NovelToon NovelToon
ENIGMA

ENIGMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Manusia Serigala / Dokter Genius / CEO Amnesia / Cinta pada Pandangan Pertama / Transformasi Hewan Peliharaan / Pengasuh
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Tawaran Tak Terduga

Pagi itu, sinar matahari terasa lebih hangat dari biasanya, namun ketakutan masih membekas jelas di mata Esme. Sejak kembali dari hutan, ia tidak melepaskan pandangannya dari AL sedetik pun. Wanita itu menjadi sangat protektif, seolah jika ia berkedip, AL akan menguap menjadi asap. Ia terus menempel pada AL, memegangi ujung bajunya saat mereka berjalan di dalam rumah, bahkan saat AL hanya ingin mengambil air di dapur.

"Moa, aku hanya ke dapur, bukan kembali ke hutan," ucap AL dengan suara lembut namun masih terdengar serak. Ia tersenyum tipis, merasa senang sekaligus bingung dengan perubahan sikap Esme yang menjadi sangat manja dan protektif.

"Tetap di dekatku, Aleksander. Jangan jauh-jauh," jawab Esme pendek, matanya masih sedikit sembab.

Sesuai rencana, mereka harus memberikan penjelasan kepada warga desa sebelum desas-desus liar menyebar. Dengan bantuan AL yang masih sedikit lemas, Esme menemui Paman Silas dan Bang Togar yang kebetulan sedang berada di depan balai desa.

"Paman Silas! Bang Togar!" seru Esme.

Melihat AL kembali, Bang Togar langsung berlari mendekat dengan wajah penuh rasa bersalah yang amat sangat. "Aleks! Kau hidup! Astaga, aku pikir kau sudah masuk ke perut beruang itu!"

Esme segera mengambil alih narasi. "Dia selamat, Paman. Aleksander berhasil mengusir beruang itu jauh ke dalam hutan, tapi dia sendiri tersesat dan kelelahan hebat. Aku menemukannya pingsan di dekat sungai tadi subuh."

Paman Silas mengelus dadanya lega. "Syukurlah. Kami baru saja mau mengumpulkan pemuda untuk melakukan pencarian besar-besaran. Tapi lihatlah, pintu rumahmu hancur berantakan. Beruang itu pasti sangat besar dan marah, ya?"

AL hanya mengangguk kaku, mengikuti instruksi mata Esme. "Iya, Paman. Sangat besar. Tanganku sampai pegal semua karena menahan pintunya sebelum dia kabur."

"Waduh, kalau begitu kau harus istirahat total, Aleks!" seru Bang Togar. "Paman Silas, biarkan Aleksander libur dulu dari kebun. Dia ini pahlawan desa! Dia sudah melindungi Dokter kita dari maut."

Paman Silas setuju sepenuhnya. "Tentu saja! Aleks, kau fokuslah pada pemulihan. Soal pintu dan bagian rumah yang rusak, jangan khawatir. Sebentar lagi aku akan mengirim tukang kayu dan pemuda desa untuk memperbaikinya. Anggap saja itu tanda terima kasih kami."

Sesuai ucapan Paman Silas, siang harinya pondok di bukit itu ramai oleh warga. Ada yang membawa papan kayu baru, ada yang membawa makanan untuk "sang pahlawan", dan para ibu-ibu membawakan jamu penguat stamina untuk AL. Mereka semua sangat percaya bahwa kerusakan rumah itu adalah ulah beruang liar yang ganas. Solidaritas warga desa membuat Esme merasa sedikit tenang, meski di dalam hati ia merasa bersalah telah membohongi orang-orang baik ini.

Setelah semua warga pulang dan pintu rumah sudah kembali kokoh, suasana pondok kembali sunyi. Senja mulai turun, menyisakan warna oranye yang temaram di ruang tengah. AL sedang duduk di sofa, memijat bahunya yang memang terasa sangat kaku karena kontraksi otot Enigma semalam.

Esme datang membawakan minyak hangat. Ia duduk di samping AL dan mulai memijat lengan pria itu dengan lembut. "Masih sakit?"

"Sedikit pegal, Moa. Rasanya seperti aku baru saja memikul seluruh gunung ini di punggungku," jawab AL jujur.

Esme menatap AL cukup lama. Bayangan AL yang hampir berubah menjadi monster di hutan semalam kembali menghantuinya. Ia takut jika AL tidur sendirian di ruang tengah, sesuatu yang buruk akan terjadi lagi tanpa ia ketahui. Keberanian yang entah datang dari mana tiba-tiba muncul di benak Esme.

"Aleksander," panggil Esme pelan, wajahnya mulai memerah.

"Iya, Moa?"

"Malam ini... dan malam-malam seterusnya... jangan tidur di sofa lagi," ucap Esme sambil menunduk, tidak berani menatap mata kuning AL.

AL memiringkan kepalanya bingung. "Lalu aku tidur di mana? Di kandang Ocan? Ocan pasti akan mencakarku."

"Bukan!" Esme menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh sisa harga dirinya. "Tidurlah di kamarku. Maksudku... kita tidur di ranjang yang sama. Aku... aku ingin memastikan kau baik-baik saja sepanjang malam."

AL terdiam seribu bahasa. Matanya berkedip beberapa kali, mencoba mencerna informasi yang baru saja ia terima. Selama ini, meskipun ia belajar dari Bang Togar tentang "ritual ranjang", ia tahu bahwa Esme selalu menjaga jarak yang sangat ketat soal privasi kamar.

"Seranjang? Denganmu?" tanya AL dengan nada paling lugu yang pernah ia keluarkan. "Apakah ini hadiah karena aku sudah berhasil mengusir beruang imajiner itu?"

Esme menepuk lengan AL dengan malu. "Ini bukan hadiah! Ini pemantauan medis! Aku harus memantau detak jantungmu secara langsung."

"Tapi Moa, Bang Togar bilang kalau suami istri tidur seranjang, itu adalah gerbang menuju 'olahraga malam'. Apakah kau sudah siap melakukan olahraga itu denganku? Karena bahuku masih sedikit pegal, tapi kalau kau memaksa, aku akan berusaha sekuat tenaga," ucap AL dengan ekspresi yang sangat polos namun kalimatnya membuat Esme ingin meledak saat itu juga.

"TIDAK ADA OLAHRAGA! Kita hanya tidur! Menutup mata, bernapas, dan diam!" teriak Esme dengan wajah yang sudah merah padam sampai ke leher. "Dan jangan sebut nama Bang Togar lagi di dalam kamar!"

AL tersenyum lebar, ia merasa sangat beruntung. "Baiklah. Aku akan diam dan bernapas di sampingmu. Aku merasa sangat... beruntung."

Esme tidak menjawab, ia hanya menarik tangan AL menuju kamar. Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka berbaring di satu ranjang yang sama. Ranjang itu terasa sempit karena tubuh AL yang raksasa menghabiskan hampir dua pertiga tempat, namun bagi Esme, ini adalah tempat paling aman di dunia.

AL berbaring dengan kaku, menatap langit-langit kamar. "Moa, apakah aku boleh memegang tanganmu? Bang Togar bilang kontak kulit adalah kunci ketenangan."

Esme menghela napas, lalu menyusupkan tangannya ke dalam genggaman tangan AL yang besar dan hangat. "Hanya pegangan tangan, Aleksander."

"Terima kasih, Moa. Selamat tidur," bisik AL.

Di kegelapan kamar, AL merasa sangat bahagia, sementara Esme mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Di sudut kamar, Ocan hanya memperhatikan mereka dari atas kursi, menguap lebar seolah berkata, "Akhirnya, perkembangan yang sangat lambat ini menunjukkan hasil."

Bagaimana kelanjutan malam pertama mereka di satu ranjang?

1
Ceye Paradise
🫶😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!