Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMBALI KE KEHIDUPAN NORMAL
Pagi pertama setelah pulang terasa aneh.
Tidak ada suara erupsi gunung berapi. Tidak ada geraman binatang buas raksasa. Tidak ada tekanan untuk bangun jam empat pagi dan langsung latihan brutal.
Hanya suara burung berkicau, angin sepoi-sepoi, dan dengkuran Luffy di sebelahku yang tidur dengan topi jerami menutupi wajah.
Aku bangun perlahan—tubuh masih reflex waspada meskipun sudah di tempat aman. Tiga tahun latihan survival membuat semua insting bertahan jadi kebiasaan.
Keluar dari gubuk, udara pagi Dawn Island terasa sangat segar. Tidak ada bau belerang dari gunung berapi. Tidak ada kelembaban ekstrim. Hanya udara biasa yang sangat kurindukan.
"Sudah bangun?" Yamamoto duduk di teras dengan rokok di mulut. "Kebiasaan lama sulit dihilangkan ya?"
"Tubuh masih ingat jadwal latihan. Susah untuk langsung santai."
"Wajar. Butuh waktu beberapa minggu untuk adjust kembali ke kehidupan normal."
Aku duduk di sampingnya. Menatap matahari yang perlahan naik di cakrawala.
"Yamamoto-sensei, apa rencana selanjutnya? Kami sudah kuat. Bounty sudah tinggi. Marine pasti masih cari kami."
"Benar. Tapi sekarang dengan kekuatan kalian, Marine biasa tidak akan berani datang sembarangan. Mereka harus kirim Vice Admiral atau bahkan lebih tinggi untuk punya kesempatan menang."
"Dan itu butuh approval dari Headquarters yang tidak mudah—terutama untuk sekedar dua bocah di East Blue."
"Jadi kami aman untuk sementara?"
"Setidaknya beberapa bulan. Gunakan waktu itu untuk hal lain—latihan Luffy, bangun reputasi, atau persiapan untuk berlayar nanti."
Berlayar. Tujuan akhir kami.
"Kapan menurutmu waktu yang tepat untuk berlayar?"
Yamamoto menghisap rokok dalam sebelum menjawab. "Normalnya aku akan bilang tunggu sampai Luffy minimal tujuh belas tahun—usia dimana dia cukup mature secara fisik dan mental."
"Tapi dengan situasi kalian—dengan kekuatan yang sudah kalian punya—mungkin bisa lebih cepat. Mungkin saat Luffy umur empat belas atau lima belas tahun. Lima atau enam tahun lagi."
Lima tahun lagi. Artinya aku akan berusia tujuh belas tahun. Sabo dua puluh tahun. Luffy empat belas tahun.
Di timeline asli, Luffy berlayar umur tujuh belas tahun. Tapi dengan kami bertiga berlayar bersama dan sudah jauh lebih kuat dari timeline asli—mungkin tidak perlu tunggu selama itu.
"Tapi sebelum itu," Yamamoto melanjutkan. "Kalian harus siapkan banyak hal. Kapal yang layak laut. Persediaan. Uang. Dan yang paling penting—reputasi yang cukup kuat supaya tidak sembarang bajak laut atau Marine ganggu."
"Bagaimana cara bangun reputasi?"
"Kalahkan bajak laut kuat yang datang ke East Blue. Selamatkan desa dari ancaman. Buat nama kalian dikenal sebagai pelindung, bukan penjahat—meskipun kalian nanti jadi bajak laut."
"Seperti Shanks?"
"Persis. Shanks punya reputasi sebagai bajak laut yang kuat tapi tidak sembarangan serang orang lemah. Makanya dia dihormati bahkan oleh musuhnya."
Itu jalan yang bagus. Jadi kuat tapi tetap punya prinsip.
Pintu gubuk terbuka. Luffy keluar dengan mata masih setengah terbuka—mengantuk berat.
"Ace-nii... Sabo-nii... latihan pagi ya?" dia bergumam sambil menguap lebar.
"Tidak usah hari ini. Kami baru pulang kemarin. Boleh santai dulu," aku menjawab.
"Eh? Tapi Luffy sudah biasa latihan setiap pagi dengan Yamamoto-san..."
"Kau sudah latihan tiga tahun tanpa kami. Sekarang gantian kami yang ajak kau latihan. Tapi nanti siang saja. Pagi ini santai dulu."
Luffy tersenyum lebar. "Yosh! Kalau begitu Luffy mau ke desa! Ketemu Makino-san! Ceritain kalau Ace-nii dan Sabo-nii sudah pulang!"
Dia langsung berlari ke desa dengan energi penuh—meskipun baru bangun.
"Energinya tidak ada habisnya," Yamamoto berkomentar sambil tersenyum. "Tiga tahun latihan denganku, bocah itu tidak pernah mengeluh atau menyerah. Semangatnya luar biasa."
"Itu kelebihan Luffy. Tidak peduli seberapa keras, dia tidak pernah menyerah."
"Makanya dia akan jadi besar suatu hari nanti. Mungkin bahkan lebih besar dari kalian berdua."
Aku tersenyum mendengar itu. Karena aku tahu—Yamamoto benar. Luffy akan jadi Raja Bajak Laut. Dan tugas kami adalah pastikan dia sampai di sana dengan selamat.
Siang hari, aku dan Sabo pergi ke desa untuk beli beberapa keperluan. Selama tiga tahun, kami cuma pakai baju latihan yang itu-itu saja. Sekarang butuh baju baru yang proper.
Foosha Village tidak berubah banyak. Masih desa kecil yang tenang dengan penduduk ramah. Tapi reaksi penduduk saat melihat kami sangat berbeda dari dulu.
"Itu Ace dan Sabo kan?"
"Mereka sudah besar sekali!"
"Dengar mereka latihan tiga tahun di pulau rahasia!"
"Bounty mereka sangat tinggi sekarang!"
Bisikan kemana-mana. Tatapan kagum bercampur takut. Kami sudah tidak lagi anak-anak biasa di mata mereka—tapi fighter berbahaya dengan bounty tinggi.
"Rasanya aneh jadi pusat perhatian," Sabo bergumam sambil berjalan.
"Biasakan saja. Nanti kalau kita berlayar, perhatian akan jauh lebih besar."
Kami masuk ke toko pakaian kecil milik nyonya tua yang dulu sering kasih kami permen gratis.
"Ace! Sabo! Kalian sudah besar sekali!" dia menyambut dengan ramah meskipun sedikit gugup. "Mau cari baju?"
"Ya, nyonya. Kami butuh beberapa pasang baju biasa dan baju latihan."
"Tentu tentu! Tunggu sebentar!"
Dia mengambil beberapa pilihan. Kami coba dan pilih yang paling nyaman—tidak terlalu ketat tapi tidak terlalu longgar. Harus bisa gerak bebas untuk bertarung kapan saja.
Setelah selesai belanja, kami ke Partei Bar untuk ketemu Makino.
Luffy sudah ada di sana—duduk di kursi bar sambil makan daging dengan lahap.
"Ace-san! Sabo-san!" Makino menyambut dengan senyum hangat seperti biasa. "Selamat datang kembali! Kalian sudah sangat berubah!"
"Terima kasih, Makino-san. Kami juga senang bisa pulang," aku menjawab sambil duduk di samping Luffy.
"Dengar kalian latihan tiga tahun tanpa pulang. Pasti sangat berat."
"Berat. Sangat berat. Tapi hasilnya worth it."
Makino menyajikan jus segar untuk kami. "Kalian berencana menetap di Dawn Island atau akan pergi lagi?"
"Menetap untuk beberapa tahun ke depan. Sampai Luffy cukup besar untuk ikut berlayar bersama."
"Jadi kalian akan jadi bajak laut beneran?" dia bertanya dengan nada khawatir.
"Ya. Tapi bukan bajak laut yang serang orang lemah atau rampok desa. Kami cuma mau bebas berlayar dan petualangan."
"Seperti Shanks-san?"
"Persis seperti dia."
Makino tersenyum lega. "Kalau begitu aku tidak terlalu khawatir. Shanks-san juga bajak laut tapi dia baik hati. Selalu lindungi desa ini dari bajak laut jahat."
"Kami akan lakukan hal yang sama. Dawn Island adalah rumah kami. Tidak akan biarkan ada yang ganggu."
Luffy yang sudah selesai makan menyela dengan mulut masih penuh. "Ace-nii! Sabo-nii! Sore ini latihan kan? Luffy mau tunjukin teknik baru yang sudah Luffy pelajari!"
"Teknik apa?"
"Gomu Gomu no Gatling! Luffy bisa pukul cepat berkali-kali sekarang!"
"Oh? Gatling sudah bisa? Padahal itu teknik lumayan advanced."
"Luffy latihan keras tiga tahun! Sekarang sudah bisa banyak teknik!"
Semangat dan kebanggaan di wajahnya membuat aku tersenyum. Tiga tahun tanpa kami, Luffy tidak diam. Dia latihan keras dan berkembang banyak.
"Baiklah. Sore ini kita latihan bersama. Tapi aku peringatkan—latihan kami tidak main-main."
"Luffy tidak takut! Luffy sudah kuat sekarang!"
Sore itu, di area latihan yang sama dimana kami dulu latihan dengan Yamamoto, aku mengamati Luffy dengan seksama.
Tubuhnya jauh lebih berotot dari tiga tahun lalu. Gerakannya lebih terkoordinasi. Dan yang paling penting—dia sudah punya fondasi Haki dasar.
"Yamamoto-san sudah ajari kau Haki?" aku bertanya.
"Sedikit! Luffy belum bisa aktifkan sendiri tapi kadang-kadang muncul saat Luffy sangat fokus!" Luffy menjawab dengan jujur.
"Bagus. Berarti instink sudah ada. Tinggal asah sampai bisa aktifkan sesuka hati."
"Sekarang tunjukkan teknik karet yang sudah kau kuasai."
Luffy mengambil stance—kaki selebar bahu, tangan di belakang.
"Gomu Gomu no Pistol!"
Tangan kanannya melar mundur lalu lepas seperti ketapel—terbang lurus ke pohon target. Menghantam dengan bunyi keras.
WHAM!
Pohon bergetar tapi tidak patah.
"Lumayan. Tapi kekuatan masih kurang. Coba lagi dengan fokus lebih ke titik impact."
Luffy mencoba lagi. Kali ini lebih fokus. Pukulannya mengenai titik yang sama—
CRACK!
Pohon retak.
"Lebih bagus! Sekarang coba Gatling yang kau bilang tadi!"
"Yosh! Gomu Gomu no Gatling!"
Kedua tangannya melar mundur lalu lepas bersamaan—menciptakan hujan pukulan cepat ke arah pohon.
Bam bam bam bam bam!
Puluhan pukulan dalam beberapa detik. Pohon akhirnya patah dan tumbang.
"Bagus sekali! Koordinasi dan kecepatannya sudah lumayan untuk anak sembilan tahun!" Sabo memuji dengan tulus.
Luffy tersenyum lebar—senang dapat pujian.
"Tapi masih ada banyak yang harus diperbaiki," aku menambahkan. "Stance-mu tidak stabil. Setelah Gatling, kau kehilangan keseimbangan. Dan nafasmu tidak teratur—itu bikin cepat capek."
"Lalu bagaimana cara perbaiki?"
"Latihan dasar. Perkuat kaki supaya stance lebih stabil. Latihan pernapasan supaya tidak cepat capek. Dan yang paling penting—latihan Haki."
"Haki? Yamamoto-san bilang Luffy masih terlalu kecil untuk latihan Haki serius..."
"Memang. Tapi bukan berarti tidak bisa mulai. Kami mulai latihan Haki sejak usia tiga dan empat tahun. Kau sudah sembilan tahun—lebih dari cukup untuk mulai."
"Benaran?! Luffy bisa mulai latihan Haki?!"
"Tidak akan semudah kami dulu karena kami punya guru yang brutal. Tapi dengan bimbingan kami, kau bisa mulai membangun fondasi."
Mata Luffy berbinar dengan excited. "Yosh! Luffy akan latihan keras! Jadi sekuat Ace-nii dan Sabo-nii!"
"Bagus. Mulai besok, kita latihan setiap hari. Pagi untuk fisik dan Haki dasar. Sore untuk teknik karet dan sparring."
"Siap!"
Kami latihan sampai matahari terbenam. Luffy tidak mengeluh sama sekali meskipun latihan kami jauh lebih keras dari latihan biasanya dengan Yamamoto.
Saat berjalan pulang ke gubuk, Luffy berjalan di tengah kami berdua—topi jerami di kepala, senyum lebar di wajah.
"Ace-nii, Sabo-nii," dia berkata tiba-tiba. "Luffy senang sekali kalian pulang. Tiga tahun Luffy latihan sendirian itu sepi sekali."
"Kami juga senang bisa pulang," aku menjawab sambil mengelus kepalanya.
"Dan sekarang kita bisa latihan bersama lagi! Seperti dulu!"
"Tidak seperti dulu. Lebih baik dari dulu. Karena sekarang kita bertiga sudah lebih kuat."
"Dan nanti kita akan berlayar bersama kan? Jadi kru bajak laut terkuat!"
"Ya. Itu janjinya."
"Yosh! Luffy tidak sabar!"
Kami tertawa bersama sambil terus berjalan pulang.
Kehidupan di Dawn Island kembali normal—atau setidaknya normal versi kami.
Latihan setiap hari. Berkumpul dengan keluarga. Sesekali mengusir bajak laut bodoh yang coba ganggu desa.
Kehidupan yang damai tapi tetap produktif.
Kehidupan yang kami butuhkan sebelum badai besar menanti di masa depan.
Karena kami tahu—ini hanya ketenangan sebelum badai.
Suatu hari nanti, kami akan berlayar.
Masuk ke Grand Line.
Menghadapi Yonko, Admiral, dan semua monster di laut itu.
Tapi itu untuk nanti.
Sekarang—kami cukup menikmati kedamaian sementara ini.
Menikmati waktu bersama keluarga.
Dan membangun fondasi untuk Luffy supaya saat waktunya tiba—dia akan siap.
Api takdir masih menyala.
Menunggu waktu yang tepat untuk meledak jadi inferno.
Dan saat itu tiba—dunia akan tahu nama kami.
Portgas D. Ace.
Outlook Sabo.
Monkey D. Luffy.
Tiga saudara yang akan guncangkan dunia.