Kisah ini lanjutan dari KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS seasons 1
Banyak adegan kasar dan umpatan di dalam novel ini.
Cerita akan di mulai dengan Cassia, si Antagonis yang mendapatkan kesempatan terlahir kembali, di sini semua rahasia akan di ungkap, intrik, ancaman, musuh dalam selimut dan konflik besar, kisah lebih seru dan menegangkan.
Jangan lupa baca novel KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS season 1 agar makin nyambung ceritanya. Happy reading!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Kediaman keluarga Smith di penuh ketegangan yang terasa pengap, ruang tamu itu bukan hanya sebuah ruangan. Namun, seperti sebuah medan perang tak terlihat.
"Nafisha, kamu jelas tahu kalau Amelia membutuhkan darah mu, maka hari ini persiapkan dirimu untuk donor hari ini!" suara Lucas terdengar seperti belati yang menancap di jantung Nafisha.
"Dad, apakah kalian tega? Aku ini putri kandung kenapa harus aku yang berkorban itu demi putri angkat?" tanya Nafisha, dia sakit perasaannya tak nyaman saat melihat kedua orang tuanya lebh menyayangi Amelia.
"Putri kandung Smith bukan wanita kejam seperti kamu, Nafisha!" teriak Liam, wajahnya memerah memancarkan kemarahan yang tak dapat lagi ia bendung.
"Aku kejam? Apakah begitu? Jelas Amelia yang membuat gara-gara dia licik dan ia ingin aku pergi dari sini, kenapa kalian tidak percaya?" ungkap Nafisha, dia menatap kedua orang tua dan Kakak kandungnya yang jelas nampak tak peduli.
"Karena kau memang wanita kejam, Nafisha, jelas Amelia jauh lebih baik dari kamu karena dia mendapatkan didikan baik dari Smith, sedangkan kau? Entah siapa yang membesarkan kamu?" Liam terus menyindir kejam, melontarkan serangan bagaimana jarum racun yang menghantam terus jantung Nafisha hingga berdarah.
Tak ada yang membela, seolah apa yang Liam katakan adalah kebenaran, apalagi rekaman CCTV jelas menunjukkan Nafisha menyerang Amelia lebih dulu di tangga saat gadis itu akan kembali ke kamar.
Namun, kebenaran adalah sesuatu yang langka. Karena pada kenyataannya itu mungkin jauh dari ekspektasi yang mereka bayangkan.
Keadaan ruang tamu menjadi dingin, tatapan demi tatapan juga serangan yang di hantamkan Liam membuat Nafisha hanya mampu diam, mengumpat dengan perasaan sakit yang tak bisa ia jelaskan.
Dering ponsel memecah keadaan, ruangan yang senyap dan hanya denting jam yang membuat gaduh kecil di sana.
"Halo!" sapa Liam. Suaranya serak, sebab itu pihak rumah sakit.
"Tuan Muda, apa donor darahnya sudah ada? Keadaan Nona Amelia tak bisa terus menunggu!" suara dokter khusus yang menangani Amelia berucap, penuh ketegangan yang mencekik Liam. Juga kedua orang tua yang mendengarkan pula.
Luka Amelia memang tak parah. Namun, tekanan berlebih dan trauma yang ia hadapani membuat Amelia membutuhkan tranfusi darah lebih cepat dari biasanya.
Liam tercekat, dia menatap Nafisha dalam diam. Namun, sorot matanya menunjukkan sesuatu yang seakan siap ia pertaruhkan oleh pria itu."Dok, pendonor sudah ada, saya akan bawa dia ke sana!" suara Liam membuat tubuh Nafisha menegang dengan jantung yang berdetak cepat.
Nafisha diam, mengamati dan hanya menjadi pendengar dari setiap kata yang Liam lontarkan, dia mengepalkan tangannya seolah semua kebencian yang ia tanam siap meledak untuk menghancurkan siapapun.
'Terkutuk kau Amelia!' jerit Nafisha dalam keheningan yang mencekik kenyamanan yang selama ini tak pernah hadir sejak kehancurannya rumah tangganya bersama Darian.
...****************...
Darian duduk terpaku di ruang kerjanya yang sunyi, matanya menyapu setiap baris berkas perjanjian yang sudah disiapkannya dengan cermat.
"Semuanya sudah siap," gumamnya pelan, berusaha meyakinkan diri sendiri.
Namun, getaran gelisah merayap di dadanya, sebuah perasaan dingin yang berusaha ia abaikan meski. Ia menepisnya sebagai anggapan itu efek dari kelelahan usai berhari-hari menyusun dokumen demi dokumen dengan detail yang melelahkan.
Sementara itu, dua sosok asing melaju tenang di dalam mobil menuju kantor Darian. Suara rendah memenuhi ruang di dalamnya yang remang, mengandung rencana tersembunyi yang kelam.
"Apakah berkas itu sudah kamu siapkan? Kamu yakin dia tak akan curiga sedikit pun?" tanya salah satu dengan nada penuh keraguan.
"Santai saja. Semuanya sudah terancang rapi. Dia tidak akan tahu apa-apa sampai semuanya terlambat," jawab yang lain dengan senyum dingin yang menggantung di bibirnya, menebar bahaya di balik ketenangan yang palsu.
Di balik pintu ruang kerja Darian, bayangan pengkhianatan itu sudah mengintai siap menghancurkan semua yang telah ia bangun dengan darah dan air mata.
"Bagus! Ingat, jangan sampai kau terkecoh oleh berkas perjanjian yang akan dibawanya nanti. Pastikan salinan yang telah kau buat tepat dan siap ditukar dengan miliknya tanpa cela!" titahnya dengan suara bergetar, penuh waspada namun mengandung perintah tak terbantahkan.
Asisten itu mengangguk, menatap dengan mata tajam. "Tuan, semua sudah berjalan sesuai rencana," jawabnya penuh keyakinan, suaranya tegas dan tanpa keraguan.
Pria itu membalas dengan senyum licik, kepuasan memenuhi setiap sudut wajahnya. Selama ini, mereka tak pernah terendus oleh siapapun pekerjaan kotor itu selalu berlangsung dalam bayang-bayang tanpa satu pun cahaya kebenaran menyingkapnya.
Kini, target mereka jauh lebih menggoda salah satu orang terkaya di kota Wonderland. Mereka tidak akan membiarkan kesempatan emas ini lewat begitu saja.
Ini adalah pertaruhan terbesar mereka satu langkah salah, dan segalanya bisa hancur lebur.
...****************...
Tak lama kemudian, mobil mewah itu meluncur halus berhenti di depan gedung megah milik perusahaan Parker.
Mereka turun dengan langkah mantap, seolah tiap tapak kakinya menggema penuh percaya diri di lantai marmer.
Sang asisten tanpa ragu segera melangkah ke meja resepsionis, suaranya mengandung wibawa saat menyampaikan tujuan kedatangan mereka.
“Selamat pagi, kami mewakili perusahaan asing dan ingin bertemu langsung dengan tuan muda Darian. Janji pertemuan sudah kami buat sebelumnya,” ucapnya tegas, tatapannya tak teralihkan.
Resepsionis membalas dengan sopan namun tetap terjaga kewaspadaannya, “Baik, mohon tunggu sebentar. Saya akan segera menyampaikan.” Suaranya bagai pengantar ke sebuah babak baru yang penuh ketegangan dan harapan.
Lima menit kemudian. Setelah menerima kabar dari resepsionis, Darian melangkah turun bersama asistennya dengan langkah mantap.
Senyum tipis mengukir di bibirnya, namun matanya menyimpan gelisah tak terucap. Ia menghampiri kedua kliennya, jabat tangannya kuat namun terkendali.
“Maaf membuat kalian menunggu,” suaranya tenang.
“Tidak, Tuan Muda Darian, kami baru saja sampai,” suara bos perusahaan asing menjawabnya dengan tenang.
Darian menatapnya, sorot matanya membara di balik keremangan lorong gedung. “Baiklah, kita tidak punya waktu untuk menunggu. Mari, menuju ruang rapat,” katanya.
Tanpa sepatah kata lagi, mereka mengikuti langkah Darian, menuju ruangan yang telah disiapkan, tiap langkahnya membawa beban ketegangan yang menumpuk menjelang pertemuan penting yang bisa mengubah segalanya.
selalu d berikan kesehatan 😃