NovelToon NovelToon
Anak Untuk Rayyan

Anak Untuk Rayyan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Nikahmuda / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.

Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.

Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.

Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 - Kehilangan

Alana menggeliat pelan. Seluruh tubuhnya terasa berat. Perlahan, matanya terbuka. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa ini ruang rumah sakit.

Alana menoleh ke samping. Di sisi kirinya, Dharma duduk dengan punggung tegak, tapi bahunya turun, wajahnya menunduk sedikit. Rambutnya berantakan.

“Pa…” Suara Alana nyaris tidak terdengar.

Alana mengangkat tangan perlahan dan menyentuh tangan ayahnya yang terletak di ujung ranjang. Kulit itu terasa dingin. 

“Pa…” panggil Alana lagi, suaranya serak

Tapi Dharma tidak merespons. Tatapannya kosong lurus ke depan.

Hening itu membuat dada Alana menyesak.

Dia menggenggam tangan Dharma lebih erat, putus asa. “Papa, maafin Lana, Pa.”

Akhirnya Dharma bergerak. Perlahan, dia memutar kepala menatap putrinya. “Video itu bener kamu, Alana?” 

Suara Dharma pelan, tapi langsung menghancurkan kekuatan Alana. Air matanya langsung jatuh, deras, tanpa bisa ditahan. 

“Maafin Lana, Pa,” katanya lagi, lebih lirih. Itu satu-satunya kalimat yang bisa dia ucapkan.

Dharma menghela napas panjang dan berat. Wajahnya menegang, rahangnya mengunci.

Alana menunduk, menangis tanpa suara.

“Kamu hamil 6 minggu, kamu tahu itu?” tanya Dharma.

Tangis Alana semakin pecah. Dia mengangkat tubuhnya, berusaha duduk. Dia meraih tangan Dharma dengan dua tangan. “Papa… Papa maafin Lana, Pa. Maafin Lana.”

“Papa tanya,” suara Dharma naik sedikit, masih terkendali tapi penuh luka.

“Kamu tahu?”

Alana mengangguk pelan. Tapi cukup jelas.

Dharma memejamkan mata kuat-kuat, menahan gejolak dalam dirinya. “Jadi kamu tahu, tapi kamu tidak bilang Papa?”

Alana menggigit bibirnya keras, mencoba menahan isakan. Dia tidak bisa membantah. Tidak bisa menjelaskan. Tidak bisa membela diri.

“Alana… kenapa kamu bisa melakukan ini?” tanya Dharma dengan suara gemetar. 

“Kamu itu anak kebanggaan Papa. Kamu itu dunianya Papa! Kenapa kamu tega melakukan ini sama Papa?!”

Alana menangis lebih keras, tapi tetap tidak bersuara. Bibirnya kelu. Semua yang ingin dia jelaskan tercekat di tenggorokan. Hanya bahunya yang berguncang.

“Kamu tahu minggu depan kamu bertunangan…”

Dharma mengusap wajahnya kasar. “Minggu depan kamu bertunangan, Alana. Tapi kamu malah melakukan hal sehina itu dengan orang lain?”

Bola mata Alana membesar, seakan baru tersadar akan sesuatu. “Mas Rangga.” 

“Mas Rangga mana, Pa?” tanya Alana panik.

Dia mengedarkan pandangan panik, baru sadar bahwa Rangga berdiri di belakang Dharma. Dia diam dan kaku. Wajahnya tidak bisa terbaca.

“Mas…” panggil Alana lemah.

Rangga menatapnya. Tatapan yang tidak pernah Alana lihat sebelumnya. Tidak hangat, tidak sabar, dan tidak lembut. Hanya kosong dan sakit.

“Aku punya salah apa sama kamu, Na? Kenapa kamu tega lakuin ini?”

Alana langsung menggeleng cepat, panik, sesak. Alana mencoba meraih Rangga, tapi jaraknya terlalu jauh. Rangga tidak bergerak.

“Dari dulu kamu selalu khawatir hubungan kita cuma karena bisnis,” lanjut Rangga, suaranya bergetar halus.

“Tapi aku sungguh-sungguh, Na. Aku beneran sayang sama kamu. Cinta sama kamu.”

Tangis Alana semakin pecah.

“Harusnya minggu depan itu pertunangan kita, tapi kayaknya… aku nggak bisa lagi, Na.”

“Enggak, Mas. Mas, aku yang salah. Aku minta maaf, Mas. Aku sayang sama kamu, Mas.” 

Rangga tersenyum getir. Ucapan sayang itu terdengar seperti omong kosong di telinganya.

“Aku batalin pertunangan kita dan hubungan kita udah, ya, sampai sini aja.”

“Enggak…” Alana menggeleng keras, tangannya gemetar saat mencoba memegang lengan Rangga yang menjauh.

Rangga memalingkan wajah dan berjalan keluar dari ruangan itu tanpa menatapnya lagi. 

“Mas! Mas! Mas, jangan tinggalin aku, Mas! Mas!” 

Teriakan Alana pecah, histeris, napasnya tersengal.

Saat pintu terbuka, Rangga mendapati Rayyan duduk di kursi tunggu, wajahnya tegang, kedua tangannya saling menggenggam.

Rayyan sontak berdiri begitu melihat Rangga.

Untuk sepersekian detik, tatapan Rangga dan Rayyan bertemu. Kemudian, Rangga melanjutkan langkah pergi.

Rayyan membeku di tempat. Wajahnya pucat dan bingung.

Di dalam ruangan, Alana memegangi tangan Dharma dengan kedua tangan. “Pa, tolong bantuin Lana. Tolong bujukin Mas Rangga, Pa.”

Alana menangis, mengguncang tangan ayahnya. “Pa, Lana nggak mau putus sama Mas Rangga, Pa. Pa, tolong… tolongin Lana.”

Suaranya pecah, putus-putus, seperti seseorang yang kehilangan pijakan.

Dharma menatap kedua tangan Alana yang mencengkeram lengannya, lalu perlahan menarik tangannya keluar dari genggaman Alana.

“Papa kecewa sekali sama kamu, Alana,” ucapnya pelan, tapi seperti belati yang menusuk tepat di hatinya.

Dharma berdiri dengan gerakan pelan, kemudian berjalan keluar dari ruangan itu.

“Pa…”

Alana mencoba bangkit, tubuhnya limbung. “Papa…”

Dharma tidak berhenti.

“Pa! Papa!!”

Alana meraih ujung baju ayahnya tapi terlambat.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari ranjang, tubuhnya menghantam lantai rumah sakit yang dingin. Tiang infus ikut terseret dan ambruk, suara logamnya memantul keras di ruangan itu.

Tapi Dharma sama sekali tidak menoleh ke belakang.

“Pa! Papa!!”

Alana memekik sambil merangkak, tangannya gemetar memegang lantai.

“Pa! Jangan tinggalin Lana, Pa!! Papa!!”

Suaranya pecah jadi histeris.

Begitu mendengar suara Alana berteriak dan melihat Dharma keluar dengan wajah kosong, Rayyan spontan menoleh ke dalam ruangan.

Rayyan berlari masuk, menghampiri Alana terduduk di lantai, menangis, dan berteriak histeris. Tangannya bergetar hebat, rambutnya berantakan. Infusnya putus memercikkan darah di lantai. 

Seluruh tubuhnya gemetar hebat.

Rayyan mencelos.

Untuk pertama kalinya, Rayyan melihat Alana bukan sebagai perempuan tangguh yang angkuh. Tapi sebagai perempuan yang rapuh.

Rayyan berjongkok, meraih tangan Alana. “Na!”

Begitu matanya bertemu mata Rayyan, matanya melotot marah. “Jangan sentuh gue!” 

Alana menjerit, suaranya pecah, penuh luka. Tangannya terangkat dan mendorong Rayyan sekuat tenaga hingga jatuh terduduk. 

“Semua ini gara-gara lo! Hidup gue hancur gara-gara lo! Gue benci sama lo! Gue benci sama lo!” 

Alana memukul dadanya, bahunya, lengan Rayyan. Apa saja yang bisa dijangkau. Tapi Rayyan tidak melawan, menerima semua pukulan itu.

“Na…” 

Rayyan berbisik parau, mencoba menyentuh lengannya. “Gue minta maaf..."

“Tutup mulut lo!” 

Alana masih terus berteriak histeris hingga beberapa suster berlari masuk ke dalam ruangan itu. 

Salah satu mencoba mendekat, meraih tangan Alana. Tapi Alana meronta semakin keras, mendorong tangan suster itu sampai tubuh suster terjatuh ke lantai. 

“Papa!”

Suster-suster lain ikut membantu, namun mereka hanya didorong oleh Alana. Hingga dokter kemudian masuk, memutuskan memberi obat penenang pada Alana.

Dua suster memegang tangan Alana, membuat Alana semakin memberontak.  “Lepasin gue!”

Dokter itu kemudian menyuntikkan obat penenang pada Alana yang masih memberontak histeris.

“Lepasin gue! Papa! Papa…”

Suara Alana terhenti di tengah kalimat.

Obat itu membuat tubuhnya perlahan melemah. Tubuh Alana akhirnya terkulai, lelah, tersengal, dengan mata masih berlinang.

Rayyan masih diam tertegun, menatap Alana iba dan bersalah.

Suster-suster mengangkatnya kembali ke ranjang dengan hati-hati. Selimut ditarik menutupi tubuh Alana yang mulai relaks karena obat.

Sebelum benar-benar tertidur, Alana sempat membuka mata sejenak. Setengah sadar, setengah pingsan.

“Papa jangan tinggalin Lana,” bisik Alana sayup.

...----------------...

1
Nadiaaa
kpn up lagi kak
Retno Harningsih
up
Nadiaaa
doubel up kk🤭
Chillzilla: yahhh udah aku set satu² kak😁
total 1 replies
Nadiaaa
semangat nulisnya kak 💪 lanjut terus sampe tamat💗
Chillzilla: makasih kak🤗🤗
total 1 replies
Nadiaaa
👍
Nadiaaa
kpn lanjut kak
Chillzilla: nanti sore kakk
total 1 replies
Nadiaaa
suka❤️‍🔥
Nadiaaa
lanjut
Nadiaaa
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!