Semua akan hadir jika kita sedang memiliki harta benda, Rumah yang mewah , harta dimana mana, semua akan di anggap KELUARGA jika kita punya segalanya, Tapi coba lihat jika kita sedang tidak punya apa apa, jangankan di anggap keluarga di tanya kabar pun tidak akan pernah, Uang yang berbicara, uang yang membuat lingkungan keluarga menjadi Cemara dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coretan Hitam.Id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika kita susah
Selama di kampung pak Warto hanya bekerja di ladang orang tua nya saja, kadang mengurus sawah. dan kadang juga mencari rumput untuk makan kambing. upah tidak seberapa sehari hanya dua puluh ribu rupiah saja , dan dapat makan sebungkus nasi dan juga teman nasi nya seperti tempe, tahu. atau telor dadar, kadang pula ayam goreng sepotong saja, tapi pak Warto tidak pernah memakan nya, ia memberikan nya kepada Bu Arumi atau kadang Lesi untuk makan berdua, sedangkan ia memakan lauk seadan nya yang di sediakan oleh bu Arumi.
"Ini bu Uang hari ini" Ucap Pak Warto memberikan uang berwarna hijau selembar kepada istrinya, Bu Arumi menerimanya.
" Pak, Gimana ini, besok kita makan apa, beras tinggal untuk hari ini saja, Ini uang palingan buat bayar listrik Pak" Keluh bu Arumi memandangi uang yang ia pegang.
pak Warto menghela napas, dan memandang lurus ke depan, " Ya mudahan, besok bapak dapat kerjaan lebih bu, biar kita bisa makan lagi " Tutur Pak Warto.
Bu Arumi hanya bisa pasrah dengan takdir yang sedang mereka alami.
"Bu , pak Maaf ya Akhir akhir ini Lesi gak bisa ngasih uang, karena Online nya Lesi gak Rame kayak kemarin " keluh Lesi membuka keheningan.
" Gak apa apa kok ,Ibu ngerti " Timbal Bu Arumi, dengan mimik muka sedih.
" Ibu nanti coba pinjam ke Ratna ya, Karena ibu lihat dia habis belanja belanja , siapa tau masih ada uang " Tutur bu Arumi.
***
Bu Arumi mengetuk pintu rumah Ratna.
" Ratna ?, ada di rumah gak ?" panggil bu Arumi.
seseorang membuka pintu rumah nya , pas pintu terbuka Tercium aroma Ayam goreng yang menyeruak ke luar, sampai Bu Arumi perut nya berbunyi mencium aroma nya.
" Mau ngasih apa bu ?" Tanya seseorang yang membukakan pintu, terlihat Rizi di depan pintu sambil melihat lengan Bu Arumi.
" Ouh gak ada nak, ibu mau ketemu mama mu ,ada ?" Tanya Bu Arumi.
Riza langsung menyelengos ke dalam dan tak lama Ratna keluar.
" Ada apa, bu ?" tanya nya Ketus, matanya seperti menyelidik Bu Arumi.
" ini loh, aku mau pinjam uang ada gak ?, aku gak ada beras " Timbal Bu Arumi dengan senyuman , Agar Ratna mengerti dengan keadaan nya.
Ratna memutar bola matanya jengah. " Kirain ada apa tau nya pinjem uang, Gak ada ya" Pintasnya dengan nada sedikit membentak.
" Ya udah , ibu mau nagih uang yang waktu kamu pinjam buat bayar mingguan , apa sudah ada ?" Ungkap Bu Arumi.
Ratna melotot , memandang tajam bu Arumi, " DI BILANG GAK ADA YA GAK ADA, GAK NGERTI APA AKU NGOMONG, APA GAK DENGER ?" teriak Ratna lalu ia kembali masuk, saraya membanting pintu rumahnya, Bu Arumi sampai terkejut di buatnya.
" Ya allah, Astagfirullah , orang kok begitu ya, gak kayak waktu pinjem. lemah lembut " Gerutu bu Arumi sambil berjalan ke rumahnya.
Lesi yang berada di teras rumah , terus memandang ke arah ibu nya itu.
" Kenapa sih tuh orang sampe marah gitu, kayak dia gak pernah susah aja ?" Tanya Lesi yang sempat mendengar teriakan Ratna.
" itu ibu tagih uang yang waktu dia pinjam buat bayar bank emok loh , tapi tuh malah sewot, sampe banting pintu " Jelas bu Arumi seraya duduk di samping Lesi.
" Beneran gil* tuh orang bu, pengen enak sendiri terus, dia bantu orang gak mau , pengen nya dia yang di kasih dan di bantu orang melulu " Tutur Lesi.
Bu Arumi menghela napas gusar , " Apa ibu pinjam dulu aja kali ya, ke bi Semi ?, nanti kalo udah dapat uang ibu bayar " Tanya Bu Arumi.
" Ya udah nanti aku antar ya bu, Aku takut kayak dulu dulu, ibu balik dari rumah Bi Semi ibu nangis nangis lagi " Khawatir Lesi, takut akan kejadian dahulu terulang.
bu Arumi hanya mengangguk patuh kepada anak kesayangan nya itu.
***
Lesi dan bu Arumi pun sore sore datang ke rumah Bi Semi, kebetulan Bi Semi rumahnya bersebelahan dengan om Aryo , dan kebetulan juga Om Aryo pun ada di sana sedang makan.
memang kebiasaan Om Aryo ketika datang ke rumah sodaranya pasti ia meminta makan, tidak tanggung tanggung dia mengambil nasi hampir penuh sepiring, tapi itu akan habis ia makan saat itu juga, tapi sudah lama ia tidak meminta makan kepada Bu Arumi, mungkin karena ada Bi Semi, dulu Bi Semi tidak ada di rumah bahkan jarang, karena membantu menjaga warung suaminya di kota, sekarang ia tidak ikut suaminya lagi, karena ada anak nya yang masih Sekolah Dasar yang tidak mungkin harus di tinggalkan.
" Maaf Semi, aku boleh pinjam uang gak, Tiga puluh ribu saja , nanti aku ganti " Tutur Bu Arumi.
Bi Semi muka nya di tekuk, dan bahkan sejak bu Arumi dan Lesi datang pun ia tidak menegurnya sama sekali, begitu pula dengan Om Aryo, mereka seperti tidak melihat Lesi dan Bu Arumi.
" Gak ada , suami ku belom kirim uang " Jawabnya ketus tanpa ada ekpresi di wajahnya.
" kalo kamu Aryo ada gak, kan kamu kerja terus ?" Tanya bu Arumi kepada Adik laki laki nya , yang sedang lahap makan.
" Aku kerja juga buat diri aku, gak bakalan aku ngasih pinjem orang lain, Takut gak di bayar " Ungkap Om Aryo tanpa melihat ke arah Bu Arumi.
" Tapi kan ibu bukan orang lain, dia sodara om ?" Jawab Lesi , Lesi sebenarnya sudah muak kepada sodara sodara kandung ibu nya ini, mereka akan menghina ibu di depan nya.
" Kenapa sih , ya namanya gak ada ya gak ada, mau nge'bangkrutin suami gue apa ya ?, pada nyusahin aja " Sewot bi Semi dengan Nada yang di tekan.
Lesi mengepalkan tangan nya kuat kuat, Rahangnya sudah tidak tahan menahan emosinya yang mendidih.
BRAKKK.
Lesi mengebrak meja di depan bi Semi, sampai Bi Semi akhirnya berpandangan dengan Lesi dan bu Arumi.
" Kapan ibu aku bikin bangkrut suami mu hah ?, kapan kita menyusahkan kalian ? " teriak tegas Lesi, ia tidak lepas menatap Bi Semi yang wajahnya sudah merah padam.
Bu Arumi menahan dan menarik Lesi keluar rumah Bi Semi.
" Sudah Lesi , Sudah, Kontrol emosi kamu " Bujuk Bu Arumi.
" AKU DOAKAN BANGKRUT BENERAN , Pyuhhh " teriak Lesi dari luar, dan ia meludah ke arah pintu utama Bi Semi.
Sakit hati ?, jelas, mereka gak meminta pinjaman besarz hanya sekedar Tiga puluh ribu rupiah saja, tapi mereka mendapatkan kata kata yang menyakitkan, dan jika di sana ada orang lain, orang itu pasti akan percaya jika keluarga nya bikin bangkrut dan menyusahkan. padahal bu Arumi baru ini saja meminta pinjaman, sebelumnya tidak.
sebegitu di jauhi nya ya jadi orang tidak punya harta benda !!.
HARTA , TAHTA , BARU DI HARGAI.