Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Di Posyandu
Safira membeku. "Hamil?" ulangnya lirih, seolah takut salah dengar.
Bagas menoleh cepat ke wajah Safira, lalu kembali ke layar. "Enam ... minggu, Dok?" suaranya tercekat.
"Enam ... minggu?" ulang Safira lagi. "Tapi ... aku sempat haid, Dok."
"Bukan haid," ralat dokter tenang. "Itu perdarahan implantasi. Jumlahnya sedikit dan tidak berlangsung lama."
Safira terdiam. Dadanya terasa sesak.
Bagas yang sejak tadi berdiri di sampingnya langsung maju selangkah.
"Jadi ... istri saya hamil?" Bagas tak percaya, shock dan terkejut.
Dokter mengangguk. "Iya. Dan sejauh ini, kondisinya baik."
Bagas menatap Safira. Wajahnya kosong, seperti seseorang yang baru saja mendengar kabar terlalu besar untuk dipahami sekaligus.
Safira perlahan menutup mulutnya dengan tangan. Matanya berkaca-kaca.
"Jadi— selama ini ,,, aku hamil?" suara Safira bergetar. "Dan aku gak tahu?"
"Banyak yang mengalaminya," jawab dokter lembut. "Apalagi kalau siklusnya tidak terlalu teratur atau disertai perdarahan ringan."
Safira menggenggam ujung bajunya erat. Air matanya jatuh tanpa suara.
Bagas segera meraih tangannya. Genggamannya kuat, seolah ingin memastikan Safira benar-benar ada di sana.
"Bang ..." Safira memanggil, nyaris tak bersuara.
Bagas mengangguk pelan. Matanya merah.
"Iya," jawabnya pendek. "Iya, Dik."
Dokter kembali menjelaskan—tentang vitamin, tentang istirahat, tentang kontrol berikutnya. Tapi bagi Safira, dunia seperti bergerak lebih lambat.
Ketika mereka keluar dari ruang periksa, Safira masih memegang hasil USG itu erat-erat.
Di lorong klinik, ia berhenti melangkah.
"Bang," katanya lagi, suara kecil, "aku benar-benar gak tahu ..."
Bagas menoleh, lalu menggeleng pelan.
"Yang penting sekarang kamu tahu," ujarnya. "Dan kita jaga sama-sama, ya."
Safira menunduk, lalu tersenyum di balik air mata.
Kadang, kehidupan memang datang diam-diam.
Tanpa tanda yang jelas.
Tanpa sempat dipersiapkan.
Dan Safira bahagia. Karena dengan ini, Allah membuktikan secara langsung, jika ia tidak mandul, seperti yang orang-orang tuduhkan.
Di rumah, Hayati menunggu kepulangan anak mantu dengan hati was-was. Bukan takut karena mendapatkan kabar jika salah satu dar mereka mandul. Dia lebih takut, jika salah satu dari mereka gak siap, ataupun terluka.
Yusuf yang mengetahui hal itu hanya bisa memberi wejengan. Dia meminta Hayati untuk berdoa, dan mengharap kekuasaan yang Kuasa.
Suara motor Bagas, mulai terdengar. Begitu, sepeda motor berhenti. Hayat, mendekati pasangan itu.
"Bagaimana?" tanya Hayati, penasaran.
"Nah, bu ..." Bagas, malah menyerahkan surat, dan hasil usg.
"Apa in?" Hayati mengernyit. Karena tanpa kaca mata, semua yang di lihatnya hanya lah, garis-garis.
"Bawakan kesini," pinta Yusuf, yang memang kacamata selalu ada di sampingnya.
Safira dan Bagas saling melempar senyum. Mereka gak sabar menunggu reaksi orang-orang yang di cintai.
"Alhamdulillah ya Allah ... Allah maha pengasih dan penyayang, terima kasih ya Allah!" seru Yusuf, dengan mata berkaca-kaca.
"Apa? Ada apa? Apa hasilnya?" Hayati, semakin penasaran.
"Kita punya cucu lagi bu?" sahut Yusuf, hampir berteriak.
"Ya Allah, Alhamdulillah ..." mata Hayati, langsung berkaca-kaca.
Dia langsung mengelus perut Safira, merapalkan doa dan harapan untuk calon cucunya.
"Emang kamu tidak sadar, kah, nak?" tanya Hayati heran.
Dan mereka menceritakan semua yang sebelumnya dokter jelaskan.
✨✨✨
Dua minggu telah berlalu. Hari ini, jadwal posyandu di kampung.
Safira memengangi buku pink di tangannya. Dia ragu untuk ke posyandu. Bukan apa. Dia hanya enggan bertemu dengan perempuan bernama Nadia.
Hayati muncul, dia mengelus punggung Safira. Seolah mengatakan jika tidak apa-apa.
Sebelum melangkah, keluar rumah. Safira menarik napas dalam, dan menghembuskan, guna mengusir segala keraguan di hatinya. Dan kini, langkahnya semakin tegap dan
mantap.
Suasana di gedung posyandu terdengar riuk.
Anak-anak ada yang berlarian, menangis dan juga merengek.
Begitu Safira mengucapkan salam. Beberapa orang langsung menatapnya.
Dan dengan adanya buku pink di tangannya. Itu sudah cukup menjawab rasa penasaran semua orang.
Nadia membelalak. Tangannya gematar, namun sebisa mungkin dia mencoba untuk tetap profesional.
"Selamat datang Safira," ucapnya lirih.
Bahkan ucapan itu, terdengar seperti sembilu di telinganya sendirim
Tak lupa, dia juga mempersilahkan Safira untuk mengambil nomor antri terlebih dulu.
Safira mengangguk, setelah mengambil nomor antri. Dia mulai duduk bersama beberapa ibu-ibu lainnya.
Kini, tiba saatnya Safira memeriksa.
Setelah cek berat badan, dan tekanan darah. Kini saatnya Safira cek lengannya. Atau biasa disebut dengan LILA (lingkar lengan atas).
Dan sialnya, Nadia lah, yang kebagian tugas itu.
Dengan tangan dingin juga gemetar, Nadia minta izin agar Safira mengangkat lengan bajunya. Hawa dingin dari tangan Nadia, menyentuh kulit Safira.
Safira menatap Nadia. Entah kenapa, dia menikmati raut wajah gugup Nadia.
"Lila, 21,3 cm," ujar Nadia, memberitahu Nurul yang mencatatnya.
"Eh, kok kurus sekali kamu Fira. Apa selama hamil, Bagas tak memberimu makan?" tanya Nurul.
Nurul ialah, wanita yang pernah bertemu di acara turun tanah, anak tetangga beberapa bulan yang lalu.
"Seminggu ini, aku gak bisa makan apa-apa kak. Apa yang masuk, berakhir aku muntahin," balas Safira lembut.
Nurul manggut-manggut. Kemudian dia menyenggol Nadia.
"Kesempatan mu udah habis. Sekarang Safira hamil," bisiknya. Namun, terdengar jelas di telinga Safira.
Tubuh Nadia menegang. Dia mengepal tangannya, guna menahan emosi yang hampir meledak.
"Silahkan, temui bu bidan dulu," lanjut Nurul. Dia bahkan tidak memperdulikan, ucapannya melukai hati Nadia.
Kini, Safira duduk di depan bidan desa. Sang bidan mulai memberi arahan, tak lupa dia juga diberikan tablet tambah untuk Safira.
"Berati umur kandungannya sekitar sepuluh minggu ya Safira. Kamu harus banyak istirahat, hindari pekerjaan yang berat-berat," nasihat bidan. "Dan walaupun muntah, usahakan untuk tetap makan," tambah sang bidan.
Safira mengangguk mengiyakan.
Baru setelah selesai mendapatkan arahan, kini Safira mengambil PMT.
✨✨✨
Nadia pulang dengan tatapan sendu. Dia memang terkejut kala mengetahui Safira hamil. Tapi, ada sesuatu dalam dirinya yang merasa lega.
Setidaknya, ucapan atau penghinaannya pada Safira dua bulan lalu, tidak terbukti.
Walaupun sakit, diam-diam dia mendoakan jika Safira dan bayinya sehat sampai melahirkan nanti.
"Kenapa tatapan sendu begitu?" Hesti yang sedang makan semangka di teras, menatap bingung ke arah Nadia.
"Tak ada apa-apa bu," sahut Nadia, lirih.
"Pasti karena Safira hamil kan?" celetuk Hesti lagi. Bahkan, mulutnya masih berisikan semangka.
"Darimana ibu tahu?" Nadia mengernyit.
"Ya tahu lah ... Tadi, ibu diberitahu oleh warga,"
Nadia menghela napas. Sedetik kemudian dia mengangguk.
"Makanya, kala ibu nyuruh di dengar. Kalo udah kayak gini, kamu gak akan lagi punya kesempatan," cerocos Hesti mencak-mencak. "Kecuali ..."
"Bu ..." potong Nadia menggeleng.