Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sihir Kekuasaan yang Tak Kasat Mata
Malam itu, aroma santan gurih dan lengkuas yang digeprek memenuhi udara di dalam gubuk yang baru selesai direnovasi.
Lantai tanah yang dulu berdebu kini telah dipadatkan dan dilapisi anyaman bambu rapi.
Cahaya lampu bohlam kuning yang hangat memantul pada piring-piring seng yang tertata rapi di atas meja kayu.
Rahayu Ningsih bergerak gesit namun gugup, memindahkan sayur lodeh nangka muda ke dalam mangkuk besar.
Tangannya sedikit gemetar.
"Bu, tenang saja. Dia cuma tamu makan malam, bukan inspektur upacara," ujar Sekar datar sambil menata gelas.
Sekar duduk di kursi kayu, matanya mengawasi ibunya dengan analisis klinis.
Dilatasi pupil, tremor halus pada ekstremitas atas, keringat dingin di pelipis.
Ibunya mengalami gejala kecemasan sosial akut.
Wajar saja. Seumur hidupnya, Rahayu merasa dirinya adalah warga kelas dua.
Kedatangan seseorang yang dianggap "petinggi" seperti Aryasatya, yang di mata Rahayu adalah dewa penyelamat karena koneksi Keraton-nya, membuat wanita paruh baya itu merasa kerdil.
"Bukan begitu, Nduk. Mas Arya itu sudah baik sekali sama kita. Ibu takut masakan Ibu tidak cocok di lidah orang kota," bisik Rahayu sambil merapikan kebayanya yang paling bagus, meski warnanya sudah pudar.
Sekar menghela napas.
Kejadian kemarin lusa di ladang cabai masih menyisakan rasa tidak nyaman di dadanya.
Penolakannya terhadap tawaran laboratorium Arya telah menciptakan dinding es di antara mereka.
Namun, Sekar tahu itu adalah langkah preventif yang logis demi menjaga variabel rahasianya tetap aman.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan di pintu terdengar sopan dan berirama.
"Kulonuwun..."
Suara bariton yang berat dan tenang terdengar dari luar.
Rahayu buru-buru membuka pintu.
Aryasatya berdiri di sana.
Malam ini, dia tidak memakai pakaian lapangan. Dia mengenakan kemeja batik lengan panjang bermotif parang rusak dengan warna sogan yang elegan.
Rambutnya disisir rapi ke belakang, menonjolkan fitur wajahnya yang tegas namun ningrat.
Di tangannya, dia membawa sebuah kotak martabak manis tebal. "Sugeng dalu, Bu Rahayu. Maaf saya datang sedikit terlambat," sapa Arya sambil membungkuk sedikit, gestur menghormati orang tua yang sangat luwes.
"Oalah, Den Bagus... Eh, Mas Arya. Tidak terlambat kok, mari masuk, mari," Rahayu mempersilakan dengan gugup.
Arya melangkah masuk.
Matanya langsung bertemu dengan mata Sekar yang duduk di seberang meja.
Ada jeda sepersekian detik.
Kecanggunggan sisa perdebatan kemarin masih terasa kental, seperti partikel debu yang menggantung di udara.
Namun, Arya tersenyum tipis. Senyum profesional.
"Malam, Sekar. Saya bawa martabak keju. Kudengar dari Pak Man kamu suka yang manis kalau sedang lembur," ujar Arya, meletakkan kotak itu di meja.
Sekar tertegun sejenak.
Observasi detail. Pria ini mengamati kebiasaan subjeknya dengan teliti.
"Terima kasih, Mas. Silakan duduk," jawab Sekar, berusaha terdengar senatural mungkin.
Makan malam dimulai dengan suasana yang... sopan. Terlalu sopan.
Hanya ada denting sendok beradu dengan piring dan pujian basa-basi Arya terhadap masakan Rahayu.
"Lodehnya enak sekali, Bu. Mirip masakan Eyang Putri saya," puji Arya tulus.
Rahayu tersipu malu, wajahnya memerah senang. "Ah, Mas Arya bisa saja. Ini cuma bumbu desa."
Sementara Sekar tetap makan dalam diam.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
BRAK!
Pintu depan yang tidak dikunci didorong kasar hingga membentur dinding kayu.
Suara engsel yang berderit nyaring memecah kehangatan makan malam itu.
Sekar refleks meletakkan sendoknya.
Di ambang pintu, berdiri dua sosok yang sangat familier dengan aura negatif yang pekat.
Eyang Marsinah dan Bibi Mirna.
Eyang Marsinah mengenakan kebaya beludru hitam yang terlihat gerah untuk cuaca malam ini, lengkap dengan sanggul besar.
Sementara Mirna memakai daster rumahan tapi dengan lipstik merah menyala yang dipulas asal-asalan.
"Wah, wah... Baunya sedap sekali sampai ke jalan raya," suara cempreng Mirna memenuhi ruangan kecil itu.
Matanya langsung menyapu meja makan, lalu berhenti pada sosok Arya yang duduk membelakangi pintu.
"Pantas saja tidak ada yang antar makanan ke rumah induk. Ternyata sedang menjamu tamu agung," sindir Eyang Marsinah sambil melangkah masuk tanpa diundang.
Tongkat kayunya diketuk-ketukkan ke lantai anyaman bambu dengan tempo intimidatif.
Rahayu langsung pucat pasi.
Sendok di tangannya jatuh berdenting ke piring.
"Ibu... Dik Mirna... ada apa malam-malam ke sini?" tanya Rahayu dengan suara bergetar.
"Ada apa? Kamu tanya ada apa?" Eyang Marsinah mendengus.
Dia menarik kursi kosong di dekat Sekar dan duduk dengan angkuh.
"Aku dengar dari Pak Carik, si Sekar baru saja dapat uang panjar besar dari Keraton. Ratusan juta katanya?"
Mata tua Marsinah berkilat tamak, menatap cucunya yang dianggap pembawa sial itu.
"Ingat, Rahayu. Tanah yang dipakai Sekar ini, meskipun sertifikatnya sudah kamu beli... itu tetap tanah leluhur Adhiwijaya secara spiritual!Jadi hasil buminya tetap harus dibagi. Itu aturan adat!" bentak Marsinah.
Mirna ikut maju, matanya jelalatan menatap Arya yang masih diam membelakangi mereka.
"Betul itu! Jangan dimakan sendiri. Kami ini keluarga lho. Masak kalian pesta pora, kami di sana makan tempe bacem?"
Mirna mencomot sepotong tempe goreng dari piring saji dengan tangan telanjang, lalu mengunyahnya dengan mulut terbuka.
Menjijikkan. Sekar merasakan emosinya naik ke ubun-ubun.
Logika hukum dan hak kepemilikan tanah sudah jelas. Ini murni premanisme berkedok kekerabatan.
"Tanah ini sudah sah milik Ibu Rahayu secara hukum negara, Eyang," suara Sekar dingin dan tajam.
"Tidak ada pasal di KUH Perdata yang mewajibkan pemilik tanah membagi hasil dengan mantan pemilik yang sudah menjualnya."
"Halah! Jangan bicara hukum sama orang tua! Kualat kamu nanti!" sergah Mirna sambil menunjuk wajah Sekar.
"Pokoknya kami minta jatah dua puluh persen dari kontrak Keraton itu. Kalau tidak, besok aku suruh orang kampung boikot jalan menuju ladangmu!" ancam Marsinah.
Rahayu mulai terisak pelan. "Bu, tolong... jangan ribut di sini. Ada tamu..."
"Tamu? Siapa peduli!" cibir Mirna.
Saat itulah, Arya perlahan meletakkan serbetnya ke meja.
Dia memutar tubuhnya di kursi. Gerakannya pelan, tenang, namun memiliki bobot yang membuat udara di ruangan itu mendadak terasa berat.
Arya menatap lurus ke arah Marsinah dan Mirna.
Wajahnya datar. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Hanya tatapan mata yang dingin, menusuk, dan penuh dengan aura dominasi yang absolut.
Mirna yang tadi hendak bicara lagi, tiba-tiba tersedak ludahnya sendiri saat melihat wajah tampan namun mengerikan itu.
"Maaf menyela pembicaraan keluarga," suara Arya terdengar rendah, namun artikulasinya sangat jelas.
Dia menggunakan Bahasa Jawa Krama Inggil yang sangat halus, level bahasa yang biasanya hanya digunakan di lingkungan dalam benteng keraton.
"Tapi setahu saya, dalam tata krama Jawa, unggah-ungguh bertamu itu ada aturannya. Tidak elok rasanya membicarakan nominal uang dengan nada tinggi di depan piring nasi yang masih mengebul."
Arya menatap Marsinah tepat di manik matanya.
"Apalagi disertai ancaman pemboikotan jalan umum. Itu bisa masuk ranah pidana, Bu Marsinah. Pasal 368 KUHP tentang pemerasan, dan Pasal 170 tentang pengeroyokan atau perusakan fasilitas umum."
Marsinah ternganga. Bukan karena pasal yang disebutkan, tapi karena cara pria muda ini memandang.
Tatapan itu... Marsinah pernah melihat tatapan seperti itu puluhan tahun lalu.
Tatapan para Ndara Bangsawan yang biasa memerintah hanya dengan kedipan mata. Tatapan yang membuat nyali rakyat jelata sepertinya menciut secara insting.
"Si-siapa kau ini? Ikut campur urusan orang!" gagap Mirna, mencoba tetap garang meski suaranya menciut.
Arya tidak menjawab Mirna. Dia tetap mengunci tatapannya pada Marsinah.
Arya perlahan mengambil ponselnya dari saku, meletakkannya di meja.
"Kebetulan, saya konsultan yang menangani kontrak Keraton tersebut," ujar Arya santai.
"Setiap sen uang Keraton yang keluar, diaudit oleh negara. Jika ada pihak ketiga yang memaksa meminta bagian tanpa landasan hukum..."
Arya tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai mata.
"...itu sama saja dengan merampok kas Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat."
"Ibu Marsinah yakin mau berurusan dengan Abdi Dalem keamanan Keraton? Saya bisa panggilkan sekarang jika Ibu mau menjelaskan soal 'adat bagi hasil' itu kepada mereka."
Hening.
Suasana hening yang mencekam menyelimuti gubuk itu.
Wajah Marsinah berubah dari merah padam menjadi pucat pasi. Nama Keraton bagi generasi tua di Jogja memiliki kekuatan magis dan politis yang menakutkan.
Melawan Keraton sama saja bunuh diri sosial. Tangan Marsinah yang memegang tongkat gemetar hebat. Dominasi psikologis telah beralih sepenuhnya.
Arya tidak perlu berteriak. Dia hanya duduk tenang, namun auranya memenuhi ruangan, menekan keberadaan Marsinah dan Mirna hingga menjadi serpihan debu.
"A-ayo pulang, Mir," suara Marsinah serak dan tercekat.
"Tapi Bu, uangnya..."
"Diam kamu!" bentak Marsinah pada anaknya sendiri.
Wanita tua itu berdiri dengan susah payah, tidak berani menatap mata Arya lagi.
"Urusan kita belum selesai, Rahayu," desis Marsinah pelan, mencoba menyelamatkan sedikit harga dirinya yang sudah hancur lebur.
"Tapi malam ini... aku ampuni kalian karena ada tamu."
Marsinah berbalik dan menyeret kakinya keluar secepat mungkin, diikuti Mirna yang bingung dan ketakutan.
Pintu gubuk kembali tertutup.
Kecanggungan yang tadi ada, kini berganti dengan kelegaan yang menyesakkan.
Rahayu menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis tanpa suara. Bahunya terguncang hebat karena rasa malu yang tak tertahankan.
"Maafkan Ibu, Nak Arya... Maafkan kelakuan keluarga saya... Malu... Ibu malu sekali..." isak Rahayu.
Sekar hendak berdiri untuk menenangkan ibunya, tapi Arya memberikan isyarat tangan halus agar Sekar tetap duduk.
Arya mengambil gelas air putih, lalu menyodorkannya pelan ke dekat tangan Rahayu.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Bu," ucap Arya lembut. Nada bicaranya kembali hangat, seolah sosok dingin yang mengintimidasi tadi tidak pernah ada.
"Setiap keluarga punya kerikil dalam sepatunya masing-masing. Ibu tidak perlu menanggung rasa malu atas ketidaksopanan orang lain."
Arya menatap Rahayu dengan tulus.
"Masakan Ibu tetap yang paling enak malam ini. Jangan biarkan lalat yang lewat merusak rasa sayur lodeh yang sudah Ibu buat dengan cinta."
Sekar terdiam menatap Arya.
Di balik lensa analisis profesornya, dia melihat anomali data baru.
Pria ini bukan sekadar lulusan luar negeri yang hobi fotografi.
Cara dia mengendalikan situasi, cara dia mengubah atmosfer ruangan dari hangat menjadi membeku lalu hangat kembali... itu adalah Soft Power tingkat tinggi.
Kemampuan diplomasi dan intimidasi yang mendarah daging.
Siapa kamu sebenarnya, Aryasatya? batin Sekar bertanya-tanya.
Malam itu, di bawah lampu bohlam yang temaram, Sekar menyadari satu hal.
Dia mungkin memiliki Ruang Spasial yang ajaib.
Tapi pria di hadapannya ini memiliki jenis 'sihir' yang berbeda. Sihir kekuasaan yang tak kasat mata.