Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.
Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21
"Tolong jelaskan padaku sekarang juga apa yang sebenarnya terjadi."
Mona mencengkram baju bagian depan Rama. Tidak kuat, bahkan nyaris tanpa tenaga. Hanya terlihat seperti menempel saja.
Ia menengadahkan kepala, menatap sang suami dengan penuh permohonan. Wajahnya masih merah dan sembab. Sisa tangis yang belum sepenuhnya hilang.
Ada jeda sejenak sebelum Rama menjawab. Nafasnya tertahan, seolah setiap tarikannya begitu menyakitkan. Ia bertanya dalam hati, haruskah ia memberitahu sang istri? Bagaimana kalau setelah ia memberitahu, kondisi kesehatan istrinya malah memburuk?
"RAMA!!" Mona menjadi tak sabar saat melihat Rama hanya diam saja. "Aku berhak tahu. Aku juga ingin tahu."
Sarah memberi kode pada Chandra lewat lirikan mata untuk segera pergi. Dan bagusnya, pria itu segera mengerti dan membawa Lily yang masih tertidur pulas diatas sofa dalam gendongan. Keduanya berjalan menuju pintu tanpa menimbulkan suara.
Rama tak bisa menghindar. Juga tak bisa sembunyi. Awalnya ia ingin menutupi semuanya sampai kondisi Mona baik-baik saja. Sampai Mona merasa stabil dengan tubuh dan emosionalnya. Tetapi kini hal itu tak bisa dilakukan. Maka ia maju perlahan. Kemudian mendekap tubuh Mona dalam pelukan. Sementara tangannya mengusap punggungnya pelan.
Akhirnya ia hanya bisa berkata jujur. Menceritakan semua yang terjadi dari awal hingga akhir secara runtut. Tentang kecelakaan, penyerangan, kondisi Mona dan Jeffrey, serta percobaan pembunuhan yang terjadi semalam. Rama juga menceritakan keadaan perusahaannya yang saat ini sedang tidak baik-baik saja. Dan tentang Chandra yang berkali-kali telah menolongnya.
Air mata mengalir deras membasahi pipi. Membawa kesedihan ikut bersamanya. Isakan yang semula telah berhenti, berganti menjadi tangisan keras. Seolah menuntut untuk dikeluarkan, bukan hanya dipendam. Bahunya bergetar hebat, menahan beban yang terlalu berat. Sementara jemarinya menutup mulut, merasa tak sanggup.
"Mas, bagaimana bisa ada orang sejahat itu? Kenapa mereka mau mencelakai kita?"
Itulah yang ingin Rama tanyakan pada orang itu jika saja ia berhasil menangkapnya. Tapi sayangnya tidak.
Dekapan pada tubuh Mona semakin erat, namun tak melukai. Mencoba saling menguatkan. Bajunya terasa basah, namun ia tak peduli. Rama membiarkan sang istri terus menangis. Sembari menjaganya tetap stabil.
Untuk sesaat waktu terasa berhenti. Di luar, matahari bersinar terang. Langit biru bersih tanpa awan. Seolah menjanjikan harapan. Burung-burung berkicau riang. Bersahutan. Sangat berbanding terbalik dengan keadaan di dalam ruangan. Yang lebih sunyi dan lebih kelam. Seakan alam tengah mengejek mereka.
"Aku tahu ini berat, tapi tetaplah kuat demi anak kita. Aku janji akan menangkap orang itu. Aku janji akan menjaga kalian dengan baik. Ayo kita hadapi ini sama-sama, yah?"
Rama dapat merasakan Mona mengangguk di pelukan. Sementara tangan yang melingkari pinggangnya mengencang.
Kini, ada ketenangan yang perlahan menjalar ke seluruh tubuh. Yang mampu menopangnya untuk tetap berdiri kokoh di tengah badai yang menerpa.
"Gimana kondisi kamu sekarang? Apa masih sakit?" Tanya Rama.
Pertanyaan itu bukan hanya merujuk pada kondisi fisik, namun juga mentalnya. Karena siapapun itu pasti akan terguncang hebat jika mengalami apa yang mereka alami.
Mona mengangkat wajahnya. Jejak air mata masih tertinggal. Kemudian mengelus perutnya pelan, penuh penyesalan. Ia telah kehilangan anak keduanya dalam kecelakaan itu dan ia juga hampir kehilangan anak pertamanya. Betapa dunia ini begitu kejam terhadapnya.
"Apa kita bener-bener nggak bisa punya anak lagi mas?" Suara Mona tercekat di tenggorokan. Ia bertanya hanya karena ingin membuat dirinya yakin. Mengabaikan pertanyaan sang suami sebelumnya.
Rama mengelus pipinya pelan. Menghapus sisa air mata yang mulai mengering. Ditatapnya lekat wajah sang istri dengan pandangan teduh dan menenangkan. Kemudian menggeleng. "Dokter bilang nggak bisa. Rahim kamu udah di angkat."
Dengan itu, hidup Mona seolah direnggut paksa. Gelap, tanpa cahaya.
***
Hari berikutnya, ketika Chandra dan keluarga hendak pergi ke rumah sakit, nenek Sukma telah menunggunya di taman, tepat di pinggir jalan disamping pohon besar. Tubuhnya bersandar pada badan mobil. Dengan tangan terlipat di dada.
Disana juga ada kakek Budi, Kenzy serta ibunya yang tengah bercengkrama. Kadang tawa terselip, terkadang mereka begitu fokus. Seolah di dunia ini tidak ada orang lain lagi selain mereka. Sesekali daun berguguran, jatuh mengenai tubuh. Menciptakan suasana hangat yang romantis.
Ibu Kenzy beberapa tahun lebih tua dari Sarah. Bernama Wulan. Ia memiliki kepribadian yang ceria dan lembut, murah senyum serta ramah. Suaranya sangat enak di dengar, bahkan ketika ia hanya berbicara.
Mereka sengaja berdiam diri disana sejak pagi karena ingin ikut Sarah ke rumah sakit. Kabar tentang kecelakaan yang menimpa keluarga Rama telah tersebar dilingkungan mereka tinggal. Dalam berbagai versi. Entah itu hanya dugaan, atau benar-benar kenyataan.
Nenek Sukma ingin bertanya langsung pada Sarah. Ia merasa khawatir. Bagaimanapun hubungan mereka cukup dekat saat ini. Hingga ia bisa menganggap mereka sebagai putra-putrinya sendiri.
Karena itu, setiap hari nenek selalu menunggu Sarah di taman. Namun setelah beberapa hari, ia tak kunjung muncul. Membuatnya semakin khawatir.
Sebelumnya nenek juga pernah bertandang ke rumah, dua atau tiga kali dalam beberapa hari ini. Tetapi rumah itu dalam keadaan sepi. Seolah tak berpenghuni.
Saat mobil mereka semakin dekat, nenek Sukma melambaikan tangan. Meminta perhatian. Badannya bergerak-gerak penuh semangat. Sedikit melompat.
Di dalam mobil, Lily memukul-mukul lengan ayahnya. "Papa, itu nenek."
Chandra melihat ke arah yang ditunjuk. Ia melambatkan laju mobilnya, kemudian mendekat. Mobil mereka berhenti tepat di belakang mobil nenek.
"Eh, kamu mau kemana?" Tanya Sarah sembari memegangi Lily.
"Mau ketemu nenek." Jawab Lily semangat. Ia bergegas turun, menyusul ayahnya yang sudah terlanjur keluar dari mobil.
Rasa rindu itu seperti asap. Tak terlihat tapi menyelimuti hati. Terkadang juga seperti hujan di malam hari, sunyi dan menyedihkan. Mata Lily berkaca-kaca. Rasanya sudah lama sekali ia tidak bertemu nenek. Dan kini, rasa rindu itu tiba-tiba menguap, muncul begitu saja ke permukaan.
Disamping ibunya, wajah Kenzy tampak sumringah. Ia mengambil langkah, kemudian memanggil Lily dengan suara keras dan nyaring. "Lily sini!!"
Tangannya melambai, menyuruh gadis kecil itu mendekat. Sementara senyumnya sangat lebar. Senang juga tak sabar.
Tetapi Lily hanya menoleh sekilas, lalu membuang muka. Wajahnya murung, sementara bibirnya mengerucut. Rasa kesalnya masih terasa hingga kini.
Tunggu saja sampai ia bisa bersekolah disekolah yang sama dengan Kenzy, ia akan memukul pantat anak itu dengan tangannya sendiri.
Lily mempercepat langkahnya, setengah berlari. Roknya mengembang indah ketika ia bergerak. Rambut panjangnya berterbangan tertiup angin.
"Papa, tunggu."
Jemarinya meraih jemari sang ayah untuk digenggam. Tetapi tangan kecilnya hanya mampu memegangi telunjuknya saja. Perbedaan ukuran itu begitu kontras terlihat. Begitu menyebalkan hingga membuat Lily bertambah kesal.
Chandra yang menyadari kehadiran putrinya, segera menunduk, berniat untuk menggendong tubuh kecilnya. Namun Lily menolak saat sadar tatapan Kenzy masih terus terarah padanya.
"Nggak usah pa." Ujarnya lirih. Pipinya bersemu merah karena malu. Selain itu, ia takut Kenzy akan meledeknya lagi kalau ia digendong seperti anak kecil oleh ayahnya.
Chandra hanya tersenyum, tak memaksa. Sebagai ganti, ia mengusap kepala Lily lembut. Membuat rambut yang telah disisir rapi oleh sang ibu, kembali berantakan.
"Pagi semuanya." Sapa Chandra ramah ketika ia telah sampai di depan keluarga nenek Sukma.
"Pagi." Jawab mereka serempak.
Nenek Sukma mendekat. Meneliti wajah Chandra dengan kacamatanya supaya lebih jelas. "Kamu pasti papanya Lily kan?" Tanyanya.
Chandra mengangguk. Kemudian mengulurkan tangannya. "Benar, saya Chandra."
"Oalah, ganteng yah pak. Pantes anaknya ganteng dan cantik." Puji nenek Sukma. Menyambut uluran tangan itu. "Saya Sukma."
Kakek Budi yang berdiri disamping Chandra menepuk bahunya pelan. "Kapan pulang nak? Saya Budi."
"Hampir satu minggu ini. Maaf belum bisa mengunjungi kalian." Balas Chandra merasa tak enak hati.
Sejujurnya, ia tak begitu mengenal mereka, hanya tahu dari cerita-cerita sang istri. Juga Rama yang beberapa kali menyinggung keluarga nenek Sukma dalam obrolan. Tetapi meski begitu, ia tetap ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka karena telah menjaga anak-anaknya. Terimakasih karena telah mengisi kekosongan yang telah ia tinggalkan beberapa tahun ini.
"Ini anak saya, Wulan dan itu cucu saya Kenzy."
Chandra juga menjabat tangan keduanya. Kemudian tatapannya terfokus pada Kenzy.
Anak kecil itu terlihat seusia dengan Lily. Tubuhnya berisi. Pipinya bulat seperti bakso. Tampak ceria dan aktif. Sejak tadi anak itu berusaha meraih tangan Lily berkali-kali. Tetapi selalu berakhir di tepis oleh putrinya. Hal itu membuat Chandra mengerutkan kening. Ada apa dengan mereka?
"Ayoo main." Ajak Kenzy dengan wajah memelas.
"Nggak mau." Lily terus menghindar. Berusaha menyembunyikan diri di balik tubuh ayahnya.
Kenzy tak menyerah. Ia kembali mengikuti. "Aku minta maaf udah buat kamu kesel. Janji nggak akan gitu lagi." Katanya.
Chandra akhirnya mengerti bahwa ada kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka. Yang tak ia tahu dan yang tak ia pahami. Anak kecil dengan konflik. Adakah yang lebih lucu dari itu?
Sarah datang setelahnya. Tersenyum hangat. Menyapa satu demi satu. Kemudian bertanya dengan lembut. "Kalian mau kemana?"
"Kita mau ikut kalian ke rumah sakit. Mau jenguk Rama dan keluarganya." Jawab kakek Budi. Wajahnya berubah sendu.
Sebelumnya mereka sering berolahraga bersama. Pada akhir pekan. Ketika Rama libur bekerja. Berlari kecil mengitari taman sembari mengobrol. Sementara nenek Sukma akan menemani anak-anak dengan kisah-kisah menarik. Kesenjangan usia tak menghalangi keduanya. Banyak hal yang bisa dipelajari justru dari pengalaman satu sama lain.
Dan ketika kakek Budi tak menemukan Rama di minggu pagi hari itu. Ia merasa kehilangan. Kemudian kabar kurang mengenakkan ia dengar dari para tetangga.
"Ayo kalau begitu. Kita memang mau kesana." Ajak Sarah.
Raut lega tergambar di wajah.
Mereka memasuki mobil masing-masing. Lalu berjalan meninggalkan taman.
Mobil Chandra berjalan di depan, dengan kecepatan stabil. Sementara mobil nenek yang dikendarai Wulan mengikuti dibelakang.
***