wes... ndang masuk. Pram, Teguh, tolong bawa anak ini masuk, kasih obat lagi," perintah Rachel.
(Sudah, sudah... segera masuk. Pram, Teguh, tolong bawa anak ini masuk, beri obat lagi.)
"Siap, Mbak Rachel," jawab Teguh. Ia dan Pram segera memapah Marsya yang mulai merengek minta digendong.
Adio memperhatikan interaksi itu dengan senyum hangat. Ia menyentuh tangan Rachel yang masih memegang sisa-sisa kehangatan tubuh Marsya.
"Keluargamu benar-benar berisik, ya?" bisiknya.
Rachel menoleh ke arah Adio, matanya berbinar mencerminkan kebahagiaan.
"Berisik adalah tanda bahwa mereka masih saling menyayangi, Yo. Tanpa keriuhan Marsya dan kejahilan Bella, Jerman mungkin hanya akan terasa seperti ruangan es yang mati."
Adio mengangguk setuju. Ia memutar kursi roda Rachel, bersiap membawanya kembali masuk ke dalam kehangatan penginapan.
Di belakang mereka, Bella dan Mas Suhu kembali melanjutkan perang salju mereka, namun kali ini dengan volume suara yang lebih pelan.
Malam itu akan menjadi malam terakhir mereka di tanah Bavaria. Seiring dengan perginya Iruna Tomoe dan damainya Kevin, tugas Keluarga Gautama di Jerman telah usai.
Besok, mereka akan membawa pulang semua cerita, duka yang telah terobati, dan cinta yang semakin mengakar menuju tanah air yang mereka rindukan.
Kehangatan yang tercipta di halaman bersalju itu menjadi bukti bahwa sejauh apa pun mereka melangkah, dan sebanyak apa pun hantu yang mereka temui, pelukan keluarga adalah tempat pulang yang paling nyata.
duh gemesin si arka tau2an Rachel ada didepan
untung yg hampir nabrak Aldo jadi seenggaknya kamu sedikit aman sekarang
wah kemana pak dokter sama pasiennya 😄
etdah Tami kamu yaa blak2an banget
semoga nanti Tami bisa ketemu orang tua nya berkat bantuan Rachel ya
merinding bayangin kematian toby 🥺