Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN PERTAMA DENGAN KONSELOR TENTANG MASALAH SELINGKUH
Setelah beberapa minggu masing-masing menjalani konseling pribadi, Arini dan Rizky akhirnya sepakat untuk menghadiri sesi konseling keluarga bersama.
Hari H tiba pada hari Sabtu pagi – cuaca cerah dengan sedikit awan putih yang melayang di langit biru.
Kedua orang tua itu berangkat bersama dari rumah ibunda Arini, sambil menjemput Tara yang akan ditempatkan di rumah teman sebentar agar mereka bisa fokus pada sesi konseling.
Mereka tiba di kantor konseling keluarga yang terletak di kawasan yang tenang dan hijau.
Gedungnya tidak terlalu besar, namun memiliki taman yang indah dengan berbagai jenis tanaman dan bunga yang membuat suasana menjadi lebih menenangkan.
Saat mereka masuk, resepsionis yang ramah menyambut mereka dan mengantar mereka ke ruangan konseling yang telah disiapkan.
Ruangan tersebut dihiasi dengan sofa lembut berwarna coklat muda, karpet tebal yang membuat langkah kaki menjadi tidak terdengar, dan beberapa tanaman hias yang memberikan sentuhan alam yang menyegarkan.
Di sudut ruangan terdapat rak buku dengan berbagai buku tentang hubungan perkawinan dan kesehatan mental perkawinan dan kesehatan mental.
Tak lama kemudian, seorang pria berusia sekitar empat puluhan dengan senyum hangat memasuki ruangan.
"Saya adalah Pak Herman, konselor keluarga yang akan menemani Anda berdua hari ini," ujarnya sambil memberikan jabat tangan kepada Arini dan Rizky. "Silakan duduk dan santai saja ya. Kita bisa mulai ketika Anda berdua merasa siap."
Mereka duduk bersebelahan di sofa tersebut, sedikit canggung dan tidak tahu harus mulai dari mana.
Pak Herman melihat mereka dengan tatapan yang penuh pengertian dan mulai membuka percakapan dengan pertanyaan sederhana tentang bagaimana perasaan mereka saat ini dan apa yang membuat mereka memutuskan untuk datang ke sesi konseling keluarga.
"Saya merasa bahwa kita sudah cukup baik masing-masing dalam mengatasi perasaan kita," ujar Rizky dengan suara lembut, memegang tangan Arini dengan lembut. "Namun kita menyadari bahwa untuk membangun kembali hubungan kita dan keluarga kita yang bahagia, kita perlu bantuan untuk memahami bagaimana cara berkomunikasi dengan lebih baik dan mengatasi masalah yang ada di antara kita."
Arini mengangguk menyetujui kata-kata suaminya. "Ya, saya merasa bahwa saya sudah mulai bisa menerima apa yang telah terjadi dan memaafkannya," tambahnya. "Namun saya masih merasa sulit untuk sepenuhnya mempercayai lagi, dan saya tahu bahwa kita perlu belajar bersama bagaimana cara membangun kembali kepercayaan tersebut."
Pak Herman mendengarkan dengan saksama dan kemudian mulai menjelaskan tentang proses konseling keluarga yang akan mereka jalani.
Ia menjelaskan bahwa tujuan utama dari konseling ini bukanlah untuk menyalahkan salah satu pihak, melainkan untuk membantu mereka berdua memahami akar masalah yang menyebabkan terjadinya pengkhianatan, belajar dari kesalahan tersebut, dan membangun hubungan yang lebih sehat dan kuat berdasarkan saling pengertian dan rasa hormat.
"Pengkhianatan dalam perkawinan adalah peristiwa yang sangat menyakitkan dan bisa merusak fondasi hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun," ujar Pak Herman dengan suara yang tenang dan jelas.
"Namun penting untuk diingat bahwa tidak ada hubungan yang sempurna, dan setiap pasangan memiliki kesempatan untuk memperbaiki dan memperkuat hubungan mereka – asalkan kedua pihak memiliki keinginan yang tulus dan bersedia bekerja keras untuk itu."
Selama sesi pertama yang berlangsung selama hampir tiga jam, Pak Herman mengajak mereka berdua untuk berbagi perspektif masing-masing tentang apa yang telah terjadi.
Rizky kembali menceritakan tentang tekanan yang ia rasakan dari pekerjaan dan harapan keluarga, bagaimana ia merasa tidak dipahami dan terlupakan, serta bagaimana ia menyadari bahwa tindakan salahnya tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun.
Arini juga berbagi tentang perasaan sakit hati, kecewa, dan kebingungan yang ia rasakan ketika pertama kali mengetahui tentang pengkhianatan tersebut.
Ia menceritakan bagaimana ia berjuang untuk melindungi Tara dari dampak buruknya dan bagaimana ia akhirnya memutuskan untuk memberikan kesempatan kedua pada Rizky karena ia masih mencintainya dan ingin keluarga mereka tetap utuh.
"Kamu harus mengerti bahwa kepercayaan tidak bisa dibangun kembali dalam semalam," ujar Pak Herman setelah mereka selesai berbicara.
"Ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan usaha yang konsisten dari kedua pihak. Rizky, kamu perlu menunjukkan dengan tindakan nyata bahwa kamu berubah dan bisa dipercaya lagi. Sedangkan Arini, kamu perlu memberikan ruang dan kesempatan bagi Rizky untuk membuktikan dirinya, sekaligus memberikan diri kamu waktu untuk menyembuhkan dan belajar untuk mempercayai lagi."
Pak Herman kemudian memberikan beberapa latihan komunikasi yang bisa mereka lakukan di rumah – antara lain mengatur waktu khusus setiap hari untuk berbicara satu sama lain tanpa gangguan, belajar untuk mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa menginterupsi, dan mengungkapkan perasaan dengan jujur namun tetap menghormati perasaan pihak lain.
Ia juga menyarankan mereka untuk membuat perjanjian bersama tentang bagaimana mereka akan menghadapi tantangan dan masalah di masa depan, termasuk bagaimana cara mengatasi tekanan dan stres yang mungkin muncul tanpa harus mencari pelarian yang salah.
"Sangat penting untuk membangun fondasi hubungan yang baru – fondasi yang lebih kuat dan lebih sehat daripada sebelumnya," tambah Pak Herman.
"Kamu berdua perlu belajar untuk mengenal satu sama lain kembali, karena orang yang kamu nikahi beberapa tahun yang lalu mungkin sudah berbeda dengan orang yang ada di depanmu sekarang. Dan itu bukanlah hal yang buruk – pertumbuhan adalah bagian alami dari kehidupan dan hubungan."
Sebelum sesi berakhir, Pak Herman mengajak mereka untuk membuat tujuan bersama yang ingin mereka capai melalui konseling keluarga.
Rizky dan Arini sepakat bahwa tujuan utama mereka adalah membangun kembali kepercayaan dan hubungan yang sehat, memberikan lingkungan keluarga yang bahagia dan penuh cinta bagi Tara, serta belajar untuk menghadapi segala tantangan hidup bersama sebagai pasangan yang solid.
"Saya tahu bahwa jalan yang akan kita lalui tidak akan mudah," ujar Rizky dengan suara yang penuh tekad, melihat mata istri nya dengan penuh cinta. "Namun saya berjanji bahwa saya akan melakukan apa saja untuk membuktikan bahwa saya layak untuk dipercaya lagi dan bahwa saya mencintai kamu serta Tara dengan sepenuh hati."
Arini mengambil tangan suaminya dengan erat dan memberikan senyum yang penuh harapan.
"Saya juga berjanji bahwa saya akan memberikan kamu kesempatan untuk membuktikan dirimu dan bahwa saya akan berusaha untuk mempercayai lagi," ujarnya dengan suara yang lembut namun tegas. "Kita telah melalui banyak hal bersama, dan saya tahu bahwa cinta kita cukup kuat untuk mengatasi segala rintangan."
Setelah sesi konseling selesai, mereka pergi menjemput Tara dari rumah teman. Anak kecil itu langsung berlari ke arah mereka dengan wajah yang ceria, memeluk kedua orang tuanya dengan erat.
Mereka kemudian pergi makan siang bersama di restoran kesukaan mereka – sebuah restoran kecil yang menyajikan makanan tradisional dengan rasa yang khas.
Selama makan siang, mereka berbicara dengan lebih terbuka dan jujur daripada sebelumnya.
Mereka berbagi tentang hal-hal kecil yang mereka nikmati dalam hidup sehari-hari, rencana mereka untuk masa depan, dan bagaimana mereka akan bekerja sama untuk membuat keluarga mereka lebih bahagia.
Tara ikut serta dalam percakapan dengan cerita-cerita lucu dari sekolahnya, membuat kedua orang tuanya tertawa terbahak-bahak.
Saat sore hari mulai menjelang, mereka pulang ke rumah ibunda Arini. Rizky membantu Arini memasak makan malam sambil Tara bermain dengan mainannya di ruang tamu.
Suara tawa dan candaan mereka kembali mengisi rumah tersebut, memberikan suasana yang hangat dan penuh cinta seperti dulu.
Setelah Tara tertidur, Arini dan Rizky duduk bersama di teras belakang rumah sambil menikmati secangkir teh hangat.
Mereka melihat matahari yang mulai terbenam dengan warna jingga dan merah yang indah, memberikan pemandangan yang menenangkan dan penuh harapan.
"Sesi konseling hari ini benar-benar membantu kita melihat segala sesuatu dengan lebih jelas," ujar Arini dengan suara lembut, bersandar pada bahu suaminya. "Saya merasa lebih yakin bahwa kita bisa membangun kembali keluarga kita yang bahagia."
Rizky mencium kepala istri nya dengan penuh cinta. "Ya sayang," ujarnya dengan suara yang penuh rasa syukur.