“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."
Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.
Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: AKSARA DEWA DAN CIUMAN SPONTAN
Rasa sakit yang menghujam sumsum tulang Rimba telah mencapai titik kritis. Di dasar telaga yang remang, tubuhnya tampak bergetar hebat. Beberapa kali kesadarannya hampir meredup, namun dengan sisa-sisa tekad yang membara, ia mengerahkan seluruh Qi yang tersisa di Dantiannya untuk menjaga fokus. Ia tahu, jika ia pingsan sekarang, proses transformasi ini bisa gagal dan berakibat fatal.
Lalu, sebuah fenomena mengerikan sekaligus menakjubkan terjadi.
Perlahan-lahan, seluruh struktur tulang di dalam tubuh Rimba mulai meluruh. Suara retakan yang tadi memekakkan telinga berganti menjadi suara halus, seperti pasir yang mengalir. Tulang-tulang lamanya hancur menjadi partikel mikroskopis, kemudian didorong keluar melalui pori-pori kulitnya bersama kotoran hitam yang pekat.
Untuk beberapa saat, Rimba kehilangan bentuk manusianya. Tanpa kerangka penyangga, tubuhnya hanya tampak seperti sehelai kulit yang lemas, bergoyang-goyang lunglai mengikuti riak air di dalam telaga. Pemandangan itu akan membuat siapa pun ngeri, namun bagi Rimba, inilah titik nol keberadaannya.
Tiba-tiba, dari pusat kepalanya, sesuatu yang baru mulai muncul. Sebuah cahaya hitam mengkilat, pekat seperti malam namun memancarkan bara hangat, mulai menjalar dengan kecepatan konstan ke seluruh tubuh. Cairan logam mistis itu mulai memadat, membentuk kembali ruas-ruas tulang belakang, tulang rusuk, hingga jemari kaki. Bahannya tampak seperti besi hitam yang ditempa di api abadi—kuat, padat, dan tak terpatahkan.
Seiring dengan terbentuknya kerangka baru itu, rasa sakit yang menyiksa tadi lenyap tanpa bekas. Sebagai gantinya, perasaan damai yang luar biasa menyelimuti hatinya. Rimba merasa seolah sedang dipeluk oleh semesta. Tidak butuh waktu lama hingga seluruh tulang besi hitam itu terbentuk sempurna, memberikan struktur tubuh yang jauh lebih kokoh dari sebelumnya.
Begitu proses rekonstruksi berakhir, hukum gravitasi di dalam telaga seolah berbalik. Tubuh Rimba mulai bergerak perlahan menuju permukaan. Air telaga yang tadinya sebening kristal kini berubah menjadi keruh dan kecokelatan, dipenuhi oleh sisa-sisa kotoran fana dan partikel tulang lama yang telah dibuang oleh tubuhnya.
Byur!
Rimba muncul di permukaan, menghirup udara dengan rakus. Ia melangkah keluar dari telaga, air menetes dari tubuhnya yang kini tampak berbeda. Di tepi kolam, Lara dan Cesar sudah menunggu dengan setia.
Rimba berdiri tegak, merentangkan tangan sambil menghirup napas dalam-dalam. Ia merasakan tubuhnya menjadi lebih tinggi beberapa sentimeter, lebih tegap, dan penuh tenaga. Saat ia mengepalkan tangannya dan mengencangkan otot-ototnya, ia bisa merasakan gejolak energi yang besar di balik kulitnya.
Lara tertegun. Untuk beberapa kejap, mata wanita cantik itu terpaku pada Rimba. Tubuh pemuda itu kini benar-benar proporsional—otot-ototnya tercetak sempurna namun tidak berlebihan, kulitnya cerah dan tampak halus, namun jika disentuh akan terasa sekeras batu karang. Aura yang terpancar dari diri Rimba kini mulai memiliki tekanan yang membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat.
"Menurut kamu tubuhku makin bagus nggak, Lara?" tanya Rimba dengan senyum percaya diri yang lebar.
Lara segera tersadar dari lamunannya. Wajahnya memerah, ia segera memalingkan muka dengan cepat. "Itu... jubah mandinya dipakai dulu! Masa kamu mengajak bicara dalam keadaan telanjang bulat begitu!" ucap Lara dengan suara yang sedikit meninggi karena malu.
"Gak apa-apalah. Toh, dari awalnya tadi kamu juga udah lihat semuanya kan?" jawab Rimba cuek, sama sekali tidak merasa risih.
"Malas ah, kalau kamu seperti itu!" Lara mendengus kesal, meski wajahnya masih memerah hebat. Ia langsung berbalik dan melangkah lebar menuju dalam rumah.
Rimba tertawa kecil, lalu menoleh ke bawah. "Benar bagus kan, Cesar?"
Cesar, yang biasanya selalu mendukung Rimba, kali ini justru memalingkan mukanya dengan gaya yang sangat mirip dengan Lara. Serigala kecil itu mendengus pendek, lalu berlari-lari kecil menyusul Lara masuk ke dalam rumah.
"Yaaahhh... masa kalian nggak bisa diajak bercanda sih?" gerutu Rimba sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Padahal tadi niatnya mau menggoda saja, malah melengos dua-duanya. Candaannya nggak lucu ya?"
Dengan sedikit rasa malu yang akhirnya muncul, Rimba segera memungut jubah mandinya yang teronggok di atas batu. Setelah memakainya, ia menyusul mereka masuk ke dalam rumah.
"Lara, aku ingin pakai celana Tai Chi untuk latihan nanti. Apa bisa kamu usahakan?" tanya Rimba saat melihat Lara sedang merapikan meja makan.
Lara menoleh ragu-ragu, memastikan Rimba tidak sedang melakukan aksi 'pamer' lagi.
"Tenang saja, sudah pakai jubah kok. Aman," ucap Rimba sambil menepuk-nepuk jubahnya.
Lara menghela napas lega. "Sudah ada di kamar. Di dalam lemari paling bawah."
Cesar melompat-lompat gembira mendengar tuannya akan berlatih. Rimba segera menuju kamarnya, mengganti jubah mandi dengan celana Tai Chi hitam yang longgar dan nyaman. Ia memutuskan untuk tidak memakai atasan, membiarkan dadanya yang bidang bertelanjang saja karena ia merasa suhu tubuhnya sedang sedikit meningkat setelah proses di telaga tadi.
"Lara, sepertinya aku harus kembali ke duniaku dulu," kata Rimba saat kembali ke ruang tengah. "Sudah dua hari aku di sini, aku takut ada apa-apa dengan rumah Kakek. Lagipula pendaftaran kuliahku sudah dekat."
Lara menggeleng tenang. "Tidak usah sekarang, Rimba. Dimensi ini memiliki aliran waktu yang berbeda. Satu jam di dunia luar sama dengan satu hari di sini. Jika kamu sudah di sini dua hari, di luar sana baru berlalu dua jam. Jadi, kalau kamu menetap di sini sampai tujuh hari pun, saat kamu keluar nanti, di duniamu masih pagi hari yang sama."
Mata Rimba membelalak. "Oh, jadi begitu? Wah... asyik ini! Berarti aku punya banyak waktu untuk 'curang' dalam belajar. Oke deh, aku keluarnya nanti saja kalau sudah genap enam atau tujuh hari."
Rimba tampak sangat antusias. "Lalu, bagaimana cara memulai latihan fisik dan kultivasi itu, Lara?"
"Masuklah ke ruang kontrol di samping aula. Hidupkan sistem pengajarannya. Dinding indoor itu akan berfungsi seperti layar raksasa yang menampilkan semua petunjuk latihan," terang Lara.
Rimba segera melangkah menuju ruang kontrol. Sebagai mahasiswa IT, hatinya bergetar melihat teknologi di hadapannya. Meja panel itu dipenuhi tombol touchscreen dan hologram statis. Begitu ia menekan tombol On, dinding aula indoor menyala terang. Beberapa ikon muncul di bagian atas dinding, dan di meja panel tersedia sebuah touchpad sensitif.
Rimba menggerakkan jarinya di atas touchpad, dan sebuah kursor di layar raksasa itu bergerak dengan sangat presisi.
"Ini seperti komputer... Ah, bukan, ini memang superkomputer raksasa!" seru Rimba. "Aku harus mempelajari sistemnya."
Rimba mencoba membedah sistem yang ia beri nama Aether tersebut. Namun, saat ia mencoba masuk lebih dalam ke menu pengaturan, langkahnya terhenti. Ikon-ikon dan instruksi yang muncul di layar bukanlah bahasa Inggris atau Indonesia, melainkan simbol-simbol aneh yang sangat rumit.
Ia segera mematikan sistem dan berlari mencari Lara. "Lara! Kenapa tulisannya aneh semua? Aku nggak paham satu pun."
"Itu adalah Aksara Dewa, Rimba. Bahasa dasar dari seluruh penciptaan di dimensi ini," jawab Lara tenang.
"Bagaimana cara aku bisa belajar memahami Aksara Dewa itu Ra? Apa kamu bisa mengajari aku?," tanya Rimba sambil menatap mata Lara.
"Perpustakaan mental," jawab Lara singkat.
Tanpa membuang waktu, Rimba segera duduk bersila di tempat dan menyelam ke dalam Perpustakaan Mentalnya. Ia memilah-milah ribuan modul yang melayang, hingga akhirnya ia menemukan satu modul yang bersinar keperakan: "Pemahaman Aksara Dewa".
Rimba melonjak kegirangan. Ia merasa pintu dunia baru, baru saja terbuka lebar baginya. Saking gembiranya, ia melakukan tindakan impulsif. Ia berlari ke arah Lara, memegang kedua pipi wanita itu, dan sambil tertawa lebar, ia mencium pipi kiri dan kanan Lara berkali-kali.
"Terima kasih, Lara! Kamu benar-benar asisten terbaik!" seru Rimba sebelum akhirnya berlari kembali menuju aula indoor dan naik ke atas altar batu hitam dengan semangat membara.
Rimba segera menutup matanya, bersiap melakukan pemahaman mental terhadap Aksara Dewa agar ia bisa menguasai sistem Aether.
Sementara itu, di ruang tengah, Lara berdiri mematung. Mulutnya sedikit terbuka, tangannya gemetar saat menyentuh pipinya yang baru saja dicium Rimba. Wajahnya merah padam hingga ke leher, sementara jantungnya berdegup kencang seperti sedang ditabuh. Cesar hanya bisa menggonggong riang sambil berputar-putar di kaki Lara, seolah menertawakan kekakuan pelayan cantik itu.