NovelToon NovelToon
The Legend Of Xuan

The Legend Of Xuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Pena_Novel

Kelahirannya menciptakan badai dahsyat. Di saat yang sama, klan Erlang kalah telak. Kekalahan itu membuatnya dicap sebagai anak pembawa sial. Bukan hanya hampir menghilang dari alam langit, klan Erlang juga harus membayar pajak ke klan Liu setiap. tahunnya.
*******
Erlang Xuan, nama yang sama dengan Leluhur klan, tapi nasib mereka berbeda. Jika Leluhur terlahir dengan kekuatan tak terbatas, maka dia terlahir dengan tubuh cacat. Selama belasan tahun, ia disiksa dan direndahkan. Bahkan, karena masalah sepele, ayahnya menghukumnya.
Karena tak punya dantian dan meridian, Erlang Xuan tak bisa berkultivasi. Sampah pembawa sial, itulah julukannya. Tak ada yang tahu bahwa dibalik tubuh cacat itu tersembunyi sesuatu yang akan mengguncang alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 Kota Teratai

Erlang Xuan yang belum puas menambah siksaan adiknya. Apa yang pernah dilakukan adiknya bertahun-tahun lalu, dilakukan juga hari ini. Apa lagi, efek serbuk biru itu membuat hasrat Jia Mei tak terkendali.

"Kak kumohon, bebaskan aku!" Katanya sebelum memulai lagi aksinya. Jia Mei sangat liar, dan itu membuat tunangannya kewalahan.

"Jia Mei hentikan!" pinta pemuda itu.

"Aku tidak bisa, sayang!" jawab Jia Mei setengah sadar. Untungnya saja pemuda itu memberinya obat khusus. Jadi, area terlarang perempuan itu tidak kenapa-kenapa.

"Akkh!" Jia Mei berteriak kesakitan. Sekujur tubuhnya dipenuhi garis-garis biru dan kuning. Garis-garis itu membuatnya sangat kesakitan. Apa lagi, efek racun kakaknya membuatnya kepanasan.

"Baj*ngan! Kamu juga memberiku racun!" teriaknya.

"Jangan salah paham! Aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit. Dan cara itu yang kau rasakan sekarang."

Erlang Xuan berbalik dan meninggalkan pasangan itu. Tak beberapa lama kemudian, dua orang itu benar-benar tersiksa. Saat pelayan menjenguk, keduanya sudah tak bernyawa. Posisi mereka membuat pelayan itu jijik.

"Tuan Erlang, kuharap kamu suka kejutan dariku!" katanya dengan sedikit rasa bersalah. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan ibunya kalau mengetahuinya kematian Jia Mei.

"Maaf, Bu!" katanya.

"Dua orang lagi, aku akan membalas mereka di atas arena!" gumamnya.

"Sampah sialan!!" Teriakan seseorang menggema di kota Awan Biru. Pagi-pagi sekali, kabar mengejutkan sekaligus memalukan membuat gempar Erlang Xiao dan yang lainnya. Karena malu, tidak ada yang berani menampakkan diri. Sayangnya, mayat itu dibawa ke penginapan, tempat mereka menginap.

"Erlang Xuan, mana kamu anak pembawa sial?" teriaknya. Sekalipun ia berteriak hingga matahari terbit dari barat, Erlang Xuan tidak akan mendengarnya. Pasalnya pemuda itu sudah tidak ada di kota itu.

"Ayah, dia tidak ada di kota!" Erlang Han melapor, sementara Erlang Ming tidak mengatakan apa-apa. Sampai hari ini, ia masih disiksa oleh panas dan dingin yang ekstrim.

"Ayah tidak mau tahu! Di atas arena, kalian harus membunuhnya!" geramnya.

"Ba–baik, Ayah!" Erlang Ming dan Erlang Han menjawab secara bersamaan.

"Erlang Ming, kamu selanjutnya!" Suara Erlang Xuan membuatnya terkejut.

"Aku menunggumu di atas arena!" Suara Erlang Xuan menghilang. Di saat yang sama, kondisinya kembali normal. Tidak lagi disiksa oleh panah dan dingin yang ekstrim.

"Ada apa, Ming'er?" tanya Erlang Xiao.

"Em, tidak, aku tidak apa-apa," jawabnya dengan cepat.

...****************...

Erlang Xuan melesat dengan cepat. Waktunya tidak banyak, dan dia harus tiba di ibukota sebelum turnamen dimulai. Kalau terlambat, rencana balas dendamnya akan kacau.

Jauh di belakangnya, Erlang Ming, Erlang Han, Liu Yu, dan beberapa orang melesat dengan cepat. Tujuan mereka sama, yaitu kota teratai, tempat portal berada.

"Menurutmu, sampah itu pergi ke mana?" Erlang Han bertanya kepada adiknya. Hening, tak ada jawaban. Adiknya hanya diam, seolah memikirkan sesuatu.

"Ada apa?" tanyanya.

"Em, tidak apa-apa!" jawabnya dengan cepat.

"Sampah itu melukai mataku. Kau harus membalasnya!" desak Liu Yu.

"Jangan khawatir, Sayang! Aku akan membalasnya. Kalau perlu, akan kucongkel matanya." Erlang Han menimpali.

Kristal-kristal salju jatuh dari langit. Di saat yang sama, Erlang Xuan tiba di kota teratai. Perjalanan ke kota itu lebih dari sebulan lebih. Jika memakai kereta kuda, perjalanannya lebih lama, yaitu hampir tiga bulan.

"Selamat datang di kota Teratai!" sambut para prajurit.

"Bagi yang ingin ke ibukota, jangan lupa tinggalkan beberapa koin!" lanjut prajurit itu.

Tak ingin membuang-buang waktu, Erlang Xuan langsung mengunjungi portal yang dimaksud. Di sana, ribuan orang berkumpul, sementara di portal itu sendiri dua orang sedang berjaga.

" Siapapun yang ingin ke ibukota harus menyerahkan semua hartanya!" Pria yang memakai armor perak mengumumkan.

Orang-orang yang mendengar itu langsung protes! Meninggalkan seluruh harta, hanya orang bodoh yang akan melakukannya. Satu per satu, orang-orang meninggalkan tempat itu. Mereka lebih memilih menempuh perjalanan jauh, daripada harus menyerahkan seluruh harta yang dimiliki.

"Sekumpulan orang bodoh! Jika kalian tidak menggunakan portal, kalian tidak akan bisa mengikuti turnamen!" pria yang memakai pakaian biru mencibir.

"Pikirkan baik-baik! Harta mudah dicari, sementara turnamen hanya diselenggarakan 10 tahun sekali!"

Pria yang memakai armor perak berusaha mempengaruhi orang-orang yang masih tinggal di sana. Cara itu terbukti ampuh. Banyak diantaranya yang merelakan harta untuk ke ibukota. Bahkan, tidak sedikit yang mengakalinya dengan memberikan cincin kosong ke orang yang berjaga.

"Hei, kamu!" Pria berpakaian biru menunjuk Erlang Xuan dengan tongkatnya.

"Serahkan hartamu, lalu pergi! Kalau tidak, jangan darahmu akan mengunci portal!" ungkap pria itu.

"Kami tidak punya banyak waktu! Jadi, menurut atau mati!" Pria itu mengeluarkan aura yang mengintimidasi. Ia tertawa karena mengira Erlang Xuan tidak berdaya. Tawanya seketika menghilang saat tekanan lebih kuat membuatnya tersungkur. Bahkan, rekannya pun terkena imbasnya.

"Boleh saja, tapi kalian harus keluar dari tekanan itu," jelas Erlang Xuan.

"Kami utusan Kaisar! Jika kau macam-macam, prajurit akan membunuhmu!" ancam pria yang memakai armor.

"Kamu tidak akan bisa mengikuti turnamennya. Dan seluruh keluargamu akan hancur!" Pria berpakaian biru mengancam.

"Ancaman basi!" Ia mencekik leher pria berbaju biru itu. Di detik berikutnya, energi dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Mata membulat karena tak bisa bergerak. Bukan hanya itu, dia juga sulit bernapas.

"Apa yang kau— em!" Mulutnya terkunci, dan tak bisa terbuka. Perlahan-lahan, kepalanya pun mati rasa. Matanya tertutup, dan jiwanya terpisah dari tubuhnya.

Dhuaaarrrrrr

Tubuh pria itu meledak dan berubah menjadi serpihan-serpihan kecil. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke pria yang satunya lagi. Pria itu dipaksa berdiri, sehingga tulang-tulangnya patah.

"S–sakit!" katanya.

"Orang yang suka memeras tidak pantas hidup!" Erlang Xuan memperkuat tekanan itu. Dalam hitungan detik, bunyi tulang patah membuat siapapun yang mendengarnya ketakutan.

"kumohon, lepaskan aku!" ucapnya sembari menahan sakit.

"Dengan senang hati!"

Jawaban Erlang Xuan membuat senang. Ia berusaha mengeluarkan pil dari cincin ruangnya. Di detik berikutnya, sesuatu menusuk perutnya. Sebuah belati yang menyerap darahnya.

"Katamu kau akan melepaskanku!" Pria itu protes.

"Memang benar, tapi melepasmu ke alam kematian maksudku!" jelas Erlang Xuan.

"Selamat tinggal!" Erlang Xuan mengakhiri hidup pria itu. Setelah menghilang jejak, ia memasuki portal.

"Kita terlambat!" Erlang Han kesal.

"Tidak apa-apa. Lagi pula, kita akan bertemu dengannya lagi," Erlang Ming menimpali.

"Ayo masuk! Jangan sampai portalnya terkunci!" Kesal karena datang terlambat, ia menendang mayat yang ada di dekat portal. Setelah masuk, portal itu perlahan-lahan mulai menghilang.

Kota Giok, Kekaisaran Zhang …

Ratusan orang keluar dari portal. Lebih dari setengah dari orang-orang itu adalah peserta turnamen. Di sana, mereka disambut oleh seorang prajurit yang mengeluarkan aura yang sangat kuat.

"Kakak!" Suara anak kecil menghentikan langkahnya. Ia menunduk dan melihat balita memeluk kakinya sambil tersenyum.

"Hehua!" Pengasuh anak kecil itu berteriak panik. Dia terkejut saat melihat siapa yang berdiri di depannya.

"Tuan Muda!"

Erlang Xuan tak mempedulikan pelayan itu. Ia berjongkok dan menggendong adiknya. Hehua, adik bungsunya masih kecil dan tak tahu apa-apa. Tidak mungkin juga anak sekecil itu harus dibunuh.

"Kau tidak boleh seperti mereka," katanya.

1
Nanik S
Erlang Xuan... mereka pantas dikasih pelajaran
Nanik S
Kenapa ada empat Kaisar
Bucek John
harta menang perang gak diambil sia sia terutama senjata n cincin ruang yg ber8ssi jarta buat sdn masa depan kultovator berpetualang.. hampar .. gak mengigit..!!!
Pena_Novel: Authornya lupa 😁😁
total 1 replies
Nanik S
Banyak sekali Anak Selir
Nanik S
Giiiilaaaa
Nanik S
Lanjutkan 💪💪💪
Nanik S
Siapa yang menyegel Zhang Xue
Nanik S
NEXT
Nanik S
Kaisar Jahat maaah anak sendiri dikurung
Nanik S
Bagus sekali ceritanya
Nanik S
Zhang Xue... ternyata Anak Kaisar
Nanik S
Erlang Xuan akhirnya menikah juga
Nanik S
Kenapa ceritanya seperti ini Tor
Nanik S
Siapa yang melindungi jiwanya
Nanik S
Kok masih punya adik kecil
Nanik S
Balas dendam yang sesuai
Nanik S
apakah Xuan akan bertemu Adiknya
Mika Dion
ternyata dibalik sikapnya ada kejadian yg memilukan...
Davide David
up
Mika Dion
Thor gambaran keluarganya terlalu sadis...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!