Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.
dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semut Melawan Gajah
Reza berdiri di depan papan tulis putih yang penuh dengan coretan rute pengiriman. Penampilannya masih sederhana kaos berkerah dan celana kargo tapi aura kepemimpinannya kini tak terbantahkan. Ia tidak memimpin dengan instruksi kaku, melainkan dengan teladan. Para anggotanya adalah mantan pengangguran, korban PHK, hingga mantan narapidana yang ingin bertobat lewat aspal.
"Aturan kita sederhana," kata Reza di depan para kurirnya pagi itu. "Barang pelanggan adalah amanah. Jangan dikurangi, jangan dibanting, dan yang paling penting: jangan pernah minta tips tambahan. Biar pelayanan kita yang bicara."
Namun, kesuksesan kecil ini mulai mengusik ketenangan raksasa logistik di Jakarta. Sebuah perusahaan bernama Metro Express mulai merasa terganggu karena beberapa vendor besar di Bogor dan Depok mulai mengalihkan kontrak pengiriman mereka ke koperasi milik Reza. Alasan mereka sederhana: kurir Reza lebih manusiawi dan barang jarang sekali rusak atau hilang.
Suatu siang, sebuah mobil mewah jauh lebih mewah dari milik Gery dulu berhenti di depan gudang koperasi nya . Seorang pria dengan setelan jas slim-fit dan kacamata hitam turun dengan angkuh. Namanya adalah Mahendra, manajer operasional wilayah dari Metro Express.
"Jadi, kamu yang namanya Reza?" tanya Mahendra sambil melihat gudang Reza yang hanya menggunakan kipas angin dinding untuk mendinginkan ruangan. "Saya pikir kamu punya kantor di gedung bertingkat, ternyata cuma garasi yang dicat ulang."
Reza meletakkan bundel nota pengirimannya. "Gedung tinggi tidak menjamin paket sampai tepat waktu, Pak Mahendra. Ada yang bisa saya bantu?"
Mahendra tersenyum sinis. "Saya ke sini untuk memberi penawaran. Metro Express ingin mengakuisisi koperasi kecilmu ini. Kami beri kamu posisi manajer area dan uang tunai yang cukup untuk membeli rumah yang lebih layak daripada rumah petakmu sekarang. Syaratnya: tutup koperasimu, serahkan database vendormu pada kami."
Reza melirik Budi yang sedang memanaskan motor di luar. Budi hanya memberikan kode jempol ke bawah.
"Terima kasih atas tawarannya, Pak. Tapi koperasi ini bukan milik saya pribadi. Ini milik semua orang yang ada di sini. Dan mereka lebih suka menjadi pemilik nasibnya sendiri daripada menjadi angka di spreadsheet perusahaan Bapak," jawab Reza tenang.
Wajah Mahendra berubah gelap. "Jangan sombong, Reza. Kamu itu cuma semut.
Kalau kamu menolak kerja sama ini, saya pastikan seminggu lagi vendor-vendormu akan memutus kontrak. Kami punya kekuatan untuk memberikan diskon yang tidak akan bisa kamu tandingi. Kami bisa membakar uang sampai kamu bangkrut."
"Silakan dicoba, Pak," Reza berdiri, memberikan gestur pintu keluar. "Tapi ingat satu hal: Bapak punya uang untuk membakar pasar, tapi kami punya kepercayaan dari orang-orang. Dan kepercayaan tidak bisa dibakar dengan diskon."
Ancaman Mahendra bukan gertakan sambal. Keesokan harinya, tiga vendor utama sayur organik dan kerajinan tangan di Bogor menelpon Reza. Mereka meminta maaf karena Metro Express memberikan harga pengiriman yang tidak masuk akal hampir gratis untuk enam bulan ke depan.
"Za, kita kehilangan kontrak Toko Hijau dan Bengkel Seni," kata Budi dengan nada lesu. "Kalau begini terus, kita nggak akan bisa bayar uang bensin anggota minggu depan."
Reza terdiam di mejanya. Ia teringat masa-masa ia hampir gantung diri. Saat itu, ia menyerah karena merasa tidak punya pilihan. Tapi sekarang, ia punya tanggung jawab. Ia punya Anya yang sedang menyuapi Fajar di rumah. Ia punya Budi. Ia punya tiga puluh keluarga yang menggantungkan hidup di K.KJ.
"Kita tidak akan perang harga, Bud," kata Reza tiba-tiba. Matanya berkilat. "Kita akan perang pelayanan dan transparansi."
Malam itu, Reza tidak tidur. Ia membuka laptop tuanya. Jiwa "anak startup" yang dulu ia benci kini ia panggil kembali. Ia membuat sebuah sistem aplikasi sederhana berbasis web yang memungkinkan pelanggan melihat wajah kurir mereka, melihat riwayat hidup singkat si kurir, dan yang paling unik: pelanggan bisa memberikan "donasi pendidikan" langsung ke rekening keluarga kurir jika mereka puas.
Ia menamai fitur itu "Keluarga Kurir ".
"Kita bukan sekadar kirim paket," jelas Reza pada anggotanya besok pagi. "Kita sedang membangun hubungan antar manusia. Beritahu pelanggan bahwa dengan memakai jasa kita, mereka sedang membantu menyekolahkan anak-anak kalian, bukan membantu bos besar di Jakarta beli jet pribadi baru."
Kampanye "pilih manusia, bukan mesin" itu meledak di media sosial. Anya ikut membantu dengan membuat konten video pendek tentang keseharian para kurir K.KJ bagaimana mereka berjuang menembus hujan demi paket kecil, dan bagaimana mereka pulang disambut anak istri dengan penuh syukur.
Narasi itu menyentuh hati masyarakat. Orang-orang mulai sadar bahwa selisih harga lima ribu rupiah dengan Metro Express tidak ada artinya dibandingkan dengan kepuasan membantu sesama manusia. Satu per satu, vendor yang tadinya pindah, kembali ke K.KJ. Mereka merasa lebih tenang jika paket mereka dibawa oleh orang yang mereka kenal namanya, bukan sekadar nomor identitas karyawan.
Mahendra kembali datang sebulan kemudian, tapi kali ini ia tidak turun dari mobil. Ia hanya menurunkan kaca jendela, menatap Reza dengan penuh kekalahan. Metro Express merugi besar karena strategi "bakar uang" mereka gagal total di wilayah Bogor.
"Kamu beruntung, Reza," teriak Mahendra.
"Bukan beruntung, Pak. Saya hanya punya alasan untuk tidak menyerah," sahut Reza dari kejauhan.
Sore itu, hujan turun dengan deras. Reza duduk di depan gudang, menyeruput kopi bersama Budi. Ia melihat Fajar yang sedang digendong Anya datang membawakannya payung.
Reza menyadari bahwa rencananya untuk mati dulu adalah puncak dari kesombongannya yang merasa bisa mengontrol akhir dari segalanya. Sekarang, ia membiarkan hidup mengalir, dengan segala kerumitan dan tantangannya. Ternyata, menjadi semut yang berani melawan gajah jauh lebih terhormat daripada menjadi pemenang yang sendirian.
"Za," panggil Anya. "Fajar sudah bisa memanggil 'Papa'."
Reza tersenyum, merasakan hangat di dadanya. "Itu lebih penting dari pada semua kontrak di dunia ini, Anya."
Tali kuning yang dulu melilit lehernya kini hanyalah sebuah cerita lama yang ia ceritakan pada anggotanya sebagai pengingat: bahwa tidak ada lubang yang terlalu dalam untuk dipanjat, asalkan kita punya seseorang yang menunggu di atas.