Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
USIANYA JAUH DI ATAS MU?
Aroma kopi segar dan roti panggang mentega memenuhi udara penthouse saat Keyla akhirnya membuka mata. Sinar matahari pagi menembus dinding kaca, menyilaukan matanya yang masih terasa berat. Saat ia keluar kamar dengan pakaian yang lebih pantas dari semalam, ia menemukan pemandangan yang tak terduga: Dipta Mahendra, tanpa jas, hanya mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung, sedang menata piring di meja makan.
"Selamat pagi, Calon Nyonya Mahendra," sapa Dipta tanpa menoleh, suaranya terdengar lebih renyah di pagi hari.
Keyla duduk di kursi seberang Dipta dengan kaku. "Aku tidak tahu pria seperti Anda bisa menyentuh dapur."
"Aku punya banyak bakat yang belum kau ketahui, Keyla. Makanlah," perintahnya sembari menyodorkan piring berisi omelette sempurna.
Suasana sarapan itu awalnya sunyi, hanya terdengar denting garpu dan pisau. Namun, Keyla tahu ia harus bicara sekarang.
"Minggu depan aku wisuda," ucap Keyla memecah keheningan.
Dipta menyesap kopinya perlahan. "Aku tahu. Bayu sudah memasukkannya ke jadwal kerjaku. Aku akan mengosongkan waktu untuk menemanimu."
Keyla tersedak air putihnya. "Apa? Tidak! Anda tidak perlu datang."
Alis Dipta terangkat, tatapannya menajam. "Kenapa? Sebagai tunanganmu, sudah kewajibanku hadir di momen pentingmu."
"Justru itu masalahnya!" Keyla meletakkan garpunya dengan suara denting yang keras. "Akan ada pesta perayaan malam setelah wisuda. Aku ingin datang sendiri. Teman-temanku tidak tahu apa-apa tentang... tentang kesepakatan gila ini. Aku tidak mau mereka tahu aku sudah bertunangan, apalagi akan segera menikah dengan pria yang usianya..."
"Usianya jauh di atasmu? Begitu maksudmu?" potong Dipta dengan nada suara yang turun beberapa oktav.
Keyla menatap meja, suaranya melemah. "Aku hanya ingin menjadi remaja normal untuk terakhir kalinya, Dipta. Tanpa label 'milik Mahendra'. Aku mau bersenang-senang dengan teman-temanku tanpa pengawasan Anda."
Dipta menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya mengunci wajah Keyla dengan intensitas yang mengintimidasi. "Normal? Keyla, sejak tanda tangan ayahmu mengering di atas kertas itu, kata 'normal' sudah hilang dari kamus hidupmu."
"Hanya semalam! Aku mohon," pinta Keyla, matanya mulai berkaca-kaca.
"Pesta wisuda remaja penuh dengan alkohol, laki-laki yang tidak tahu aturan, dan hormon yang meledak-ledak," ujar Dipta dingin. "Kau pikir aku akan membiarkan 'properti' berhargaku berkeliaran di sana sendirian?"
"Aku bukan properti!" teriak Keyla frustrasi. "Aku benci bagaimana Anda terus memperlakukanku seperti barang!"
Dipta berdiri, melangkah mengitari meja dan berdiri tepat di belakang kursi Keyla. Ia membungkuk, meletakkan kedua tangannya di sandaran kursi, mengurung Keyla.
"Kau boleh pergi ke pesta itu," bisik Dipta di dekat telinga Keyla.
Keyla bernapas lega sesaat, sampai Dipta melanjutkan kalimatnya.
"Tapi dengan satu syarat: Bayu akan mengawasimu dari jarak jauh. Dan jika aku mendengar ada satu pria saja yang menyentuh kulitmu atau menatapmu terlalu lama... aku akan menghentikan pesta itu dalam lima menit dan menyeretmu pulang ke kamar ini."
Dipta mencium puncak kepala Keyla dengan posesif. "Mengerti, Sayang?"
Dipta menegakkan tubuhnya, merapikan kemeja hitamnya yang kini sedikit kusut setelah percakapan intens di meja makan. Ia menatap jam tangannya, lalu kembali menatap Keyla yang masih terlihat kesal.
"Aku harus ke kantor. Ada rapat direksi yang tidak bisa kutunda," ucap Dipta dengan nada otoriter yang tak terbantahkan.
Keyla hanya diam, memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang menampilkan gedung-gedung beton. "Pergilah. Aku juga ingin tenang tanpa Anda di sini."
Dipta tidak langsung pergi. Ia melangkah mendekati Keyla, meraih dagu gadis itu dan memaksanya menatap matanya. "Dengar baik-baik, Keyla. Selama aku pergi, kau tidak diizinkan keluar dari apartemen ini. Kode akses lift sudah kunonaktifkan untukmu."
Mata Keyla membelalak. "Anda mengurungku? Ini penjara!"
"Ini perlindungan," koreksi Dipta dingin. "Semua kebutuhanmu sudah ada di sini. Jika kau butuh sesuatu yang tidak ada—apa pun itu—jangan panggil pelayan. Telepon aku langsung."
Keyla mendengus remeh. "Anda sibuk, Dipta. Untuk apa aku meneleponmu hanya untuk hal kecil?"
Dipta mendekatkan wajahnya, suaranya merendah dan penuh penekanan. "Karena aku ingin menjadi satu-satunya orang yang memenuhi keinginanmu. Ingat ini: Di mana pun aku berada, sesibuk apa pun rapatnya, jika kau menelepon, aku akan menjawabnya. Dan dalam sepuluh menit, aku akan sampai di sini, di depan matamu."
"Sepuluh menit? Kantor Anda tidak sedekat itu," bantah Keyla sangsi.
"Jangan meremehkan apa yang bisa dilakukan oleh uang dan kekuasaanku untuk mencapaimu, Keyla," bisik Dipta sembari mengecup bibir Keyla singkat namun menuntut, sebuah kecupan yang meninggalkan rasa terbakar di bibir gadis itu.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Dipta menyambar jasnya dan melangkah keluar. Suara pintu depan yang tertutup dan terkunci secara otomatis terdengar seperti vonis bagi Keyla. Ia kini sendirian di istana megah yang terasa seperti sangkar emas, dengan ponsel di tangannya yang kini menjadi satu-satunya penghubung antara dirinya dan pria yang telah membeli hidupnya.
***
Di kantor pusat Mahendra Group, suasana terasa begitu dingin dan kaku. Alan Atmadja duduk di sofa kulit ruang kerja Dipta dengan tangan yang bertautan gelisah. Di depannya, Dipta baru saja menutup map berisi laporan audit terbaru perusahaan Alan.
Dipta menyesap cerutunya, mengembuskan asap tipis ke udara sebelum memecah keheningan. "Utangmu sudah lunas, Alan. Bank sudah menarik gugatannya pagi ini."
Alan menghela napas lega, namun ia tahu tidak ada makan siang gratis. "Terima kasih, Dipta. Aku benar-benar berutang nyawa padamu. Jadi... soal Keyla?"
Dipta menyandarkan punggungnya, menatap Alan dengan tatapan yang seolah bisa menembus tulang. "Aku tidak suka membuang waktu. Pertunangan semalam hanyalah pembuka. Aku ingin pernikahan resmi dilakukan bulan depan, tepat setelah dia menerima ijazah SMA-nya."
Alan tersentak. "Bulan depan? Dipta, bukankah kita sepakat menunggunya sampai dia genap sembilan belas tahun? Dia baru saja akan merayakan kelulusannya."
"Aku tidak suka menunggu," potong Dipta tajam. "Semakin lama dia merasa bebas, semakin sulit dia dijinakkan. Aku ingin dia berada di bawah pengawasanku secara hukum sesegera mungkin."
Alan tampak ragu. "Tapi Kirana... ibunya pasti akan keberatan jika secepat ini. Keyla juga masih ingin kuliah, dia sudah mendaftar ke beberapa universitas luar negeri."
Dipta tertawa dingin, sebuah suara yang membuat Alan terdiam. "Lupakan soal luar negeri. Dia akan kuliah di Jakarta, di universitas milik yayasanku, atau dia tidak perlu kuliah sama sekali. Tugasnya sekarang bukan belajar menjadi akademisi, tapi belajar menjadi istri Dipta Mahendra."
Dipta mengeluarkan sebuah dokumen lagi dari laci mejanya. Kali ini bukan dokumen utang, melainkan perjanjian pranikah yang sangat detail.
"Tanda tangani ini sebagai saksi. Di sini tertulis bahwa seluruh kebutuhan hidup keluarga Atmadja akan ditanggung oleh Mahendra Group selama Keyla tetap berada di sisiku," ujar Dipta sambil menyodorkan pulpen emas.
Alan membaca sekilas, tangannya gemetar. "Ini... ini terdengar seperti kontrak kepemilikan mutlak."
"Karena memang begitu adanya," sahut Dipta tanpa penyesalan. "Kau menyerahkan putrimu untuk menyelamatkan harga dirimu. Jangan berpura-pura terkejut sekarang, Alan. Pastikan saja dia tidak melakukan hal bodoh di pesta wisudanya minggu depan."
Dipta berdiri, menandakan pertemuan berakhir. "Aku akan mengatur segalanya. Dari gaun pengantin hingga rumah baru yang akan dia tempati bersamaku. Tugasmu hanya satu: pastikan dia hadir di altar tepat waktu."
Setelah Alan keluar dengan langkah gontai, Dipta menatap ponselnya. Ia menunggu. Menunggu panggilan dari gadis kecilnya yang sedang terkurung di apartemennya. Baginya, pernikahan ini bukan sekadar urusan bisnis, tapi sebuah penaklukan total yang baru saja dimulai.
***
Bersambung...