Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 14.
Langit sore itu menggantung rendah di atas kota, kelabu seperti pikiran Damian.
Ia berdiri di depan jendela kantornya, ponsel masih berada di genggaman. Layar menampilkan satu berkas yang baru saja dikirim pengacaranya—laporan tambahan dari pihak klinik fertilitas, lengkap dengan nama teknisi laboratorium, alur distribusi sampel, dan satu detail yang membuat darahnya terasa mendidih.
Nama itu, Lucca. Suami sah Calista—wanita selingkuhannya. Dan di catatan internal, nama asli pria itu adalah David.
Damian terkekeh pelan, tanpa kehangatan di wajahnya. Tatapannya tajam dan dingin.
“Jadi ini rencanamu, David. Sejak awal kau sengaja mengirim Calista kepadaku? Supaya aku mengkhianati Viera, dan kau bisa mengambilnya kembali? Dan dengan bodohnya, aku terjebak dalam permainanmu!“
Brak!
Damian menyapu barang-barang di atas meja kerjanya. Benda itu terlempar dan menghantam lantai dengan suara keras.
Semua potongan akhirnya bertemu.
Perselingkuhan, bayi tabung. Itu bukan rangkaian kebetulan, ternyata... dia dijebak oleh David.
Ia teringat wajah David yang dulu dilihatnya sekilas dalam foto lama milik Viera—seorang pria muda kurus dengan tatapan penuh harapan, pria yang pernah disebut Viera sebagai “masa lalu yang menyakitkan”.
Dan sekarang… pria itu kembali sebagai Lucca. Kaya, berkuasa dan suami Calista.
Yang lebih membuat Damian marah, David adalah ayah biologis dari anak yang dikandung istrinya sendiri. Tangan Damian mengepal keras, harga dirinya terasa diinjak. Di lindas, dan dipermainkan. Ia tidak hanya kehilangan Viera, ia dijadikan bahan tertawaan.
“Calista, David… kalian iblis!”
Tanpa menunggu lebih lama Damian meraih jasnya, keluar dari kantor dengan langkah panjang dan rahang mengeras.
Lucca sedang berada di kantor pusat perusahaannya ketika sekretarisnya datang dengan wajah tegang.
“Tuan Lucca… ada tamu yang memaksa masuk.”
“Siapa?”
“Damian Aryasatya.”
Lucca terdiam sepersekian detik. “Biarkan dia masuk.”
Beberapa menit kemudian, pintu ruangannya terbuka dengan kasar. Damian masuk seperti badai. Tanpa basa-basi, ia menghantam meja kerja Lucca dengan telapak tangannya.
“Kau pikir aku bodoh?!”
Lucca berdiri perlahan, terlalu tenang untuk seseorang yang sedang dihadapkan pada pria yang hampir meledak. “Kita bisa bicara seperti orang dewasa.”
“Jangan berpura-pura suci!” Damian menunjuk wajahnya. “Kau tidur dengan istriku secara biologis tanpa menyentuhnya. Kau merampas hak anakku, bahkan sebelum dia lahir! Kau memanipulasi hidupku dan juga Viera!“
“Kau benar, itu bukan anakmu.“
Damian tersenyum miring, matanya merah. “Dan kau pikir... itu membuatmu benar?”
“Benar, aku memanipulasi hidupmu,” kata Lucca tanpa emosi. “Tapi pada akhirnya, kaulah yang meninggalkan Viera. Kau mengabaikannya dan memilih berselingkuh, saat dia nyaris runtuh oleh tekanan untuk memiliki anak. Dalam proses bayi tabung itu, Calista yang merancang niat keji. Dia berniat menukar sp*rma mu dengan milik pria lain. Aku... hanya mengambil alih rencana itu. Sengaja ku ganti dengan milikku, semata-mata untuk melindungi Viera dan anak tersebut.”
Udara menegang, lalu Damian melayangkan pukulan. Lucca tidak menghindar sepenuhnya, tinju itu menghantam rahangnya, membuatnya terhuyung satu langkah.
Asisten Lucca menghambur masuk, tapi Lucca mengangkat tangan memberi isyarat berhenti.
“Kau pikir Viera akan menerimamu setelah ini? Setelah tahu kau memanipulasi hidup kami berdua seperti eksperimen?” Kata Damian terengah, dadanya naik turun.
Lucca menyeka darah tipis di sudut bibirnya, lalu tersenyum mengejek. “Aku tak pernah berharap dia memaafkanku dengan mudah. Tapi kejahatanku masih lebih baik daripada pengkhianatanmu, bukan?”
Damian tertawa pendek. “Kau hanya pria egois yang membungkus kejahatan dengan cinta lama!”
Lalu, ia berbalik pergi.
Lucca terdiam, perasaan bersalah dan tekad berkelindan dalam dadanya. Ia mengambil ponsel, menelepon satu nomor. “Tambahkan pengamanan untuk Viera, dua kali lipat.”
Di tempat lain, Calista menatap layar laptop dengan mata sembap dan kosong. Wajahnya letih, tetapi kebencian menopangnya untuk tetap bertahan.
Damian tak lagi membalas pesan-pesannya. Lucca bahkan tak bisa dihubungi. Dan kini, perceraiannya dengan pria itu tinggal menunggu waktu. Alasan gugatan dari Lucca tertera jelas—pengkhianatan dalam pernikahan.
Kini… ia hampir sendirian. Ia membenci itu lebih dari kehilangan uang, ia membenci kehilangan kendali.
Ponselnya berada di tangan, nomor yang tadi ia hubungi kembali muncul.
“Sudah kau terima fotonya?” tanyanya dingin.
Suara pria di seberang terdengar serak. “Sudah, wanita hamil itu mudah dikenali.”
“Bagus.”
“Apa kau yakin?”
Calista tersenyum tipis. “Aku tidak meminta dia mati, aku hanya ingin dia ketakutan!”
Telepon ditutup.
Calista menyandarkan punggung ke kursi. Kalau ia harus jatuh ke neraka… Ia akan menarik Viera bersamanya.
Malam turun perlahan, Viera keluar dari rumah sakit. Saat Lucca berkata akan menjemputnya, dengan tegas dia menolak. Perutnya masih terasa nyeri, hatinya lebih lagi. Ia berjalan menyusuri trotoar, langkahnya pelan.
Ia tidak menyadari bayangan yang bergerak dari seberang jalan, sampai sebuah tangan mencengkeram lengannya dari belakang.
“Argghht!“ Viera menjerit.
“Diam!”
Seseorang menutup mulutnya, menariknya ke gang sempit di samping gedung lama. Tasnya jatuh, punggungnya membentur tembok. Perutnya terhantam siku salah satu pria itu, Viera meringis keras.
“Kalau kau berteriak lagi, aku akan buat anakmu mati di tempat!”
Air mata Viera menggenang, kini dalam kepanikan pikirannya hanya satu—Anaknya. Ia menendang penyerang itu sekuat tenaga, tapi tubuhnya lemah.
Lalu, salah satu pria mengeluarkan pisau kecil. “Tenanglah, hanya akan sakit sedikit.”
Tiba-tiba, seseorang menghantam pria itu dari samping. Pisau terlempar jauh.
Mata Lucca memerah, wajahnya gelap. Ia bergerak cepat, memukul satu pria hingga jatuh, menendang yang lain ke dinding.
Pertarungan terjadi antara pengawal dan penyerang, begitu brutal. Lalu para penyerang itu kabur tertatih, para pengawal yang ditugaskan melindungi Viera lari mengejar.
Lucca sudah berlutut di depan Viera. “Viera!”
Tangannya bergetar saat memeriksa perut wanita itu, pandangannya lalu jatuh pada darah yang mengalir di kaki Viera. “Kau berdarah!”
Viera terisak memohon. “Tolong, anakku…”
“Tenang… tenang… aku ada di sini…” Lucca memeluknya.
Viera gemetar hebat di pelukan pria itu, dan sejak semua ini dimulai… ia membiarkan dirinya runtuh.
Di ruang IGD, Dokter memastikan janin masih stabil. Viera menangis terisak, ia takut janinnya tidak tertolong. Lucca duduk di luar ruangan, wajahnya pucat.
Setelah penanganan, Viera tertidur karena obat penenang ringan. Lucca duduk di samping ranjang, menatap wajah wanita itu dengan tatapan bersalah. Perempuan yang masih ia cintai, tapi juga perempuan yang kini memikul luka karena keputusannya. Ia menyentuh udara di atas perut Viera, tidak berani menyentuh langsung.
“Ayah akan melindungimu, Nak. Meski ibumu membenciku.“