Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.
Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11. Harapan Yang Mulai Tumbuh
Waktu berjalan pelan namun pasti sejak Naya dan Adit menetap di kota. Tidak terasa, beberapa bulan telah berlalu. Kehidupan yang semula terasa asing perlahan mulai menemukan ritmenya sendiri. Tidak ada perubahan besar yang mencolok, tetapi cukup banyak perubahan kecil yang memberi rasa aman.
Adit semakin sibuk dengan pekerjaannya. Ia sering pulang lebih larut dari biasanya, namun wajah lelah itu kini disertai ketenangan. Kepercayaan dari atasan membuat tanggung jawabnya bertambah. Ia tidak lagi sekadar menjalankan tugas, tetapi mulai dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Penghasilannya pun meningkat, tidak drastis, namun cukup untuk membuat hidup mereka sedikit lebih longgar.
Perubahan itu terlihat jelas dalam keseharian mereka. Motor matic tua yang dulu sering mogok akhirnya diganti dengan motor baru. Bukan karena ingin terlihat lebih, tetapi karena Adit tidak ingin lagi mengambil risiko di jalan. Naya menyaksikan semua itu tanpa komentar berlebihan. Ia hanya tersenyum kecil setiap kali melihat suaminya berangkat kerja dengan kendaraan yang lebih layak.
Dalam hati, Naya bersyukur. Ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan sampai pada titik ini. Dari gadis desa yang hidup sendiri dengan kebun sebagai sandaran, kini ia menjadi istri yang tinggal di kota, meski di rumah kecil dan sederhana. Tidak ada kemewahan, tetapi ada rasa aman yang selama ini tidak pernah ia miliki.
Sering kali, saat sendirian di rumah, Naya duduk diam sambil mengingat masa lalu. Tentang pagi-pagi di kebun, tentang tangannya yang selalu kotor tanah, tentang rasa lelah yang ia telan sendiri. Ia tidak menyesali apa pun. Semua itu adalah bagian dari hidupnya yang membentuk dirinya menjadi perempuan seperti sekarang.
“Aku cukup,” bisiknya pada diri sendiri suatu siang. Bukan cukup karena harta, melainkan cukup karena hati.
Malam itu, setelah makan malam sederhana, mereka duduk berdua di ruang tengah. Lampu rumah menyala redup, menciptakan suasana hangat yang menenangkan. Tidak ada suara televisi. Hanya detak jam dinding yang terdengar pelan.
Naya terlihat gelisah. Beberapa kali ia menarik napas dalam, lalu mengurungkannya kembali. Adit memperhatikan dari sudut matanya, namun memilih menunggu. Ia tahu, istrinya sedang menimbang sesuatu.
“Mas,” panggil Naya akhirnya, suaranya nyaris berbisik. “Iya, Sayang?” Adit menoleh, wajahnya lembut.
Naya menunduk, jemarinya saling bertaut. “Sudah hampir setahun pernikahan kita,” ucapnya hati-hati. “Tapi aku belum hamil juga.”
Kalimat itu membuat Adit terdiam sejenak. Ia menatap wajah istrinya yang tampak menahan cemas. Ada rasa takut di sana. Takut mengecewakan. Takut dianggap kurang. Takut menjadi perempuan yang tidak sempurna.
Adit meraih tangan Naya dan menggenggamnya dengan penuh ketenangan. “Sabar, Sayang,” katanya lembut. “Mungkin Allah memang mau kita hidup berdua dulu.”
Naya menelan ludah. “Aku takut kalau ada yang salah sama aku,” ucapnya pelan, nyaris tak terdengar.
Adit menggeleng tegas. “Jangan pernah berpikir begitu. Kamu tidak salah apa-apa. Semua ini soal waktu, bukan soal siapa yang kurang.”
Naya mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan Adit membuat dadanya sedikit lebih lega. “Insya Allah,” lanjut Adit, “kalau memang waktunya tiba, Allah pasti titipkan amanah itu pada kita.”
“Iya, Mas,” jawab Naya sambil mengangguk pelan. Ia berusaha menenangkan hatinya, meski kegelisahan itu belum sepenuhnya pergi. Namun setidaknya, malam itu ia tidak sendirian menanggungnya.
Suasana ruang tengah kembali hening setelah percakapan itu. Namun keheningan kali ini tidak lagi menekan. Justru terasa hangat, seperti selimut tipis yang menenangkan hati.
Adit tersenyum kecil, lalu bersandar lebih dekat ke Naya. Tangannya masih menggenggam jemari istrinya. Ia ingin memastikan satu hal—bahwa Naya tidak lagi merasa sendiri dalam kegelisahannya.
“Kalau begitu,” ucap Adit dengan nada lebih ringan, berusaha mencairkan suasana, “sekarang kita coba lagi.”
Naya langsung menoleh. Wajahnya memerah seketika. “Mas…” panggilnya lirih, setengah malu, setengah terkejut.
Meski sudah hampir setahun menjadi istri, rasa canggung itu masih saja ada. Setiap kali Adit berbicara tentang kedekatan mereka sebagai suami istri, jantung Naya selalu berdebar lebih cepat. Ia bukan tidak mau, hanya belum sepenuhnya terbiasa mengekspresikan perasaannya dengan terbuka.
Adit tersenyum maklum. Ia mendekat perlahan, mengusap kepala Naya dengan lembut. Tidak ada paksaan di sana. Hanya ketulusan dan kesabaran.
“Kita pelan-pelan saja,” ucapnya menenangkan. “Aku tidak pernah mau kamu merasa tertekan.”
Naya mengangguk. Sentuhan itu membuat dadanya hangat. Ia tahu, Adit selalu berusaha menjaga perasaannya. Dan justru karena itulah, ia ingin belajar membuka diri.
Malam itu, mereka kembali mengikat kebersamaan sebagai suami istri. Tanpa kata-kata berlebihan. Tanpa tergesa. Semuanya mengalir dengan alami, penuh kelembutan. Bagi Naya, kebersamaan itu bukan sekadar kewajiban, melainkan bentuk kepercayaan dan penyerahan diri sepenuhnya.
Dalam diamnya, Naya berdoa. Semoga harapan yang mulai tumbuh itu benar-benar menemukan jalannya.
Pagi datang dengan sinar matahari yang menyelinap melalui celah jendela. Naya terbangun lebih awal dari biasanya. Ia menatap langit-langit kamar, merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Bukan perubahan fisik, melainkan ketenangan yang sulit dijelaskan.
Adit masih tertidur di sampingnya. Wajah suaminya tampak damai. Naya tersenyum kecil. Dalam hati, ia berjanji akan terus menjadi istri yang sabar dan penuh syukur, apa pun yang terjadi nanti.
Hari-hari berikutnya berjalan normal. Namun bagi Naya, ada semangat baru yang menyertai setiap langkahnya. Ia mulai lebih memperhatikan pola hidupnya—makan lebih teratur, istirahat cukup, dan menjaga pikirannya tetap positif.
“Aku harus kuat,” gumamnya suatu pagi. “Bukan hanya untukku, tapi juga untuk Mas Adit.”
Harapan itu belum berbentuk. Belum pasti. Tetapi ia sudah cukup hidup untuk membuat Naya tersenyum lebih sering dari sebelumnya.
Di tempat lain, jauh dari rumah kecil yang penuh kehangatan itu, Ratna akhirnya menemukan kepingan informasi yang selama ini ia cari. Sebuah nama kawasan, disebutkan samar dalam percakapan singkat seseorang yang ia hubungi.
Pinggiran kota.
Bukan pusat, bukan kawasan elite.
Ratna menggenggam ponselnya erat. Bibirnya mengatup tajam, matanya menyipit. Ada rasa kesal yang bercampur tidak terima.
“Jadi kalian bersembunyi di sana,” gumamnya dingin.
Selama ini ia merasa Adit menjauh begitu saja, menghilang dari jangkauannya. Ia tidak menyangka, ternyata anaknya benar-benar memutus jarak. Bukan hanya dari desa, tetapi juga dari pengaruhnya.
Ratna bangkit dari duduknya. Niat untuk mendatangi mereka muncul begitu kuat. Ia ingin melihat dengan mata kepala sendiri. Ingin memastikan perempuan yang dinikahi Adit itu benar-benar layak atau tidak.
Namun langkahnya terhenti ketika Rangga masuk ke ruangan.
“Kamu mau ke mana?” tanya Rangga, menangkap gelagat istrinya.
Ratna menoleh tajam. “Aku sudah tahu mereka tinggal di mana.”
Rangga terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. “Jangan.”
Satu kata itu membuat Ratna tersenyum sinis. “Kenapa tidak?”
“Biarkan mereka hidup,” jawab Rangga datar namun tegas. “Adit sudah memilih jalannya sendiri.”
Ratna tertawa kecil, tanpa humor. “Kau sekarang membelanya?”
“Aku hanya lelah,” ucap Rangga jujur. “Sejak dulu kamu selalu ingin mengatur segalanya.”
Ucapan itu seperti tamparan. Ratna menegang. “Aku ibunya,” katanya tajam. “Aku berhak.”
“Tidak untuk merusak,” balas Rangga pelan, namun menusuk. “Cukup sudah, Ratna.”
Untuk sesaat, Ratna terdiam. Bukan karena setuju, melainkan menahan amarahnya. Ia tidak suka dilarang, apalagi oleh orang yang selama ini memilih diam.
Rangga tidak menunggu jawaban. Ia berbalik dan pergi, meninggalkan Ratna sendiri dengan pikirannya yang bergejolak.
Di rumah kecil pinggiran kota itu, Naya tertidur dengan perasaan lebih tenang dari sebelumnya. Nafasnya teratur, wajahnya damai. Adit memandangnya lama, lalu menarik selimut dengan hati-hati, seolah takut membangunkannya.
Ia tahu, kebahagiaan ini masih rapuh. Terlalu rapuh untuk diuji oleh masa lalu yang belum selesai.
Adit memejamkan mata, namun pikirannya tidak sepenuhnya tenang. Ia sadar, ibunya tidak akan berhenti hanya karena jarak. Jika Ratna sudah mulai mencari, maka pertemuan itu hanya soal waktu.
......................
Selamat pagi readers selamat membaca
Like komen nya dong..
Terimakasih..