Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Baskara dan Adeline berdiri terpaku di depan rumah dua lantai yang baru mereka temukan tempat yang akan menjadi pelabuhan hangat bagi kedua orang tua Anjani, serta Anjani sendiri.
Mereka sengaja memilih lokasi yang begitu dekat dari rumah mereka, hanya beberapa menit perjalanan saja.
Bukankah rindu bisa datang tanpa permisi? Mereka ingin, saat kerinduan itu menggelora, Anjani tak perlu menunggu lama untuk merasakan kehadiran mereka.
Meski tak sebesar megahnya rumah keluarga Harvey, rumah ini memancarkan keanggunan yang sederhana tapi memikat.
Adeline terpana oleh pesona halaman depan yang luas, taman kecil dengan air terjun mungil yang mengalir lembut, serta rangkaian bunga warna-warni yang seperti menyambut hangat setiap tamu yang melangkah.
Dalam keheningan yang hangat, Adeline menggenggam tangan Baskara, merasakan keyakinan yang tumbuh kuat ini bukan sekadar sebuah bangunan, tapi sebuah tempat di mana cinta keluarga akan tumbuh semakin dalam.
Ia melangkah masuk, diiringi suaminya, dengan harapan baru yang mengembang dalam dada.
Mata Adeline menyapu setiap sudut rumah yang baru saja dimasukinya. Di ruang tamu, sebuah sofa coklat tampak indah , berdampingan dengan lemari berwarna serupa yang tampak kokoh dan berkelas.
Gaya Amerika klasik begitu kental terasa, membawa nuansa hangat sekaligus megah meski ruangan itu tidak luas.
Mereka terus menyusuri rumah itu, hingga akhirnya sampai di halaman belakang yang luas, tempat kebun hijau terbentang.
Di sana, tanah subur menunggu untuk diolah sayur-mayur dan buah-buahan bisa tumbuh lebat di tangan yang tekun.
Setelah langkah mereka letih menjelajah, mereka kembali ke ruang tamu dan terdiam sejenak di kursi empuk.
"Semoga mereka benar-benar suka dengan rumah ini, Pa," suara Adeline menggantung, penuh harap yang tak bisa disembunyikan.
Baskara menatap lembut ke arah istrinya. "Tak perlu khawatir Ma. Rumah ini bagi mereka sudah besar, ini hadiah istimewa untuk mereka. Sebuah balas jasa atas kasih sayang yang sudah mereka curahkan pada Aurora, putri kandung kita."
Adeline mengangguk pelan, matanya mengandung rasa terima kasih. "Benar, Pa. Mereka lebih dari sekadar keluarga mereka sudah menjadi penjaga cinta dan harapan bagi Aurora selama ini."
Setelah itu mereka menghubungi pihak properti untuk mengurus berkas-berkas pembelian rumah ini.
Lalu, mereka pulang ke rumah mereka karena hari sudah sore dan juga memberikan kabar pada anak-anak mereka bahwa tempat tinggal untuk orang tua Anjani telah selesai.
Hanya menunggu kedatangan dari orang tua Anjani ke kota.
...****************...
Di sisi lain
Di perpustakaan kampus yang sepi, Kaynen termenung dalam diam, menatap kosong ke kejauhan.
Perubahan yang menggerogoti keluarganya seperti bayangan kelabu yang tak kunjung pudar.
Dulu, Anjani bagai bidadari di matanya sosok gadis penuh cahaya dan kebaikan. Namun beberapa hari terakhir, wajah asli sang adik tersingkap, menggores hati Kaynen.
“Kenapa kamu berubah, Anjani? Padahal kami tak pernah pelit kasih sayang maupun materi…” suara Kaynen berat, bergetar antara kecewa dan ragu, seolah bertanya pada ruang yang hampa.
Tiba-tiba, bayangan Aurora adik kandungnya muncul menembus gelap pikiran. Senyum manis dan wajah cantiknya yang teduh menjadi pelipur duka di tengah badai yang menggulung di hatinya.
Di balik sikapnya yang tegas kaynen adalah kakaknya yang menyayangi adik-adiknya. Jika salah harus di hukum. Tak ada toleransi bagi orang yang berbuat salah. Meski itu adik-adiknya sendiri.
...****************...
Hari yang di tunggu tiba, keluarga dari Anjani datang membawa oleh-oleh dari kampung halaman dengan wajah berseri indah.
"Selamat datang!" Adeline menyapa ramah dengan senyum hangat.
"Terima kasih," Sekar dan Bagas mengangguk sebagai tanda Terima kasih.
"Mari, silakan masuk!" ucap Adeline dia meminta pelayan untuk membawa barang-barang mereka ke dalam rumah.
Keduanya masuk, tampak ada keterkejutan dan rasa kagum di dalamnya. Namun, mungkin di dalam lubuk hati Sekar sekarang ia iri sebab hidupnya tak senyaman ini.
"Silakan duduk! Anggap rumah sendiri," kata Adeline, dia sebagai tuan rumah harus menyambut hangat keluarga yang sudah membesarkan Aurora.
Sekar dan Bagas duduk, di sofa empuk yang hanya bisa mereka lihat di TV. Bahkan orang kaya di kampung mereka saja belum tentu bisa membeli barang mewah di rumah ini.
"Tolong bawakan minum dan camilan!" kata Adeline, dia tersenyum hangat. Semua di kerjakan baik oleh pelayan.
Sekar iri, dia tak bisa mendapatkan pelayan seperti ini karena suaminya hanya orang yang miskin dan tidak memiliki apapun.
Camilan mewah dengan berbagai varian, seperti Cake beberapa rasa dan Roti kering berbagai jenis, jangan lupakan minuman enak siapa terhidang dengan mewah dan menggugah selera untuk segera di cicipi.
"Silakan di nikmati, maaf hanya saya yang menyambut sebab orang rumah sedang berada di luar rumah," kata Adeline tak enak, dia agak sungkan pada orang yang sudah dua kali ini ia temui.
"Maaf, Nyonya, apa Anjani juga sedang tidak ada di rumah?" Sekar mulai bertanya sebab ia tak tahan untuk melihat Anjani sang putri kandung.
"Sedang sekolah, mereka akan tiba mungkin ..." jeda sebentar Adeline melihat jam tangan,"Satu setengah jam lagi!" imbuhnya yakin.
Sekar dan Bagas mengangguk, mereka menikmati camilan dengan mata yang masih saja terus awas melihat rumah mewah dimana putri mereka di besarkan selama ini.
Jam menunjukkan pukul setengah tiga sore.
"Mama, aku pulang!" seru Anjani dia berteriak keras memanggil Adeline.
"Kamu sudah pulang?" Namun, suara asing menyapa Anjani hingga membuat langkahnya terhenti.
Anjani menoleh, dan menatap orang asing yang tak ia kenal, menelisik penampilan dari atas sampai bawah ia menebak sang Mama mengambil kembali pelayan baru.
"Kau pelayan baru?" tanya Anjani dengan mata memicing.
"Dia bukan pelayan Jani!" suara Adeline mengalihkan fokus Anjani.
"Mama, bagaimana aku pulang lebih awal dari Aurora, kan?" ucapnya bangga, dia segera memeluk Adeline cepat.
"Iya," angguk Adeline.
"Ma, dia pelayan baru ya?" tanya Anjani, dia menatap wanita lusuh itu dengan wajah sinis. Dan tak enak di pandang.
"Bukan, Jani dengarkan Mama!" pinta Adeline, dan Anjani jelas sadar ini mungkin bukan perkara mudah."Dia Ibu kandungmu," sambungnya.
DEGH!
Jam makan malam di rumah Harvey, semua orang sudah berkumpul bahkan kedua orang tua kandung Anjani pun ada di sana.
Anjani enggan dekat dengan keduanya dia alergi dekat dengan para orang kampung itu.
Semua orang menikmati makan malam, bahkan dengan tak tahu malunya Bagas dan Sekar makan dengan lahap tanpa memperhatikan etika saat makan di keluarga Harvey.
Aurora melihat itu, dia melirik sedikit dan melihat bagaimana Anjani memandang jijik kedua orang tua kandungnya.
Tak salah ia mengusulkan itu sebab semuanya akan dirinya susun seepik mungkin demi memberikan pelajaran pada mereka.
itu aruna gk ikut liat rekaman cctv, diakan yg paling ambisi..
hshaaa...kenyataan tak sesuai ekspektasi🤣
coba lanjut
btw aku kirimin kopi thor
selalu d berikan kesehatan😄