📝 Tang Siyun adalah seorang pengembang game online berbakat, tetapi hidupnya hancur berantakan saat ia dikhianati secara bersamaan oleh pacar yang diselingkuhinya dan rekan kerja yang merebut hasil jerih payahnya.
⚰️ Kematiannya yang menyusul penuh dengan rasa pahit dan penyesalan.
🌍 Ia terbangun di dunia novel "Soul Land" yang sangat dikenalnya, terlahir kembali sebagai seorang bayi yatim piatu.
⏱️ Soul-nya yang bangkit bukanlah senjata atau binatang buas, melainkan Pocket Watch (Jam Saku) misterius dengan kemampuan yang belum tergali sepenuhnya.
🏚️ Nasibnya berubah drastis ketika ia diselamatkan oleh Tang Hao, ayah dari protagonis dunia itu, Tang San. Melihat potensi dan nasib malang Siyun, Tang Hao memutuskan untuk mengangkatnya sebagai anak angkat, menjadikan Tang Siyun kakak angkat Tang San.
🔖 Isekai, Reinkarnasi, Fantasi, Romansa Dewasa, Harem, Aksi, Petualangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meong Punch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[ Bab 21 ] » Pertarungan Melindungi Adik
Matahari sore menyinari halaman tengah Akademi Nuoding dengan warna emas yang hangat. Namun, kehangatan itu tidak mampu mencairkan ketegangan yang membeku di depan gerbang kantin. Tang San dan Xiao Wu baru saja selesai makan ketika jalan mereka dihadang oleh sekelompok siswa yang mengenakan seragam sutra mahal tanda khas bahwa mereka berasal dari keluarga bangsawan yang merasa memiliki seluruh dunia di telapak tangan mereka.
Di depan kelompok itu berdiri seorang remaja berusia dua belas tahun bernama Xiao Chenyu, putra penguasa kota Nuoding. Wajahnya yang sombong dihiasi seringai meremehkan saat ia menatap seragam Tang San yang bersih namun murah.
"Jadi, ini 'Bos' baru dari Asrama Tujuh?" Xiao Chenyu tertawa, diikuti oleh antek-anteknya. "Si tukang sapu rendahan dan gadis kelinci liar? Kudengar kalian mulai merasa besar kepala di akademi ini."
Tang San berdiri dengan tenang, namun tangannya perlahan terkepal. Di sampingnya, Xiao Wu sudah siap untuk melompat dan menendang wajah sombong itu. "Kami tidak mencari masalah denganmu, Senior Xiao. Kami hanya ingin kembali ke asrama," ujar Tang San dengan suara datar.
"Kembali ke asrama? Tidak semudah itu," sahut Xiao Chenyu. Ia melangkah maju, tangannya mencoba menyentuh telinga kelinci Xiao Wu dengan cara yang tidak sopan. "Gadis ini cukup manis untuk menjadi pelayan pribadiku. Bagaimana kalau kau menyerahkannya padaku, dan aku akan membiarkanmu tetap menjadi 'raja' di gudang kotor kalian?"
Mata Tang San berkilat tajam. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Xiao Wu. Namun, sebelum ia sempat bergerak, sebuah suara malas namun dingin memecah kerumunan.
"Kalian benar-benar berisik. Aku sedang mencoba menikmati tidur siangku di bawah pohon itu, dan ocehan lalat seperti kalian merusak suasana."
Semua mata tertuju pada arah suara tersebut. Tang Siyun berjalan mendekat dengan langkah santai, satu tangannya berada di saku celana sementara tangan lainnya memutar-mutar jam saku peraknya yang berkilau. Ia tampak seperti orang yang baru bangun tidur, namun auranya sangat berbeda.
"Siyun-ge!" seru Xiao Wu dengan lega.
Siyun mengabaikan mereka dan berdiri di hadapan Xiao Chenyu. Ia jauh lebih pendek daripada remaja dua belas tahun itu, namun entah mengapa, Xiao Chenyu merasa seolah-olah sedang ditatap oleh seekor predator yang sangat lapar.
"Siapa kau? Berani-beraninya mengganggu urusan putra penguasa kota?" bentak salah satu pengawal Xiao Chenyu, seorang siswa bertubuh besar dengan roh serigala yang sudah teraktivasi.
Siyun menguap lebar. "Nama tidak penting bagi orang yang akan segera terlihat seperti badut. Senior Xiao, tanganmu tadi... itu adalah aset yang sangat berharga bagi tubuhmu. Akan sangat disayangkan jika sesuatu terjadi padanya."
"Hah! Kau pikir kau siapa, bocah? Serang dia!" perintah Xiao Chenyu.
Pengawal bertubuh besar itu melesat maju, tinjunya yang dilapisi energi roh biru mengarah tepat ke wajah Siyun. Bagi para penonton, gerakan itu sangat cepat.
Klik.
Dunia berubah menjadi warna sepia yang sunyi. Siyun menghela napas, berjalan perlahan melewati tinju yang membeku di udara itu. Ia memperhatikan setiap celah dalam pertahanan siswa tersebut. Dengan santai, Siyun melepaskan ikat pinggang pengawal itu, mengikat kedua tali sepatunya menjadi satu simpul mati yang rumit, dan meletakkan sebuah kulit pisang sisa makan siang seseorang tepat di belakang tumitnya.
Siyun kemudian bergeser ke arah Xiao Chenyu yang masih membeku dalam ekspresi sombong. Ia memindahkan tangan Xiao Chenyu yang tadi mencoba menyentuh Xiao Wu, lalu meletakkannya tepat di depan mulutnya sendiri sehingga posisinya tampak seolah Xiao Chenyu sedang menghisap jempolnya sendiri.
Siyun kembali ke posisinya semula dan menutup jam sakunya.
Klik.
Waktu kembali meledak. Pengawal besar itu merasa pukulannya meleset mengenai angin, kakinya yang terikat membuatnya tersentak, dan saat ia mencoba mundur untuk menjaga keseimbangan, tumitnya menginjak kulit pisang. Ia terpeleset dengan gaya yang sangat teatrikal, jatuh telentang dengan bunyi gedebuk yang keras, sementara celananya melorot sampai ke mata kaki, memperlihatkan celana dalam merah jambunya di depan umum.
Di saat yang sama, Xiao Chenyu tersedak jempolnya sendiri karena tangannya tiba-tiba berada di dalam mulutnya. Kerumunan siswa meledak dalam tawa yang tak tertahankan.
"Sialan! Apa yang kau lakukan?!" teriak Xiao Chenyu, wajahnya memerah karena malu luar biasa. Ia memanggil rohnya seekor serigala berbulu abu-abu dan satu cincin kuning muncul di bawah kakinya. "Aku akan membunuhmu!"
Siyun tidak bergerak. Ia membiarkan Xiao Chenyu menerjang ke arahnya. Namun, kali ini Siyun tidak menggunakan Time Stasis. Ia hanya menggunakan Time Perception Adjustment.
Di mata Siyun, gerakan Xiao Chenyu melambat hingga 50%. Ia dengan mudah menghindari setiap cakaran serigala itu dengan gerakan minimalis, seolah-olah ia sedang menari. Setiap kali Xiao Chenyu mencoba memukul, Siyun memberikan "sentuhan" kecil pada titik saraf di lengan lawan, membuat lengan itu lumpuh seketika.
Hanya dalam waktu singkat, Xiao Chenyu tampak seperti orang gila yang memukul udara kosong sementara Siyun terus berdiri dengan tangan di saku.
"Cukup," bisik Siyun.
Tiba-tiba, Siyun mendekat. Jarak antara mereka menghilang dalam sekejap. Siyun mencengkeram leher seragam Xiao Chenyu dan menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
Di saat itulah, Siyun melepaskan fasad "si pemalas"-nya. Ia membiarkan aura dingin dan haus darah dari kehidupannya yang lalu rasa sakit saat dikhianati dan kemarahan saat kematiannya mengalir keluar melalui tatapan matanya. Matanya yang biasanya terlihat mengantuk kini setajam pisau bedah, dingin, hampa, dan mematikan. Itu adalah tatapan seorang pria yang sudah pernah melihat neraka dan tidak takut untuk mengirim orang lain ke sana.
"Dengarkan aku dengan baik, Tuan Muda," suara Siyun merendah, terdengar seperti bisikan iblis di telinga Xiao Chenyu. "Kau bisa bermain-main dengan seluruh akademi ini. Kau bisa menjadi raja di duniamu yang kecil. Tapi jika kau menyentuh adikku lagi... atau mencoba mengusik ketenanganku... aku tidak akan membuatmu terlihat konyol lagi. Aku akan memastikan setiap detik sisa hidupmu adalah rasa sakit yang tidak akan berakhir meski kau memohon kematian."
Xiao Chenyu merasa seolah-olah suhu di sekitarnya turun hingga titik beku. Ia melihat bayangan kematian di mata bocah enam tahun itu. Keberaniannya menguap seketika, digantikan oleh ketakutan primitif yang membuat lututnya lemas.
Siyun melepaskannya. Xiao Chenyu jatuh terduduk, gemetar hebat, dan tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan lari terbirit-birit diikuti oleh antek-anteknya yang juga ketakutan.
Suasana di halaman menjadi hening. Siswa-siswa lain menatap Siyun dengan rasa hormat yang bercampur dengan ketakutan. Mereka baru saja menyadari bahwa "kakak" Tang San jauh lebih berbahaya daripada Tang San sendiri.
Siyun mengusap wajahnya, kembali ke ekspresi malas yang biasa. "Ugh, menggunakan tatapan itu benar-benar melelahkan. Aku butuh tidur selama sepuluh jam sekarang."
Tang San menghampirinya, matanya penuh kekaguman dan sedikit kekhawatiran. "Ge... tatapan tadi... kau terlihat seperti orang yang berbeda."
Siyun menepuk bahu Tang San, memberikan senyum hangat yang biasanya. "San kecil, seorang kakak harus punya sedikit trik untuk menakuti lalat, bukan? Lagipula, kau adalah pahlawan kita. Biarkan aku yang menjadi monster sesekali agar kau tetap bisa tersenyum."
Xiao Wu melompat ke arah Siyun, memeluk lengannya dengan erat. "Siyun-ge adalah yang terbaik! Tapi, bisakah kau mengajariku bagaimana cara membuat celana orang melorot secepat itu?"
Siyun tertawa kecil. "Itu rahasia dagang, Kelinci Kecil. Sekarang, siapa yang mau menemaniku ke pasar? Aku merasa sangat lapar setelah menggunakan kemampuan tadi, dan aku mendengar ada kedai baru yang menjual daging panggang enak."
Sambil berjalan pergi, Siyun melirik ke arah jendela gedung utama akademi. Di sana, ia melihat Grandmaster dan seorang instruktur wanita cantik sedang memperhatikan mereka. Siyun memberikan kedipan mata singkat ke arah instruktur tersebut sebelum menghilang di balik gerbang.
Pengkhianatan di masa lalu telah mengajarinya satu hal: kesetiaan adalah barang mewah yang harus dilindungi dengan kekejaman jika perlu. Dan bagi Siyun, melindungi "keluarga" barunya adalah satu-satunya alasan baginya untuk sesekali berhenti menjadi pemalas.