Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.
Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.
Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.
Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.
Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"
Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Pertama Pak Kades
❤️❤️❤️
Haii pembaca semua.. terima kasih yang sudah mampir ke novelku yang terbaru.. Jangan lupa kritik dan saran yang membangun untuk author ya.. karena aku masih terus belajar untuk terus memperbaiki setiap cerita tulisanku ini..
Oya mohon maaf, ada satu bab yang terlewat update di hari kemarin, dengan judul bab "Kabar yang menggetarkan hati" jadi untuk pembaca agar membaca kelanjutan ceritanya tidak rancu, boleh baca bab kedua diatas ini ya..
Dan maaf bab ini "Badai Pertama Pak Kades" jadi kegeser untuk di upload ulang.. bagi yang sudah baca silakan di skip dan lanjut bab berikutnya..
Terima kasih pengertiannya dan selamat membaca kembali.. 🥰
❤️❤️❤️
3 hari kemudian..
Telepon di meja kerja Arka berdering tanpa henti. Getarannya seperti alarm kematian. Pak Baskara memerintahkan Arka pulang ke Ibu Kota saat itu juga menggunakan mobil jemputan yang sudah dikirimkan ke perbatasan desa. Tidak ada pilihan bagi Arka.
Arka akan hadapi ini semua. Waktu menjelang sore Arka sudah sampai di kediaman kedua orangtuanya, rumah mewah yang sangat kontras dengan kehidupan di Sukamaju.
Di ruang tengah kediaman Baskara, suasana jauh lebih mencekam daripada sebelumnya. Pak Baskara berdiri di dekat jendela besar yang menghadap gedung-gedung pencakar langit Ibu Kota sementara Ibu Arka duduk di sofa dengan wajah cemas.
"Apa yang ada di dalam kepalamu, Arka?!" suara Pak Baskara meledak begitu Arka melangkah masuk.
"Kamu menolak pengembang besar, kamu mempermalukan Papa di depan rekan-rekan kementerian?!"
Arka berdiri tegak, meski badannya lelah setelah perjalanan jauh. "Arka tidak membangkang, Pa. Arka hanya menjaga amanah. Sukamaju bukan aset yang bisa Papa transaksi kan dengan Hermawan."
"Cukup!" Pak Baskara menggebrak meja kayu mahoni di depannya.
"Dengar baik-baik. Papa sudah menyiapkan segalanya. Kamu akan ditarik dari Sukamaju minggu depan. Tugas kamu sudah cukup di Sukamaju, Sukamaju sudah maju kan sekarang? Tugasmu sudah selesai disana. Surat mutasi ke Kementerian Dalam Negeri sudah diproses. Dan mengenai hidupmu, Papa sudah menjalin komunikasi dengan Pak Dirjen. Putrinya, yang lulusan Oxford itu, adalah pasangan yang seimbang untukmu. Tidak ada lagi penolakan!"
Arka menarik napas panjang. Inilah titik puncaknya.
"Arka tidak mau dijodohkan. Dan Arka tidak akan meninggalkan Sukamaju," ucap Arka lirih namun bergetar hebat.
"Apa yang membuatmu begitu keras kepala?! Apa?! Apakah kursi Kades di desa itu lebih mewah daripada karier di kementrian?!" teriak Pak Baskara dengan mata berapi-api.
Arka menatap mata ayahnya dengan kejujuran.
"Bukan kursinya, Pa. Tapi hatinya. Hati Arka sudah tertaut di sana. Arka sudah jatuh cinta pada putri Kiai Hasan. Arka ingin menikahinya, dan Arka memohon kepada Papa dan Mama untuk memberi ijin Arka melamarnya secara resmi."
Keheningan yang dingin tiba-tiba menyergap ruangan itu. Pak Baskara tertegun sejenak, lalu tawa sinis keluar dari mulutnya, tawa yang lebih menyakitkan daripada makian.
"Apa?! Anak Kiai?" Pak Baskara menggelengkan kepala seolah baru saja mendengar lelucon paling konyol abad ini.
"Arka, sadarlah! Kamu sedang melakukan lelucon yang memalukan keluarga kita! Mana mungkin seorang Arka Baskara, yang dibesarkan dengan gaya hidup kota, yang mengaji saja masih terbata-bata, yang salatnya saja masih sering bolong, akan diterima oleh seorang Kiai besar untuk melamar putrinya?!"
Kalimat itu menghujam jantung Arka. Ia tahu itu benar, namun mendengarnya langsung dari ayahnya terasa seperti dikuliti hidup-hidup.
"Kamu pikir hidup di pesantren itu cuma soal cinta? Jangan berpikir karena kamu sudah menjadi imam shalat di pesantren, kamu akan mudah masuk ke dunia pesantren? Tidak semudah itu Arka..!! Pesantren itu soal ilmu, soal martabat agama! Kamu mau datang ke sana membawa apa? Gelar Magister mu dengan nilai sempurna itu? Mereka tidak butuh itu! Kamu hanya akan dipermalukan, Arka! Kamu akan ditendang keluar dari pintu pesantren sebelum sempat mengucap salam!"
Ibu Arka mendekat, mencoba menengahi. "Arka, sayang... Papa benar. Dunia kita dan dunia mereka itu seperti minyak dan air. Kamu akan menderita karena merasa rendah diri di sana. Anak kiai itu mutiara pesantren, dia pasti dicarikan pasangan yang hafal Al-Qur'an, yang alim, yang sepadan juga ilmu agamanya... bukan kamu."
Arka mengepalkan tangannya. "Memang benar Arka belum alim, Ma. Memang benar Arka masih terbata-bata dalam mengaji. Tapi sejak Arka di Sukamaju, Arka belajar setiap malam di rumah Ustadz Yusuf. Arka mulai belajar mengaji dari dasar lagi, Arka belajar hukum tajwid lagi. Arka melakukan itu karena Arka ingin pantas!"
"Pantas?!" potong Pak Baskara dengan nada merendahkan.
"Butuh waktu puluhan tahun untuk menjadi alim, Arka! Jangan hancurkan masa depanmu hanya demi obsesi sesaat pada gadis desa. Papa tidak akan mengizinkanmu kembali ke sana. Mulai malam ini, paspormu dan semua akses keuanganmu Papa sita. Kamu tetap di sini!"
Arka merasa dunianya gelap. Di Sukamaju, ia sedang membangun mimpi warga dan masa depan cintanya. Di sini, ia dipenjara oleh ambisi orang tuanya. Konflik lahan yang dibawa Hermawan kini telah berubah menjadi badai keluarga yang mengancam akan menghancurkan segalanya.
"Papa bisa menyita pasporku, Papa bisa memutus uangku," ujar Arka sebelum berbalik menuju kamarnya. "Tapi Papa tidak bisa mencabut apa yang sudah tumbuh di hati Arka. Arka akan membuktikan pada Papa... bahwa ketulusan bisa melampaui semua ketimpangan yang Papa takutkan."
Malam itu, di kamar masa kecilnya yang mewah, Arka tidak bisa memejamkan mata. Ia meraih mushaf kecil yang selalu ia bawa di dalam tasnya. Dengan suara serak, ia mencoba mengeja ayat demi ayat, berjuang melawan air mata yang jatuh di atas lembaran suci itu. Ia sedang berada di titik terendahnya, namun justru di titik itulah, ia merasa Tuhan sedang mengujinya, seberapa besar ia sungguh-sungguh ingin berubah.
Arka sadar, selama ini ia hanya mengejar dunia dengan kecerdasannya, dengan gelarnya, dan dengan ego kepemimpinannya. Namun malam ini, di hadapan tekanan ayahnya yang begitu menghimpit, ia merasa tidak lebih dari seorang hamba yang fakir.
"Bismillahirrahmannirrahiim..."
Suaranya bergetar, pecah di tengah keheningan kamar yang kedap suara itu. Ia teringat wajah Kiai Hasan yang teduh saat memberikan nasihat di serambi masjid, dan ia teringat sorot mata Zahwa yang selalu penuh kepercayaan. Kontras dengan kemewahan kamar ini yang terasa dingin dan asing baginya sekarang.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk pelan. Arka segera menyeka air matanya dan menutup mushafnya. Ibunya, Bu Karina, masuk dengan wajah yang menyimpan duka mendalam. Ia melihat Arka yang terduduk di atas sajadah, sesuatu yang jarang sekali ia lihat sejak putranya itu beranjak dewasa.
"Arka..." panggil ibunya lirih. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap putra tunggalnya. "Papa sangat marah. Mama belum pernah melihat Papa sekeras ini. Kenapa kamu tidak mengalah sedikit saja, Nak? Ikuti saja kemauan Papa, demi keselamatan Papa juga."
Arka menatap ibunya, matanya masih sembap. "Ma, kalau Arka mengalah, Arka bukan hanya mengkhianati warga Sukamaju, tapi Arka mengkhianati diri Arka sendiri. Selama ini Arka hidup mengikuti bayang-bayang Papa. Di Sukamaju, Arka menemukan jati diri Arka. Arka belajar bahwa hidup bukan soal posisi, tapi soal seberapa bermanfaat kita buat orang lain."
Bu Karina terdiam. Ia melihat perubahan besar pada anaknya. Arka bukan lagi pemuda yang mudah disetir.
"Tapi soal gadis itu...? Bu Karina ragu sejenak. "Papa benar soal satu hal, Nak. Dunia kita berbeda. Apakah kamu siap menghadapi penolakan dari keluarganya nanti? Kamu tahu sendiri betapa Papa merendahkan kemampuanmu."
Arka tersenyum pahit, tangannya mengusap sampul mushaf kecil di pangkuannya. "Mungkin benar kata Papa, Arka belum pantas. Mungkin Arka memang masih terbata-bata. Tapi Ma, Arka tidak akan tahu batas kemampuan Arka kalau Arka menyerah sebelum berjuang. Arka ingin berubah bukan karena Zahwa saja, tapi karena Arka sadar selama ini Arka sudah terlalu jauh dari Tuhan."
"Zahwa..??"
Arka mengangguk.
"Jadi gadis itu bernama Zahwa?"
"Iya Ma.."
Ibunya mendekat, membelai rambut Arka dengan kasih sayang yang tulus. "Mama tidak bisa menjanjikan Papa akan melunak, tapi Mama akan selalu mendoakan mu, lupakan dulu urusan melamar anak Kiai itu, istirahatlah besok pagi Papa ingin kamu menemaninya bertemu Pak Dirjen. Gunakan waktu itu untuk bicara baik-baik."
Setelah ibunya keluar, Arka tidak kembali ke tempat tidur. Ia bersujud lama di atas sajadahnya. Ia menyadari bahwa ujian ini adalah jalan pembersihan bagi jiwanya. Jika ia bisa melewati badai di rumahnya sendiri, maka ia akan lebih kuat menghadapi badai di Sukamaju.
...🌻🌻🌻...