Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Kesunyian Yang Menghukum
Seharusnya Saliha merasa lega. Seharusnya, inilah kedamaian yang ia dambakan selama ini. Tidak ada lagi paksaan, tidak ada lagi perdebatan tentang perasaan, dan tidak ada lagi tatapan posesif yang membuatnya terhimpit.
Daviko benar-benar menepati janjinya untuk bersikap profesional. Namun, kedamaian yang ia dapatkan justru terasa seperti hukuman yang jauh lebih kejam daripada kemarahan.
Sudah hampir dua minggu Daviko berubah menjadi sosok yang datar. Pria itu tidak lagi menunggunya di ruang tengah, tidak lagi mencuri pandang saat ia sedang menyusui Kaffara, bahkan tidak lagi menanyakan hal-hal di luar keperluan sang bayi.
Daviko hanya akan bicara seperlunya. "Kaffara sudah minum obat?", "Kaffara sudah minum susu?", "Terima kasih, Saliha."
Hanya itu. Singkat, padat, dan sangat asing.
Saliha sering mencuri pandang ke arah Daviko saat pria itu sedang menggendong Kaffara. Ia melihat mata elang yang dulu selalu berkilat penuh obsesi dan cinta untuknya, kini meredup.
Ada kabut kekecewaan yang mendalam di sana. Mata itu tidak lagi mencari binar di mata Saliha, melainkan lebih sering menatap kosong ke arah jendela atau hanya terfokus pada wajah mungil Kaffara.
Rasa tidak nyaman mulai merayap di hati Saliha. Saat ia berada di dapur menyiapkan makanan, ia seringkali tanpa sadar menoleh ke arah pintu, berharap Daviko akan muncul di sana dan sedikit "mengganggunya" seperti biasa. Namun, yang terdengar hanyalah langkah kaki tegap yang langsung menuju ruang kerja dan suara pintu yang tertutup rapat.
"Bukannya ini yang kamu mau, Saliha?" bisik batinnya mengejek.
"Den Viko, sekarang jadi lebih pendiam ya, Mbak," celetuk Bi Tita suatu sore saat mereka sedang melipat pakaian di ruang belakang. "Biasanya kalau pulang dinas, yang dicari Mbak Saliha dulu. Sekarang langsung masuk kamar atau ruang kerja. Mukanya juga pucat, kayak banyak beban."
Saliha hanya tersenyum tipis, meski dadanya terasa sesak. "Mungkin Bapak sedang banyak tugas di kesatuan, Bi."
"Tapi beda, Mbak. Kayak ada yang hilang nyawanya dari rumah ini," tambah Bi Tita tanpa sadar bahwa kata-katanya menusuk tepat di ulu hati Saliha.
Saliha mulai merasa seperti bumerang yang ia lempar kini berbalik menyerang dirinya sendiri. Ia merindukan Daviko yang dulu. Ia merindukan Daviko yang "gila" karena cemburu, ia merindukan Daviko yang keras kepala memaksa cintanya diakui.
Kini, saat Daviko memberikan apa yang ia minta, sebuah jarak profesional, Saliha justru merasa kehilangan arah.
Logika Saliha mulai bekerja dengan cara yang menyakitkan. Ia yakin, sikap datar Daviko adalah pertanda bahwa cinta pria itu sudah mati. Daviko mungkin sudah lelah menghadapi penolakannya. Daviko mungkin sudah sadar bahwa mengejar Saliha adalah kesia-siaan.
"Dia sudah tidak mencintaiku lagi," pikir Saliha. "Baguslah. Jadi saat kontrak habis nanti, aku bisa pergi tanpa beban. Dia tidak akan menahanku lagi."
Namun, memikirkan kata "pergi" sekarang membuat air matanya luruh tanpa bisa dicegah. Ternyata, membayangkan hidup tanpa Daviko jauh lebih menakutkan daripada menghadapi kemarahan pria itu.
Malam Jumat yang sunyi, hujan turun rintik-rintik menambah suasana melankolis di rumah besar itu. Saliha baru saja menidurkan Kaffara saat terdengar ketukan pintu kamarnya. Bukan ketukan yang terburu-buru, melainkan ketukan yang menjaga jarak.
Saliha membuka pintu dan mendapati Daviko berdiri di sana. Pria itu mengenakan kaus rumahan abu-abu, namun wajahnya terlihat sangat lelah, ada lingkaran hitam di bawah matanya.
"Pak Viko? Ada yang bisa saya bantu untuk Kaffara?" tanya Saliha, berusaha menjaga suaranya tetap datar meski jantungnya berdebar kencang.
Daviko tidak masuk. Ia tetap berdiri di ambang pintu, seolah ada batas yang tidak boleh ia lalui. Ia menyodorkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal.
"Ini gajimu untuk bulan ini," ujar Daviko pelan. Suaranya terdengar hampa, tanpa emosi. "Dan di dalamnya ada bonus tambahan. Kamu sudah bekerja sangat luar biasa merawat Kaffara. Dia terlihat sangat sehat dan bahagia bersamamu."
Saliha menerima amplop itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Pak. Tapi bonus ini... sepertinya tidak perlu."
"Ambil saja. Kamu sudah bekerja dengan profesional di rumah ini," potong Daviko cepat. Ia menatap Saliha sejenak, namun kali ini ia tidak menahan tatapannya lama-lama. Ia segera memalingkan muka seolah melihat wajah Saliha adalah hal yang menyakitkan baginya.
"Hanya itu saja. Maaf mengganggu waktumu. Selamat malam," lanjut Daviko.
Saliha terpaku. Ia berharap Daviko akan mengatakan sesuatu yang lain. Mungkin sedikit sindiran, atau mungkin sebuah keluhan, apa pun yang menandakan bahwa ia masih peduli. Namun Daviko langsung berbalik, berjalan menjauh dengan langkah yang terasa sangat berat menuju kamarnya sendiri.
Saliha menutup pintu kamarnya perlahan. Ia merosot duduk di lantai sambil mendekap amplop cokelat itu. Rasa sesak itu datang tiba-tiba, menyumbat tenggorokannya hingga ia sulit bernapas.
Di dalam amplop itu, selain uang, tidak ada pesan apa pun. Benar-benar murni transaksi antara majikan dan pengasuh. Saliha menangis sesenggukan dalam diam agar tidak membangunkan Kaffara.
"Kenapa rasanya sesakit ini?" bisik Saliha di antara isakannya. "Bukankah ini yang kuminta? Bukankah aku yang ingin dia profesional? Kenapa sekarang hatiku rasanya seperti diremas-remas?"
Ia menyadari bahwa ia telah kehilangan "Mas Viko"-nya, pria yang dulu rela melakukan apa saja demi dirinya. Kini yang tersisa hanyalah "Kapten Daviko", majikannya yang dingin dan berjarak. Saliha merasa dirinya sangat jahat karena telah mematikan binar cinta di mata pria itu.
Malam itu, Saliha tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan masa depan. Jika Daviko sudah benar-benar berhenti mencintainya, maka kepergiannya nanti akan sangat mudah.
Tidak akan ada drama pengejaran, tidak ada penjagaan gerbang yang ketat. Daviko akan membiarkannya pergi dengan tenang, mungkin dengan jabat tangan formal dan ucapan terima kasih karena telah menjaga anaknya.
Dan bayangan itu... bayangan Daviko yang hanya berdiri diam saat ia membawa kopernya keluar dari rumah ini, terasa jauh lebih menyiksa daripada sumpah serapah mana pun.
Saliha mulai menyadari bahwa penjara yang ia ciptakan sendiri, penjara rasa bersalah dan harga diri yang terlalu tinggi, telah berhasil menjauhkannya dari satu-satunya pria yang masih ia cintai dengan tulus.
Namun kini, nasi telah menjadi bubur. Daviko sepertinya sudah berhenti. Daviko sudah menyerah. Dan Saliha... ia hanya bisa menunggu waktu untuk benar-benar menjadi orang asing dalam hidup ayah dari anak yang ia sayangi itu.
"Satu langkah lagi menuju perpisahan, Saliha. Kuatkan hatimu," bisik Saliha pada bayangannya di cermin, sementara di kamar atas, Daviko sedang menatap langit-langit kamar dengan mata yang basah, mencoba menahan diri agar tidak berlari turun dan memeluk wanita yang sedang ia coba lepaskan demi kenyamanannya.
Biar cerita makin tegang, gimana kalau Saliha dibikin pergi dulu ya? Biar esensinya terasa....wkwkw.... cie esensi....
kalo mau bulan madu ke Bali dan Lombok.. sekalian bawa bi tita dan kaffra ..biar sekalian jalan2 keluarga 😊
Ayo..... kondangan. Jangan lupa amplopnya🤭🤭🤭🤭