Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .
bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
" Kita bisa mulai membuat daftar besok pagi setelah cafe tutup," ujar Mayang dengan semangat tinggi. "Aku sudah punya beberapa referensi dekorasi teras yang mungkin cocok dengan tema 'Warna Laut' menggunakan bahan alami kayak anyaman bambu dan warna-warna lembut yang mirip laut saat senja."
Rain mengangguk mendengarnya, "Kalau perlu bantuan untuk mencari supplier bahan atau bahkan untuk renovasi fisiknya, bisa bilang aja ya Syah. Perusahaan ku juga pernah bekerja sama dengan beberapa kontraktor yang handal. Bisa aku rekomendasikan."
Aisyah melihat Rain dengan rasa terima kasih yang dalam, "Terima kasih banyak Kak Rain. Kalau memang ada kesempatan, aku akan sangat menghargainya. Sebenarnya aku juga sedang bingung mencari bahan khusus untuk pasta dan saus khas Italia yang aku mau buat.
" Itu tidak sulit kok," balas Rain dengan senyum. "Kamu tahu kan perusahaan ku juga mengimpor beberapa bahan makanan berkualitas tinggi? Bisa aku cek dulu stoknya, mungkin ada yang kamu butuhkan. Kalau tidak ada, bisa aku bantu pesan dari supplier yang sama dengan yang digunakan oleh restoran Italia ternama di Jakarta."
Aisyah terkejut dan sangat senang, "Benarkah Kak Rain? Itu akan sangat membantu banget buat aku. Aku sudah mencoba cari di beberapa toko di Jakarta tapi belum menemukan yang sesuai dengan standar yang aku inginkan."
"Sama-sama, Syah. Kamu fokus aja pada resep dan konsep menu nya ya," kata Rain sambil melihat jam di pergelangannya. "Wah, sudah hampir jam tujuh nih. Aku tidak boleh terlalu lama mengganggumu, kamu pasti sangat sibuk hari ini." Rain menatap sekeliling cafe yang terlihat penuh oleh pengunjung dan kebanyakan dari mereka adalah anak muda.
Rain memberikan senyum hangat terakhir sebelum berjalan ke pintu cafe, "Sampai jumpa besok sore ya Syah. Jangan lupa siap ya!" Setelah itu dia berbalik dan keluar dari cafe, menyapa beberapa pengunjung yang mengenalnya saat berjalan.
Begitu Rain pergi, Mayang langsung duduk bersebelahan dengan Aisyah, "Wah Syah, kelihatannya Kak Rain benar-benar peduli sama kamu lho. Lihat aja, mau bantu cari bahan makanan sampai rekomendasikan kontraktor. Bukan cuma sekadar ajak jalan acara aja kan?"
Aisyah menepuk bahu Mayang dengan sedikit tersipu, "Jangan ngomongin yang tidak-tidak dong May. Dia hanya mau membantu saja,"
"Ya sudah, kalau memang menurut mu seperti itu," jawab Mayang dengan nada canda. "Tapi satu hal yang pasti, kamu sudah mulai kembali ceria lagi Syah. Itu yang penting buat aku."
Aisyah mengangguk dan melihat ke arah jendela cafe, melihat langit yang mulai gelap dengan bintang-bintang yang mulai muncul. Rasa sakit tentang David masih ada di dalam hatinya, tapi sekarang ada juga rasa harapan yang tumbuh perlahan. Besok akan menjadi hari baru, dan siapa tahu apa yang akan terjadi di acara amal itu. Bukan hanya untuk cafe nya, tapi mungkin juga untuk dirinya sendiri.
Saat malam semakin larut dan jumlah pengunjung mulai berkurang, Aisyah kembali ke meja kantor kecil di belakang kasir. Dia membuka buku catatan yang sudah lama digunakan dan mulai menuliskan daftar hal-hal yang perlu disiapkan , dari dekorasi teras hingga daftar bahan makanan yang mungkin bisa dibantu oleh Rain.
Setelah menutup buku catatan, dia mengambil foto lama yang terpajang di atas meja , foto dirinya bersama David saat mereka pertama kali membuka cafe ini. Dia menyentuh wajah David di foto dengan lembut. "Semoga kamu bahagia di sana, David," bisiknya pelan. "Cafe kita akan semakin baik, aku janji."
Di luar jendela, bulan sudah mulai muncul jelas di antara awan. Aisyah menarik napas dalam-dalam, merasakan energi baru mengalir dalam dirinya. Ini adalah awal dari babak baru bagi dirinya dan cafe yang mereka bangun bersama.
Ketika salah seorang pegawai datang memberitahu bahwa sudah saatnya menutup cafe, Aisyah mengangguk dan mulai membersihkan meja kantornya. Sambil mengambil tasnya untuk pulang, pikirannya sudah mulai membayangkan seperti apa suasana teras cafe yang dihiasi anyaman bambu dan warna-warna lembut seperti laut senja. Dan tanpa dia sadari, bibirnya sedikit mengangkat membentuk senyum yang tulus.
...----------------...
Sesuai janjinya Rain menjemput Aisyah di rumahnya dan di sambut oleh kedua orang tua Aisyah.Mereka dengan senang hati memberi izin saat Rain menuturkan niatnya mengajak Aisyah ke acara amal tahunan perusahaan nya. Dan yang membuat mereka lebih bahagia Aisyah menerima ajakan itu dengan senang hati membuat mereka berfikir jika Aisyah sudah mulai perlahan melupakan David dan memulai hidupnya yang baru.
"Sudah siap, Syah?" tanya Rain dengan senyum ramah saat Aisyah turun dari tangga mengenakan gaun panjang warna biru muda yang menyerupai warna laut pagi, disertai aksesoris anyaman bambu yang dibuat khusus oleh Mayang.
" Jangan menatapku seperti itu" Ujar Aisyah sedikit malu saat melihat Rain menatapnya dengan pandangan penuh kagum.
"Kamu cantik sekali, Syah. Percayalah, banyak orang akan terkesan dengan penampilanmu dan juga cerita tentang cafe mu," ucap Rain sambil membuka pintu mobil untuknya, setelah mereka pamit kepada kedua orang tua Aisyah.
Perjalanan menuju lokasi acara yang berada di kawasan pusat bisnis Jakarta berjalan lancar. Di dalam mobil, Rain mulai menjelaskan detail acara yang akan dihadiri , selain sebagai ajang amal, juga akan ada kesempatan untuk memperkenalkan usaha kecil dan menengah yang berfokus pada bahan alami dan produk lokal.
"Kamu bisa memperkenalkan konsep cafe dan menu Italia khas kamu lho Syah. Beberapa investor juga akan datang hari ini, mungkin ada yang tertarik untuk bekerja sama atau bahkan membantu ekspansi nantinya," ujar Rain dengan penuh semangat.
Aisyah mengangguk perlahan, rasa gugup mulai muncul sedikit di dalam hatinya. " Terimakasih sudah memberikan jalan untuk ku. " Ujar Aisyah tulus.
Saat mereka tiba di lokasi, Aisyah langsung terpesona dengan dekorasi tempat yang juga mengambil tema alam dengan banyak tanaman hijau dan ornamen anyaman dari berbagai jenis bambu dan rotan. Banyak tamu sudah datang, sebagian besar mengenakan pakaian dengan warna-warna lembut yang menyatu dengan suasana.
Rain memperkenalkan Aisyah pada beberapa koleganya dan juga beberapa pengusaha makanan ternama di Jakarta. Salah satunya adalah tuan Abraham, pemilik rantai restoran lokal yang sudah berpengalaman puluhan tahun.
"Sangat menginspirasi mendengar cerita kamu, Aisyah," ucap tuan Abraham setelah Aisyah menjelaskan tentang perjuangannya menjalankan cafe miliknya. "Jika kamu membutuhkan bimbingan tentang manajemen atau pemasaran, jangan sungkan untuk menghubungiku ya. Usaha kecil seperti kamu yang tetap konsisten dengan kualitas layak untuk didukung."
Saat acara mulai dimulai, Rain naik ke atas panggung untuk memberikan sambutan. Setelah itu, dia mengundang Aisyah untuk datang ke depan dan berbagi cerita tentang cafe serta acara amal yang akan digelar. Dengan suara yang mantap meskipun awalnya sedikit gemetar, Aisyah menjelaskan tentang tema "Warna Laut", penggunaan bahan alami, dan juga cita-citanya untuk membuat cafe menjadi tempat yang nyaman sekaligus memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar.
Setelah pidatonya selesai, tepukan tangan meriah terdengar memenuhi ruangan. Bahkan ada beberapa tamu yang langsung mendekatinya untuk menyampaikan dukungan .
Aisyah begitu terharu dan sangat senang tak menyangka di tempat ini ia mengenal para pengusaha sukses dan semua itu adalah campur tangan Rain. Saat dia melihat ke arah Rain yang sedang melihatnya dengan senyum bangga, rasa syukur yang mendalam memenuhi hatinya. Mungkin memang benar apa yang dikatakan Mayang ini bukan hanya awal baru bagi cafe , tapi juga untuk dirinya sendiri. Dan siapa tahu, mungkin di babak baru ini, ada sesuatu yang indah yang sedang menunggunya.