Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Jangan takut, Papa di sini bersama kalian
Pagi itu, Darrel terbangun oleh suara gemuruh petir yang menggelegar. Dia mengintip dari balik jendela, langit gelap dan hujan turun dengan deras. Hatinya mencelos. Hari ini, alamat dia tidak bisa berjualan kopi.
"Semoga hujannya tidak lama, agak siangan sudah berhenti," gumamnya pelan.
Darrel menatap Zoey dan Zayn masih tertidur pulas di sampingnya, lalu mengusap kepala mereka dengan lembut, berharap kedua anaknya tidak terganggu oleh suara petir yang saling bersahutan. Darrel melihat jam yang tertempel di dinding. Waktu menunjukkan pukul lima pagi. Dia beranjak dari tempat tidur lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan melaksanakan sholat subuh.
Setelah selesai sholat subuh, Darrel mulai menyiapkan sarapan. Dia memasak bubur nasi dengan sisa lauk yang ada, "Semoga ini cukup untuk mengenyangkan perut mereka," pikirnya.
Selesai memasak sarapan Darrel lantas membangunkan Zoey dan Zayn. "Sayang... bangun, yuk. Sudah pagi," ujarnya lembut sambil tersenyum berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.
Zayn dan Zoey menggeliat dan membuka mata. Zoey tersenyum melihat Darrel di depannya, langsung bangun dari tidurnya dan memeluk sang ayah. Sedangkan Zayn masih bermalas-malasan meskipun matanya sudah terbuka.
Tiba-tiba suara petir menggelegar mengagetkan mereka bertiga. Zayn lantas bangun dan menghambur memeluk ayahnya. "Papa... takut," cicitnya seraya mengeratkan pelukan.
"Jangan takut, Papa di sini bersama kalian," kata Darrel menenangkan Zayn.
"Sekarang kalian mandi, ya. Setelah itu kita sarapan," lanjutnya.
"Papa masak apa?" tanya Zayn seraya merenggangkan pelukan dan menatap sang ayah.
"Hari ini kita sarapan bubur spesial," ujarnya sambil tersenyum lebar.
"Hore...!" seru keduanya dengan senang. "Papa masak bubur!"
Setelah mandi dan berganti pakaian, mereka bertiga menyantap bubur nasi dengan lahap sambil lesehan di depan televisi. Darrel berusaha membuat suasana sarapan tetap menyenangkan, meskipun pikirannya dipenuhi dengan kekhawatiran.
Selesai sarapan, Zoey dan Zayn bermain, sedangkan Darrel segera membersihkan peralatan bekas makan mereka. Tiba-tiba Zoey menghampirinya dan bertanya, "Papa, kalau hujan begini, apa kita akan tetap jualan?"
Darrel menarik napas dalam-dalam, lalu mencoba tersenyum. "Nggak, Sayang. Hujannya deras sekali. Nanti kalau kita nekad jualan, nggak ada yang beli. Terus kita juga bisa masuk angin?" jawabnya lembut.
"Ya Allah, Zoey mohon hentikan hujannya. Supaya Papa bisa berjualan lagi..."
"Aamiin..." sahut Zayn cepat mengaminkan doa adik kembarnya.
Darrel terdiam sesaat, rasa haru tiba-tiba hadir menyeruak ke dalam dadanya. Matanya berkaca-kaca, dengan segera dia mencuci tangan lalu berjongkok menyamakan tingginya dengan tinggi sang anak dan memeluk keduanya dengan erat.
"Terima kasih, Sayang. Kalian memang anak-anak Papa yang sangat hebat," ucap Darrel dengan suara bergetar. Dia mencium pucuk kepala kedua anaknya bergantian. "Sekarang kalian boleh bermain lagi. Papa akan selesaikan mencuci piring, nanti kita main bersama."
Zayn dan Zoey mengangguk lalu kembali ke ruang tamu dan bermain bersama, sementara Darrel melanjutkan pekerjaannya.
Setelah selesai, Darrel menghampiri Zayn dan Zoey menemaninya bermain. Mereka bermain petak umpet, menyusun balok-balok menjadi menara tinggi, dan bernyanyi bersama. Tawa riang anak-anaknya sedikit mengobati kegelisahan di hati Darrel.
Namun, sampai hari semakin siang hujan tak kunjung reda. Darrel mulai merasa resah. Persediaan uang di dompetnya tidak banyak. Jika dia tidak berjualan hari ini, maka uangnya pun semakin menipis.
"Papa," panggil Zoey. "Zoey, lapar."
Darrel tersenyum, "Sebentar ya, Sayang. Papa buatkan makanan untuk kalian."
Darrel lalu pergi ke dapur dan membuka lemari pendingin. Dia hanya menemukan beberapa lembar roti tawar serta selai stroberi yang sudah hampir habis. Dengan bahan yang ada dia membuatkan roti panggang dengan selai stroberi untuk kedua anaknya.
Saat Zoey dan Zayn sedang makan, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk. Darrel mengernyit heran. Siapa yang datang di tengah hujan deras seperti ini? Dia melangkah menuju pintu lalu membukanya.
Di depan pintu, berdiri seorang wanita paruh baya dengan payung di tangannya. Wanita itu tak lain adalah Bu Murni. Ia tersenyum ramah pada Darrel.
"Assalamu'alaikum, Mas Darrel. Maaf, mengganggu," kata Bu Murni.
"Wa'alaikumsalam, Bu," jawab Darrel. "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya kemudian dengan sopan.
"Nggak ada apa-apa, Mas. Saya lihat dari tadi Mas Darrel belum keluar rumah. Jadi saya berpikir Mas Darrel tidak berjualan hari ini," jawab Bu Murni.
Darrel mengangguk dan tersenyum kaku "Iya, Bu. Hujannya deras sekali, tidak mungkin saya berjualan."
"Kebetulan sekali, tadi saya membuat kue. Saya langsung ingat Zoey dan Zayn, mereka suka sekali kue buatan saya. Ini, saya bawakan sedikit untuk mereka," ujar Bu Murni sambil menyodorkan sebuah wadah berisi kue-kue kering.
Darrel tertegun. Dia tidak tahu harus berkata apa. Matanya kembali berkaca-kaca. Di tengah kesulitan yang dihadapinya, masih ada orang yang peduli dan berbaik hati padanya.
"Ya Allah... terima kasih banyak ya, Bu," ucap Darrel dengan canggung. "Ibu baik sekali."
Wanita itu tersenyum. "Ah, Mas Darrel tidak perlu sungkan. Kita ini tetangga sudah seharusnya saling membantu."
"Sekali lagi terima kasih, Bu," kata Darrel.
"Sama-sama, Mas. Kalau begitu saya permisi." Setelah memberikan kue, Bu Murni pamit pulang.
Darrel menutup pintu lalu matanya menatap wadah berisi kue itu dengan pandangan nanar. Dia merasa terharu dan bersyukur atas kebaikan tetangganya.
Darrel kemudian menghampiri Zoey dan Zayn yang sedang asyik makan roti.
"Lihat, Papa punya sesuatu untuk kalian," kata Darrel sambil tersenyum. Dia meletakkan wadah berisi kue di depan mereka.
Zoey dan Zayn langsung menoleh dan melihat kue-kue kering yang ada di hadapan mereka. Mata mereka berbinar-binar.
"Wah, kue!" seru Zoey senang.
"Terima kasih, Papa!" timpal Zayn.
Mereka berdua langsung mengambil kue dan memakannya dengan lahap. Darrel tersenyum melihat kedua anaknya bahagia. Dia merasa sedikit lega, setidaknya hari ini mereka tidak akan kelaparan.
Hujan masih terus mengguyur meski dengan intensitas ringan. Angin bertiup kencang membuat udara di luar terasa dingin. Namun, di dalam rumah sederhana itu, kehangatan dan cinta begitu terasa. Darrel bertekad akan menjadi ayah yang kuat dan terus berusaha lebih keras demi kedua buah hatinya. Dia percaya, badai pasti akan berlalu, dan setelahnya akan ada pelangi yang indah.
"Papa, itu... itu, Mama! Mama ada di tivi!" seru Zayn dan Zoey bersamaan sambil tangannya menunjuk ke arah televisi yang menyala.
Darrel terkesiap, matanya membelalak menatap layar televisi yang mana dalam tayangan itu tampak Nancy sedang tertawa lepas bersama seorang pria sambil bergandengan tangan dengan mesra. Jantung Darrel berdegup kencang. Petir yang berkilat di langit seakan menyambarnya dengan dahsyat.