Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.
Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.
Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.
Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. ALEA SAKIT TANPA PERAWATAN
Hujan deras mengguyur atap rumah dengan suara gemuruh yang menusuk telinga. Jam menunjukkan pukul sebelas malam ketika Rian terbangun karena mendengar suara tangisan kecil dari kamar anak-anak. Dia segera bangun dari ranjang, mengambil lampu senter yang selalu siap di sisi tempat tidur, dan berjalan dengan hati-hati menuju kamar anak-anak yang sudah dipenuhi dengan kegelapan.
Ketika membuka pintu kamar, dia melihat Alea terkulai di atas kasurnya dengan wajah yang kemerahan dan berkeringat dingin. Hadian sudah terbangun dan sedang membungkuk di atas adik perempuannya, wajahnya penuh dengan ketakutan.
“Papa, Kakak Alea demam tinggi banget,” ujar Hadian dengan suara yang bergetar dan penuh dengan tangisan yang tertahan. “Dia terus bilang kepalanya sakit dan merasa sangat dingin padahal badan nya sangat panas.”
Rian segera mendekat dan menyentuh dahi Alea dengan telapak tangannya. Suhu tubuh putrinya yang baru berusia empat tahun itu sangat panas, bahkan membuat tangannya merasa terbakar. Alea membuka matanya dengan susah payah, melihat ayahnya dengan mata yang sudah mulai kabur akibat demam tinggi.
“Papa… sakit…” ujarnya dengan suara yang lemah dan serak, sebelum menutup mata kembali dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak nyaman yang luar biasa.
Rian merasa jantungnya berdebar kencang akibat kekhawatiran. Dia segera mengambil selimut tipis untuk menutupi tubuh Alea, sambil memanggil nama Novi dengan suara yang cukup tinggi. Namun tidak ada jawaban yang datang dari kamar tidur utama – istri nya masih belum pulang dari pekerjaan sambilan yang katanya akan mengikuti acara pengusaha di Hotel Cirebon Indah.
Dia mengambil ponsel untuk menghubungi Novi, tapi seperti biasa, nomornya tidak dapat dihubungi. Rian merasa rasa frustrasi dan sedikit kemarahan muncul dalam dirinya – mengapa Novi harus keluar larut malam dengan alasan pekerjaan padahal dia tahu bahwa anak-anak membutuhkannya? Namun dia menyembunyikan perasaan itu dan fokus pada hal yang paling penting saat ini: menyelamatkan nyawa putrinya yang sedang sakit parah.
“Sudah Hadian, kamu diam di rumah ya,” ujar Rian dengan suara yang tenang namun penuh tekad, mulai membersihkan wajah Alea dengan kain basah yang dingin. “Papa akan membawa Kakak Alea ke rumah sakit. Kamu tinggal diam dan jangan membuka pintu untuk siapapun ya. Jika ada sesuatu yang salah, kamu bisa memanggil Bu Siti dari rumah sebelah.”
Hadian mengangguk dengan penuh ketakutan namun juga semangat. “Aku akan baik-baik saja Papa,” ujarnya dengan suara yang jelas. “Semoga Kakak Alea cepat sembuh ya.”
Rian segera mengambil baju hangat untuk Alea dan membungkusnya dengan selimut tebal agar tidak terkena angin dan hujan yang masih deras mengguyur kota. Dia membawa Alea dengan hati-hati keluar rumah, menutup pintu dengan rapat sebelum berlari menuju jalan raya untuk mencari taksi atau ojek online yang bisa membawanya ke rumah sakit terdekat.
Hujan yang deras membuat jalanan menjadi licin dan hampir sepi dari kendaraan. Rian berdiri di tengah hujan yang membasahi seluruh tubuhnya, memegang Alea yang sudah mulai tidak sadarkan diri dengan erat di dalam pelukannya. Dia berteriak memanggil taksi dengan suara yang hampir tertutup oleh suara hujan dan angin yang kencang, tapi tidak ada satu kendaraan pun yang berhenti untuk membantunya.
Setelah beberapa menit menunggu dengan tidak kunjung ada hasil, Rian memutuskan untuk berjalan kaki ke rumah sakit yang terletak sekitar satu kilometer dari rumah mereka. Dia berlari dengan langkah yang cepat namun hati-hati agar tidak menjatuhkan Alea, tubuhnya sudah basah kuyup oleh hujan namun dia tidak peduli sama sekali – satu-satunya yang dia pikirkan saat itu adalah membawa putrinya ke tempat yang aman dan mendapatkan perawatan medis yang sesegera mungkin.
Ketika sampai di rumah sakit umum Cirebon, pintu darurat langsung dibuka oleh perawat yang melihat kondisi Alea yang sangat parah. Rian segera membawa putrinya ke ruang gawat darurat, menjelaskan dengan cepat tentang gejala yang dialami Alea selama beberapa jam terakhir. Dokter segera melakukan pemeriksaan dan memberikan suntikan untuk menurunkan demam tinggi yang sudah mencapai 40 derajat Celsius.
“Anak ini mengalami demam tinggi akibat infeksi saluran pernapasan yang cukup parah,” ujar dokter dengan suara yang serius setelah menyelesaikan pemeriksaan awal. “Jika tidak segera mendapatkan perawatan, bisa menyebabkan komplikasi yang lebih serius seperti radang otak atau gangguan pada organ tubuh lainnya. Kami perlu merawatnya di rumah sakit selama beberapa hari untuk memastikan infeksinya benar-benar hilang.”
Rian merasa seperti ada guncangan listrik yang menyambar tubuhnya mendengar kata-kata dokter. Dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa segera membawa Alea ke rumah sakit dan karena Novi tidak ada di rumah untuk membantu merawat putrinya yang sakit parah.
“Baik dokter, silakan lakukan apa saja yang diperlukan untuk menyembuhkan anakku,” ujarnya dengan suara yang bergetar, menandatangani semua formulir yang diperlukan untuk perawatan Alea. Dia membuka dompetnya untuk membayar biaya perawatan awal, namun hanya menemukan sedikit uang yang dia hasilkan dari pekerjaan harian beberapa hari yang lalu – sangat jauh dari cukup untuk membayar biaya rumah sakit yang tidak sedikit.
Namun dokter dan perawat yang melihat kondisi Rian yang sangat tertekan dan penuh kesusahan memutuskan untuk memberikan bantuan dan mengizinkan Alea untuk mendapatkan perawatan terlebih dahulu sebelum membicarakan masalah pembayaran. Rian merasa sangat bersyukur dan menangis pelan di sudut ruang gawat darurat saat melihat Alea yang sedang diberikan cairan infus dan mulai tidur dengan lebih tenang setelah demamnya sedikit menurun.
Saat matahari mulai muncul di ufuk timur, Novi akhirnya tiba di rumah sakit dengan wajah yang penuh dengan keterkejutan dan kesedihan. Dia mengenakan pakaian yang masih rapi namun sudah sedikit kusut, rambutnya basah akibat hujan yang masih turun ringan. Dia langsung berlari ke arah Rian dengan mata yang berkaca-kaca, tidak bisa berkata apa-apa melihat wajah suaminya yang penuh dengan kelelahan dan kemarahan.
“Dimana kamu selama ini?” tanya Rian dengan suara yang rendah namun penuh dengan emosi yang terkendali. “Alea sakit parah dan aku harus membawanya ke rumah sakit sendirian di tengah hujan yang deras! Aku mencoba menghubungimu berkali-kali tapi nomormu tidak dapat dihubungi!”
Novi menangis deras mendengar itu. Dia meraih tangan suaminya dengan lembut namun Rian menarik tangannya dengan cepat. “Aku benar-benar menyesal Sayang,” ujarnya dengan suara yang bergetar. “Acara itu berlangsung lebih lama dari yang aku duga, dan sinyal di dalam hotel sangat buruk sehingga aku tidak bisa menerima panggilanmu. Ketika aku pulang dan melihat Hadian yang menangis sendirian di rumah, aku langsung tahu bahwa ada sesuatu yang salah dengan Alea.”
Rian menghela nafas dalam-dalam, mencoba untuk mengendalikan emosinya. Dia tahu bahwa marah pada Novi saat ini tidak akan membantu keadaan apa pun, terutama dengan kondisi Alea yang masih sangat tidak stabil. “Alea sedang dalam perawatan dokter,” ujarnya dengan suara yang lebih tenang. “Dokter bilang dia mengalami infeksi parah akibat demam tinggi yang tidak segera diobati. Dia perlu tinggal di rumah sakit selama beberapa hari lagi.”
Novi menangis lebih deras mendengar itu. Dia ingin segera melihat Alea namun perawat memberitahu bahwa pasien masih perlu istirahat dan tidak boleh diganggu oleh terlalu banyak orang. Dia duduk bersebelahan dengan Rian di ruang tunggu, menangis sambil meminta maaf berkali-kali karena telah meninggalkan anak-anak sendirian dan tidak bisa membantu ketika mereka paling membutuhkannya.
“Kita sudah berbicara berkali-kali tentang pentingnya kamu ada di rumah untuk anak-anak,” ujar Rian dengan suara yang penuh dengan kesedihan. “Aku mengerti bahwa kamu perlu bekerja untuk membantu keuangan keluarga, tapi tidak dengan mengorbankan kesehatan dan keselamatan anak-anak kita! Jika sesuatu yang lebih buruk terjadi pada Alea karena aku tidak bisa membawanya ke rumah sakit tepat waktu, bagaimana kamu bisa hidup dengan rasa bersalah itu?”
Novi tidak bisa menjawab apa-apa selain menangis dan memeluk lututnya dengan erat. Dia menyadari bahwa dia telah membuat kesalahan yang sangat besar dengan terlalu fokus pada pekerjaan dan mengabaikan tanggung jawabnya sebagai ibu. Dia bertekad bahwa jika Alea sembuh dengan baik, dia akan mengubah segalanya – dia akan mengurangi pekerjaan sambilan atau bahkan berhenti sama sekali jika perlu untuk selalu ada di sisi anak-anaknya.
Setelah beberapa jam menunggu, dokter keluar dari ruang perawatan dan memberikan kabar bahwa kondisi Alea sudah mulai membaik. Demamnya sudah turun dan dia sudah bisa sedikit membuka mata serta menyampaikan permintaannya untuk melihat orang tuanya. Rian dan Novi segera masuk ke ruang perawatan dengan hati yang penuh harap dan rasa bersalah.
Alea terlihat sangat lemah namun wajahnya sudah tidak lagi merah seperti sebelumnya. Dia membuka mata dengan susah payah ketika melihat orang tuanya datang, memberikan senyum lembut yang membuat hati Rian dan Novi semakin tertekan.
“Bu Mama… Papa…” ujarnya dengan suara yang lemah. “Aku sakit sekali tadi malam.”
Novi segera mendekat dan membungkus putrinya dengan pelukan yang lembut dan penuh kasih, menangis di pundak Alea yang masih kecil itu. “Maafkan Mama ya Nak,” ujarnya dengan suara yang bergetar. “Mama tidak sengaja meninggalkanmu sendirian ketika kamu sakit. Mama sangat mencintaimu dan tidak akan pernah meninggalkanmu lagi.”
Rian juga mendekat dan mengambil tangan Alea dengan lembut, menciumnya dengan penuh kasih. “Kamu harus kuat ya Nak,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan cinta. “Dokter bilang kamu akan cepat sembuh jika kamu mau minum obat dan istirahat dengan baik. Papa dan Mama akan selalu ada di sini untukmu.”
Mereka menghabiskan seluruh hari di rumah sakit menemani Alea, berbicara dengan lembut dan memberikan dukungan yang dibutuhkan putrinya untuk sembuh dengan cepat. Hadian juga datang mengunjungi adik perempuannya setelah pulang sekolah, membawa gambarannya yang dibuat dengan tangan sendiri untuk membuat Alea merasa lebih baik.
“Sembuhkan diri kamu ya Kakak Alea,” ujar Hadian dengan suara yang penuh dengan perhatian. “Aku akan mengajarkan kamu permainan baru yang aku pelajari di sekolah ketika kamu pulang dari rumah sakit.”
Alea mengangguk dengan senyum dan mengambil gambarannya dengan hati-hati. “Terima kasih Kakak,” ujarnya dengan suara yang sudah mulai lebih kuat. “Aku tidak sabar untuk pulang dan bermain denganmu lagi.”
Ketika malam menjelang, Rian keluar sebentar dari rumah sakit untuk membeli makanan dan menghubungi Kakak Wati untuk memberitahukan tentang kondisi Alea serta meminta bantuan biaya perawatan yang masih belum terbayarkan. Kakak Wati dengan senang hati memberikan bantuan dan bahkan datang mengunjungi Alea dengan membawa makanan yang dibuat khusus untuk membantu putrinya sembuh dengan cepat.
“Kamu harus lebih memperhatikan anak-anakmu Novi,” ujar Kakak Wati dengan suara yang penuh dengan perhatian setelah melihat kondisi Alea. “Pekerjaan memang penting, tapi tidak lebih penting dari kesehatan dan keselamatan anak-anak kita. Kamu tidak akan bisa mendapatkan waktu yang telah berlalu jika sesuatu yang buruk terjadi pada mereka.”
Novi mengangguk dengan penuh rasa bersalah. Dia menyadari bahwa kata-kata kakaknya benar sekali. Dia telah terlalu fokus pada impian untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga sehingga melupakan hal yang paling penting – yaitu kebahagiaan dan kesehatan anak-anaknya yang sangat membutuhkan kehadiran dan perawatan orang tuanya.
Di rumah sakit pada malam itu, Rian dan Novi duduk bersama di sisi ranjang Alea yang sudah tidur pulas setelah minum obat. Mereka tidak banyak berbicara, hanya saling memegang tangan dan merenungkan segala sesuatu yang telah terjadi hari itu. Mereka menyadari bahwa mereka telah belajar pelajaran yang sangat berharga tentang pentingnya mengutamakan keluarga daripada harta benda atau kesuksesan materi.
“Kita harus mengubah segalanya, Sayang,” ujar Novi dengan suara yang lembut. “Aku akan berhenti dari pekerjaan sambilan yang membuatku keluar larut malam. Kita bisa mencari cara lain untuk menghasilkan uang tanpa harus mengorbankan waktu bersama anak-anak. Bahkan jika kita harus hidup lebih sederhana, aku tidak peduli asalkan kita bisa bersama-sama sebagai keluarga yang utuh dan bahagia.”
Rian mengangguk dan memberikan senyum hangat pada istri. Dia merasa sangat lega mendengar kata-kata itu. “Aku juga akan mencari cara untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih stabil dan tidak membuatku harus keluar rumah terlalu lama,” ujarnya dengan suara yang penuh tekad. “Kita bisa mempertimbangkan untuk kembali ke kampung halaman atau memulai usaha kecil sendiri yang bisa kita kelola bersama-sama. Yang penting adalah kita bisa selalu ada di sisi anak-anak dan memberikan mereka cinta serta perhatian yang mereka butuhkan.”
Mereka saling melihat mata satu sama lain, menyadari bahwa mereka telah melalui masa-masa yang sangat sulit namun hal itu telah membuat hubungan mereka semakin erat dan penuh dengan cinta serta pengertian satu sama lain. Mereka berdoa bersama dengan tulus untuk kesembuhan Alea dan untuk diberikan kekuatan serta kebijaksanaan untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi keluarga mereka di masa depan.
Meskipun mereka tahu bahwa masih ada banyak tantangan yang akan datang dan jalan yang akan ditempuh tidak akan mudah, tapi mereka merasa bahwa mereka memiliki segalanya yang mereka butuhkan – cinta, kasih sayang, dan kebersamaan satu sama lain. Dan dengan itu, mereka yakin bahwa mereka akan bisa melalui segala kesulitan yang ada dan memberikan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan serta kedamaian bagi anak-anak mereka yang sangat dicintai.