NovelToon NovelToon
Aku Istrimu Bukan Dia

Aku Istrimu Bukan Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
​Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
​Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

​Di luar sana, Abimana masih terus memanggil, suaranya terdengar makin parau tertiup angin malam yang kencang. Namun, di dalam kamar yang remang, Arunika justru menunjukkan ketenangan yang mematikan. Tanpa menghiraukan gedoran pintu atau getaran ponsel Risa, ia meraih kacamata bacanya, lalu membuka sebuah buku catatan kecil.

​Ia mulai menuliskan sisa-sisa sesak di dadanya, menggoreskan pena dengan tangan yang meski gemetar, tetap menghasilkan tulisan yang tegas.

​"Maafkan aku, Mas. Bukan berarti aku tidak ingin berbakti padamu, tapi perlakuanmu sungguh keterlaluan." tulisnya di baris pertama. Matanya terasa panas, namun ia menolak untuk terisak.

​"Aku masih bisa memaafkanmu jika luka ini hanya terjadi di balik pintu apartemen kita. Tapi kamu menghancurkan harapanku di depan umum. Kamu membiarkan aku menjadi tontonan, membiarkan orang lain mengasihani istrimu karena suaminya lebih memilih bayangan masa lalu."

​Arunika berhenti sejenak, menghirup napas dalam yang terasa sesak. Ia teringat momen ijab kabul yang baru kemarin terjadi. Momen yang baginya adalah sebuah titik balik hidup.

​"Sebisa mungkin aku tidak ingin orang tua kita mengetahuinya, Mas. Bukan karena aku takut, tapi karena aku tidak ingin suamiku dipandang rendah oleh orang lain. Aku masih mencoba menjaga marwahmu, meski kamu sendiri yang merobeknya."

​Ia memejamkan mata, membayangkan wajah Abimana yang kini mungkin sedang frustrasi di luar sana.

​"Meski aku belum mencintaimu, aku sudah menetapkan hatiku sejak kau mengucapkan namaku di hadapan Tuhan. Saat itu, aku sudah menyerahkan seluruh baktiku padamu. Tapi malam ini, aku sadar... bakti tanpa dihargai hanya akan menjadi belati bagi diriku sendiri."

​Arunika menutup bukunya dengan bunyi buk yang pelan namun mantap. Ia melepas kacamatanya, mematikan lampu di samping tempat tidur Risa, dan menarik selimut hingga menutupi telinganya—berusaha meredam suara teriakan Abimana yang memanggil namanya dari luar pagar.

​"Nika... itu Pak Abi masih di sana, dia duduk di depan gerbang." bisik Risa yang mengintip dari balik tirai dengan rasa iba.

​"Biarkan dia, Ris." sahut Arunika dari balik selimut, suaranya terdengar dingin dan jauh. "Biarkan dia kedinginan di luar sana. Biar dia tahu rasanya menunggu sesuatu yang tidak pasti, sama seperti aku yang tadi menunggunya kembali ke kelas, tapi dia tidak pernah datang."

​Malam itu, di bawah temaram lampu jalan, Abimana benar-benar terduduk di aspal jalanan depan kosan. Ia menyandarkan kepalanya pada pagar besi yang terkunci, memejamkan mata dengan penyesalan yang membakar jiwa. Ia tidak akan pergi. Jika Arunika tidak ingin bicara, maka ia akan memastikan bahwa dirinyalah orang pertama yang dilihat Arunika saat matahari terbit besok.

​Malam semakin larut, menyisakan kesunyian yang mencekam di lorong sempit depan kos-kosan Risa. Di balik pintu yang terkunci rapat, Arunika akhirnya menyerah pada rasa lelah yang luar biasa. Setelah menggoreskan seluruh luka dan prinsipnya dalam catatan kecil itu, ia terlelap dalam tidur yang berat—sebuah pelarian sementara dari kenyataan bahwa pernikahannya sedang berada di tepi jurang.

​Namun, di luar sana, waktu seolah berhenti bagi Abimana.

​Pria yang biasanya selalu tampil necis dan berwibawa itu kini terlihat sangat kontras dengan citranya. Abimana masih setia menunggu. Ia duduk di atas semen kasar trotoar, menyandarkan punggungnya pada pagar besi yang dingin. Embun malam mulai turun, membasahi bahu jaketnya dan membuat udara terasa menusuk hingga ke tulang, namun ia tidak peduli.

​Setiap kali ada suara langkah kaki atau gesekan pintu dari dalam, jantungnya berdegup kencang, berharap itu adalah Arunika. Namun yang ada hanyalah kesunyian yang kembali mengejeknya.

​Ia menatap layar ponselnya yang redup. Tidak ada balasan. Centang satu itu seolah menjadi simbol bahwa aksesnya ke hati Arunika telah benar-benar diputus.

​"Aku memang pengecut, Nika." bisiknya pada kegelapan malam. "Aku datang padamu setelah menghancurkan segalanya, dan berharap kamu masih ada di sana untuk memaafkanku."

​Abimana memeluk lututnya, berusaha menghalau gigilan dingin yang mulai menyerang tubuhnya. Ia teringat kata-kata terakhir Arunika di kelas—tentang harga diri pernikahan yang ia hancurkan di depan semua orang. Rasa kantuk sempat menghampirinya, namun rasa bersalah yang lebih besar memaksanya untuk tetap terjaga.

​Ia tidak ingin melewatkan satu detik pun jika saja Arunika memutuskan untuk keluar. Ia ingin menjadi orang pertama yang memohon ampun, meskipun ia tahu, memaafkan dan melupakan adalah dua hal yang sangat berbeda bagi wanita secerdas istrinya.

​Di dalam kamar, Arunika bernapas teratur dalam tidurnya, tidak menyadari bahwa suaminya sedang bertaruh dengan harga diri dan kesehatannya di balik pagar kayu itu. Satu orang tertidur untuk melupakan, sementara yang lain terjaga untuk menebus kesalahan.

​Matahari pagi mulai menyusup di celah-celah gorden kamar kos Risa yang sempit, membawa cahaya yang perlahan mengusik lelapnya Arunika. Arunika mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat terlepas semalam. Untuk beberapa detik, ia lupa di mana ia berada, sampai aroma nasi goreng mentega dari kompor listrik Risa membawanya kembali ke realita.

​"Sudah bangun, Nik? Sebaiknya mandi dulu gih, setelah itu kita sarapan." sapa Risa yang sibuk dengan spatulanya tanpa menoleh.

​Arunika hanya membalas dengan anggukan kecil. Tubuhnya terasa berat, dan matanya sedikit perih karena sisa air mata semalam, namun ia memaksa dirinya untuk bangkit. Ia mengambil handuk dan perlengkapan mandinya dengan gerakan yang tenang, seolah sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi peperangan yang sesungguhnya di kampus nanti.

​"Pak Abi masih di depan, Nik." suara Risa mengecil, penuh ragu. "Tadi aku intip dari jendela atas... dia benar-benar tidak pulang semalaman. Wajahnya pucat sekali."

​Langkah Arunika terhenti tepat di depan pintu kamar mandi. Jemarinya mencengkeram kain handuk dengan erat. Ada sepercik rasa iba yang mencoba menyusup ke hatinya, namun ingatan tentang suara ponsel di kelas kemarin jauh lebih tajam merobek simpati itu.

​"Dia punya mobil, Ris. Kalau dia merasa kedinginan atau sakit, dia bisa masuk ke dalam mobilnya dan pulang." jawab Arunika dingin, suaranya tanpa emosi. "Aku tidak memintanya untuk menginap di depan pagar."

​Tanpa menunggu balasan Risa, Arunika masuk ke kamar mandi. Ia membiarkan air dingin menyentuh kulitnya, berusaha membekukan segala keraguan yang tersisa. Ia harus tetap kuat. Jika ia luluh sekarang, Abimana akan berpikir bahwa cukup dengan sedikit penderitaan fisik, ia bisa menebus luka mental yang telah ia torehkan.

​Dua puluh menit kemudian, Arunika sudah siap dengan pakaian kuliahnya yang rapi—blus simpel namun elegan yang memancarkan aura ketegasan. Ia duduk di meja kecil bersama Risa, menyuapkan sarapan dengan tenang meski sebenarnya ia tidak memiliki nafsu makan sedikit pun.

​"Ayo, Ris. Kita berangkat sekarang. Aku tidak ingin terlambat di jam pertama." ucap Arunika seraya merapikan kacamatanya.

​Risa menelan ludah dengan susah payah. "Kamu... kamu benar-benar akan melewatinya begitu saja?"

1
🇮🇩 NaYaNiKa 🇵🇸
Ini dia kisah yang paling greget. Semoga gak jadi bego kek kisah Sheila & Vano ya.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Utk apa...? Utk dihancurkan LG...? 🤧🤧🤧
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Maaaasss...???? Oh No Maaaasss... Please Just Go straight To Hell, Maaaaasss....!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Si anak setan bnr2.... 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Kurang apa di Arun coba. LG sakit hati banget pun masih ngurusi Pak Dosen yg Gobloknya ngalahin boneka angin. Hadeeeuuuuh...
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Baru sadar...? TalaaaaT...!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Diiiiiiiih... Dasar anak setan. ,😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Heleh2... Dramamu Bim2. 😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Biarin ajaaaaa... Menyesal jg gak guna.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Berharap pada manusia itu menyakitkan.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan hina kalo dah putus asa bnr2 gak ngotak. 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bener..!!! Jgn mau diinjak2!!!
🇮🇩 F E E 🇵🇸
CaKeeeeeP... 💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
GaK SaLaH TuH...? Lo KaLi, Arun mah Gak. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Cantik kaaaaaan... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Ciiiiiih... Kesian beneeeeer. Ngarep laki2 pengecut.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Tuuuuuh... Dgr Tuh Bim2.. Anak orang tuh. Bukan anak setan mo dimasukin ke neraka. Eeeeeaaaaa... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bukan Permata lagi Pak. Tapi Berlian Hitam yg menyilaukan. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Hancurkan dia berkeping2... Gaaaaasssss kan Arun.💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan kalo bathinnya SDH tersakiti, bisa LBH tajam dari SiLeT. 😏😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!