NovelToon NovelToon
Pak Polisi Penyembuh Luka

Pak Polisi Penyembuh Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Trauma masa lalu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu

Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.

“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPPL 10

“Lho, sudah sehat kamu?” Zaidan cukup terkejut melihat Zahra yang tengah berjalan di lorong kantor polisi.

“Sudah, Pak. Infusan saya juga sudah dilepas. Kata dokternya bisa rawat jalan saja. Saya juga sudah diberikan obat,” jawab Zahra sambil mengangkat kantung plastik kecil bening. Zaidan bisa lihat jika disana banyak obat-obatan.

“Kenapa mereka nggak hubungi aku, ya,” gumam Zaidan. Ia langsung merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Ia memang melihat dua panggilan tak terjawan dari dokter di klinik itu. Sepertinya terlewat olehnya panggilan itu ketika dirinya tengah sibuk tadi.

“Saya harus kemana, Pak?” tanya Zahra yang langsung membuat Zaidan kembali fokus dengannya.

“Kamu sudah boleh langsung pulang. Semua berkasnya sudah dilengkapi. Nanti kamu tinggal tunggu panggilan buat sidang.”

“Sidang, Pak?” tanya Zahra terkejut. Ketakutan kembali melandanya.

“Maaf, tapi untuk itu saya tidak bisa menolong kamu. Tapi tenang saja… hukumannya pasti tidak berat, karena alasan kamu kuat untuk melakukan itu,” jelas Zaidan yang mencoba menenangkan Zahra.

“Saya akan dipenjara, Pak?” tanyanya dengan nada yang gemetar.

Bayangan dirinya akan dipenjara dalam waktu yang lama, dan kesehatan sang ibu yang mungkin akan semakin menurun ketika ia harus dipenjara, Semua bayangan buruk menjalar di hadapannya kini.

“Jangan berpikir yang jelek dulu sekarang. Kita tidak tahu ke depannya gimana. Tapi… saya yakin kamu akan bebas dari hukuman nanti,” ucap Zaidan dengan penuh keyakinan.

Zahra yang semula menundukkan wajahnya, kini mengangkatnya secara perlahan. Ia tatap lekat wajah polisi yang sudah banyak menolongnya itu. Entah bagaimana, ia mulai mempercayai setiap kata yang keluar dari mulut Zaidan. Rasanya bukan hanya sebagai penyemangat semata.

“Terima kasih, Pak. Kalau memang begitu, saya pulang dulu,” pamitnya.

“Tunggu!” Zaidan mencegah Zahra yang hendak membalikkan tubuhnya.

“Kamu pulangnya gimana?” tanyanya.

“Saya bawa motor, Pak.”

Zaidan langsung menolak cepat. “Tidak… tidak bisa. Kamu masih sakit. Nanti ada apa-apa kamu di jalan.”

“Nggak, Pak. Saya sudah bisa bawa motor. Kepala saya sudah nggak sesakit tadi kok,” jawab Zahra yang mencoba meyakinkan Zaidan.

Ia tidak mau jika Zaidan harus kembali mengantarnya pulang sore ini. Biasanya tetangga-tetangganya masih banyak yang duduk di depan rumahnya. Termasuk juga sang ibu yang sering menghabiskan waktu sore dengan duduk di depan teras rumah kontrakan mereka, Zahra tidak ingin dirinya menjadi bahan omongan mereka semua, apalagi hari ini Zaidan menggunakan pakaian seragamnya, bukan pakaian bebas seperti kemarin.

“Tidak, Zahra. Saya sekarang memang lagi sibuk. Tapi saya utus anggota saya untuk mengantar kamu pulang.” Zaidan celingak-celinguk melihat orang-orang yang berada di sekitarnya yang bisa ia mintai tolong.

“Pak, saya mohon jangan.” Tanpa sadar karena ingin menghentikan tindakan Zaidan, Zahra memegang ujung baju pria itu. Setelah menyadarinya, Zahra kemudian langsung melepaskannya dan mencoba terlihat biasa saja.

“Saya tidak mau jadi tontonan tetangga saya, Pak. Seperti yang Bapak lihat kalau rumah saya itu di gang sempit. Akan banyak mata yang melihat saya nanti. Apalagi jika saya diantar sama polisi. Saya mohon, Pak jangan sampai membuat ibu saya khawatir.” Zahra memohon kepada Zaidan. Sudah banyak drama yang ia jalani sejak kemarin. Jangan sampai ada drama baru lagi, pikirnya.

Zaidan hanya bisa menghela napasnya berat. Ia pun tidak bisa memaksa jika Zahra tidak mengizinkannya.

“Baiklah. Kalau gitu, hubungi saya nanti kalau kamu sudah sampai rumah,” kata Zaidan terakhir.

“Baik, Pak. Saya pulang dulu, Pak. Permisi.” Zahra kemudian langsung membalikkan badannya, dan keluar dari gedung itu sesegera mungkin.

Zaidan terus saja menatap punggung itu sampai benar-benar hilang dari pandangannya.

“Hati-hati punggungnya bisa bolong kalau ditatap terus kayak gitu.” Sebuah suara yang datang tiba-tiba dari belakangnya membuat Zaidan terkejut.

“Bisa jangan bikin orang kaget, nggak?” tegur Zaidan pada salah seorang sahabatnya itu. Tatapannya pun tajam melihat orang itu.

“Nggak ada yang ngagetin, Bro. Lu aja yang menung,” elak pria berseragam polisi bernama Jonathan.

Zaidan mendecik pelan.

“Mengapa kau bermenung, oh Zaidan berhati bingung~”

Jonathan menyenandungkan potongan lagu lama yang sengaja ia ubah, nada jahilnya jelas mengejek Zaidan.

“Pergi kau sana!” Zaidan mengusir Jonathan sambil mengayunkan kaki, pura-pura hendak menendang tubuh sahabatnya itu.

Jonathan mengelak. Ia berlari sambil menertawakan tingkah sang sahabat. Ia bahkan berteriak kecil di tengah larinya itu.

“Zaidan naksir cewek.”

Zaidan hanya bisa geleng kepala, dan tentu saja malu sebab beberapa orang yang mendengar teriakan itu menatapnya dan ikut meneriakinya.

“Ciee…”

“Uhuy… akhirnya Komandan kita punya pacar.”

Dan masih ada beberapa lagi kalimat-kalimat candaan yang terlontar.

“Awas kau, Jo.”

*

*

*

Zaidan tiba di rumahnya tepat pukul tujuh malam. Baru saja ia memarkirkan motor di halaman, suara riuh dari dalam rumah sudah lebih dulu menyambutnya.

“Kayaknya nggak jadi istirahat kalau begini,” gumamnya lirih.

Namun langkah kakinya tetap masuk, meski tubuhnya terasa lelah setelah seharian bekerja.

“Assalamualaikum.”

“Om Idaaaan!”

Belum sempat Zaidan menutup pintu, sesosok gadis kecil sudah berlari kencang ke arahnya. Tubuh mungil itu langsung memeluk kakinya erat-erat.

“Naira…” Zaidan tersenyum, lalu menggendong keponakan kesayangannya itu. “Halo, sayang cantiknya Om Idan.”

“Om kok lama pulangnya?” rengek Naira. “Naira dari tadi nungguin Om.”

“Kerjaan Om lagi banyak,” jawab Zaidan lembut.

“Banyak orang jahat ya, Om?” tanya Naira polos.

Zaidan mengangguk kecil. “Iya, banyak. Makanya Naira harus selalu nurut sama Papa dan Mama, ya.”

“Iyaaa…” Naira mengangguk mantap.

“Dek, jangan langsung ganggu Om Idannya,” suara seorang perempuan terdengar dari arah ruang tengah. Jelita melangkah mendekat, senyumnya hangat. “Om Idan pasti capek pulang kerja.”

“Nggak ganggu kok, Kak,” balas Zaidan sambil menurunkan Naira, lalu memeluk kakak perempuannya itu sebentar. “Kapan tibanya?”

“Tadi sore,” jawab Jelita. “Ayo mandi dulu, habis itu makan.”

“Mas Rian mana? Nggak ikut kesini?” tanya Zaidan sambil melirik ke dalam. “Nggak mungkin tinggal, si bucin mana mau ninggalin istrinya sendirian.”

Jelita terkekeh. “Itu di dalam.”

Mereka bertiga masuk ke ruang tengah.

“Baru pulang, Dan?” sapa Bunga dari sofa.

“Iya, Ma. Tadi laporan lagi numpuk,” jawab Zaidan sambil menyalami satu per satu. Mulai dari Bunga, Fadi, lalu Rian yang duduk santai sambil memegang ponsel.

“Wiiih…” Rian menyipitkan mata. “Jaket baru, nih? Perasaan kamu pake yang hitam mulu deh.”

“Iya, Dan,” sambung Bunga. “Kemarin juga kamu pulang nggak pakai jaket, padahal berangkatnya pakai jaket hitam kesayangan itu.”

Zaidan terdiam sepersekian detik. “Ada, Ma. Zaidan pinjemin ke teman.”

“Lho?” Rian langsung duduk tegak. “Sejak kapan Zaidan mau minjemin jaket hitam itu? Jaket mahal pertama yang dibeli pake uang sendiri, lho. Aku mau pinjem aja nggak boleh.”

“Mas, bisa diem nggak sih,” sahut Zaidan datar. “Ribut amat.”

“Udah sana, naik. Mandi dulu,” ujar Jelita cepat-cepat menengahi. “Elran sudah di kamar kamu. Tadi badannya agak kurang enak.”

“Hm,” gumam Zaidan singkat.

Ia pun melangkah menaiki tangga, meninggalkan ruang tengah. Namun baru beberapa anak tangga terlewati, suara Rian kembali terdengar, kali ini sengaja dibuat cukup keras.

“Pasti dipinjemin ke perempuan itu. Ma… Zaidan punya pacar!”

Zaidan berhenti sejenak.

Ia menghembuskan napas pelan, lalu melanjutkan langkahnya tanpa menoleh. Entah kenapa, sudah dua orang yang mengganggunya hari ini, mengatakan dirinya yang telah punya pacar.

“Siapa yang punya. Jomblo abadi gini,” gumamnya.

Namun tiba-tiba wajah seseorang melintas di pikirannya tanpa diminta.

“Kenapa bisa mikirin dia?”

...****************...

Terima kasih yang sudah setia menemani author, ya. Jangan lupa like, komen, votenya juga. Bintang 5 juga jangan lupa. Sama satu lagi, kopi bunga jangan lupa buat author ya biar makin semangat buat nulis 🥰🥰🥰

Author mau nyanyi dulu...

🎶 mengapa kau bermenung.. Oh adik berhati bingung.. Mari bersama... Oh adik memetik bunga ⚘️⚘️💃💃

1
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
siaaaaaappp aku lempar....
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
🤣🤣🤣🤣🤣 ini ceritanya si naira cibta pertama nya bukan rian tapi zaidan... kayak anak aku yg cowok lebih milih bu lek nya ketimbang aku ibu nya... kalo aku aku jambak rambut adekku,,, anakku jambak rambutku...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: ogah ogahan sama orangtuanya ya 🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ya allah setiap anakku ada lagu itu langsung tak skip,,, muak kali aku dengernya....🤣🤣🤣🤣😒😒😒😒
mumu: mama udahlah 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ngobrak ngabrik acara orang...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 aku baca itu trus lhooooo,,,, lucu banget...🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: author ngebayanginnya itu waktu nulisnya ngakak 🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
bukan solusi yg didapat tapi malah informasi bocor kemana mana+ leedekan tiap hari...🤣🤣🤣
a.i.cahaya
apaan tu?
a.i.cahaya
padahal nembak aja belum tp udh dikira ditolak aja. mental zaidan cemen ih 🤭🤣🤣
istri lee dong wook
apaan yg ditolak? ditembak aja belum
😇😇
apa itu kira2??
istri lee dong wook
nggak kok zaidan nggak agresif. lanjutkan
😇😇
belum apa apa udh patah semangat. diketawain si Rian itu 😂😂
😇😇
ayo zidaaaan 😂😂
istri lee dong wook
hayo hayo bunga 🤣🤣
istri lee dong wook
bisa pasan gitu ya 😅😅🤣🤣
istri lee dong wook
kuatkan iman deh 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
tidur zaidan tidur 😅😅😅
mumu: nggak bisa 🤣🤣
total 1 replies
istri lee dong wook
peluk jauh buat zahra 🤗🤗
istri lee dong wook
ikut deh degan..
istri lee dong wook
woy elran 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
eh dah jadi pak bupati 😍😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!