Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.
Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.
Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERSEMBUNYI DIBALIK AWAN
Di pagi yang membawa kabut tipis seperti kain yang direntangkan lembut di atas bumi , Murni sedang sibuk mengatur rak-rak di warung kecil yang baru saja mereka buka bersama Khem di depan kost. Rak kayu yang dibuat dengan tangan Khem sendiri dihiasi dengan tanaman hias berdaun hijau seperti daun pepaya muda, sementara kain batik merah muda yang menjadi alas meja mengeluarkan aroma lilin yang lembut seperti kenangan masa kecil. Dia sedang menyusun kotak-kotak kue lapis, onde-onde, dan klepon yang dibuat dengan tangannya sendiri, sambil menyanyi lagu rakyat yang selalu membuat hatinya terasa hangat seperti pelukan ibu.
“Sayang, aku akan pergi sebentar ya,” ucap Khem dari belakangnya, suara nya yang biasanya hangat kini terdengar sedikit serak seperti angin yang melewati celah dinding. “Ada urusan penting di pabrik yang harus aku tangani segera. Mungkin aku akan pulang agak larut malam ini.”
Murni berpaling dengan senyum yang meriah seperti bunga yang mekar di pagi hari. “Baik saja sayang… jangan terlalu lama ya. Aku akan menyimpan nasi bakar ikan patin untukmu di dalam kompor kecil ya.”
Khem memberikan ciuman ringan di dahinya, tapi sentuhannya terasa lebih cepat dari biasanya seperti embun yang segera menguap ketika terkena matahari. Dia mengambil helmnya dengan gerakan yang tergesa-gesa, kemudian naik motor dengan kecepatan yang lebih cepat dari biasanya—meninggalkan Murni yang menatap sosoknya yang semakin jauh dengan rasa ingin tahu yang sedikit muncul di dalam hatinya.
Seharian berlalu dengan sangat sibuk. Warung kecil mereka ramai dengan pembeli yang datang dari sekitar kost dan pekerja pabrik yang sedang pulang kerja. Murni senang melihat senyum di wajah setiap orang yang membeli kue nya, merasa bahwa semua usaha yang dia lakukan bersama Khem sudah mulai memberikan hasil yang manis seperti madu yang keluar dari sarang lebah. Ketika malam mulai menyelimuti langit dengan kain hitam pekat, dia mulai membersihkan meja dan rak, sambil menunggu Khem yang masih belum datang pulang.
Jam sebelas malam sudah menunjukkan angka nya di dinding jam yang terletak di sudut warung. Murni mulai merasa sedikit khawatir seperti orang yang sedang menunggu kapal yang terlambat datang. Dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Khem, tapi suara nada dering yang biasanya terdengar seperti musik kini digantikan oleh pesan yang dingin seperti es batu: “Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi atau sedang dalam keadaan sibuk.”
Dia mencoba berkali-kali, tapi hasilnya selalu sama. Hingga akhirnya, pesan baru muncul di layar ponselnya: “Panggilan Anda telah diblokir oleh pengguna yang Anda hubungi.”
Murni merasa seperti ada batu besar yang tiba-tiba terjatuh di dalam hatinya. Jantung nya berdebar kencang seperti gendang yang sedang dipukul dengan keras, sementara tangan nya mulai sedikit gemetar seperti daun yang terkena angin kencang. Dia tidak mengerti apa yang terjadi—mengapa Khem yang selalu begitu setia dan penuh dengan cinta, tiba-tiba membekukan dia seperti es yang terbentuk di permukaan danau pada musim dingin.
Di saat yang sama, di dalam pabrik besi dan baja yang sudah sepi dari suara mesin, Luli—rekan kerja Khem yang sudah berteman dengannya selama bertahun-tahun—sedang duduk di kursi kantornya dengan wajah yang penuh dengan kesusahan seperti langit yang akan hujan deras. Dia sedang melihat rekaman panggilan video yang tidak sengaja dia lihat di layar komputer kantor yang terlupakan—panggilan antara Khem dan seorang wanita dengan wajah cantik dari wajah yang mengenalnya sebagai wanita yang pernah di jodohkan dengan Khem oleh orang tuanya di kampung halaman.
“Kapan kamu akan pulang kampungnya, Khem?” suara wanita itu terdengar lembut seperti aliran air yang meluncur di atas batu licin. “Orang tua kita sudah tidak sabar lagi untuk melihat kita menikah. Aku sudah menyiapkan segala sesuatu—dari pakaian pengantin hingga dekorasi rumah yang akan kita tempati bersama.”
“Tunggu sebentar lagi ya, Dea,” suara Khem terdengar dari layar, wajahnya yang biasanya penuh dengan senyum kini terlihat penuh dengan kesusahan seperti langit yang mendung. “Aku masih punya urusan yang harus aku selesaikan di sini. Jangan khawatir, aku akan datang pulang dan kita akan menikah seperti yang sudah kita sepakati.”
Luli menutup matanya dengan tangan nya yang gemetar, merasa seperti orang yang sedang menyaksikan sebuah drama yang menyakitkan hati. Dia sudah tahu tentang hal ini selama bertahun-tahun—tentang perjanjian antara Khem dan Dea yang diatur oleh orang tua mereka sejak lama. Dia pernah melihat Khem bertemu dengan Dea beberapa kali di luar pabrik, tapi dia selalu memilih untuk tidak mengatakan apa-apa karena takut Murni akan terluka parah seperti kertas yang sobek menjadi dua.
“Kenapa kamu harus melakukan ini, Khem?” bisik Luli dengan suara yang penuh dengan kesedihan. “Murni mencintaimu dengan sepenuh hati. Dia sudah berkorban banyak hal untukmu, bahkan rela membangun warung kecil bersama mu dengan harapan masa depan yang indah.”
Di pagi yang akan datang, ketika matahari mulai menyinari langit dengan cahaya yang terang seperti permata, Murni masih duduk di tepi tempat tidur nya dengan ponsel nya di tangan. Dia telah mencoba menghubungi Khem berkali-kali, tapi semua upaya nya sia-sia seperti orang yang mencoba menangkap angin dengan tangan kosong. Hatinya terasa kosong seperti lautan yang telah kehilangan semua ikannya, sementara air mata nya mulai menetes perlahan seperti hujan gerimis yang jatuh di atas tanah kering.
Dia melihat foto-foto yang pernah mereka ambil bersama—foto di tepian danau dengan latar belakang matahari yang terbit dan pelangi yang indah, foto di warung kuih lapis yang penuh dengan senyum, foto di hari pembukaan warung kecil mereka yang penuh dengan harapan. Setiap foto seperti pisau yang menusuk hatinya dengan rasa sakit yang mendalam seperti jurang yang dalam.
Murni tidak bisa membayangkan bagaimana bisa seseorang yang dia percayai dengan sepenuh hati, seseorang yang dia cintai dengan seluruh jiwa dan raganya, bisa berubah seperti itu. Dia telah memberikan segalanya untuk Khem—cinta nya yang tulus seperti air mata yang murni, perhatian nya yang penuh seperti lautan yang luas, dan harapan nya yang tinggi seperti pohon yang menjulang ke langit. Tapi ternyata, semua itu tidak cukup untuk membuat Khem tetap tidak berubah seperti yang dia janjikan.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Hari berikutnya datang dengan langit yang mendung seperti kain hitam yang menutupi seluruh langit kota. Udara terasa lembap seperti kain yang sudah direndam dalam air, membawa aroma tanah basah dan daun yang mulai membusuk. Murni berdiri di depan warung kecil nya yang sudah dia tutup sementara waktu, mengenakan baju jaket tipis berwarna biru tua seperti langit sebelum hujan. Dia sedang memasang tanda “LIBUR SEHARI” di pintu warung, sementara matanya masih sedikit merah karena menangis semalaman seperti sungai yang meluap di musim penghujan.
Saat dia hendak masuk ke dalam kost, sosok Luli yang sedang membawa keranjang berisi sayuran dan buah dari pasar datang menghampirinya dengan langkah yang tergesa-gesa seperti anak yang sedang berlari dari badai. Wajahnya yang biasanya ceria kini penuh dengan kesusahan seperti permukaan danau yang diganggu oleh angin kencang.
“Murni… kamu baik-baik saja kan?” ucap Luli dengan suara yang lembut seperti bisikan angin. Dia berdiri di depan Murni dengan tubuh yang sedikit menggeliat, seperti seseorang yang sedang menyembunyikan rahasia yang berat seperti batu di dalam tas. “Aku melihat kamu tidak buka warung hari ini… apakah ada masalah?”
Murni mengangguk dengan lembut, menyeka sudut matanya yang mulai berkaca-kaca seperti permukaan air yang terkena embun. “Khem tidak pulang kemarin malam, dan aku tidak bisa menghubunginya. Nomor ku sudah diblokir dari ponsel nya, Luli. Aku tidak mengerti apa yang salah dengan aku.”
Luli merasa seperti ada jarum yang menusuk hatinya setiap kali melihat wajah Murni yang pucat seperti kain putih yang sudah pudar. Dia ingin segera memberitahu semua yang dia ketahui, tapi lidahnya seperti terikat oleh tali yang kuat seperti besi. “Mungkin… mungkin dia sedang ada urusan penting saja, Murni,” ucapnya dengan suara yang sedikit goyah seperti pohon yang terkena angin. “Khem itu orang baik… dia pasti tidak akan melakukan sesuatu yang menyakitkan kamu.”
“Aku juga selalu begitu pikir, Luli,” jawab Murni dengan suara yang pelan seperti aliran air yang hampir kering. “Aku telah berulang kali mempercayainya, bahkan ketika suara hati ku mengatakan bahwa mungkin ada sesuatu yang tidak beres. Tapi aku selalu memilih untuk mempercayainya… karena aku mencintainya dengan sepenuh hati.”
Saat itu, hujan mulai turun dengan perlahan seperti air mata yang jatuh dari langit. Tetesan hujan kecil menyambar permukaan tanah dengan suara yang lembut seperti bisikan rahasia. Luli melihat ke arah jalan yang mulai licin karena air, kemudian melihat wajah Murni yang penuh dengan keraguan yang mendalam. “Aku mendengar dari beberapa rekan kerja kost Khem kemarin malam ada yang melihatnya tidak enak badan,” ucap Luli dengan hati-hati seperti seseorang yang sedang membawa barang rapuh. “Mungkin kamu bisa datang ke sana untuk memeriksanya… mungkin dia sedang sakit parah sehingga tidak bisa menghubungi kamu.”
Kata-kata itu seperti kilatan petir yang menerangi kegelapan dalam hati Murni. Dia segera mengambil payung kecil dari dalam kost, kemudian berlari dengan cepat seperti anak yang sedang mencari tempat perlindungan melalui jalan yang mulai tergenang air. Hujan mulai semakin deras seperti air yang keluar dari keran yang terbuka lebar, menyiram tubuhnya dengan deras seperti doa yang ingin menyembuhkan rasa sakit yang ada di dalam hatinya.
Ketika dia sampai di depan kost Khem yang terletak di jalan raya yang lebih jauh dari kost nya, pintu kamar nya terbuka sedikit seperti mulut yang ingin berbicara tapi tidak bisa mengeluarkan suara. Dia mengetuk pintu dengan lembut seperti seseorang yang sedang mengetuk pintu hati orang lain. “Khem… kamu di dalam kan? Aku Murni.”
Tidak ada jawaban yang terdengar kecuali suara napas yang berat seperti orang yang sedang berjuang untuk bernapas. Murni membuka pintu dengan hati-hati, dan melihat Khem berbaring di atas kasurnya yang berantakan seperti lautan yang sedang dilanda badai. Wajahnya pucat seperti kain kapas yang belum diwarnai, dahinya berkeringat seperti tanah yang terkena hujan deras, dan matanya tertutup rapat seperti pintu yang telah ditutup dengan kunci.
“Khem!” teriak Murni dengan suara yang penuh dengan kekhawatiran seperti ibu yang melihat anaknya sakit parah. Dia segera mendekatinya, meletakkan payung nya di sudut kamar, kemudian menyentuh dahinya yang panas seperti bara api yang sedang menyala besar. “Kamu sakit parah kok tidak bilang padaku ya? Mengapa kamu membekukan nomor ku?”
Khem membuka mata nya dengan perlahan, matanya yang biasanya ceria kini kusam seperti mata air yang mulai mengering. Dia melihat wajah Murni yang penuh dengan rasa sakit dan kekhawatiran, dan rasanya seperti ada batu besar yang menekan hatinya. “Maafkan aku, Murni,” ucapnya dengan suara yang serak seperti daun kering yang terbentang di tanah. “Aku tidak ingin kamu melihatku seperti ini… aku tidak ingin kamu khawatir padaku.”
“Tapi mengapa kamu membekukan nomor ku?” tanya Murni dengan suara yang penuh dengan kesedihan seperti lagu rakyat yang menyayat hati. Dia mengambil handuk basah dari bak cuci kamar, kemudian menyeka keringat yang menetes di dahi dan leher Khem dengan gerakan yang lembut seperti menyentuh bunga yang mudah patah. “Aku khawatir padamu, Khem. Aku mencintaimu… mengapa kamu harus menyembunyikan hal ini dariku?”
Khem menutup matanya kembali, air mata mulai menetes dari sudut matanya seperti air yang keluar dari celah batu. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Murni, karena dia tahu bahwa jawaban nya hanya akan menyakitkan hati wanita yang dia cintai dengan sepenuh hati. Dia tahu bahwa dia telah melakukan kesalahan yang besar seperti kapal yang tersesat di tengah lautan yang luas, dan dia tidak tahu bagaimana cara untuk memperbaiki semua yang telah dia rusak.
Murni mengambil obat penurun panas dari tas nya yang selalu dia bawa, kemudian memberikannya pada Khem bersama dengan segelas air putih yang dingin seperti es batu. Dia duduk di sisi kasur Khem dengan tubuh yang tegak seperti pohon yang memberikan naungan pada orang yang sedang dalam kesusahan, sambil memegang tangannya yang panas seperti bara yang menyala. Hujan masih terus turun di luar kamar, menyiram dunia dengan suara yang seperti doa untuk menyembuhkan semua rasa sakit dan kesalahan yang ada di dunia ini.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Di kamar kost Khem yang masih dipenuhi oleh bau obat dan udara lembap dari hujan yang baru saja reda, angin mulai masuk melalui celah jendela yang terbuka selebar jari—menyebarkan rasa tidak nyaman seperti debu yang masuk ke dalam mata. Murni masih duduk di sisi kasur, tangan nya yang lembut tetap memegang tangan Khem yang mulai sedikit mendingin seperti batu yang terkena embun pagi. Suara napas Khem yang tadinya berat kini mulai menjadi lebih stabil, tapi matanya masih tertutup rapat seperti buku yang belum siap untuk dibuka.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang keras seperti gendang perang terdengar membuat kedua mereka terkejut. Murni berdiri dengan perlahan, mengusap tangan Khem dengan lembut sebelum berjalan ke arah pintu. Ketika dia membukanya, sosok Aksa berdiri di depan nya dengan wajah yang membawa senyum yang tidak bisa dipercaya seperti ular yang sedang menari di atas dahan pohon.
“Murni… akhirnya aku menemukan kamu,” ucap Aksa dengan suara yang sok lembut seperti angin yang membawa kabut beracun. Dia memasuki kamar tanpa diizinkan, tubuhnya bersandar pada tembok dengan pose yang dibuat-buat seperti orang yang sedang menguasai seluruh ruangan. “Aku sudah tahu tentang apa yang terjadi dengan kamu dan si Khem itu. Aku bilang kan padamu dulu, dia bukan orang yang bisa dipercaya!”
Murni berdiri dengan tubuh yang tegak seperti tiang yang menopang rumah, matanya yang biasanya lembut kini menjadi tajam seperti pisau yang sudah diasah. “Apa yang kamu inginkan, Aksa? Ini bukan tempat untukmu. Kamu harus pergi sekarang juga!”
“Aku datang untuk membantumu, Murni,” jawab Aksa dengan suara yang penuh dengan sok kepedulian seperti pelayan yang ingin mendapatkan hadiah. Dia mengambil sebuah amplop putih dari dalam kantong jas nya, kemudian meletakkannya di atas meja kayu yang berantakan. “Di dalam amplop ini ada uang yang cukup banyak untukmu membuka warung baru yang lebih besar, bahkan untuk kamu pulang kampung dan memulai hidup baru. Cukup tinggalkan si Khem ini saja—dia tidak pantas untukmu.”
Murni melihat amplop itu dengan mata yang penuh dengan kemarahan dan rasa sakit yang mendalam seperti jurang yang dalam. “Apa kamu pikir aku bisa dibeli dengan uang semudah itu, Aksa?” ucapnya dengan suara yang penuh dengan kebencian seperti api yang menyala besar. “Kamu selalu menggunakan orang lain untuk mencapai tujuan mu sendiri. Kamu adalah buaya jantan yang selalu siap menyerang setiap kali melihat kesempatan! Aku tidak akan pernah menuruti kata-katamu!”
Aksa menghela napas dengan suara yang penuh dengan kesal seperti angin yang melewati celah dinding. “Kamu benar-benar bodoh ya, Murni! Aku sedang mencoba membantumu dari penderitaan, tapi kamu malah menolaknya. Si Khem itu mendua padamu—dia sudah berjanji untuk menikahi wanita lain di kampungnya, tapi dia masih menyimpan kamu di sini seperti mainan yang bisa dia mainkan kapan saja! Apakah kamu ingin terus terluka seperti ini?”
Kata-katanya seperti badai yang menghantam pantai dengan kekuatan yang luar biasa. Murni merasakan hati nya mulai bergetar seperti daun yang terkena angin kencang—rasa ragu dan bimbang mulai menyebar seperti air yang merembes ke dalam kain basah. Apakah benar Khem telah mengkhianatinya? Apakah semua cinta dan perhatian yang dia berikan selama ini hanya bohongan belaka? Apakah dia seharusnya mengikuti kata-kata Aksa dan meninggalkan Khem untuk selamanya?
Tapi kemudian dia melihat Khem yang masih berbaring di atas kasur, wajahnya yang pucat seperti kain putih yang belum diwarnai namun membawa ekspresi yang penuh dengan kesusahan seperti orang yang sedang berjuang dengan diri nya sendiri. Dia ingat bagaimana Khem selalu ada untuknya di saat-saat sulit, bagaimana dia selalu membantu dia tanpa pamrih, bagaimana dia selalu membuatnya merasa dicintai dan dihargai. Meskipun ada kemungkinan bahwa Khem telah melakukan kesalahan yang besar, hati nya masih tidak bisa meninggalkannya begitu saja.
“Aku tidak akan pernah meninggalkannya, Aksa,” ucap Murni dengan suara yang kembali tenang seperti permukaan danau yang sudah tenang setelah badai. “Aku akan tetap di sini dengan dia sampai dia bisa menjelaskan semua yang terjadi. Dan kamu… kamu harus pergi sekarang juga sebelum aku memanggil orang untuk mengusirmu keluar dari sini!”
Aksa melihatnya dengan mata yang penuh dengan kemarahan dan rasa frustrasi seperti kobaran api yang padam karena air. Dia mengambil amplop putih dari atas meja dengan gerakan yang kasar seperti orang yang sedang mengambil barang yang dicuri, kemudian berjalan menuju pintu dengan langkah yang cepat seperti kelinci yang sedang dikejar oleh singa. “Baiklah, Murni. Nanti kamu akan menyesal tidak menerima bantuan ku. Ingatlah kata-kataku—si Khem itu tidak akan pernah bisa memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya padamu!”
Setelah Aksa pergi dengan kerasnya membanting pintu kamar, Murni kembali duduk di sisi kasur Khem. Dia memegang tangannya dengan erat seperti seseorang yang sedang memegang kayu penyelamat di tengah lautan yang luas, sambil menatap wajahnya dengan mata yang penuh dengan cinta dan harapan yang masih belum padam seperti lilin yang terus menyala di tengah kegelapan. Hati nya masih ragu dan bimbang seperti kapal yang tersesat di tengah badai, tapi dia tahu bahwa dia tidak akan pernah bisa meninggalkan orang yang dia cintai begitu saja—bahkan jika itu berarti dia harus menghadapi rasa sakit yang lebih dalam lagi.
...