Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampa
Lampu kamar rawat terlalu putih untuk malam yang seharusnya pelan. Ravindra melangkah masuk dengan hati-hati, seolah suara sepatunya bisa melukai seseorang. Tafana sudah sadar.
Wajahnya pucat, kehilangan cahayanya. Selang infus menggantung seperti pengingat nasib yang tak bisa ditawar.
Ravindra duduk di sisi ranjang. Tangannya terangkat tanpa sadar, mengelus kening istrinya, gerakan refleks yang terlambat.
“Maaf,” katanya lirih. “Aku pulang terlalu lama.”
Tafana menoleh. Bibirnya melengkung tipis, senyum yang lebih mirip kebiasaan daripada perasaan.
“Nggak apa-apa,” ucapnya pelan. “Kamu kan lagi makan sama klien penting.”
Kalimat itu jatuh tepat di dada Ravindra. Bukan karena marah—justru karena Tafana masih memilih membela.
"Cih!" di ambang pintu, Darren memutar bola matanya. Reaksi kecil, tapi cukup.
Ravindra menangkapnya. Bahunya menegang. Ia tahu: Darren paham. Dan penilaian itu sah.
Di ruang tunggu, Darren berbicara pada orang tua mereka tanpa nada tinggi.
“Kak Tafana lebih baik dirawat di rumah kita. Lebih tenang, selalu ada bisa yang bener-bener jaga.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, datar, “Kalian lihat sendiri. Ravindra nggak bisa jaga. Dia terlalu sibuk sama hidupnya sendiri.”
Masuk akal. Justru itu yang mengunci keputusan. Tafana akan dibawa pulang ke rumah keluarga Myltom selepas pulang dari rumah sakit.
Ravindra mengangguk saat diberi tahu. Pasrah. Untuk pertama kalinya, ia tak punya pembelaan, dan sadar, sebagai suami ia gagal di level paling dasar.
-oOo-
Ravindra membuka pintu rumah dengan gerakan yang terlalu pelan untuk seseorang yang pulang. Tidak ada suara langkah menyambut. Tidak ada lampu kecil yang biasa Tafana nyalakan meski siang. Lampu rumah itu menyala, tapi terasa mati.
Ia melepas sepatu, meletakkannya rapi, kebiasaan yang dilatih Tafana. Lalu berhenti.
Ruang tengah terbentang dengan sofa yang sama, meja yang sama, vas bunga yang kini kosong. Tidak ada yang berubah. Justru itu masalahnya.
Ravindra duduk lama. Pandangannya berkeliling, berhenti di sudut-sudut kecil yang dulu tak pernah ia anggap penting: selimut tipis yang biasa Tafana lipat sambil menonton, gelas air di meja samping, jam dinding yang berdetak terlalu keras. Semua benda itu dulu terasa hidup, bukan karena fungsinya, tapi karena Tafana ada di antaranya.
Sekarang, semuanya hanya benda.
Ia baru paham: rumah ini tidak pernah menjadi rumah karena dinding atau alamatnya. Rumah ini hidup karena Tafana mengisinya dengan kehadiran yang tidak ribut, tidak menuntut. Dan saat ia pergi, yang tersisa hanyalah bangunan dingin dengan ruang-ruang yang bergaung.
Ketakutan merayap pelan. Jangan-jangan kebahagiaan yang ia kejar di Yunika hanyalah bayangan. Terang, tapi tak bisa digenggam. Sementara kebahagiaan yang nyata sudah lama ada di sini. Ia miliki. Ia nikmati. Tanpa pernah benar-benar ia jaga.
Selama tiga hari selanjutnya, ia fokuskan diri untuk merawat Tafana di rumah sakit. Yunika ia kesampingkan. Hingga akhirnya Tafana dipulangkan dari rumah sakit.
-oOo-
Hari-hari berikutnya, rutinitas Ravindra berubah bentuk, dan ritme hatinya ikut menyesuaikan.
Hari pertama setelah Tafana dipindahkan ke rumah keluarga Myltom, Ravindra datang dengan tas kertas cokelat berisi bubur ayam langganan Tafana. Ia berdiri kikuk di depan pintu, seperti tamu yang terlalu sering datang tapi masih merasa asing.
Tafana duduk di sofa dengan bantal menopang punggungnya, rambut diikat asal. Wajahnya masih pucat, tapi matanya lebih hidup.
“Kamu nggak capek bolak-balik dari sini ke kantor?” tanya Tafana.
“Lebih capek mikir kamu nggak napsu makan,” jawab Ravindra ringan.
Ia membuka kotak makan, meniup bubur sebelum menyodorkannya.
Tafana mendengus kecil. “Kayak pacaran aja.”
Ravindra tersenyum, dan baru sadar senyum itu muncul tanpa disuruh.
Hari kedua, ia datang lebih sore membawakan sup bening dan buah potong. Ia duduk di lantai, menyetelkan alarm ponsel untuk jam minum obat.
Saat alarm berbunyi, Tafana menoleh. “Disiplin banget.”
“Takut kamu bandel,” katanya.
“Kayak aku anak kecil aja,” Tafana menggoda.
Ravindra mengangkat bahu. “Emang iya. Kamu baru sadar?”
Tafana tertawa pelan. Tawa yang dulu sering ia dengar, tapi entah kenapa kini terasa lebih dekat.
Hari ketiga hingga kelima, mereka lebih sering tak bertemu lama. Ravindra datang sebentar, memastikan kondisi Tafana, lalu pulang.
Sisanya diisi pesan-pesan kecil yang remeh tapi hidup.
Ravindra: "Udah minum obat?"
Tafana: "Udah. Pahit. Itu melulu yang ditanya. Tanya yang lain kek. Gimana kondisinya? Tadi makan apa?"
Ravindra: "Okay. Gimana kondisinya, Sayang? Tadi makan apa?"
Tafana: "Kepo! Kayak pacaran aja."
Ravindra: "Pingin ta' Hih!"
Ravindra mendapati dirinya menatap layar lebih lama dari seperlunya. Mengetik, menghapus, mengetik lagi.
Saat menelepon Tafana, dadanya berdebar seperti dulu, seperti saat pertama kali menunggu nada panggilan terhubung, berbulan-bulan lalu.
Hari keenam, Tafana sudah bisa berjalan lebih lama. Mereka duduk di teras sore-sore. Angin bertiup pelan. Ravindra mengupas jeruk untuknya.
“Kamu kenapa sih jadi perhatian?” tanya Tafana, pura-pura santai.
Ravindra berhenti sejenak. “Kamu nanya? Aku suami kamu. Aku hampir kehilangan kamu karena lalai,” katanya jujur, tanpa drama.
Tafana diam. Lalu mengambil satu potong jeruk dari tangannya. “Telat sadarnya.”
“Iya,” aku pria itu. “Tapi aku di sini sekarang, akan selalu ada buat kamu.”
Ucapan itu sukses membuat Tafana tersipu.
Hari ketujuh, saat Ravindra pulang, ia duduk di mobil lebih lama. Menatap rumah yang dulu terasa kosong, kini menunggu.
Ia baru sadar: degup yang ia cari-cari selama ini tidak pernah pergi. Ia hanya terlalu sibuk menoleh ke arah yang salah.
-oOo-
Throne Apartment, unit 214
Apartemen Darren sudah hapal cara menerima Yunika tanpa bertanya. Pintu dibuka, sepatu dilepas sembarangan, Yunika menjatuhkan diri ke sofa seperti orang pulang ke tempat singgah, bukan rumah.
“Cowok gue lagi sibuk sama istrinya,” katanya, menatap langit-langit.
Darren yang sedang menuang minum hanya mengangguk. “Bagus dong.”
Yunika menoleh tajam. “Apanya yang bagus?”
“Berarti dia melakukan hal yang seharusnya, ngurus istrinya,” jawab Darren santai, menyerahkan gelas. “Dan lo jadi bisa di sini, bareng gue.”
“Lo nyebelin,” gumam Yunika, tapi nadanya tidak benar-benar marah. Lebih bingung.
Ia menyandarkan punggung, menghela napas. “Kadang gue nggak ngerti. Lo tuh sebenernya suka gue atau nggak, sih?”
Darren duduk di lantai, bersandar ke sofa, menatap lurus ke depan. “Kalau nggak suka, ngapain gue terima lo datang tiap lo capek?”
“Nah itu,” Yunika menyahut cepat. “Kalau lo suka, kenapa lo nggak pernah nuntut gue buat milih?”
Darren terkekeh pelan. “Karena gue nggak mau bikin lo makin bingung.”
Yunika terdiam.
“Perasaan lo lebih penting dari ego gue,” lanjut Darren. “Gue nggak mau jadi suara tambahan di kepala lo yang udah ribut.”
“Lo aneh,” kata Yunika akhirnya. “Cowok biasanya pengen dipilih.”
“Biasanya,” Darren mengangguk. “Tapi buat gue yang penting suka sama suka. Jalanin aja, toh jodoh nggak akan kemana.”
Pemuda itu menoleh, mendekat sedikit ke wajahnya. “Status tuh nggak penting, semua sementara. Yang abadi cuma status ‘mendiang’.”
Yunika tertawa, refleks. Tawa yang ringan, lepas. “Gila. Cara pikir lo absurd banget.”
“Efisien,” koreksi Darren.
Dan entah kenapa, di apartemen itu, Yunika bisa jadi dirinya tanpa peran. Tidak harus setia. Tidak harus memilih. Tidak harus menjanjikan apa pun. Cukup hadir.
-oOo-
Setelah lebih dari seminggu, orang tua Tafana baru berani melepas putrinya kembali bersama Ravindra. Mobil hitam berhenti pelan di depan rumah itu. Ravindra turun lebih dulu, membuka pintu penumpang dengan gerakan yang kini terasa lebih hati-hati dari biasanya.
“Pelan,” katanya, nyaris berbisik.
Tafana mengangguk. Kakinya menyentuh tanah, dan Ravindra langsung meraih lengannya—bukan menarik, tapi menunggu ritmenya. Satu langkah. Henti. Satu lagi. Ia menyesuaikan langkah, bukan sebaliknya.
Darren berdiri di teras, tangan bersedekap. Matanya mengamati tanpa komentar.
Ravindra membuka pintu rumah, menyingkirkan karpet kecil yang bisa membuat Tafana tersandung. “Sudah kupindah meja kecilnya,” ujarnya. “Supaya kamu nggak perlu muter.”
Tafana tersenyum tipis. “Kamu kepikiran aja.”
Di ruang tengah, Ravindra menuntunnya duduk, menaruh bantal di punggungnya, lalu berlutut sebentar untuk melepas sandalnya. Gerakan sederhana. Tidak dramatis. Tapi konsisten.
“Obat jam lima,” kata Ravindra sambil melirik jam. “Aku alarm-in.”
Darren menghela napas pelan. Bahunya turun. Sesuatu di dadanya yang tegang sejak lama akhirnya longgar.
Ia melangkah mendekat. “Kalau Kakak kenapa-kenapa, lo harus telepon,” katanya singkat, pada Ravindra.
Ravindra menatapnya, lalu mengangguk. “Iya.”
Darren menoleh pada kakaknya. “Kak. Gue balik.”
Tafana meraih tangannya sebentar. “Makasih Dek.”
Darren tersenyum kecil, lalu melangkah pergi. Di ambang pintu, ia berhenti sesaat, melihat Ravindra menyesuaikan selimut Tafana dengan sabar.
Untuk sekarang, cukup aman, pikirnya.
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅